18 Desember 2013

Space Occupaying Lession (case report)


TINJAUAN PUSTAKA
Teori
Tumor otak adalah suatu pertumbuhan jaringan yang abnormal di dalam otak. Yang terdiri atas Tumor otak benigna dan maligna. Tumor otak benigna adalah pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak, tetapi tidak ganas, sedangkan tumor otak maligna adalah kanker di dalam otak yang berpotensi menyusup dan menghancurkan jaringan di sebelahnya atau yang telah menyebar (metastase) ke otak dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.
Tumor otak dibagi menjadi dua tipe :
1. Tumor primer, yaitu tumor yang berasal dari dalam otak sendiri. Bisa berasal dari astrosit, oligodendrosit, ependimosit, fibroblast arakhnoidal, neuroblas-meduloblas.
2. Tumor sekunder, yaitu tumor yang berasal dari karsinoma metastasis yang terjadi di bagian tubuh lainnya, contohnya yang paling sering adalah yang berasal dari tumor paru-paru pada pria dan tumor payudara pada wanita.
Insidens tumor otak primer terjadi pada sekitar enam kasus per 100.000 populasi per tahun. Dimana tumor otak primer tersebut kira-kira 41% adalah glioma, 17% meningioma, 13% adenoma hipofisis dan 12% neurilemoma. Pada orang dewasa 60% terletak supratentorial sedang pada anak 70% terletak infratentorial. Pada anak yang paling sering ditemukan adalah tumor serebellum yaitu meduloblastoma dan astrositoma, sedangkan pada dewasa adalah glioblastoma multiforme.
II. KLASIFIKASI
Ada beberapa macam klasifikasi, tetapi yang paling sering dijumpai adalah klasifikasi berdasarkan lokasi, yaitu :

1. Tumor supratentorial
a. Hemisfer otak, terbagi lagi :
Glioma :
- Glioblastoma multiforme
- Astrositoma
- Oligodendroglioma
Meningioma
Tumor Metastasis
b. Tumor struktur median
Adenoma hipofisis
Tumor glandula pienalis
-Kraniofaringioma
2. Tumor infratentorial
a. Schwanoma akustikus
b. Tumor metastasis
c. Meningioma
d. Hemangioblastoma

II. ETIOLOGI
Penyebab tumor hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti, walaupun telah banyak penyelidikan yang dilakukan. Adapun faktor-faktor yang perlu ditinjau, yaitu :

1. Herediter
Riwayat tumor otak dalam satu anggota keluarga jarang ditemukan kecuali pada meningioma, astrositoma dan neurofibroma dapat dijumpai pada anggota-anggota sekeluarga. Sklerosis tuberose atau penyakit Sturge-Weber yang dapat dianggap sebagai manifestasi pertumbuhan baru, memperlihatkan faktor familial yang jelas. Selain jenis-jenis neoplasma tersebut tidak ada bukti-buakti yang kuat untuk memikirkan adanya faktor-faktor hereditas yang kuat pada neoplasma.

2. Sisa-sisa Sel Embrional (Embryonic Cell Rest)
Bangunan-bangunan embrional berkembang menjadi bangunan-bangunan yang mempunyai morfologi dan fungsi yang terintegrasi dalam tubuh. Tetapi ada kalanya sebagian dari bangunan embrional tertinggal dalam tubuh, menjadi ganas dan merusak bangunan di sekitarnya. Perkembangan abnormal itu dapat terjadi pada kraniofaringioma, teratoma intrakranial dan kordoma.

3. Radiasi
Jaringan dalam sistem saraf pusat peka terhadap radiasi dan dapat mengalami perubahan degenerasi, namun belum ada bukti radiasi dapat memicu terjadinya suatu glioma. Pernah dilaporkan bahwa meningioma terjadi setelah timbulnya suatu radiasi.

4. Virus
Banyak penelitian tentang inokulasi virus pada binatang kecil dan besar yang dilakukan dengan maksud untuk mengetahui peran infeksi virus dalam proses terjadinya neoplasma, tetapi hingga saat ini belum ditemukan hubungan antara infeksi virus dengan perkembangan tumor pada sistem saraf pusat.

5. Substansi-substansi Karsinogenik
Penyelidikan tentang substansi karsinogen sudah lama dan luas dilakukan. Kini telah diakui bahwa ada substansi yang karsinogenik seperti methylcholanthrone, nitroso-ethyl-urea. Ini berdasarkan percobaan yang dilakukan pada hewan

IV. GEJALA KLINIK
Gejala klinik pada tumor intrakranial dibagi dalam 3 kategori, yaitu :
1. Gejala umum
2. Gejala lokal
3. Gejala lokal yang menyesatkan (False lokalizing features)
1. Gejala Klinik Umum
Gejala umum timbul karena peningkatan tekanan intrakranial atau akibat infiltrasi difus dari tumor. Gejala yang paling sering adalah sakit kepala, perubahan status mental, kejang, nyeri kepala hebat, papil edema, mual dan muntah. Tumor maligna (ganas) menyebabkan gejala yang lebih progresif daripada tumor benigna (jinak). Tumor pada lobus temporal depan dan frontal dapat berkembang menjadi tumor dengan ukuran yang sangat besar tanpa menyebabkan defisit neurologis, dan pada mulanya hanya memberikan gejala-gejala yang umum. Tumor pada fossa posterior atau pada lobus parietal dan oksipital lebih sering memberikan gejala fokal dulu baru kemudian memberikan gejala umum.
Nyeri Kepala
Merupakan gejala awal pada 20% penderita dengan tumor otak yang kemudian berkembang menjadi 60%. Nyerinya tumpul dan intermitten. Nyeri kepala berat juga sering diperhebat oleh perubahan posisi, batuk, maneuver valsava dan aktivitas fisik. Muntah ditemukan bersama nyeri kepala pada 50% penderita. Nyeri kepala ipsilateral pada tumor supratentorial sebanyak 80 % dan terutama pada bagian frontal. Tumor pada fossa posterior memberikan nyeri alih ke oksiput dan leher. (4,9,10)
Perubahan Status Mental
Gangguan konsentrasi, cepat lupa, perubahan kepribadian, perubahan mood dan berkurangnya inisiatif adalah gejala-gejala umum pada penderita dengan tumor lobus frontal atau temporal. Gejala ini bertambah buruk dan jika tidak ditangani dapat menyebabkan terjadinya somnolen hingga koma. Tumor di lobus frontalis daerah prefrontal bisa memberikan gejala gangguan mental sebelum munculnya gejala lainnya, berupa perubahan perasaan, kepribadian dan tingkah laku serta menderita merasakan perasaan selalu senang (euforia); jadi menyerupai gejala psikiatris. Makin besar tumomya, gejala gangguan mental ini semakin nyata dan kompleks. Afasia motorik (gangguan bicara bahasa berupa hilangnya kemampuan mengutarakan maksud) bisa terjadi bila tumor mengenai daerah area Broca yang terletak di belahan kiri belakang. Reflck me-megang (grasp reflex) juga khas untuk tumor di lobus frontalis ini. Pada stadium yang lebih lanjut bisa terjadi gangguan pembauan (anosmia), gangguan visual, gangguan keseimbangan dalam berjalan, gangguan bola mata karena kelumpuhan sarafnya serta edema papil
Seizure
Adalah gejala utama dari tumor yang perkembangannya lambat seperti astrositoma, oligodendroglioma dan meningioma. Paling sering terjadi pada tumor di lobus frontal baru kemudian tumor pada lobus parietal dan temporal.
Edema Papil
Gejala umum yang tidak berlangsung lama pada tumor otak, sebab dengan teknik neuroimaging tumor dapat segera dideteksi. Edema papil pada awalnya tidak menimbulkan gejala hilangnya kemampuan untuk melihat, tetapi edema papil yang berkelanjutan dapat menyebabkan perluasan bintik buta, penyempitan lapangan pandang perifer dan menyebabkan penglihatan kabur yang tidak menetap. Tumor di lobus oksipitalis memberikan gejala awal ter-utama nyeri kepala. Gejala khas yang muncul yaitu defek lapangan penglihatan sebagian. Lesi di hemisfer dominan bisa menimbulkan gejala tidak mengenal benda yang dilihat (visual object agnosia) dan kadang-kadang tidak mengenal warna (agnosia warna), juga tidak mengenal wajah orang lain (prosopagnosia)
Muntah
Muntah sering mengindikasikan tumor yang luas dengan efek dari massa tumor tersebut juga mengindikasikan adanya pergeseran otak. Muntah berulang pada pagi dan malam hari, dimana muntah yang proyektil tanpa didahului mual menambah kecurigaan adanya massa intrakranial.

2. Gejala Klinik Lokal
Manifestasi lokal terjadi pada tumor yeng menyebabkan destruksi parenkim, infark atau edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor ke daerah sekitar tumor (contohnya : peroksidase, ion hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin), semuanya dapat menyebabkan disfungsi fokal yang reversibel.
Tumor Kortikal
Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti paralisis pos-iktal. Meningioma kompleks atau parasagital dan glioma frontal khusus berkaitan dengan kejang. Tanda lokal tumor frontal antara lain disartri, kelumpuhan kontralateral, dan afasia jika hemisfer dominant dipengaruhi. Anosmia unilateral menunjukkan adanya tumor bulbus olfaktorius.
Tumor Lobus Temporalis
Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, defisit lapangan pandang homonim, perubahan kepribadian, disfungsi memori dan kejang parsial kompleks. Tumor hemisfer dominan menyebabkan afasia, gangguan sensoris dan berkurangnya konsentrasi yang merupakan gejala utama tumor lobus parietal. Adapun gejala yang lain diantaranya disfungsi traktus kortikospinal kontralateral, hemianopsia/ quadrianopsia inferior homonim kontralateral dan simple motor atau kejang sensoris.
Tumor Lobus Oksipital
Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym yang kongruen. Kejang fokal lobus oksipital sering ditandai dengan persepsi kontralateral episodic terhadap cahaya senter, warna atau pada bentuk geometri.


Tumor pada Ventrikel Tiga dan Regio Pineal
Tumor di dalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat ventrikel atau aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus. Perubahan posisi dapat meningkatkan tekanan ventrikel sehingga terjadi sakit kepala berat pada daerah frontal dan verteks, muntah dan kadang-kadang pingsan. Hal ini juga menyebabkan gangguan ingatan, diabetes insipidus, amenorea, galaktorea dan gangguan pengecapan dan pengaturan suhu.
Tumor Batang Otak
Terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan pandang, nistagmus, ataksia dan kelemahan ekstremitas. Kompresi pada ventrikel empat menyebabkan hidrosepalus obstruktif dan menimbulkan gejala-gejala umum.
Tumor Serebellar
Muntah berulang dan sakit kepala di bagian oksiput merupakan gejala yang sering ditemukan pada tumor serebellar. Pusing, vertigo dan nistagmus mungkin menonjol.
3. Gejala Lokal yang Menyesatkan (False Localizing Features)
Gejala lokal yang menyesatkan ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor yang sebenarnya. Sering disebabkan oleh peningkatan tekanan intrakranial, pergeseran dari struktur-struktur intrakranial atau iskemi. Kelumpuhan nervus VI berkembang ketika terjadi peningkatan tekanan intrakranial yang menyebabkan kompresi saraf. Tumor lobus frontal yang difus atau tumor pada korpus kallosum menyebabkan ataksia (frontal ataksia).
V. DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yang dicurigai menderita tumor otak yaitu melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik neurologik yang teliti, adapun pemeriksaan penunjang yang dapat membantu yaitu CT-Scan dan MRI. Dari anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala yang dirasakan oleh penderita yang mungkin sesuai dengan gejala-gejala yang telah diuraikan di atas. Misalnya ada tidaknya nyeri kepala, muntah dan kejang. Sedangkan melalui pemeriksaan fisik neurologik mungkin ditemukan adanya gejala seperti edema papil dan deficit lapangan pandang.
Pemeriksaan Penunjang
CT scan dan MRI memperlihatkan semua tumor intrakranial dan menjadi prosedur investigasi awal ketika penderita menunjukkan gejala yang progresif atau tanda-tanda penyakit otak yang difus atau fokal, atau salah satu tanda spesifik dari sindrom atau gejala-gejala tumor. Kadang sulit membedakan tumor dari abses ataupun proses lainnya.
Foto polos dada dan pemeriksaan lainnya juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah tumornya berasal dari suatu metastasis yang akan memberikan gambaran nodul tunggal ataupun multiple pada otak.
Pemeriksaan cairan serebrospinal juga dapat dilakukan untuk melihat adanya sel-sel tumor dan juga marker tumor. Tetapi pemeriksaan ini tidak rutin dilakukan terutama pada pasien dengan massa di otak yang besar. Umumnya diagnosis histologik ditegakkan melalui pemeriksaan patologi anatomi, sebagai cara yang tepat untuk membedakan tumor dengan proses-proses infeksi (abses cerebri).
VI. TERAPI
Pemilihan jenis terapi pada tumor otak tergantung pada beberapa faktor, antara lain :
- kondisi umum penderita
- tersedianya alat yang lengkap
- pengertian penderita dan keluarganya
- luasnya metastasis.
Adapun terapi yang dilakukan, meliputi terapi steroid, pembedahan, radioterapi dan kemoterapi.

Terapi Steroid
Steroid secara dramatis mengurangi edema sekeliling tumor intrakranial, namun tidak berefek langsung terhadap tumor.
Pembedahan
Pembedahan dilaksanakan untuk menegakkan diagnosis histologik dan untuk mengurangi efek akibat massa tumor. Kecuali pada tipe-tipe tumor tertentu yang tidak dapat direseksi.
Radioterapi
Tumor diterapi melalui radioterapi konvensional dengan radiasi total sebesar 5000-6000 cGy tiap fraksi dalam beberapa arah. Kegunaan dari radioterapi hiperfraksi ini didasarkan pada alasan bahwa sel-sel normal lebih mampu memperbaiki kerusakan subletal dibandingkan sel-sel tumor dengan dosis tersebut. Radioterapi akan lebih efisien jika dikombinasikan dengan kemoterapi intensif.
Kemoterapi
Jika tumor tersebut tidak dapat disembuhkan dengan pembedahan, kemoterapi tetap diperlukan sebagai terapi tambahan dengan metode yang beragam. Pada tumor-tumor tertentu seperti meduloblastoma dan astrositoma stadium tinggi yang meluas ke batang otak, terapi tambahan berupa kemoterapi dan regimen radioterapi dapat membantu sebagai terapi paliatif.
VII. DIAGNOSIS BANDING
Gejala yang paling sering dari tumor otak adalah peningkatan tekanan intrakranial, kejang dan tanda deficit neurologik fokal yang progresif. Setiap proses desak ruang di otak dapat menimbulkan gejala di atas, sehingga agak sukar membedakan tumor otak dengan beberapa hal berikut :

- Abses intraserebral
- Epidural hematom
- Hipertensi intrakranial benigna
- Meningitis kronik. (5)
VIII. PROGNOSIS
Prognosisnya tergantung jenis tumor spesifik. Berdasarkan data di Negara-negara maju, dengan diagnosis dini dan juga penanganan yang tepat melalui pembedahan dilanjutkan dengan radioterapi, angka ketahanan hidup 5 tahun (5 years survival) berkisar 50-60% dan angka ketahanan hidup 10 tahaun (10 years survival) berkisar 30-40%. Terapi tumor otak di Indonesia secara umum prognosisnya masih buruk, berdasarkan tindakan operatif yang dilakukan pada beberapa rumah sakit di Jakarta.













ILUSTRASI KASUS
            Seorang pasien laki-laki berumur 57 tahun masuk bangsal Neurologi RSUP dr. M Djamil Padang,  pada tanggal 24 Oktober 2013
ANAMNESIS : Diperoleh dari istri pasien
Keluhan Utama : Penurunan kesadaran
Riwayat Penyakit Sekarang:
·      Penurunan kesadaran sejak 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit, terjadi secara berangsur-angsur.
·      Awalnya, sekitar 6 bulan yang lalu pasien mengeluhkan lemah anggota gerak kanan dan hanya bisa berbicara dengan kalimat-kalimat pendek, akan tetapi pasien masih dapat melakukan aktivitas harian sendiri seperti menyetir mobil, mandi, makan, dll tanpa dibantu.
·      Sekitar 2 bulan yang lalu kondisi pasien semakin menurun, pasien berjalan dengan dipapah dan berkomunikasi hanya dengan menggunakan kata-kata.
·      Satu bulan yang lalu pasien hanya terbaring di tempat tidur dan tidak dapat melakukan semua aktivitas sendiri, awalnya pasien masih menyahut saat ditanya dengan kata-kata “iya/tidak”.
·      Sejak 3 hari yang lalu kondisi pasien  semakin menurun, dan satu hari sebelum masuk Rumah Sakit pasien tidak menyahut ketika dipanggil dan tidak bisa membuka mata.
·      Tidak ada mutah dan tidak disertai kejang.
·      Pandangan ganda dan sakit kepala tidak diketahui sebelumnya.
·      Pasien sudah berobat ke dokter Spesialis Saraf dan diberikan obat-obatan dan rutin melakukan fisioterapi.
Riwayat Penyakit Dahulu
·         Riwayat stoke pada tahun 2006 dengan lemah anggota gerak kanan, pulang bisa berjalan
·         Riwayat menderita penyakit keganasan sebelumnya tidak ada
·         Riwayat hipertensi tidak ada
·         Riwayat diabetes melitus tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga
·         Riwayat keluarga dengan penyakit keganasan sebelumnya tidak ada
·         Riwayat hipertensi, diabetes mellitus dan jantung tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK (pada tanggal 26 Oktober 2013)
Vital Sign
Keadaan Umum          : Sedang                      Frekuensi Nadi            : 112
Kesadaran                   : Sopor                         Frekuensi Nafas          : 25
Suhu                             : 36,40C                      Tekanan Darah            : 170/100
BB                               : 50 kg                        TB                               : 168 cm

 Status Internus:
·         Kulit                      :  tidak ada kelainan
·         Mata                      :  konjungtiva : tidak anemis
                                       sklera           : tidak ikterik
·         Telinga                  :  tidak ada kelainan
·         Hidung                  :  tidak ada kelainan
·         Leher                     :  tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening
·         Paru                       :
Inspeksi           :  normochest, simetris kiri = kanan statis dan dinamis
Palpasi             :  sulit dinilai
Perkusi            :  sonor kiri sama dengan kanan
Auskultasi       :  bronkovesikuler, ronkhi (+/+), wheezing (-)
·         Jantung
Inspeksi           : iktus tidak terlihat
Palpasi             : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
Perkusi            : batas jantung dalam batas normal.
Auskultasi       : irama teratur, bising tidak ada.
·         Abdomen
Inspeksi           : perut tidak membuncit, distensi tidak ada
Palpasi             : hepar dan lien tidak teraba.
Perkusi            : timpani
Auskultasi       : bising usus (+) normal
·         Punggung              : tidak ada kelainan
·         Alat kelamin          : tidak diperiksa

Status Neurologikus
Status neurologikus:
·          GCS : E2M5V2
·          Tanda perangsangan selaput otak
            Kaku kuduk                : -                     Kernig             : -
            Brudzinsky I               : -                     Brudzinsky II  : -
            Laseque                       : -
·          Tanda peningkatan TIK
            Pupil anisokor             : -
·          Nervi Kranialis
N. I                  :  sulit dinilai                                      
N.II                 :  sulit dinilai  
N.III,IV,VI     :  pupil isokor kanan dan kiri, bulat, Ф 2mm/2mm, RC +/+
                           doll’s eye movement (+), funduskopi : papil batas tidak tegas,

   cupping kabur, warna hiperemis, AA : VV = 2 : 4, AV cross (+)
   Kesam : papil udem ODS
N.V                 :  reflek kornea (+/+)
N.VII              :  plika nasolabialis kanan lebih datar dibandingkan kiri
N. VIII                        :  tes oculoauditorik (+/+)
N. IX, X         :   reflek muntah (+), arkus faring simetris kiri = kanan,
                                        uvula ditengah, nadi teratur           
N. XI               :  sulit dinilai
N. XII             :  sulit dinilai

·          Pemeriksaan Koordinasi
Cara berjalan               :           sulit dinilai
Romberg test               :           sulit dinilai
Romberg dipertajam   :           sulit dinilai
Tes jari hidung            :           sulit dinilai
Supinasi-pronasi          :           sulit dinilai
·          Motorik
Kekuatan         : dengan tes jatuh lateralisasi ke kanan
            Tonus              : eutonus
            Trofi                : eutrofi
·          Sensorik
            Dengan sensasi nyeri (+)
·          Fungsi Otonom
            Miksi  terpasang kateter
            Defekasi ada
            Sekresi keringat ada
·          Reflek fisiologis
            Biseps              : ++/++                        Triseps             : ++/++
            KPR                : ++/++                        APR                : ++/++

·           Reflek patologis
            Babinsky         : -/-                               Chadok           : -/-
            Oppenheim      : -/-                               Gordon            : -/-
            Schaefer          : -/-                               Hoffman         : -/-

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Hb  : 14,2 g/dl                                     Ur/Cr      : 53/0,3
Ht   : 42%                                            Na/K/Cl : 141/3/105
Leu : 12.300/ mm3                                         GDS       : 156
Tro  : 138.000/mm3

PEMERIKSAAN TAMBAHAN
EKG : irama sinus, HR: 110x/I, ST elevasi (-), ST depresi (-), T inverted (-),
SV1+RV6 < 35mm, Kesan : takikardi
Brain CT Scan : Lesi hiperdens inhomogen bebatas tegas mengobliterasi ventrikel lateral
  kiri tanpa perifokal udem, sistem ventrikel melebar, sulci dan giri
  menghilang cerebellum, pons, CPA tidak tampak kelainan.
  Kesan : SOL intrakranial susp. tumor dengan hidrosephalus obstruktif

RENCANA PEMERIKSAAN TAMBAHAN  
1.      Rontgen foto thorax
2.      Analisa gas darah

DIAGNOSA
·           Diagnosis klinik              : Penurunan Kesadaran + Hemiparese Dextra + Parese Nervus VII dextra tipe sentral dengan    peningkatan TIK
·         Diagnosis etiologi             :   Subkortex serebri hemisfer sinistra
·         Diagnosis topik                 :   SOL (Susp. Tumor Intrakranial)
·         Diagnosis skunder             :   CAP



TERAPI
            Umum :           Elevasi kepala 30
                                    IVFD Asering 8 jam/kolf
                                    NGT MCRG 6 x 300 kkal
                                    Balance cairan
            Khusus :          Citicolin 2 x 250 mg (IV)
                                    Alinamin F 1 x25 mg (IV)
                                    Dexametason 4 x 5 mg (IV)
                                    Ranitidin 2 x 50 mg (IV)
                                    Asetazolamid 3 x 200 mg (PO)
                                    Tamoliv 3 x 1000 mg (IV)
                                    Ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)
FOLLOW UP
27 Oktober 2013
S/    - Penurunan kesadaran (+)   
        - Buka mata spontan (-)
        - Muntah (-), Kejang (-), Sesak nafas (+)
        - Demam (+)
O/    KU                         : buruk                      Kesadaran       : sopor
        TD                          : 140/90mmHg         Nadi                : 64x/menit
        Nafas                      : 26x/menit               Suhu                : 38,50C
SI     : ronkhi (+/+), bunyi jnatung teratur, bising (-), distensi abdomen (-), BU (+)
           menurun
SN   : GCS:  E2 M5 V2 :9, TRM (-), Peningkatan TIK (-)
          N. cranialis           : pupil isokor, Ф 2mm/2mm, RC +/+ (menurun)
                                         Dolls’s eye movement (+), plika nasolabialis kanan
                                         datar dibandingkan kiri, tes oculoauditorik(+/+)  
         Motorik                 : lateralisasi ke kanan
         Sensorik                : dengan rangsangan nyeri (+)
         Otonom                 : miksi terpasang kateter, defekasi ada, keringat ada
A/   Suspect SOL
R/   Brain CT scan dengan kontras
Terapi:
Umum :           Elevasi kepala 30
                        O2 4 liter/menit
                                    IVFD Asering 8 jam/kolf
                                    NGT MCRG 6 x 300 kkal
                                    Balance cairan
            Khusus :          Citicolin 2 x 250 mg (IV)
                                    Alinamin F 1 x25 mg (IV)
                                    Dexametason 4 x 5 mg (IV)
                                    Ranitidin 2 x 50 mg (IV)
                                    Asetazolamid 3 x 200 mg (PO)
                                    Tamoliv 3 x 1000 mg (IV)
                                    Ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)
28 Oktober 2013
S/    - Penurunan kesadaran (+)   
        - Buka mata spontan (-)
        - Muntah (-), Kejang (-), Sesak nafas (+)
        - Demam (+)
O/   KU                          : buruk                      Kesadaran       : koma
        TD                          : 140/100mmHg       Nadi                : 74x/menit
        Nafas                      : 28x/menit               Suhu                : 38,50C

SI     : ronkhi (+/+), bunyi jnatung teratur, bising (-), distensi abdomen (-), BU (+)
           menurun
SN   : GCS:  E2 M4 V2 :8, TRM (-), Peningkatan TIK (-)
          N. cranialis           : pupil isokor, Ф 2mm/2mm, RC +/+ (menurun)
                                         Dolls’s eye movement (+), plika nasolabialis kanan
                                         datar dibandingkan kiri, tes oculoauditorik(+/+)  
         Motorik                 : lateralisasi ke kanan
         Sensorik                : dengan rangsangan nyeri (+)
         Otonom                 : miksi terpasang kateter, defekasi ada, keringat ada
A/   Suspect SOL
R/    Analisa gas darah
Terapi:
Umum :           Elevasi kepala 30
                        O2 4 liter/menit
                                    IVFD Asering 8 jam/kolf
                                    NGT MCRG 6 x 300 kkal
                                    Balance cairan
            Khusus :          Citicolin 2 x 250 mg (IV)
                                    Alinamin F 1 x25 mg (IV)
                                    Dexametason 4 x 5 mg (IV)
                                    Ranitidin 2 x 50 mg (IV)
                                    Asetazolamid 3 x 200 mg (PO)
                                    Tamoliv 3 x 1000 mg (IV)
                                    Ceftriaxone 2 x 1 gr (IV)






Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget