27 Desember 2012

kokohkanlah

kokohkanlah ya Allah..
tegarkanlah..
sebesar apa pun masalah, pastinya kami punya Engkau Yang Maha Besar..

Ma, Pa, kita pasti kuat, kita minta pertolongan pada yang lebih hebat dari mereka, sungguh lebih hebat!

hasbunallah wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashiir

posted from Bloggeroid

22 Desember 2012

Cubit

22tahun umur saya
Gaek memang
Tapi kenapa masih ada yang berani cubit pipi saya?

Ga sekali dua kali
Sering

Mereka ga tau ya kalo dicubit itu sakit?
Hei bayi2 dan balita2, saya tau penderitaan kalian, saya janji tidak cubit kalian *wajahserius

Hahaha
Si pipi , kasian dia, ga punya salah, ga nakal tapi dicubit juga.


"hei michel, makin temok saja" frau Nela said dan dg gemasnya mencubit pipi saya. Saya pasrah. Mana mungkin jadi murid durhaka.

" icee, saya gemas liat kamu" kak sari said, dan ini berulang kali tiap ketemu, maka saya harus pakai cadar.

"ih, akak ko" yuni said, dan dg sekuat tenaga mencubit saya, dan tentu saya tak rela setengah hidup.

"kak, ciek harapan in pas sobok ko nyoh, nyubik pipi kak" intan said. What's the hell going on? Dan dia berhasil. Ya Allah, kabulkanlah do'a hamba yang terdzalimi inih

posted from Bloggeroid

Cinta sejati bukanlah perasaan yang membuat kita mengharu biru, tapi keputusan yang dibuat dengan sepnuh hati dan pertimbangan matang

Rasa percaya ; tak harus merasakan cinta dulu untuk memilikinya

posted from Bloggeroid

Nenek dan nonton tengah malam

Berhubung tempat tinggal saya dibesarkan berfungsi sebagai ruko, jadi sudah terbiasa untuk begadang, tutupnya jam 12-an keatas.
Nah, gimana dg mengisi waktu sebelum tidur itu?
Sebuah hal yang ga sulit ditebak sih; nonton :p
(dimohon jangan protes kenapa saya tidak belajar saja, hoho karena siangnya udah bikin pe-er :D)
Jadilah saya lebih mengetahui film-film bagus (yang ketika SMP saya baru tau itu namanya box office) di tengah malam dibanding jam-jam tayang lainnya.
Mulainya jam 10 selesainya jam 1 atau 2 dini hari, demi apa iklan harus panjang2 dan saya selalu mengamati iklan awal dan akhirnya selalu sama (penting ini).
Dan, sekiranya dipertengahan film ma'wo ( nenek) saya selalu teriak ; alah tu, matian tipi tu, lalok wak lai (sudah, matikan tv, tidur gih), dan saya tentunya ngeyel, tapi esok dan esoknya berulang lagi seperti itu, tak jarang ma'wo berhasil membuat saya penasaran setengah mati dengan teganya menekan tombol power tv dan saya hanya mengerang tertahan
'arrghh'

Berlalu bertahun2 kemudian
SMA saya ngekos, kuliah juga, ga ada aktivitas nonton box office lagi.
Trus nyampe di tempat kkn, ada tivi, digital lagi ( langung lompat2, hore2, eh ga juga). Temen2 hobinya pagi-siang-malam nonton gosip, jadinya saya lebih menikmati jam tengah malam saja di depan tv( nostalgia kebiasaan lama) dan.... bagaimanakah tanggapan Nenek Kalek( nenek yang pny rumah)?
Beliau ga ngelarang sama sekali, bahkan ikutan nonton, hehe, nanti disuruh tidur beliaunya ga mau, nonton katanya (walaupun setelah itu sering tertidur sambil duduk) walo pun ngga ngerti jalan cerita film.

Beda karakter kedua nenek itu ;
Ma'wo ce ga suka berisik tv, nek Kalek senang dengan suara ramai (sekarang nek kalek kesepian ga ya setelah kami tinggal pergi)

Hoo kira2 nanti saya sudah jadi nenek2, lebih suka yang seperti apa ya?
:D

posted from Bloggeroid

Ujian bedah

Bentar lagi ujian
Dijadwalkan hari kamis untuk saya, kak ika, ed dan bg riyal.
Well, belum tau pengujinya siapa aja jadinya harap2 cemas :)

Setidaknya kemungkinan2 utk dapat penguji 'dewa' sudah pupus, but let it be lah..
Toh yg penting usaha dan do'a dulu
Masih ada persiapan 5 hari lagi.
Mari belajar! (ahaha ini masih blogging)

Ga berasa sih ya udah mau ujian aja, masih pengen dapet ilmu yang banyak dari prof kamardi dan konsulen lainnya, dari residen juga, dan masih mau ketemu sama pasien di bedah anak skrg (hehe ini jahat kayaknya, si anaknya kan ga mau lama2 disana).

Hehe pengennya sih jadi dokter bedah, banyak yang sangsi, sanggup ga dg 'dunia bedah' yang kata prof harus punya ;
Hawk's eye-Lion's heart-Lady's hand. Well, tak ada yang salah dengan bermimpi. Ketika sudah menghujam keinginan itu, percayalah, there's a way!

Satu tahap lagi insyaAllah akan terlewati, beranjak ke tahapan berikutnya.
Semoga semakin lebih baik ^^9

posted from Bloggeroid

21 Desember 2012

Komitmen

32 tahun mereka bersama
Sejatinya itu rentang waktu tak sebentar

Konflik, justru mendekatkan mereka
Mereka bukan pasangan romantis, bukan pasangan agamis
Biasa-biasa saja
(tapi kami peduli apa, mereka tetap luarbiasa)

Pernahkah ada yang menanyakan kenapa orangtua mereka bisa menikah?
I do
Ketika masih SMP malah, ketika umur belasan, melihat teman2 pacaran, jadian-putus-nyambung/jadian, begitulah, jadinya bertanya-tanya, bagaimana proses orang tua saya.

Apa(ayah saya) dengan nyengir menjawab;
Entahlah kenapa bisa, Ama (ibu saya) ce adalah calon ke-40 Apa (saya ketawa lebar, saya antara percaya dan tidak, Apa saya sering membual), ditawarkan ke Umi(ibu ayah saya) beliau merasa cocok lalu kami berkenalan.
Apa pergi ke rumah Ama di Belakang Olo dengan sepeda dari Lapai, bersama Ni Yet (keponakan Apa) lalu kami hanya main di pantai (lalu saya tertawa lagi, membayangkan Apa muda menuntun sepeda beriringan dg Ama dan ni Yet di pantai, pacaran macam itu rasanya tak ada lagi).
Sebentar saja(berkenalannya) lalu kami menikah.

*Kemarin lalu, ama pernah nyeletuk; ni ada undangan dari calon Apa yang ga jadi (oo...bertahun-tahun dari cerita Apa baru saya percaya) anaknya menikah.


Tak mulus memang
Dan memangnya siapa pula yang senang hidupnya mulus-mulus saja
Bagi orang sekitar yang, hidup mereka banyak pahitnya, tapi mereka berhasil(ukuran berhasil itu bukan hanya kaya, sukses saja) satu persatu melewatinya, tertatih sebentar, berjalan normal, tapi rasanya tak pernah lama bisa berlari kencang.

Sekarang , mereka masih bersama( dan semoga selamanya, hingga ke surga, amin)
Kami telah dewasa(at least kedua kakak saya), saatnya melanjutkan estafet kehidupan itu, berbekal didunia dan mendambakan berkumpul di surga.

Allahummaghfirli waliwali dayya warhamhuma kama rabbayana saghira

posted from Bloggeroid

Laf yu mam

untuk semua ibu di dunia, you're
the greatest woman.

untuk semua cinta yg diberikan,
cinta yg tak dipinta, cinta yg terang
benderang saat canda hingga larang
mu, terimakasih, sungguh
terimakasih.

posted from Bloggeroid

20 Desember 2012

Cinta

Demikianlah
Saya tak mengerti sepenuhnya
Kenapa mereka bisa tak merasai cinta
Bukankah mereka tumbuh bersama?
Saling berebut makanan, saling sikut saat dimarahi ayah ibu, saling menertawai
Tak ada sisakah?

Tak ada do'a kebaikan yang disebut-sebut?
Tak ada pilah pilih kata yang tak menghujam?
Cinta
Ah, haruskah benci yang mengambil alih
Toh seharusnya luka itu tak memupus jalan pulang ke rumah

Langit semakin senja
Rumah pun belum lagi terjumpa senyum dengan gurat tua namun bahagia

Hidup di dunia hanya garis lurus yang akan dibatasi sebuah kotak
Aduh, sia-sia sekali jika sepanjang itu tanpa cinta.

posted from Bloggeroid

11 Desember 2012

Belajar ikhlas

Anggap saja dalam tiap perbuatan kita bagi jadi tiga tahap

Ada permulaan
Pelaksanaan
Hasil perbuatan

Nah, ketiganya ga lepas dari godaan
As we know
Kalo permulaan digoda dg rasa ragu, tak percaya bahwa ini akan berhasil, sangsi, dkk dsb dst
Kalo pelaksanaan digoda dg riya, pengen dilihat oleh orang banyak, pengen terlihat berbuat 'sesuatu' yg bermakna
Kalo hasil perbuatan, tergoda dg ketidakikhlasan
(well, ntah bener urutannya ntah ngga, pikiran bodoh ce merasa seperti itu)

Step by step nya ga boleh diabaikan, tergelincir dikit, luruskan niat lagi, dan berhati2 lah diujung, ntar ternyata pahalanya dah melayang, tak bersisa.

Astaghfirullah..

Sesuatu yg baik, selalunya diawali dg dipaksakan, kemudian terbiasakan.
Kalo kebiasaan buruk maah, mudah banget.

Mari belajar!
Mari bertahan!

Sekeset apa pun kita, pasti ada maknanya (quote macam apa inih?)

posted from Bloggeroid

08 Desember 2012

Titik air

Lama gersang
Menggerus kesabaran

Aduhai si awan, jarang bermain disekitaran sini, membiarkan si surya gagah gagahan sendiri

Sekalinya awan gemuk datang, pun malam-malam
Tapi tanpa ampun menggelontorkan semua muatan
Lihat, si kecil jalanan jadi kerut menggigil tak punya teduhan

Hujan
Siang ini hujan
Alhamdulillah
Semoga sampe sore
Jadinya ga jadi nonton bola
*ending yang merusak flow

Hahahaha

posted from Bloggeroid

04 Desember 2012

Solitude

Mendung itu lama tak beranjak
Pun lama sekali untuk meruahkan
bebannya
Sementara dibumi
Ada yang bermendung hati
Se-rasa dengan langit
Menggumpal-gumpal sedihnya
Dalam sendiri, tak tahu mau dibagi
kemana
Sedih itu bernama kehilangan,
tercerabut pula senyum itu dengan
hilangnya ayah-bunda
Sedih itu memuntahkan berbagai
pertanyaan, berbagai isakan
mengapa harus aku?
tiada kuasa untuk tersenyum
bahagia lagi
mendung makin gelap menyelimuti
hanya menunggu angin untuk
mencipta hujan
mengigil ia demi sedihnya
mengalahkan gigilan laparnya
menderas pertahanan itu
tangis itu bukan hanya sudah terlalu
letih
:untuk meluruhkan beban berat itu
langit sekarang menangis
melaburkan air mata si kecil malang
yang menengadah
langit sekarang menangis
si kecil tak merasakan panas
airmatanya, dingin berhujan
tapi kecamuk dihatinya masih
membara
belum rela kehilangan peluk hangat
ibunya
belum puas mencium takzim tangan
besar ayahnya
langit tak sekedar mendung,
menghitam saja, menderas
mengucur hujannya
si kecil meraup tangan, menyeka
wajah basahnya
percuma menangis
langit tak akan mengembalikan
mereka dengan tangisnya
menyusul mereka pun ia takut
tersesat
lebih baik menelan tangis ini
lebih baik meneguhkan berdirinya
tubuh kecil ini
lebih baik berdamai dengan Tuhan
berdamai dengan dirinya sendiri
esok, jika pun mendung kembali
menyapa
ia tak ingin larut lagi
ia ingin hanya merasakan sejuknya
melup
Weakan sedihnya
Lubuk Alung mendung, 2 juni 2011
*judulnya nyomot judul puisi di
buku Bahasa Indonesia pas SMA
dulu, hehe, lupa siapa yg punya

posted from Bloggeroid

Mengulang

Siapa yang sekolaaah...ngacuuung...
Sayaaaa
Siapa yang pernah HER, remedial, ujian ulang?
Sayaaa
:p

Hehe ga keitung sih udah berapa kali saya mengulang ujian.
Berbagai faktor yang bisa membuat kita(terkhusus diri saya) mengulang ujian, terutama internal, tak siap itu intinya. Jadinya pas 'perangnya' amunisi ga cukup, fokus terpecah karna ketidaksiapan tadi, eh tapi kalo kepedean juga bisa gagal, takabur, trus dikerjain ,(baca : diuji) deh sama Allah :))

So..so.. After that gimana?
Sedihlah
Nyesellah
Nyesek lah, apalagi kalo liat temen yang curang tapi dia bisa lulus juga(hoho berasa nih kurang ikhlasnya)

Kawan, sebenernya kalo dipikir2, harus disyukuri juga loh kalo kita masih bisa ngulang ujian. kita menjalaninya sesuatu, trus kita ga maksimal, ditegur kita ; "eh kamu tuh, ga lulus ini, jangan2 besok dan besoknya lagi kamu bakal bikin kesalahan yang lebih fatal karena hal yang seperti ini aja belum menguasainya " (dalam khayalannya kertas ujian atau kertas pengunguman itu bisa bilang itu), kita harusnya lega dong, masih ada kesempatan kedua(ketiga, keempat,kelima, eh jangan keterusan) bisa lebih loncat lagi melewati kegagalan yang pertama, secaranya udah tau kerikil2 sandungannya dimana

Yep yep
Praktek lebih susah daripada ngomong. I know.
Tapi berusahalah untuk ikhlas
It's just about the time
Jika kamu lelah dengan semua itu ( apolo tu dunia mah), just take a deep breath, life must go on, Allah besides you, take the second chance with a smile, you can do that! Allah ga pernah bohong, pasti ada kemudahan sesudah kesulitan :D

Untuk semua yang ngulang blok, remedial, bolak balik revisi skripsi, ngulang siklus, ngulang bikin tugas, atauapalahsemuanamanya, semangat terus dipupuk, gagal bukan berarti kita ga bisa maksimal untuk yang berikutnya

*btw, belum satupun hasil siklus saya yang lulus atau tidaknya, tuing -_-

posted from Bloggeroid

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget