02 September 2011

My position

Jalan Padang - Bukit Tinggi, Sintuk Toboh Gadang, Sintuk Toboh Gadang
http://m.google.com/u/m/AnxzyU'>Micelia Amalia's location@10:05am,9/2


Aneh, ini kan pasar raya lubuk alung, knp dibilang sintuk ya?

Om gugel, sintuk itu masih agak jauhan dari sini....
Published with Blogger-droid v1.7.4

Cintanometer (2)

Permasalahan besar itu nampaknya
teratasi sudah . Mereka bersulang di
balai kota, berseru bersama memuji
kepintaran para penemu. Tanpa sedikit
pun menyadari laporan itu ternyata
belum lengkap benar. Karena pelahan -
lahan muncullah berbagai masalah
akibat cintanometer itu.
***
Vyrzas, lelaki baya berumur enam
puluh tahun , duduk menangis di
pojokan kota sambil mengelus kepala
botaknya penuh penyesalan. Dengan
alat itu , barusan ia tahu bahwa
sesungguhnya semenjak empat puluh
tahun silam hingga hari ini, Veronica ,
kembang kampus universitas kota
kami, ternyata amat mencintainya. Ah,
mengapa alat ini baru diciptakan
sekarang ? Sesalnya. Lihatlah, wanita
tua itu sudah beranakpinak dengan
pria lain . Ia dulu ternyata terlalu naif
menganggap dirinya jelek , bodoh dan
sama sekali tidak berguna bila
dibandingkan dengan gadis itu yang
amat cantik, pintar dan populer.
Tetapi kesedihan Vyrzas bukan
masalah serius bagi tetua kota saat ini.
Yang sudah berlalu biarlah berlalu .
Toh itu murni kesalahan Vyrzas . Yang
lebih penting dan mendesak, lihatlah
berbagai pertengkaran yang segera
menyeruak di rumah - rumah
penduduk.
“Aku tak menyangka hatimu busuk
selama ini!” Nenek itu berseru kencang
dari salah satu rumah .
“Apa maksudmu?”
“Lihat ini !” Ia berseru sambil
memperlihatkan telinganya . Kakek itu
tersumpal mulutnya.
“Pokoknya aku tidak mau lagi melihat
mukamu di rumah ini . Pergi ! Pergi
bajingan !” Nenek itu menangis dalam
marah. Ia tidak menyangka pemuda
yang dinikahinya enam puluh tahun
silam ternyata sedikit pun tidak
mencintainya. Jangankan berkedip,
mendesing pun tidak cintanometer di
telinganya. Ternyata suaminya
menikahinya semata -mata karena
kedudukan dan harta orang tuanya .
Segeralah berbagai borok suami
terbongkar . Berbagai aib istri terbuka
lebar -lebar . Banyak sekali pemuda
yang menikahi istrinya hanya karena
harta , kekuasaan , atau kecantikan
wajah. Dan sebaliknya gadis -gadis yang
menikah hanya karena tebalnya
kantong suaminya, rumah -rumah ,
mobil-mobil terbang dan berbagai
kemewahan dunia lainnya . Mereka
bertengkar hebat malam itu.
Cintanometer benar-benar
menelanjangi para pelaku selingkuh.
Suami- suami yang tidak cinta lagi
melihat tubuh istrinya . Suami -suami
yang lebih suka menghabiskan malam -
malan di bar -bar kota . Alat itu juga
membantu anak -anak yang tak
beruntung menerjemahkan perasaan
sesungguhnya dari ayah atau ibu tiri
mereka. Dengan segera di tengah -
tengah lautan cinta yang terjadi di
jalanan , harmoni rumahrumah tangga
penduduk kota kami satu demi satu
rontok.
Tetua kota segera berembug
membahasnya. Satu dua tetua kota
berkata pelan di tengah keramaian : ia
memang dari dulu sudah khawatir
sekali dengan alat pendeteksi cinta ini,
sudah terlalu banyak penemuan tidak
pantas yang telah mereka buat selama
ini. Penemuan yang menebas tata
aturan kehidupan . Cinta adalah urusan
langit dan tidak sepantasnya mereka
mencoba mengakalinya .
Tetapi mayoritas tetua kota kami
mengabaikan keluhan itu. Jika ada
masalah yang muncul dari
cintanometer itu maka anggap saja
harga yang harus dibayar untuk
mengatasi permasalahan
pertambahan penduduk kota . Dan
bukankah lebih banyak anakanak
muda yang akan segera
melangsungkan pernikahannya
dibandingkan dengan rumah tangga
yang hancur berantakan?
Malam itu juga putus. Cintanometer
akan terus diedarkan.
***
Hari-hari berlalu menjadi setahun,
setahun berjalan dirangkai hari-hari.
Siang ini genap lima tahun semenjak
penemuan itu pertama kali
diluncurkan dulu. Lihatlah apa yang
terjadi di kota kami . Bayibayi mungil
kelihatan di mana- mana. Jumlah
penduduk double . Krisis
kepedendudukan itu lewat sudah.
Cintanometer selama lima tahun
berturut- turut mendapat penghargaan
Penemuan Terbaik Tahun Ini . Setiap
tahun fiturnya di tambah, dibuat lebih
gaya dengan model dan warna -warni
mutakhir . Penggunaannya pun
semakin friendly user, tidak berkedip ,
tetapi berbisik. Bisikan cinta yang bisa
di setting sedemikian rupa , termasuk
menggunakan suara artis favorit kalian.
Malah cintanometer oleh sebagian
besar penduduk kota di usulkan agar
ditetapkan sebagai penemuan terbaik
sepanjang abad ini. Melihat situasi
yang sedang berkembang dalam
masyarakat, sepertinya wacana itu akan
benar-benar menjadi kenyataan.
Masalahnya di tengah -tengah
kegembiraan tetua kota , dan leganya
perasaan anak -anak muda, ada
sesuatu yang tanpa disadari pelahan -
lahan merubah kehidupan kota itu .
Alat itu bagi sebagian orang ternyata
dari hari ke hari secara pasti membuat
kehidupan mereka menjadi sangat
sistematis, terukur dan tidak menarik
lagi . Tidak ada lagi seorang pemuda
atau seorang gadis yang berdiri cemas
menunggu di halte , berharap idaman
jantungnya datang dan mereka bisa
pergi satu bus, syukur -syukur bisa
duduk bersebelahan. Tidak ada lagi
degup jantung penasaran saat seorang
pemuda menyatakan cintanya,
menyajak puisi -puisi , menggenggam
tangan sang kekasih . Tidak ada lagi
lipatan suratsurat yang secara
sembunyi- sembunyi dititipkan atau
diselipkan di lemari sekolah, sekuntum
bunga mawar yang dikaitkan di pintu
rumah , atau seorang pemuda yang
memetik gitar bernyanyi keras -keras di
halaman rumah gadis idamannya.
Semakin lama, malah tidak ada lagi
cokelat berbentuk jantung sebagai
hadiah penanda cinta , tidak ada lagi
balon-balon merah itu, tidak ada lagi
cupid si peri cinta. Tidak ada lagi syair-
syair kerinduan, soneta pujaan hati,
tidak ada lagi irama ratapan
kesendirian. Penduduk kota ini tidak
memerlukan itu semua. Cinta pelahan -
lahan namun pasti telah berubah
menjadi barang instan.
Jika cintanometer berkedip- kedip itu
artinya cinta. Jika tidak berkedip -kedip
maka tidak ada cinta . Lama -lama
penduduk kota mulai lupa apa itu
cinta, bagaimana sesungguhnya
perasaan seseorang saat jatuh cinta?
Mereka hanya mengerti soal kedip dan
tidak mengedip. Bisik atau tidak
berbisik. Lama -lama mereka malah
kehilangan kosa kata cinta ? Siapa lagi
yang perlu kata cinta jika kau bisa
menterjemahkannya dengan mudah
melalui sebuah alat mungil yang
canggih? Berbisik Oke,jika tidak cari yang lain.Sesederhana itu .
Maka kata cinta dihapuskan dari kamus
besar bahasa kota kami , karena tak ada
lagi yang mengerti apa maksudnya .
Berikut kata- kata yang menyerupai dan
menyertainya. Kalian tak akan lagi
menemukan kata: kasih , sayang , rindu ,
bertepuk sebelah tangan, pungguk
merindukan bulan, bujang tua, jomblo
dan kata- kata lainnya .
Dan ketika aku sempat berkunjung ke
kota itu minggu lalu . Dalam ramainya
ruang pesta di balai kota, aku
tersenyum bersalaman dengan
penduduk kota. Berkata mengenalkan
diri , “ Namaku Jun. Aku pengelana hati.
Datang dari jauh mencari cinta. Adakah
gadis rupawan di kota ini yang masih
sendiri dan mau menghabiskan sisa
hidup bersamaku?” mereka menatapku
aneh sekali .
Seperti kalian sedang menatap
mahkluk dari galaksi lain .
***

mimpi-mimpi si patah hati
oleh Tere Liye




*ga kebayang efek dari alat itu kalo bener-bener ada.
Seperti semua alat yang kita imajinasikan bisa dikeluarkan dengam mudah oleh doraemon tapi rentetan akibatnya tentu belum tentu memberikan kebermanfaatan pada banyak orang.

Hmm...ga mau ada alat itu.
Published with Blogger-droid v1.7.4

Cintanometer

kota kami, walau terletak persis di
tengahtengah gurun pasir maha luas,
hujan bukanlah barang langka. Jika
penduduk kota ingin merasakan hujan,
maka tinggal bilang ke balai kota.
Seperti kemarin, anak tetangga sebelah
rumah , rindu berat berlari- lari di atas
gelimang lumpur, di bawah atap langit
yang mencurahkan beribu- ribu bulir
air kesegaran. Maka orang tuanya
segera memesan hujan . Selang dua
belas menit kemudian , awan hitam
datang berarak, guntur dan petir
sambar menyambar , tak lama turunlah
hujan sesuai pesanan .
Jangan salah sangka dulu , kota kami
memang terpencil jauh dari seluruh
penjuru dunia , tetapi bukan berarti
penduduk kota kami lebih primitif
dibandingkan kalian. Kami tidak
memanggil hujan lewat dukundukun ,
nyanyian -nyanyian , apalagi
sesembahan tak berguna itu,
sebaliknya kami memanggil hujan
dengan teknologi tingkat tinggi . Maju
sekali , malah jauh lebih maju
dibandingkan dengan menerbangkan
pesawat untuk menaburkan butiran
pembuat hujan di awan -awan yang
biasa ilmuwan kalian lakukan .
Di sini banyak penemu. Yang terhebat
di seluruh dunia, malah . Jadi jangankan
soal hujan, soal rumit lainnya , seperti
mobil terbang, rumah mengapung ,
lampu tenaga udara, pil anti lapar ,
suntikan seribu penyakit dan yang
lebih sulit lainnya ada di sini . Dengan
berbagai penemuan hebat itu,
kehidupan berjalan amat baik dan
berkecukupan .
Tetapi suatu hari, dewan kota
mendadak mengadakan pertemuan.
Tentu ada hal super penting yang telah
terjadi, karena rapat ini adalah rapat
mendadak untuk pertama kalinya
dalam lima ratus tahun terakhir. Para
tetua risau sekali tentang sesuatu.
Tentang mengapa angka pertumbuhan
penduduk kota ini stagnan, bahkan
dua tahun belakangan justeru minus
sekian persen. Jika trend pertumbuhan
penduduk tetap seperti itu,
dikhawatirkan seratus hingga dua ratus
tahun mendatang , penduduk kota ini
akan musnah.
Lama berdebat akhirnya ditemukanlah
muasal permasalahannya . Yaitu karena
angka pernikahan anakanak muda
turun amat tajam. Kenapa angka
pernikahan turun amat tajam? Karena
anak- anak muda ternyata susah sekali
menemukan jodohnya masing - masing .
Kenapa anakanak muda amat susah
menemukan jodoh? Karena angka
penolakan cinta meningkat tajam. Dan
kenapa angka penolakan cinta
meningkat tajam? Karena anakanak
muda itu terlalu malu untuk
mengungkapkan perasaannya . Takut
ditolak, takut ditertawakan , takut
dihinakan, lebih sial lagi akan dikenang
sepanjang masa : sebagai pecundang.
Tetua kota ramai lagi berdebat mencari
solusi masalah pelik ini. Bagaimana
agar anak- anak muda itu tidak cemas
dan takut lagi menyatakan cintanya ?
Akhirnya setelah berbagai usulan
diterima, mulai dari yang sama sekali
tidak masuk akal hingga yang malah
tidak ada kaitannya sama sekali dengan
akar permasalahan , solusi yang
dimaksud disepakati .
Dewan kota akan menciptakan alat
pendeteksi cinta . Sebut sajalah
namanya cintanometer. Bentuk fisiknya
kurang lebih mirip freehand telepon
genggam yang kalian kenal selama ini.
Dicantolkan di telinga, dan ia dengan
kecanggihannya akan memberitahukan
perasaan yang sedang dipikirkan oleh
lawan jenis di hadapanmu .
Bagaimana caranya? Tidak jelas juga
seperti apa. Terlalu rumit untuk
dituliskan. Tetapi kurang lebih
cintanometer akan mendeteksi gesture
tubuh, kadar pheromon , getaran arus
listrik yang timbul dari detak jantung
pasangan Anda , medan
elektromagnetik yang muncul dari
sekujur kulitnya, sinyal alpha dari bola
matanya , frekuensi dan lamda getaran
suara saat pasangan Anda berbicara
dan berbagai pemicu kimiawi lainnya
yang terus terang aku juga tidak terlalu
mengerti .
Dengan cintanometer itu, anak- anak
muda tak usah malu lagi menyatakan
cinta. Alat ini seratus persen akan
menjamin kalkulasi variabel yang
ditangkapnya benarbenar nyata .
Deviasi kesalahannya kecil sekali ,
sehingga kalian tak usah lagi khawatir
ditolak mentahmentah.
ditolak mentahmentah.
Mendengar kabar tentang
cintanometer, penduduk kota kami
dilingkupi kegairahan yang luar biasa .
Mereka belomba -lomba mencari tahu
sejauh mana kemajuan ilmuwan
terbaik mereka menciptakan alat
pendeteksi cinta tersebut. Tak sabar
lagi mereka menunggu hari H
peredarannya di toko- toko kelontong.
Malah di tengah -tengah kota dipasang
penghitung waktu mundur
(countdown) menunjukkan sisa hari
peluncurannya.
***
Dan ketika tiba hari H peluncuran
cintanometer itu , kota kami heboh
sekali . Inilah penemuan terbesar
sepanjang masa . Muda- mudi berdiri
mengantri membentuk kelokan
puluhan kilometer di depan balai kota
untuk mendapatkan alat pendeteksi
cinta. Lelaki tua dan wanita tua yang
tak laku-laku juga terselip hampir di
setiap dua- tiga pengantri. Orang- orang
tua yang sudah menikah pun ternyata
ikut mengantri . Juga anak -anak di
bawah umur.
Rusuh sekali antrian itu . Saling
menyelak. Jangan pernah kalian
meleng sedikit saja, alamat tempat
berdiri sudah diisi oleh tiga -empat
orang yang tak dikenal . Semakin lama
kerusuhan dalam antrian semakin
meluas . Masalahnya ternyata
pembagian alat tersebut agak sedikit
terganggu karena baru saja tetua kota
menyadari mereka sama sekali belum
melakukan analisis dampak lingkungan
atas cintanometer ini. Tak ada yang
pernah berpikir hal ihwal yang akan
terjadi akibat beredar bebasnya alat ini ,
apalagi lihatlah batasan umur para
pengantri di depan sana .
Semakin siang antrian semakin kusut .
Maka tetua kota tak ada pilihan lain
kecuali mulai membagikan
cintanometer itu . Lupakan dulu soal
analisis dampak lingkungan tersebut .
Yang penting antrian penduduk kota
tidak berubah menjadi anarki .
Mereka berebut menyambar kotak -
kotak kecil itu. Untunglah tak ada satu
pun warga kota yang mengantri
menginginkan benda tersebut yang
tidak kebagian . Lepas senja semuanya
bisa pulang dengan senyuman lega.
Berharap banyak atas benda kecil
tersebut.
Tetapi, wahai, tahukah kalian apa yang
terjadi sekejap setelah itu?
***
Kota kami tiba-tiba berubah menjadi
lautan cinta. Lihatlah anak -anak muda,
mereka seolah -olah sedang berlomba-
lomba menyatakan cintanya. Di
sepanjang jalan- jalan, di taman -taman
kota, di kafekafe, di pelataran parkir
dan pertokoan , di ruangruang kelas , di
atas mobil- mobil dan gerbong kereta,
di dalam lift dan toilet , hingga di altar -
altar suci rumah ibadah yang
seharusnya hanya dipakai untuk
berdoa .
“Clarice , aku cinta padamu?” seru
seorang pemuda dari salah satu meja,
di kafe tengah kota.
“Aku sudah tahu , Leonardo !” gadis itu
juga berteriak sambil memperlihatkan
alat itu di telinganya . Mereka berdua
tertawa. Juga tertawa bersamaan
dengan seluruh isi kafe lainnya.
Anakanak muda yang dimabuk asmara.
Bersemu merah saling menggenggam
tangan .
“Patrice , andai kau meminta bulan,
tentu tak sungkan aku berikan.. ..”
“Sudahlah, Desovov … .” dan gadis di
meja satunya lagi itu melompat
menyeberangi piring-piring .
Sungguh . Padahal kemarin,
kemarinnya lagi , minggu-minggu lalu ,
dan sepanjang hari selama setahun
terakhir ini gadis itu hanya mampu
berdiri menatap pemuda pujaannya
lewat begitu saja di gang bawah sana
dari balik teralis jendela . Terlalu gentar
untuk mengakui . Terlalu takut untuk
menyatakan cintanya.
Kemanapun kau pergi malam itu ,
maka yang akan kau dapati hanyalah
anak- anak muda dengan trendi
mengenakan cintanometer di
telinganya, berjalan kesana- kemari
coba menemukan pasangannya. Saat
alat di telinga mereka berkedip- kedip ,
mereka berseru kegirangan . Itu berarti
ada seseorang yang mencintainya
radius seratus meter darinya.
Apa yang terjadi kemudian?
Tergantung. Jika pasangan yang
ditunjukkan oleh cintanometer itu
ternyata tampan dan memang pujaan
jantungnya selama ini , maka tak
sungkan ia menggamit tangannya ,
menatap tersenyum dengan muka
bersemu merah . Tetapi jika ternyata
pasangan yang ditunjukkan oleh
cintanometer itu ternyata jelek dan
malah sosok yang dibencinya selama
ini, maka dengan terbirit -birit ia akan
lari menjauh .
Amat beruntung seorang pemuda atau
gadis yang berkali -kali cintanometernya
berkedip -kedip . Itu berarti ada banyak
pilihan baginya untuk menyatakan
cinta. Dan di tengah -tengah keramaian
cinta ini, ironisnya , ada saja pecinta
yang tidak sedikit pun cintanometernya
berkedip -kedip .
Awalnya mereka tidak terlalu panik .
Mungkin alat miliknya rusak atau
baterainya habis . Mereka buru- buru
mencoba meminjam alat pendeteksi
cinta milik temannya, berharap nasib
akan berubah. Percuma . Semua alat
yang dikeluarkan oleh balai kota selalu
dalam kondisi seratus dua belas
persen oke .
Maka tinggallah mereka merana
menjadi penonton pertunjukan cinta di
kota kami . Tetapi siapa peduli dengan
orang-orang yang tidak beruntung itu?
Jumlah mereka sedikit . Dan bukankah
dengan demikian , alat pendeteksi cinta
itu membantu seleksi genetik kota
kami. Pemuda atau gadis yang tak
pernah dicintai oleh seseorang maka
sudah sepatutnyalah tidak meneruskan
keturunan genetiknya , demikian
kesimpulan tetua kota .
Mendengar laporan meningkatnya
angka jatuh cinta anak -anak muda di
kota kami , tetua kota tersenyum lega.

cont'd

MMSPH by Tere Liye
Published with Blogger-droid v1.7.4

01 September 2011

Gelegar gemuruh

Menggemuruh langitMu malam ini
Hujan, turunlah...
Entah apa yang menahanmu malam tadi tak jadi menyapa bumi
Seperti malam ini, engkau pun menyapa dengan gemuruh, tapi tetap saja engkau bersikukuh disana atau mungkin melompati koordinat ranah ini untuk mencurahkann ya dititik lain?
Hujan, ayolah... meriuhlah malam ini
Published with Blogger-droid v1.7.4

Gelegar gemuruh

Menggemuruh langitMu malam ini
Hujan, turunlah...
Entah apa yang menahanmu malam tadi tak jadi menyapa bumi
Seperti malam ini, engkau pun menyapa dengan gemuruh, tapi tetap saja engkau bersikukuh disana atau mungkin melompati koordinat ranah ini untuk mencurahkann ya dititik lain?
Hujan, ayolah... meriuhlah malam ini
Published with Blogger-droid v1.7.4

Bosan

Indikator bosan itu pada apa?



Membunuh bosan itu dengan apa?



Bahkan, mengingat esok akan sama adanya juga sudah bosan



Fufufu
Sudahi saja
Indikatornya seberapa kebersyukuranmu ce
Membunuhnya dengan ejawantah syukurmu pula


Wasyukurillah...
Published with Blogger-droid v1.7.4

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget