28 Maret 2014

Semacam dua macam rasa

Cinta yang menyakitkan tetap saja cinta.
Cinta biasa bisa jadi obat yang menyembuhkan, menenangkan.

Cinta yang menyakitkan bisa menjadi disinfektan, pada awalnya akan perih, namun jika ditahan, dikatupkan gigi rapat2, ditahan rasa sakitnya, pada akhirnya ia akan juga menyembuhkan.

#quote aja
#ngertiapakamutentangcintace

12 Maret 2014

Rotasi 2

Dari sekian panjang perjalanan koas, ini terminalnya.
Alhamdulillah sudah 7 minggu dijalani.
Memang tidak seberwarnawari (apalah istilah ini) koas di RS, rotasi 2 di puskesmas punya ceritanya tersendiri.

Kami dapat giliran ketiga untuk masuk puskesmas, ada jeda sekitar sebulan sebelum masuk ke puskesmas setelah menyelesaikan siklus yang diulang.
Entah bodoh entah pintar memanfaatkan waktu dan kesempatan lah namanya, saya memutuskan untuk mencoba mengisi waktu liburan dengan jaga di RS swasta di pariaman, sedap2 ngeri sih, melihat banyak tuntutan dg melakukan suatu hal yg ilegal tapi bnyk dilakukan orang. Allah, ampuni ce yang sudah melayani pasien tanpa SIP dan STR...

Begitulah, memasuki pelayanan di puskesmas untuk anamnesis dan komunikasi dengan pasien ce ga terlalu kagok, ga kagetan, 3 minggu cukup untuk ce bertemu dengan berbagai macam pasien dan dianggap sebagai dokternya, di puskesmas kadang dianggap dokter, kadang ngga, tetapi yang kagoknya ya sama obat2an, biasanya leluasa aja ngeresepin apapun, merk2 canggih, sekarang terbatas, ga bisa juga periksa labor bnyk2, ga bisa konsul ke spesialis terkait, harus mutusin sendiri dan berdoa banyak2 moga2 pasiennya sembuh. ;)


Dengan suasana di puskesmas yang pelayanannya rame dari pagi sampe jam 11an aja, siang2 nya cendrung bosan karna ga ada kerjaan.
minggu2 di puskesmas 1, diisi dengan makan sate ( favorit diatas semua favorit), sholat zuhur dan sesudah itu tidur di KIA, benar2 teratur tidur siang, menunggu jam 14.30.
Dan sudah bisa ditebak hasilnya, berat badan membumbung 2kg, hahah, apalah ini namanya, parah. Tapi rekan saya chapo lebih keren lagi naik 3kg dan ridho 8kg.
Oow.. masalah sensitif ini.

Untuk kunjungan2 ke rumah pasien kabin di puskesmas 1 agak repot dikit, nyatanya pasiennya tidak terlalu kooperatif, jarang dirumah.
Jadi setiap lewat depan rumah mereka ce otomatis menoleh ke sana, memeriksa apakah mereka ada dirumah. Sampai sekarang pun kalau ke jg spt itu, refleks saja.

Hal yang didapat di sana, dicuek kan, dianggap tidak ada, dianggap tidak bermakna itu memang menyakitkan teman, tapi ada andilnya kita juga disana, yang jelas, saya bisa menghela nafas masa bodoh jika hal yang tidak mengenak kan saya rasakan, toh besok2 dengan mudah saya lupakan, tapi jangan harap saya akan bersusah payah untuk dianggap, no thanks, sebegini aja cukup, daripada saya sebal setiap hari.

2 minggu menjalani hari di puskesmas kedua terasa lebih ringan, atmosfernya bersahabat, maka dengan itu saya juga mudah bersahabat dengan paramedis disana, ga ada malas2an yang parah seperti ditempat yang sebelumnya. Meski memang tidak ada tuntutan yang berlebih dari kedua tempat, tapi tetap saja berbeda.
Saya lebih terbuka disini, mungkin juga sudah mulai nyaman dengan teman2 seperjuangan juga, adapatasi itu memang selalu unik ya, ada kesan masing2.
Ah ya, kurangnya disini, hoho ga gitu juga sih, saya aja yg kurang elit, 2minggu disini saya langsung bokek, ngikutin selera makan teman2 bikin kantong jebol, saya waspada2in aja dulu rencana makan siang teman2 ke mana aja dulu, salah salah langkah ngikut berakibat ga tenang makan siang itu. Hahahah.

Untuk sekarang saya bikin semacam catatan harian pasien yang saya temui apa aja hari ini, walaupun berulang, tetap aja dibikin, tiap pasien adalah guru, guru pengalaman, gurunya seni pengobatan.

Hari ke hari makin dekat rasanya untuk ukdi.
Mari persiapkan diri.

10 Maret 2014

Ayah

Ayah, bagaimana cara mengungkapkan rindu padamu


Ayah, bagaimana cara mengatakan cinta ini padamu


Kita berkata memang tidak dalam diam, tapi kata-kata indah diatas hanya kita pahami dari bahasa tubuh saja.


Ayah, gadis kecilmu ini memang tak selamanya patuh dan mengangguk manis.
Ketika aku menggeleng keras dan menangis, pasti hatimu tersedot, tangismu juga tercekat di dada, tak sanggup berkata, menjelaskan apa yang engkau pikirkan.


Ayah, belum lega senyummu menyaksikan gadis kecilmu mengenakan toga nya ia sudah melambaikan tangan padamu.
Bukan, bukan lambaian tangan menyapa, tetapi diiringi kepergiannya dengan seseorang yang entah dengan selaksa rasa apa yang engkau rasakan ketika memberikannya izin.

Ayah, aku, gadis kecilmu masih penasaran dengan pelukanmu, yang mungkin terakhir kali kurasakan saat silam sering berpura-pura tertidur di depan tv.
Aku tak berani memulainya, hanya tangan besar itu yang selalu kuciumi dengan ta'dzim.
Aku penakut ya?
Walaupun aku sebenarnya lebih takut jika hanya bisa melakukannya ketika engkau tersenyum terakhir kalinya.

Ayah, aku ingat engkau membagi resahmu padaku saat kakakku akan pergi bermil-mil jauhnya, tak lagi dengan mudah engkau singgahi saat perjalanan pergi atau pulang dari kampusmu.
Dan aku tak tahu engkau akan membagi resahmu dengan siapa jika aku meminta izinmu untuk pergi bermil-mil juga darimu.

Ayah, aku mengingatimu hanya ketika diujung sholatku. Pelit sekali gadismu ini. Padahal mungkin, engkau lebih sering mengingatiku daripada hitungan lima.


Ayah, ayah kuat sekali, kukuh sekali, walau seringnya aku tidak bisa meringankan beban itu.
Ayah, sering sekali aku yang membuatnya semakin sulit, semakin berat.


Ayah, aku masih punya janji kecil yang selalu ku sepelekan. Seperti janji pada nenek yang juga belum aku tuntaskan.
Janji yang tertimbun oleh tumpukan kesibukan yang sebenarnya jauh lebih sepele.
Gadismu pemalas sekali ayah.

Ayah, seberapa hebat nanti rinduku padamu? Dan rindumu padaku?
Ayah, seberapa sering nanti engkau bertanya pada ibu ; " sadang manga cece kini ko"


Ayah, tak ada lagi nanti yang senang sekali menyembunyikan rokokmu.
Tak ada lagi yang ribut sekali memotongkan kuku-kuku tebalmu.
Tak ada lagi yang minta tolong motornya dikeluarkan dan dipanaskan.
Tak ada lagi yang engkau singgahi saat mengunjungi kota padang, yang selalu saja minta tambahan jajan.
Tak ada lagi yang minta jemput dari tempat dinasnya malam-malam.
Tak ada lagi yang dimintai tolong ke ladang untuk mengambil gambar-gambar hasil keringatmu yang meskipun tidak pernah dicetak, tapi engkau tidak pernah kapok.

Ayah, aku takkan hilang dari hatimu, begitupun pada hati ini, tak bergeser semili pun posisimu, hanya jarak dan waktu saja ayah, hanya itu ya hanya itu, namun sangat bermakna.


Ayah, pun engkau tak akan membaca tulisan ini. Aku penakut ayah. Atau lebih tepatnya pengecut.

06 Maret 2014

Good doctor

"Bayi-bayi itu belum bisa bicara, tidak pandai mengekspresikan tangisnya, tapi dari gerangan tangan kecilnya ia mengatakan bahwa ia ingin hidup"
Park Si On dalam drama Good Doctor.

Aaaak.... saya bangeeet (ngaku2 aja).
Saya ingin, pengen, ngebet banget jadi dokter bedah anak, mau menyambung harapan mereka untuk masa depan tanpa kecacatan yang bukan kehendaknya ia bawa sedari lahir. Ingin mereka hidup selayaknya anak terlahir sempurna lainnya.
Ingin orang tuanya bisa senyum sumringah lega tanpa khawatir anaknya menderita dengan ketidaksamaan dengan yang lainnya.

Allah, adakah jalan ke sana?
*penuhharap.

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget