17 Desember 2014

Kepadamu, calon putri shalihah kami



Assalamu'alaikum sayang
(Hehe janinnya jawab dengan ketukan di dalam perut)
Apakabar mu sayang?
Ibu senang, kemarin saat usg dokter bilang kamu sehat-sehat saja dan bertumbuh sesuai dengan usiamu, dan ibu juga senang kamu sudah sering menendang-nendang sekarang. Terkadang perut ibu terasa sakit, ibu bingung, apakah posisi berbaring atau duduk ibu yang membuat sakit atau kamu yang lagi protes di dalam karena ga nyaman entah karena apa.

Sayang, ibu yakin kita bisa saling memahami perasaan masing-masing, ibu pun dapat membayangkan betapa ributnya di dalam perut ibu ini, kamu bisa dengar detak jantung ibu lebih jelas, kamu dengar aliran darah ibu, kamu dengar gemuruh air ketuban disekelilingmu, bahkan suara berisik ibu bersin, tertawa cekikikan ibu, suara kentut ibu dan juga suara gemuruh guntur di luar sana. Hei, kamu juga bisa mendengar suara ayah dan ibu mengaji bukan? Hehe, kami ingin membuatmu akrab dengan suara lantunan al qur'an, kami punya harapan yang besaaar sekali untuk kamu jadi penghafal al qur'an kelak, aamiin.


Putri kami yang shalihah, yang kami tunggu-tunggu kehadiranmu...
Kami in syaa Allah sabar menanti, hingga saatnya nanti kamu siap menyapa dunia dengan tangisanmu, merasakan dekapan ibu, ayah dan orang-orang terdekat yang juga menyayangimu, bahkan sebelum kamu lahir sayang.


Sayang, semoga nyaman ya di perut ibu, cepat tumbuh sehat sempurna, ibu dan ayah berusaha yang terbaik untuk mendukung pertumbuhanmu dan melindungimu dari hal-hal yang membayahakan buatmu.

Sayang, maafkan ibu tidak bisa menelan kapsul-kapsul vitamin itu buatmu ya, ibu sudah mencoba, tapi sering kali gagal sayang. Semoga nutrisimu tercukupi dengan makanan yang lain ya.

Ingin sekali memelukmu sayang, tapi saat ini ibu hanya bisa mengelusmu dari permukaan kulit ibu dan sesekali membalas tendanganmu dengan ketukan jari-jari ibu juga dari permukaan kulit perut ibu, hehe tak apa ya, kita in syaa Allah terhubung selalu sayang.

Wassalamu'alaikum

Ibu

07 Desember 2014

Antara jarak, waktu dan rasa

Memasuki masa internsip yang wajib kami lalui demi masa depan ( haha, ga tau sepenuhnya masa depan kami tergantung oleh profesi ini sih, hanya menjalani saja) kami mendapat giliran untuk stase IGD terlebih dahulu, itu artinya dinas sendiri-sendiri. Sudah sekian lama saya tidak pernah dinas malam lagi, terakhir kami desember 2013- januari 2014, dinas yang mau tak mau harus dijalani, waktu itu demi uang yang bisa di dapat, hehe. Setelah menikah kami bersepakat untuk tidak menerima tawaran jaga klinik yang ada jam malamnya, karna jam-jam tersebut hak kami berdua sebagai keluarga (terkecuali seminggu di daerah siak yang kami pun menginap di sana 24 jam, tapi itu pun bikin kapok).
Seminggu ini kami dinas malam berganti-gantian, selang sehari, ketemunya dari pagi pulang dinas hingga malam dengan salah satu dari kami harus pergi ke RS.
Layaknya anak sekolahan yang menanti-nanti jam pulang dan malas-malasan menghadapi jam masuk, begitulah kami, hahaha, ga rela aja berpisah jarak, walaupun itu cuma berbilang 2km jarak kostan dan RS, tapi tetap saja... waktu ketemunya 12 jam kemudian.

Ketika terpisah jarak selama 22 hari di bulan kedua kami menikah berasa menyiksa sekali, susah payah menyabar-nyabarkan hati, haha.
Sepertinya kami memang ketergantungan satu sama lain.

Well, dikarenakan bukan hanya kami yang mengalami long distance marriage (2km aja ini jaraknya cumaaa), kami mencoba bersikap tegar meskipun tetap tidak mau membiasakan diri dengan kondisi ini, takutnya esok-esok merasa tidak masalah jika terpisah-pisah.

Semangat!

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget