22 Januari 2011

Cardiovascular test (in English)

173. Which one of the following ECG components varies with heart rate?
a. PR interval
b. QRS duration
c. ST segment
d. QT interval
e. QRS voltage
174. Which of the following cardiac parameters decreases during pregnancy?
a. Cardiac output
b. Stroke volume
c. Heart rate
d. Blood volume
e. Systemic vascular resistance
175. Which of the following occurs during systole?
a. Blood passes from atria into the ventricles
b. The atrioventricular (AV) valves are open
c. Rapid ventricular filling occurs
d. The ventricles contract
e. Atrial contraction propels final proportion of blood into ventricles
176. Cardiac output, the volume of blood ejected from the ventricles in
1 minute, is equal to which of the following?
a. The product of heart rate and stroke volume
b. The product of contractility and preload
c. The difference between preload and afterload
d. The product of heart rate and preload
e. The difference between contractility and afterload
Review the Frank-Starling curve to answer questions 177–179.

177. Curve A corresponds to which of the following?
a. A patient in congestive heart failure
b. A patient with normal left ventricular function who is receiving intravenous
dobutamine as part of a diagnostic study for ischemia
c. A patient in congestive heart failure due to diastolic dysfunction
d. A normal person whose stroke volume increases as preload increases
e. A patient with congestive heart failure treated with a positive inotrope
178. Curve B corresponds to which of the following?
a. A patient in congestive heart failure treated with a positive inotrope
b. A patient in congestive heart failure due to systolic function
c. A normal person whose stroke volume increases as preload increases
d. A patient with normal left ventricular function who is receiving intravenous
dobutamine as part of a diagnostic study for ischemia
e. A patient in congestive heart failure due to diastolic dysfunction
179. Curve C corresponds to which of the following?
a. A patient in congestive heart failure due to systolic dysfunction
b. A normal person whose stroke volume increases as preload increases
c. A patient with normal left ventricular function who is receiving intravenous
dobutamine as part of a diagnostic study for ischemia
d. A patient in congestive heart failure due to diastolic function
e. A patient in congestive heart failure treated with a positive inotrope
Review the left ventricular pressure volume loop to answer questions
180–183.


180. Which of the following represent the mitral valve opening?
a. Point A
b. Line A–B
c. Point B
d. Line B–C
e. Point C
181. Which of the following represent the mitral valve closing?
a. Line A–B
b. Point B
c. Point C
d. Line B–C
e. Point D
182. Which of the following represent the aortic valve opening?
a. Point A
b. Line B–C
c. Point C
d. Line C–D
e. Point D
183. Which of the following represent left ventricular ejection?
a. Point A
b. Point B
c. Line B–C
d. Line C–D
e. Point C
Review the diagram of an ECG tracing for questions 184–187.


184. Which of the following would represent left or right atrial enlargement
on a surface electrocardiogram?
a. Wide or tall P wave
b. Wide or tall T wave
c. A prominent U wave
d. An elevated J point
e. A large QRS voltage
185. Which of the following is often noted during hypokalemia?
a. Prominent P wave
b. Prominent QRS complex
c. Long Q–T interval
d. Prominent U wave
e. J point elevation
186. Which of the following represent repolarization of the ventricles?
a. P wave
b. QRS complex
c. T wave
d. J point
e. U wave
187. Which of the following would widen if a bundle branch block were
present?
a. P wave
b. QRS complex
c. T wave
d. J point
e. U wave
188. A normal frontal plane QRS axis is
a. 90degreeto 180degree
b. −30to −90
c. −30to 90
d. 0to 150
e. 0to 90
189. Which of the following associations is correct?
a. Hypokalemia: shortened Q–T interval
b. Hypercalcemia: long Q–T interval
c. Hypercalcemia: flattened T waves
d. Hypocalcemia: U waves
e. Hyperkalemia: peaked T waves

Risalah hati


Entah dimulai darimana

Entah…

Saran klasik, maka mulailah dari apa yang kamu rasakan sekarang

Entah juga

Baiklah

Setidaknya ada beberapa hal penting yang disampaikan oleh sahabat ce ttg hal2 yang patut diubah dari diri ce.

Tahukah kawan…

Dikritik itu memang pada awalnya nyelekit, bikin perih, apalagi kalo kita ga menyangka bahwa itu yang dipikirkan oleh orang kita anggap dekat, orang yang kita rasa sudah memahami kita.

Ce sepertinya bukan orang yang tegar, kuat membendung kenaifan diri, kokoh membendung airmata, tidak, tidak sama sekali ternyata.

Ego(id, I mean) dan rasionalitas berkecamuk,

Huufff..

Berat, berat sekali rasanya

Sesak menahan rasa sesal - kesal, bersalah - menyalahkan, haru - sedih, harap – khawatir….

Berbaur, pun ikut meleleh bersama airmata, aduh cengeng sekali.

Sesal karena seringkali lidah ini menyakiti, sesal karena seringkali diri ini masa bodoh terhadap orang-orang yang sepatutnya ce beri perhatian, sesal karena seringkali sok tau, sesal karena tidak bisa memahami mereka.

Kesal, siapa yang tidak kesal dengan ketidakterusterangan itu? Kesal dengan mereka pun tanpa sengaja sering menyakiti ce. Kesal, tidakkah mereka mengerti ce inginkan kebaikan untuk mereka, bukan sebaliknya.

Bersalah, untuk semua ketidakmanisan sikap ce, untuk keapatisan ce, untuk memberikan celah untuk membicarakan keburukan ce dibelakang ce, untuk diri ce yang menyebalkan-membuat stress-tidakenakdipandang-komen2 ga penting c.

Menyalahkan, ah… mereka juga seperti itu *tsaaahh…. Pembelaan diri macam apa ini? Kanak-kanak sekali

Haru, hmm.. ternyata mereka masih peduli, walau dengan bentuk ketidaksenangan mereka.

Sedih. gila! yang berputar-putar dibenak ce hanyalah :

" I'm the worst friend, worst! Worst! And worst! "

sedih.. sedih karna merasa sudah gagal menjadi pribadi yang memberikan banyak kebermanfaatan, sedih karna hanya menjadi hal yang mereka hindari, sedih karna selama ini mereka anggap ce seperti itu. (aduh, ce lagi pake kalung jahatnya Dolores Umbridge ya? Kenapa sebegini larut dalam kenaifan?)

harap….

Setidaknya ce udah tau, seberapa mengerikan ce dimata mereka, seberapa jahatnya kata-kata ce, seberapa dihindarinya seorang ice.

Setidaknya masih ada nyawa,

setidaknya masih ada detik tersisa,

setidaknya mereka belum memberi kartu merah bagi ce untuk berhenti dalam permainan hidup bersosialisasi ini,

setidaknya mereka (dalam pikiran positif ce) tidak berfikir untuk menjauhkan ce dari kehidupan mereka (kalau menghindari, mungkin saja),

setidaknya ce masih punya kesempatan untuk berubah, setidaknya ce masih punya akal sehat untuk tidak lagi mengulangi kesalahan-kesalahan ce.

Dan setidaknya, hubungan ini, kami bangun dalam ukhuwahfillah –mereka bilang seperti itu --.


 

Khawatir, jika saja ce masih tergelincir untuk mengulagi kesalahan itu, jika saja luka yang pernah ce buat membentuk jaringan parut dihati mereka lalu bekas itu bisa diungkit kapan saja, jika saja … ce tidak punya cukup waktu untuk memperbaiki itu semua…..


 

Aku tahu ku tak kan bisa

Menjadi seperti yang engkau minta

Namun selama, aku bernyawa aku kan mencoba

Menjadi seperti yang kau minta

Soal kardiovaskuler

Sumber : kumpulan soal UKDI (http://www.dokternida.blogspot.com )
1. Pria 60 tahun datang dengan keluhan sesak nafas, terasa semakin berat, tidak ada riwayat
sakit ginjal. RO thorax= pembesaran jantung. TD=160/90, N=100x/menit, RR=24x.menit.
Suara nafas tambahan (-), oedema (-), Pemeriksaan tambahan untuk menegakkan
diagnosa?
a. darah urin rutin d. EKG/ ECG
b. ureum, creatinin, elektrolit e. Ro thorax
c. AGD, tes fungsi paru

2. Hipertensi, kolesterol tinggi, HDL rendah, trigliseride tinggi, obatnya?
a. captopril + simvastatin

3. Pria 65 tahun, DM tidak terkontrol, tidak sadarkan diri, TD=140/85 kulit kering dan luka di
ujung jari kaki. Kemungkinan diagnose?
a. KAD c. Hipotiroid e. hipoglikemi
b. DM d. hipertiroid

4. Seorang wanita hamil dating ke dokter untuk melahirkan, umur kehamilan 40 minggu.
Setelah melahirkan terjadi perdarahan, TD 140/90 mmHg, nadi 120 kali/menit. Pada wanita
ini terjadi:
a. Syok septik c. syok hipovolemik
b. syok kardiogenik d. syok anafilaktik

5. Seorang anak laki-laki, 8 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan mengorok Sejak1
tahun yang lalu, hilang timbal. Pada pemeriksaan fisik tonsil T3-T2b, tidak hiperemis, cripta
membesar, tidak ada detritus. Kuman apa yang penyebab penyakit di atas, yang toksinnya
dapat menimbulkan komplikasi glomerulonefritis atau miokarditis?
a. Staphylokokus aureus d. Morexella catharalis
b. Streptokokus B hemolitikus e. Psedomonas aerogenosa
c. Pneumokokus

6. Seorang karyawan, 45 tahun mengalami hipertensi. Pada waktu diperiksa pasien
mengeluh sakit kepala sebelah dan tangan gemetar. Terapi yang sesuai?
a. Alfa bloker c. Kalsium bloker e. Diuretik
b. Beta bloker d. ACE inhibitor

7. Seorang pasien menderita hipertensi, mengalami atrofi otot, acites, terdapat edema pada
kaki, hepatomegali, JVP meningkat. Apakah obat yang sesuai untuk pasien ini?
a. Aldosteron c. Beta bloker e. Loop diuretik
b. Angiotensin II d. Tiazid

8. Obat antitrombosis:
a. verapamil c. ISDN
b. diltiazem d. klopidogrel
9. Seorang laki-laki berusia 24 tahun dirujuk ke unit gawat darurat rumah sakit setelah
tertusuk benda tajam di thoraks anterior pada sisi medial papilla mamae sinistra. Pada saat
tiba, diketahui tekanan darah = 70/50 mmHg. Vena-vena leher tampak melebar.Suara
pernafasan vesikuler normal pada kedua paru. Dari pilihan jawaban di bawah ini, step
pengelolaan berikutnya yang paling tepat adalah:
A) Foto Sinar X Thoraks
B) Intubasi endotracheal
C) EKG
D) Insersi tabung pada cavum thoraks sebelah kiri.
E) Perikardiosentesis
Jwb: A
10. Pria, 38 th, 2 mgg ini merasakan kaki kirinya terasa sangat nyeri saat tidur. sebenarnya
dirasa sakit sejak 1 tahun belakangan, namun hanya dirasakan bila berjalan. Penderita
mengeluh jarak tempuh makin lama makin pendek dan sering berhenti karena nyeri. Bila
istirahat nyeri hilang. Penderita seorang perokok berat. PF secara umum normal, pada
eks. inf. sinistra tidak teraba pulsasi a. dorsalis pedis dan tibialis posterior. pemeriksaan lab
normal.
Manakah diagnosis yg paling mungkin?
A. Acute arterial occlusion -> tdk mgkn akut sdh 1 thn
B. Thromboangitis obliterans
C. Diabetic arteriopathy
D. Chronic arterial thrombosis
E. atherosclerotic peripheral arterial occlusive disease
Jwb: B
11. Apa tanda dan gejala terpenting dari Volkmann's ischemic:
A. Pallor C. Swelling E. Pain
B. Coolness D. Numbness
Jwb: E
12. Wanita 35 tahun, tungkai kanan bengkak sejak 2 thn lalu, tidak nyeri. diagnosa paling
mungkin?
A. deep vein thrombosis C. Limfedema E. Edema
B. Lipedema D. Edema statis
Jwb: C
13. Satu hari setelah perbaikan terhadap ruptur aneurisma aorta yang dilakukan dalam
keadaan emergensi, seorang pria berusia 66 tahun menghasilkan urine sebanyak 35 mL
selama perioda 4 jam, sebuah kateter foley masih terpasang. Dia menerima 14 unit darah
selama operasi. Suhu C (100 F), tubuhnya 37.8°tekanan darah 104/68 mmHg, dan nadi
126x/menit. Pemeriksaan fisik menunjukkan adanya edema perifer yang luas. Suara
jantung normal. Pada pemeriksaan dengan auskultasi suara paru terdengar bersih. Perut
teraba lunak. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan: Hematocrit 27%, Serum Na+
143 mEq/L, K+ 5.0 mEq/L, Urine Na+ 6 mEq/L. Manakah dari pernyataan di bawah ini
yang merupakan penyebab oliguria yang paling tepat untuk pasien tersebut?
A) Gagal jantung D) Renal artery thrombosis
B) Hypovolemia E) Transfusion reaction
C) Occluded Foley catheter
Jwb: B
14. Penyebab asites dan udem tungkai pada pasien decomp cordis kanan? Peningkatan
tekanan vena cava
15. Hipertensi TD : 170/100. berdasar JNC VII ? HT St. II
16. Laki-laki 43 tahun mengeluh sesak nafas setelah menaiki tangga. Keluhan ini sudah
dialami sejak 1 bulan yang lalu. Sesak berkurang bila istirahat. JVP meningkat, bising
jantung (+). Diagnosis kelainan di atas adalah
a. Kompensasi jantung d. Atrial fibrilasi
b. Dekompensasi ventrikel kiri e. Ventikel fibrilasi
c. Dekompensasi ventrikel kanan
17. Wanita hamil 32 minggu mengeluh sesak nafas, bengkak di kaki (+), parameter lainnya
normal. Pada pemeriksaan urin, dijumpai protein +. Bagaimana hal ini bisa terjadi
A. Peningkatan tekanan osmotik plasma D. Sumbatan aliran darah
B. Penurunan tekanan hidrostatik E. Retensi garam oleh ginjal
C. Pemindahan cairan intravaskuler
18. Wanita 30 tahun, sering berdebar, gemetar, berkeringat. Pada pemeriksaan fisik: denyut
jantung meningkat, eksoftalmus, tremor, laboratorium: T meningkat, TSH menurun, EKG
AF. Apa yang menyebabkan terjadinya gangguan jantung pada pemeriksaan?
A. Hambatan pengisian darah ke ventrikel
B. Kebutuhan metabolik tubuh
C. Tamponade jantung
D. Regurgitasi katup trikuspid
E. Infarct miokard
19. Laki-laki 58 tahun mengeluh nyeri dada yang menjalar ke dagu dan lengan kiri setelah
makan siang. Nyeri yang sama kurang lebih 1 minggu yang lalu. Nyeri kurang lebih 5
menit, yang hilang saat istirahat, tekanan darah 120/70, nadi 100x/menit, T=37°C, TB=154
cm, BB= 71 kg. Diagnosis keadaan di atas adalah
A. Pleuritis D. Ulkus peptikum
B. Pneumonia E. Refluks esofagus
C. Angina pectoris
20. Laki laki gemuk 40th perokok masuk RS 3jam sebelum dirawat. Nyeri dada kiri mendadak
saat mendorong mobil. Nyeri hilang timbul lamanya 30mnt menjalar ke lengan. DM+ saat
usia 32 tahun.minum obat tidak teratur. Pmx fisik TD 170/90, nadi 96x/mnt. DX
a. Miocarditis d. Pleuritis
b. Infark miocard acute e. Kanker paru kiri
c. Pneumothorax
21. Laki-laki 50 thn riwayat Ca paru, mengeluh sesak nafas dan batuk2. foto thorak gambaran
jantung seperti botol. EKG jantung berayun di dalam ruang pericardia. Apakah penyebab
sesak nafas yang paling mungkin
a. gagal jantung d. kardiomegali hipertrofi
b. tamponade jantung e. perikarditis akut
c. kardiomiopati dilatasi
22. Pria 75 tahun datang ke UGD dengan keluhan bengkak pada kedua tungkai sejak 3 hari
yang lalu. Pada autoanamnesa dikatakan bahwa pasien menghabiskan sebagian besar
waktunya berbaring di tempat tidur, makan sedikit-sedikit dan ada riwayat hipertensi. Tes
undulasi +, atrofi otot tungkai, hepar teraba 3 cm di bawah arcus costae, JVP meningkat,
kadar albumin normal. Diagnosa?
a. gagal jantung c. gagal ginjal e. imobilitas umum
b. gagal hati d. malnutrisi
23. Pria 65 tahun, DM tidak terkontrol, tidak sadarkan diri, TD=140/85 kulit kering dan luka di
ujung jari kaki. Kemungkinan diagnose?
a. KAD c. Hipotiroid e. hipoglikemi
b. DM d. hipertiroid

Cobalah pantau penyebab kita terpukau

Sumber : http://www.annida-online.com/bianglala/cobalah-pantau-penyebab-kita-terpukau.html?pageID=1

Wah…. Kangen banget baca AnNida yang versi majalah nih…

Terpukau? Apaan tuh!

Sobat Nida, pernahkah kamu merasa terpukau pada sesuatu?

Eit, jangan salah! Terpukau itu maksudnya bukan sekedar melongo sambil melotot takjub terus ngiler (iih... jorki), tapi lebih dari itu, terpukau berarti juga terbius.

Pernah baca kisah Nabi Yusuf dalam Al-Quran? Atau setidak-tidaknya mengetahui ceritanya deh. Itu loh... adegan saat para wanita yang sedang memegang pisau untuk mengiris buah yang dihidangkan Zulaikha, tiba-tiba saja tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri begitu melihat kedatangan Nabi Yusuf. Ajaibnya... tanpa anestesi alias obat bius merek apa pun, para wanita itu sama sekali tidak merasa kesakitan meski jemari dan tangan mereka tersayat pisau. Bahkan mereka begitu terpesona menatap Yusuf sampai-sampai mengira tengah melihat malaikat turun ke bumi.

Terasa lebay? O..ow, itu kisah nyata loh. Coba cek sendiri di Al-Quran surat Yusuf, dan rasakanlah sensasi terpukau yang sungguh mengerikan. Ternyata ketika kita sedang terpukau, kita bisa benar-benar lupa diri, bahkan menyakiti diri sendiri pun tak terasa. Itulah keadaan terpukau alias terbius yang dialami oleh para wanita kala itu saat melihat paras tampan Nabi Yusuf.

"Yee... itu kan dulu, zaman sekarang belum pernah gw lihat orang yang terpukau sampai sebegitunya. Paling banter kepentok tiang listrik atau jatuh kesandung karena meleng."

Sobat Nida, boleh saja kita merasa tidak pernah terpukau berlebihan saat melihat paras rupawan atau body aduhai dari lawan jenis, tapi jangan lupa... terpukau bukan sekadar perkara menatap lawan jenis saja. Ada seribu satu hal lain yang mungkin selama ini telah membuat kita terbius tanpa sadar.

Butuh contoh? Oke, mari kita teliti beberapa hal berikut:

Facebook dan kawan-kawannya

Hayyo ngaku... pernahkah kamu ber-FB ria sampai lupa makan, lupa ke WC, lupa tidur? Bukankah dengan demikian sesungguhnya kamu sedang menyakiti diri sendiri tanpa sadar? Artinya kamu sedang terbius, terpukau.

Lagu OnlineSaykoji bisa dengan jelas memperlihatkan betapa gilanya orang-orang ketika terpukau dengan dunia maya. Rela tidur telat, bangun pagi-pagi, ngebuka facebook meski masih ngantuk, siang-malam selalu menatap layar terpaku untuk online-online! Kerasa kebangetan nggak sih?

Ini bukan berarti nge-net atau FB itu buruk, asal tidak berlebihan dan masih dalam taraf kewajaran, oke kok.

Fashion dan kawan-kawan

Nah, mungkin yang ini lebih banyak dialami kaum wanita. Pernahkah kamu belanja ngiterinmall sampai lupa waktu? Badan sudah pegal, kepala sudah pening, mata sudah berat, tapi tetap saja kamu rela terus menyidik setiap toko untuk berburu barang-barang terbaik: baju yang paling oke, sepatu yang paling fashionable, tas yang terkeren, hape yang tercanggih.

Kamu begitu terpukau dengan barang-barang yang dipajang di tiap etalase toko itu sampai-sampai lupa diri, otakmu terbius.

Games

Saat ini games sudah ada dalam genggaman, tidak hanya di warnet atau di komputer rumah. Lewat HP pun kita sudah bisa men-download . Sadar atau tidak, kita bisa dibuat terpukau akibat permainan tersebut: Lupa waktu, lupa segalanya.

Atau, kita bisa juga terpukau oleh berbagai permainan yang ditawarkan di Timezone dan tempat lain sejenisnya. Bukan hanya lupa waktu, bahkan kita bisa lupa berapa banyak logam yang telah kita masukkan ke dalam mesin-mesin pemakan uang itu. Kita benar-benar terbius.

Film, Sinetron, atau Tayangan Teve

Satu lagi hal yang mungkin bisa bikin kita lupa diri adalah saat menonton. Saking serunya, kita sampai-sampai meng-cancelaktivitas lainnya yang bisa jadi jauh lebih penting. Hmm...

            Bagaimana sobat Nida? Sudah bisa membayangkan model terpukau zaman sekarang? Weit, jangan sangka pembahasan kali ini enteng. Coba simak terus bianglala ini hingga titik terakhir!

Terpukau, So What Gitu Loh?

Memangnya kenapa kalau kita terpukau? Nggak boleh?

Hmmm... sabar dulu dong, Sobat sekalian! Ini bukan masalah boleh atau tidak boleh, karena lain orang tentu lain kasusnya, yang bisa tahu vonisakhir boleh atau tidaknya melanjutkan terpukau pada sesuatu adalah diri kita sendiri, makanya penting untuk memantau penyebab kita terpukau.

Terpukau bisa membawa beberapa dampak buruk, antara lain:

1. Hilangnya produktivitas

Iya dong, ketika kita terpukau otomatis kita terbius sampai lupa waktu. Akibatnya, kita mengabaikan kewajiban kita dan kepentingan-kepentingan lain. Misalnya, saking asyiknya nonton acara musik atau mengikuti perkembangan gosip selebriti terbaru di teve, kita sampai hilang konsentrasi belajar, hilang fokus saat mengerjakan tugas. Waktu dan energi terbuang begitu saja untuk hal yang tidak produktif. Kita keasyikkan sampai-sampai lupa bahwa kelahiran kita di muka bumi ini bukan sekadar untuk menjadi penonton!

2. Terbiasa menuruti nafsu, cenderung lebay

Sekali kita terpukau pada sesuatu, biasanya akan ketagihan, dan kita bisa melakukan apa pun untuk memenuhi rasa "nagih" itu, persis orang sakawalias kecanduan. Misalnya terpukau pada facebook, saking lupa dirinya, sampai-sampai kita kepengen di mana pun dan kapan pun membuka facebook, meng-updatestatus, menambah foto dan video terbaru, bermain permainan-permainan seru yang ditawarkan, chatting-chattingan. Bukan sejam-dua jam, tapi hampir sehari semalam, dari mata terbuka sampai tertutup lagi. Hingga pulsa habis pun tidak masalah, sampai kantong jeblogpun oke-oke saja. Padahal pekerjaan kita masih banyak yang lainnya. Kita tidak sadar bahwa yang menyuruh kita melakukan itu sebenarnya adalah nafsu. Akhirnya kita terbiasa memperturuti hawa nafsu. Nah kan, ternyata hal yang positif sekalipun bisa berubah menjadi negatif ketika nafsu sudah ikut campur.

 3.  Menzalimi diri sendiri

Sama seperti para wanita di zaman Nabi Yusuf yang melukai tangan sendiri dengan pisau tanpa sadar, terpukau juga bisa membuat kita menganiaya diri sendiri. Contoh, saking terpukaunya dengan game online, mata yang sudah mengantuk tetap kita paksakan untuk terbuka. Perut yang sudah berbunyi tetap kita cuekin. Bukankah ini berarti menyakiti tubuh sendiri?

 4.  Merembet pada perbuatan syirik

Sobat Nida, yang paling berbahaya dari terpukau ini adalah... bisa-bisa apa yang kita kira biasa saja, tidak berdosa, bahkan kita anggap sebagai sesuatu yang hebat dan membanggakan, ternyata menjadi penyebab murkanya Allah pada kita.

Jangan lupa definisi syirik, yaitu menduakan Allah dengan makhluk-Nya. Ketika kita terpukau pada sesuatu sampai-sampai mengabaikan kewajiban kita terhadap Allah, seperti lupa shalat... atau menunda waktu shalat. Bukankah artinya kita tengah menduakan Allah?

Kalau demikian, jangan salahkan siapa-siapa kalau hidup terasa jadi sempit, banyak masalah, banyak derita. Bukankah Allah sudah nyatakan dengan jelas bahwa Ia memaafkan dosa apapun selain menduakan-Nya! Mestinya kita selalu ingat bahwa Allah Mahacemburu! Lebih cemburu daripada seorang istri terhadap suaminya yang melirik wanita lain!

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang cemburu? Marah habis-habisan tentu saja, atau paling parah... meninggalkan pihak yang telah menduakannya. Terus, bagaimana dong jika gara-gara terpukau pada makhluk-Nya, kemudian kita malah ditinggalkan oleh Allah?

Maka pantaulah penyebab kita terpukau! Apakah keterpukauan kita itu telah melebihi kadar yang normal? Apakah kita sampai mengabaikan kewajiban kepada Allah ketika sedang terpukau pada sesuatu selain-Nya? Kalau iya, maka cepat-cepatlah bertobat! Mungkin keterpukauan kita yang berlebihan itulah yang membuat hidup kita sial terus-terusan.

Bukankah segala keburukan yang menimpa diri kita kebanyakan disebabkan oleh tangan kita sendiri? So, hati-hatilah ketika terpukau! Pada apapun dan pada siapa pun.

Terpukau yang Berbeda

            Sobat Nida, jangan salah paham dulu! Tidak selamanya terpukau itu buruk dan harus dihindari. Ternyata masih ada satu jenis terpukau alias terbius, tapi bentuknya benar-benar berbeda dan malah sangat berguna untuk membantu kita melupakan segala kesakitan dan kelelahan yang kita rasakan dalam hidup ini.

            Terpukau yang satu ini telah dicontohkan dengan baik oleh salah seorang sahabat Rasulullah, Bilal.

            Coba bayangkan betapa nelangsanya seorang Bilal! Karena murka atas keislamannya, majikannya menyiksanya tanpa ampun. Tubuh Bilal yang sudah hitam, kian bertambah legam karena dipanggang langsung di bawah terik matahari padang pasir. Bayangkan, Sobat Nida, betapa menderitanya fisik Bilal! Jangankan terik mentari di padang gurun, panas matahari di Jakarta saat musim kemarau saja sudah bisa membuat kita mengeluh panjang lebar kali tinggi. Di saat seperti itu, kita bahkan rela melakukan apapun demi untuk mendapat terpaan sejuk angin, dan lebih asyik lagi kalau ditambah segelas air es.

            Bilal juga bisa mendapatkan kebebasan semacam itu, syaratnya mudah saja... cukup dengan mengakui bahwa Tuhan itu hanya satu. So simple? Hanya dengan berucap seperti itu, Bilal tidak akan lagi terpanggang matahari dan ditindih dengan batu besar di atas badannya. Akan tetapi dengarkanlah suara erangan dari bibir Bilal...

            "Ahad! Ahad!" (satu! Satu!)

            Bilal tetap keras kepala mengatakan bahwa Tuhan itu esa, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding sembari keheranan.

            Obat bius macam apakah yang sudah disuntikkan pada tubuh Bilal?

            Ya, Sobat Nida... sesungguhnya Bilal sudah benar-benar dalam keadaan terpukau, stadium akhir pula. Ia sampai mati rasa, tidak ada lagi baginya rasa sakit dan duka, salah besar kalau kita merasa kasihan pada apa yang menimpa Bilal! Justru harusnya kita terbakar rasa iri.

Saat itu, yang menderu dalam dada Bilal hanyalah kebahagiaan tak terperi, ia lupa apa yang namanya panas atau berat, karena ia telah begitu terpesona akan keagungan Allah. Jangan bayangkan Bilal adalah seorang budak bodoh yang cari mati! Ia hanya seorang pemuda yang sudah terlalu terpukau pada penciptanya, sehingga terlepaslah segala kesusahan dunia untuknya. 

Bagi Bilal, fisik bukanlah apa-apa! Tidak ada yang istimewa dari hal-hal bersifat fisik, apalagi sampai membuat terpukau. Setampan atau secantik apa pun wajah seseorang, toh akan jadi santapan belatung dan cacing di liang kuburnya kelak. Sebesar apapun hunian tempat tinggal, sekeren apa pun kendaraan yang dimiliki, bukankah hanya dengan beberapa detik goncangan bumi saja semua itu bisa lumat, rata dengan tanah, tak bersisa. Maka, pada hakikatnya... tidak ada hal-hal berbau fisik yang pantas membuat kita terpukau.

 
 

Tips Mensiasati Ke-terpukau-an

            Jadi, apa yang harus kita lakukan? Secara... terpukau itu kan bukan sesuatu yang disengaja, itu kan reaksi spontan kita pada sesuatu yang mengagumkan.

            Oke, Nida sangat sangat mengerti, wong Nida pun pernah merasakan seperti apa yang namanya terpukau. Ketika sedang baca novel yang keren abis misalnya. Sampai ogah makan dan tidur.

            Jadi, kiat-kiat berikut mudah-mudahan bisa sedikit membantu kita untuk warningsupaya tidak masuk dalam perangkap "terpukau" yang melenakan:

 
 

1.  Tiap kali terpukau, ingat hakikatnya!

Hakikatnya, semua hal berasal dari Allah dan akan kembali pula kepada-Nya. So, ketika melihat cowok berwajah tertib atau cewek yang bertampang bidadari, jangan puji orangnya... tapi pujilah penciptanya! Lalu, supaya nafsu tidak menggoda lebih jauh, bayangkan saja muka-muka yang indah itu toh nantinya akan kembali ke asalnya, alias lumer dengan tanah, setelah sebelumnya menjadi keriput dan kendor, terus menjadi santapan jasad renik di liang kubur. Hii....

Begitu pula ketika terpukau pada kepandaian seseorang, ingatlah hakikatnya! Kepandaian dan kebijaksanaan itu pasti berasal dari Allah, jangan sampai kita malah rugi karena terpesona pada makhlukNya! Misalnya ketika kita terlalu kagum pada seorang penulis, buku yang ditulisnya menjadi "kitab suci" yang kita sakralkan. Wah... wah.

Padahal siapa pun yang membawa kebenaran atau kebaikan, mereka hanyalah "gardu-gardu" kecil yang menyalurkan "listrik" untuk menerangi "rumah-rumah". Sumber energi yang sebenarnya adalah Allah. 

Akan tetapi, supaya kita mendapatkan hikmah, pelajarilah apa yang membuat orang tersebut sampai diberi kepandaian dan kesempatan menjadi "gardu energi" seperti itu oleh Allah, lalu tiru-lah! Mudah-mudahan Allah pun memberkahi kita kepandaian sepertinya, dan menjadikan kita juga sebagai salah satu "gardu" yang mengalirkan energi kebaikan pada orang lain, meski sekecil apa pun.

2. Berdoa pada Allah agar dijauhkan dari syirik yang disadari maupun tidak.

Ini sangat penting, Sobat Nida! Syirik kan tidak melulu yang berbau klenik seperti dukun, kemenyan, jampi-jampi, atau patung sembahan. Bisa-bisa artis atau penyanyi idola kita adalah sekutu Allah di hati kita.

Secara tidak sadar, kita lebih suka melantunkan syair-syair lagu mereka, daripada melantunkan al-Qur an yang mulia. Kita lebih tertarik pada profil band pendatang baru, daripada mencari tahu tentang manusia "idola" sesungguhnya yang telah Allah utus untuk kita pelajari, Muhammad SAW. Kita lebih terpukau pada gaya hidup mentereng selebritis, daripada gaya hidup zuhud seperti para nabi.

Maka, semoga Allah mengampuni kita dari kebodohan dan ketidaktahuan kita selama ini, dan semoga Allah membimbing kita untuk merasa "terpukau" hanya pada hal-hal yang hakiki saja.

Sobat Nida, mari kita pantau penyebab kita terpukau! Jangan sampai kita rela terbius oleh sesuatu yang tidak bisa menyelamatkan kita di hari pengadilan kelak, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati kita akan diminta pertanggungjawabannya. [Syamsa]

empati

LA, Saturday, January 22, 2011, 6:06 pm

Jadi dokter itu, banyak kebahagiaan memang, bahagia bermanfaat bagi pasien, bermanfaat bagi orangtua dan keluarga, dan bangsa, insyaAllah.

Tapi juga ada kesedihan.

Siapa yang tidak sedih ketika melihat orang lain tak berdaya karena sakitnya, tidak ceria, tidak bisa melakukan apa yang diinginkan, atau bahkan tidak bisa melanjutkan hidup.

Bahkan saking sedihnya kita melihat penderitaan oranglain yang sepertinya tidak bisa ia tanggungkan lagi, maka kita bersedia menggantikan posisinya (pada orang yang kita cintai, apalagi).


 

Tapi, dokter tidak bisa juga larut dalam kesedihan karena penderitaan pasiennya, ntar tiap pasiennya terlihat menderita dia nangis, pas pasiennya meninggal dia meraung-raung.

Ngga.. ga kayak gitu juga

Yang diperlukan adalah empati. Nah, beda kan dengan simpati?

Kita tetap sedih, kita tetap merasakan penderitaannya tapi tidak harus terbawa perasaan hingga menangis dihadapan pasien, ntar dia makin takut kalo2 emang sakitnya bener2 parah :P.


 

Ce pengenlah..

Ditiap blok yang ce pelajari, misalnya sekarang kardiovaskuler, belajar tentang penyakit jantung dan pembuluh darah, pengeeeen banget bisa bercengkrama dengan pasien di RS yang lagi berjuang menghadapi penyakit2 ini. Pengen, pengen, tapi boleh ga ya?

Paling ga mencoba mendekati yang sedang tidak ditunggui keluarganya, paling ga hanya membawakan buah, paling ga hanya bercerita lepas, atau mungkin mau ce bacain al qur'an…

Hmm.. pengen banget, tapi coba survey dulu lah, kira2 bisa atau ngga kalo kayak gitu.


 

Menurut teman2 bisa ga?

SOAL IMUNOLOGI

1. Imunitas natural :?

Jawab : non spesifik, makrofag paling berperan, tidak terbentuk sel memori


 

2. Antigen :

a. Non spesifik maupun spesifik, yang dapat bereaksi dengan produk sistem imun yang terjadi

b. Spesifik, yang tidak dapat bereaksi dengan produk sistem imun yang terjadi

c. Non spesifik maupun spesifik, tidak dapat bereaksi dengan produk sistem imun yang terjadi

d. Spesifik, yang dapat bereaksi dengan produk sistem imun yang terjadi

e. Non spesifik, yang dapat bereaksi dengan produk sistem imun yang terjadi


 

3. Sel yang memproses antigen ?

a. Basofil d. Sel T

b. Mast e. Sel B

c. Makrofag


 

4. Epitope ?


 

5. Karbohidrat terikat pada domain ? CH2


 

6. Titer Antibodi ?


 

7. Fragmen yang terjadi jika Ig + pepsin?

a. 1 Fab d. 1 F(ab')

b. 1 Fc e. 2 Fab

c. 2 F(ab')


 

8. Subkelas IgG dengan BM paling besar :

a. IgG 1 d. IgG 4

b. IgG 2 e. IgG 5

c. IgG3


 

9. Ig yang berperan pada parasit cacing?

a. IgA d. IgM

b. IgD e. IgG

c. IgE


 

10. Sifat komplemen ?

Ada di soal-soal tahun lalu pilihannya..


 

11. Aktivasi komplemen jalur alternatif terjadi oleh :

a. Faktor komplemen C3b d. Faktor komplemen D

b. Sistem inflamasi e. Kompleks Ag-Ab

2

c. Faktor komplemen C1q


 

12. Yang bukan merupakan protein pengatur dalam sistem komplemen :

a. Properdin d. Faktor I

b. Faktor H e. Protein S

c. Faktor D


 

13. Sel T Helper memproduksi senyawa penting untuk proliferasi dan diferensiasi sel B

a. IL-1 d. Interferon

b. IL-2 e. Timidin

c. Prostaglandin


 

14. γ Interferon berfungsi utamanya sebagai :

a. antivirus d. Aktivasi sel NK

b. menghambat pertumbuhan sel e. penambah produksi sel NK

c. pengatur imun


 

15. Kompleks komplemen yang hanya terlibat dalam jalur klasik :

a. C1q, C1r, C1s d. C8, C9

b. C3 e. Faktor B

c. C5, C6, C7


 

16. Reaksi anafilaksis diperantarai oleh :

a. IgA d. IgD

b. IgM e. IgG

c. IgE


 

17. Komplemen C5 konvertase jalur alternative adalah : C3bBb3b


 

18. Untuk menurunkan aktivitas plasmin penyakit Angiodem Neurolitik digunakan :

Danasol


 

19. Interferon tipe I adalah :

a. INF α d. INF α dan INF β

b. INF γ e. INF γ dan INF β

c. INF γ dan INF α


 

20. Hipersensitivitas tipe cepat dipindah secara pasif dengan :

a. Serum penderita

b. Sel limfosit B penderita

c. Kulit penderita

d. Sel Limfosit T penderita

e. Semua benar


 

21. Pengukuran IgE total terhadap allergen yang dicurigai, dapat digunakan untuk diagnosis terhadap …

a. Hipersensitivitas I d. Hipersensitivitas IV

b. Hipersensitivitas II e. Hipersensitivitas V

3

c. Hipersensitivitas III


 

22. Reaksi tes tuberculin …

a. terjadi dalam waktu 24 jam

b. terjadi bentol-bentol karena adanya infiltrasi sel mononuclear

c. terjadi warna kemerahan di sekitar terjadinya hipersensitivitas karena vasodilatasi

d. tidak dapat dipicu dengan antigen mononuclear

e. semua benar


 

23. MHC bertanggung jawab terhadap …

a. lisis bakteri d. lisis fagositosis

b. lisis eritrosit e. penolakan transplant

c. lisis sel tumor


 

24. Yang dimaksud penyakit SLE adalah …

a. Kelebihan C5,C6,C7 d. Kelebihan C1, C4, C2

b. Kekurangan C1, C4, C2 e. Kelebihan C3

c. Kekurangan C8, C9


 

25. Yang digunakan sebagai obat asma adalah …

a. Norepineprin d. Karbakol

b. Fenil epineprin e. teofilin

c. propanolol


 

26. Penyakin rheumatoid arthritis termasuk sebagai hipersensitivitas …

a. I b. II c. III d. IV e. V


 

27. Sitokin yang dapat direaksikan secara in vitro dengan sel NK untuk hasil LAK adalah

a. IL-1 b. IL-2 c. IL-3 d. IL-4 e. IL-5


 

28. Faktor yang berperan sebagai protein komplemen fungsional

a. Faktor B d. Faktor I

b. Faktor H e. DAF

c. Faktor D


 

29. Yang disebut sebagai prokinin adalah ………..

a. C1s b. C2a c. C2b d. C3a e. C3b


 

30. IL-2 adalah sitokin yang diproduksi oleh ……..

a. makrofag d. neutrofil

b. sel B e. sel mast

c. sel T


 

31. Antigen-T-independen mempunyai sifat sebagai berikut :

  1. mol polimerik besar dengan determinan Antigen berulang
  2. mol kecil dengan determinan Antigen tunggal
  3. mengaktifkan sel B pada konsentrasi tinggi dari LPS
  4. mengaktifkan sel B pada konsentrasi rendah dari LPS


 

32. IgA adalah :

  • Ig yang terdapat dalam jumlah besar dari cairan secret
  • Bentuk monomer terdapat dalam serum
  • Bentuk dimmer tidak rusak oleh enzim proteolitik
  • Diproduksi paling awal apabila hospes terpapar Antigen


 

33. Fungsi biologik komplemen adalah :

  • Merangsang terjadinya pelepasan histamine
  • Merangsang terjadinya agregat neutrofil
  • Merangsang terjadinya fagositosis
  • Merangsang terjadinya penolakan cangkok


 

34. Pernyataan berikut ini yang benar adalah :

  • Senyawa yang dapat menstimulasi cAMP, menurunkan reaksi alergi
  • Senyawa yang dapat menstimulasi cGMP, menurunkan reaksi alergi
  • Senyawa yang menurunkan cAMP, memperburuk reaksi alergi
  • Senyawa yang menurunkan cGMP, memperburuk reaksi alergi


 

35. Ciri-ciri hipersensitivitas tipe IV :

  • Hipersensitivitas tipe lambat
  • Melibatkan sel T dan makrofag
  • Melibatkan senyawa mediator limfokin
  • Terjadi pada penyakit asma


 

36. Hipersensitivitas tipe cepat dapat dipindahkan secara pasif dengan :

  • Sel limfosit T penderita
  • Sel limfosit B penderita
  • Kulit penderita
  • Serum penderita


     

37. Sistem pengendalian komplemen dapat dilakukan oleh :

  • Protein-S
  • C1-esterase INH
  • C4 binding protein
  • Faktor I


     

38. Kaskade klasik pada keadaan normal untuk aktivasi perlu :

  • Komplek Ag-Ab
  • C1, C4, C2, C3
  • Kation Ca++ dan Mg++
  • Properdin


     

39. Produk komplemen yang berperan sebagai factor khemotaktik adalah :

  • C4a
  • C5a
  • C3a
  • MAC

40. Hipersensitivitas tipe II dikarakterisasi dengan reaksi yang disebabkan oleh :

  • Sel T
  • Komplek imun
  • Senyawa mediator sel mast
  • Antibodi sitotoksik


     

41. Fungsi Interferon I :

  • menghambat replikasi virus
  • menghambat proses fagositosis
  • menghambat proliferasi sel
  • menghambat proses inflamasi


     

42. Fungsi sitokin :

  • meregulasi respon imun spesifik
  • memfasilitasi respon imun alami
  • mengaktifkan reaksi inflamatori
  • mempengaruhi migrasi leukosit


 

43. Aktivasi komplemen jalur alternative dikarakterisasi oleh fungsi :

  • C3
  • C2
  • Properdin
  • C4


 

44. Mekanisme reaksi alergi :

  • Alergen menimbulkan IgE dalam sirkulasi, menempel pada sel mast / Basofil
  • Alergen menimbulkan IgE dlm sirkulasi, m'bentuk ik.silang dg sel mast / Basofil
  • Alergen II b'ik silang dg IgE yg menempel pd sel mast/basofil, melepaskan seny mediator
  • Alergen yg b'ik dg IgE, menempel pd sel mast / basofil, melepaskan seny mediator


 

45. IgE yang terlibat dalam HS tipe II :

  • IgG
  • IgA
  • IgM
  • IgE


 

46. Berikut ini merupakan komponen sel utama terjadi reaksi anafilaksis:

1. sel mast 2. sel B 3. sel basofil 4. sel T


 

47. Penyakit yang disebabkan oleh terjadinya HS tipe III :

1. asma 2. Reaksi Arthus 3. Alergi 4. Rematik


 

48. Penyakit reaksi autoimun dapat diberi pengobatan dengan :

1. imunosupressor 3. antiinflamasi

2. imunostimulator 4. Ig


 

49. Fungsi Biologik C5a :

1. anafilaktoksin 3. khemotaksis

6

2. kontraksi otot polos 4. vasodilatasi


 

50. Interaksi Ag-Ab dapat :

1. membentuk ikatan kovalen 3. bersifat irreversible

2. afinitas yang tinggi 4. dilakukan secara invitro


 

51. Kadar komplemen dapat meningkat setelah imunisasi sebab fungsi dari komplemen sama dengan

antibodi.


 

52. Penyakit infeksi kronis dapat ditandai dengan meningkatnya kadar IgM sebab IgM diproduksi awal

terpaparnya antigen.


 

53. Reaksi imun seluler menghasilkan sel memori sebab sel memori diperlukan untuk membentuk

sitokin.


 

54. Adanya interaksi antigen-antibodi menghasilkan kompleks membrane penyerang sebab sistem

komplemen memerlukan adanya kompleks Ag-Ab.


 

55. Concanavalin A adalah adjuvant yang diisolasi dari tanaman sebab merupakan senyawa

polisakarida.


 

56. Benang sari bunga dapat menyebabkan reaksi allergen sebab merupakan senyawa protein.


 

57. Reaksi anafilaksis merupakan Hipersensitivitas tipe lambat sebab terjadi secara sistemik.


 

58. Sitokin merupakan produk respon imun humoral sebab diproduksi sel T.


 

59. HLA dapat digunakan sebagai 'genetic matching' jika akan dilakukan transplantasi sebab HLA adalah

MHC.


 

60. Hipersensitivitas tipe cepat diperantarai oleh sel B sebab sel B dapat memproduksi antibodi.

19 Januari 2011

It’s all about my mark

Wednesday, January 19, 2011, 1:55 am

Apa yang pertama kali terpikir kalo tercetus kata 'nilai' ?

Nilai rapor?

Nilai ulangan/ujian?

Nilai tugas?

Nilai pahala?

Nilai harga diri?

Hmm.. subjektif banget kayaknya..

Fokus aja deh, nilai yang berhubungan dengan akademik.

Ada yang peduli dengan hal ini?

Waaahhh.. ada banget!

Malah tak jarang yang sangat mementingkan hal ini, hingga segala cara dihalalkan untuk mendapatkan nilai terbaik. Machiavelli-an banget.


 

What about me?

Penting! Penting banget!

Jadi ce bisa me'nilai' seberapa jauh kemampuan ce, bisa mengevaluasi dimana kurangnya , dimana harus dipertahankannya.

Tapi, ketika ce ga mendapatkan nilai yang seperti yang ce harapkan, insyaAllah tidak begitu mempersoalkan, tidak melulu menyesalkan, tidak memutuskan adil atau tidaknya Allah pada ce.

I've done my best! Tawakalillah aja lagi..


 

Tapi,

Ga sedikit yang bermasalah dengan nilai ini

Yang nilainya ga pernah baik karna memang tidak tekun belajar.

Yang nilainya terjun bebas setelah disibukkan oleh hal-hal lain yang tidak menunjang keterjagaan nilai itu tetap meningkat atau minimal stabil.

Yang nilainya selalu tidak seperti yang diharapkan, karna ekspektasinya terhadap kemampuannya yang melebihi dari ukuran nilai yang ia dapat.

Biasanya hal-hal diatas yang sering kejadian.


 

Nilai memang bukan tujuan utama kita belajar, ujian…

Tapi dia salah satu bentuk indikator keberhasilan belajar kita itu, meski memang terkadang tidak sesuai, seperti kita rasanya sudah memahami ilmu tersebut, sudah bisa mempraktekkannya dengan cukup bagus, namun dalam ujian, baik itu ujian tertulis atau tidak, ada suatu dan lain halnya yang membuat kita tidak mendapat nilai yang sebaik kita rasa kemampuan kita terhadap hal itu, maka jangan kecewa. Jangan kecewa,jangan, apalagi hanya karna kita membandingkannya dengan teman lain yang rasanya tidak lebih baik dari kita tapi mendapat nilai yang bagus, bahkan timbul suudzonitas disana, menganggap nilai yang dia dapat tidak sesuai dengan ekspektasi kemampuan dia versi kita, jangan gitu…. karna.. itu tadi, nilai bukan segala-galanya, nilai pun terkadang menipu, baik itu karena murni sabotase, atau itu bukan hasil kerjakerasnya sendiri…. Tapi dengan bantuan orang lain (bahasa kerennya nyontek), kita tak patut kecewa dengan hal itu, harusnya merasa kasihan, mereka yang mementingkan nilai tapi tidak mengutamakan esesensi mendapat nilai yang murni karna ilmu dan pemahamannya… sayang sekali untuk bekal yang tidak matang untuk profesinya ke depan.


 

Nilai…

Nilai…

Polemik..

Bagi ce, dan juga mungkin bagi beberapa orang lainnya.


 

By the way.. kapan ya bisa dapet A+???

Hahaha

Pesan Tuk Bayan Tula ;

"MAKANYA BELAJAR!"

13 Januari 2011

Perkembangan psikologi dan gangguannya


 

  1. Perkembangan Psikologi

    Perkembangan psikologis tidak terlepas dari perjalanan atau siklus hidup dari seseorang. Karena perkembangan manusia terjadi sepanjang siklus hidupnya bukan semata pada masa anak-anak saja. Semenjak berkembangnya psikiatri kemudian perhatian mulai tertuju pada perjalanan perkembangan kepribadian. Perumusan awal memeriksa peranan peristiwa psikologis internal dan efek perkembangan pada masa anak-anak terhadap kepribadian di masa dewasa. Konsep selanjutnya memperluas pusat perhatian dengan memasukkan pengaruh proses interpersonal dan sifat perubahan sepanjang hidup. Pemetaan siklus hidup (kadang disebut perjalanan hidup) penting untuk melengkapi pengetahuan mengenai perilaku manusia dan juga dalam meramalkan kesulitan-kesulitan yang timbul selama perkembangan manusia.


     

    Anggapan paling mendasar dari berbagai anggapan yang muncul mengenai teori siklus hidup adalah bahwa perkembangan terjadi dalam stadium-stadium yang berurutan. Kalau menurut prinsip epigenetik yang dikembangkan Erik Erikson masing-masing stadium mengikuti stadiium sebelumnya, dan masing-masing stadium harus dilalui secara memuaskan untuk memungkinkan proses perkembangan berjalan secara lancar. Jika suatu stadium tidak dicapai, semua stdium selanjutnya mencerminkan kegagalan tersebut dalam bentuk ketidakmampuan menyesuaikan diri secara fisik, kognitif, sosial, atau emosional. Satu hal lagi adalah bahwa tiap-tiap stadium memiliki titik-titik kritis yang harus dilewati sehingga mengharuskan orang untuk beradaptasi yang terdiri dari interaksi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosial (biopsikososial).


     

    Sejak mulainya, sudah banyak yang mengemukakan mengenai teori siklus hidup ini. Satu karya besar adalah sekema perkembangan yang dikembangkan oleh Sigmund Freud pada tahun 1905 dalam bukunya Three Essays on The Theory of Sexuality. Menurut Freud, fase perkembangan masa anak-anak berhubungan dengan pergeseran yang berturut-turut dalam penanaman energi seksual ke daerah-daerah tubuh yang biasanya dihubungkan dengan erotisme: mulut, anus, dan genitalia. Ia mengklasifikasikan perkembangannya dalam berapa fase:

    1. Fase oral (sejak lahir- usia 1 tahun)
    2. Fase anal (1 – 3 tahun)
    3. Fase falik (3 – 5 tahun)
    4. Fase laten (5 – 6 tahun)
    5. Fase genital (6 – 12 tahun)

    Pandangan dasar yang dikemukakan Freud adalah bahwa pemecahan(resolusi) yang berhasil pada fase anak-anak adalah penting bagi berfungsinya orang dewasa secara normal.

    Satu lagi penyumbang teori mengenai perkembangan psikologi adalah Erik Erikson. Beliau menyusun toeri perkembangan manusia yang melingkupi keseluruhan rentang siklus kehidupan, mulai dari masa bayi sampai usia lanjut. Pada dasarnya Erikson membagi perkembangan kepada 8 stadium :

    1. Stadium 1 : Kepercayaan lawan Ketidakpercayaan.
    2. Stadium 2 : Otonomi lawan Rasa Ragu dan Malu-Malu.
    3. Stadium 3 : Inisiatif lawan Rasa Bersalah.
    4. Stadium 4 : Industri lawan Inferioritas.
    5. Stadium 5 : Identitas Ego lawan Kebingungan Peran.
    6. Stadium 6 : Keintiman lawan Isolasi.
    7. Stadium 7 : Generativitas lawan Stagnasi.
    8. Stadium 8 : Integritas Ego lawan Keputus-asaan.


 

Kedelapan stadium tersebut masing-masing mempunyai aspek positif dan negatif, mempunyai krisis – krisis emosional spesifik dan dipengaruhi oleh interaksi biologis, kultural, dan lingkungan masyarakat seseorang.


 

  1. Apparatus Psikiatri : Id, Ego, Superego

        Menurut Freud, secara struktur jiwa itu dibagi menjadi 3 bagian yaitu:

  • Id
  • Ego, dan
  • Super ego


 

Id¸ ialah tempat dorongan naluri(insting) dan berada dibawah pengawasan proses primer. Karena itu id bekerja sesuai dengan prinsip kesenangan tanpa memperdeulikan kenyataan. Seorang bayi pada waktu lahir telah mempunyai id. Ia tidak mempunyai kemampuan untuk menghambat, mengawasi atau memodifikasi dorongan nalurinya.


 

Ego, lebih teratur organisasinya dan tugasnya ialah untuk menghindari ketidaksenangan dan rasa nyeri dengan mealawan atau mengatur pelepasan dorongan nalurinya agar sesuai dengan tuntutan dunia luar. Ego bekerja sesuai dengan prinsip kenyataan dan mempunyai mekanisme pembelaan. Ego mempunyai berbagai fungsi:

  • Kontrol & pengaturan dorongan instingtuil
    • menunda/memperlambat dorongan.
    • pleasure principle      reality principle
  • Judgement (pertimbangan)
    • resiko
    • logic
  • Relation to reality
    • sense of reality – didalam     diluar tubuh
    • eality testing – fantasi internal         kenyataan eksternal
      • adaptation to reality – respon terhadap perubahan berdasarkan pengalaman
      • Objek relationship
    • mengadakan hub dengan orang lain(aspek +/-)
    • bermula dengan ibu
  • Fungsi sintetik dari ego :

    integrasi dari elemen keseluruhan (mengkoordinasi, generalisasi, menyederhanakan)

  • Fungsi otonom primer
    • berkembang dari konflik intrapsikik & pertahanan
    • persepsi belajar, intiligent, kecerdasan, bahasa, pikiran, pemahaman & pergerakan
      • Fungsi otonom sekunder
        • pengembangan dari fungsi awal


 

Super ego, menegakkan dan mempertahankan kesadaran moral seseorang atas dasar kompleks sistem ideal dan nilai-nilai yang diinternalisasikan dari orang tua. Superego selanjutnya berfungsi sebagai suatu agen yang memungkinkan meneliti dengan cermat tentang perilaku, pikiran dan perasaan seseorang. Ia membuat perbandingan dengan standar perilaku yang diharapkan dan menawarkan persetujuan atau penolakan. Aktivitas tersebut sebagian besar terjadi secara tidak disadari.


 

Manusia membangun mekanisme pertahanan egonya terhadap keadaan yang mengancam keutuhan integritas pribadinya karena ego merupakan inti kesatuan manusia. Itu berarti ancaman terhadap ego merupakan ancama terhadap integritas/tulang punggung eksistensi manusia itu. Mekanisme pertahanan ego merupakan hal normal yang penting karena memperlunak kegagalan, menghilangkan kecemasan, mengurangi perasaan yang menyakitkan karena pengalaman yang tidak menyenangkan dan juga untuk mempertahankan perasaan layak serta harga diri kecuali jika sudah menjadi sedemikian kerasnya sehingga bukan lagi membantu tapi malah menggangu integritas diri.


 

  1. Mekanisme Pertahanan Ego

Ada beberapa mekanisme pertahanan ego, mencakup :

  • Represi    : Menyangkal secara tidak disadari.
  • Supresi    : Menyangkal secara disadari.
    • Sublimasi    : Mengalihkan sesuatu yang tidak diterima lingkungan menjadi dihargai lingkungan.
  • Proyeksi    : Mengalihkan kepada orang lain pikiran/perasaan sendiri.
    • Rasionalisasi : Penjelasan yang dapat diterima secara sosial yang bukan merupakan sebenarnya.
  • Denial        : Penolakan terhadap suatu situasi yang menyebabkan stress.
  • Regresi    : Mundur ke fase perkembangan sebelumnya.
  • Acting out    : Tingkah laku regresi.


     


 


 

  1. Neurotransmiter yang Mempengaruhi Perilaku

    Neurotransmitter adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk relay, amplifikasi, dan modulasi sinyal antara suatu neuron dengan sel lain. Kriterianya:

  • Terdapat prekursor dan / atau enzim sintesis yang berlokasi di neuron presinap.
  • Zat tersebut harus ditemukan dalam organel presinap.
  • Zat tersebut harus terdapat dalam kuantitas cukup di neuron presinap untuk mencetuskan efek di neuron post sinap.
  • Harus terdapat reseptor postsinap yang spesifik untuk zat spesifik, dan zat itu harus dapat terikat pada reseptor postsinap.
  • Harus ada mekanisme biokimia untuk inaktifasi.
  • Efek ditentukan lokasi reseptor


 

Neurotransmitter yang berperan dalam perilaku:

  • Dopamin (DA)à motivasi – kenikmatan -- kecanduan
  • GABA à pengendali
  • Noradrenalin (NA) à waspada à flight or fight
  • Serotonin à emosi à pencetus perilaku


 

Pengaruh neurotransmitter:

Mekanisme kenikmatan

Perangsangan neuron pelepas serotonin (5HT) di hipothalamus à merangsang pelepasan peptida opioid
metencephalin
à menghambat aktifitas neuron pelepas GABA di substansia nigra
à disinhibisi neuron pelepas DA à sinyal (isyarat) à pelepasan neurotransmiter dopamin (DA) dari VTA ke NAc dan sistem limbik (amigdala dan hipocampus)

  • Perilaku pemuasan dorongan

DA akan diikat pada DRD2 di NAc dan hipocampus.

  • Timbullah perasaan nikmat à
    reinforcing positif
    à REPETISI


 

Mekanisme stress

Dalam keadaan normal, hormon stres dilepaskan dalam jumlah kecil sepanjang hari. Tetapi bila menghadapi stres, kadar hormon ini meningkat secara dramatis. Awal pelepasan hormon stres dimulai di otak. Pertama kali, corticotropin-releasing factor (CRF) dilepaskan dari otak ke aliran darah, sehingga mencapai kelenjar hipofise yang berlokasi tepat dibawah otak. Di lokasi ini CRF merangsang pelepasan adrenocorticotropin hormone (ACTH), yang pada gilirannya melepaskan berbagai hormon. Hormon paling utama ialah kortisol dari kelenjar suprarenalis. Kortisol beredar diseluruh tubuh untuk membantu mekanisme coping.terhadap stres. Bila stresornya kecil, setibanya diotak dan kelenjar hipofise, kortisol itu akan menghambat pelepasan selanjutnya dari CRF dan ACTH, yang segera kembali ke kadar normalnya. Tetapi bila stresor tersebut kuat, sinyal di otak untuk melepaskan lebih banyak lagi CRF lebih kuat dari sinyal penghambat dari kortisol, dan Siklus Hormon-Stres akan berulang lagi.


 


 

  1. Pemeriksaan Psikiatrik

    Anamnesis

  • Identitas Pasien
  • Identitas Allo Anamnesis
  • Keluhan Utama
  • Keluhan Pasien Saat ini
  • R. Perjalanan Penyakit
  • R. Premorbid
  • R. Pendidikan
  • R. Sosial Ekonomi
  • R. Penggunaan/ Penyalahgunaan NAPZA
  • R. Perilaku Buruk
  • R. Penyakit Dalam Keluarga


 

Status Psikiatrik

  • Keadaan umum
    • Penampilan
    • Kesadaran
    • Sikap
    • Tingkah Laku Motorik
    • Ekspresi Fasial
    • Verbalisasi / Cara Bicara
    • Kontak Psikis


       

    • Keadaan spesifik
  1. Keadaan alam perasaan
    1. Keadaan Afektif
    2. Hidup Emosi
  • Stabilitas
  • Pengendalian
  • Echt – unecht
  • Einfuhlung
  • Dalam – Dangkal
  • Skala differensiasi
  • Arus Emosi


 

  1. Keadaan fungsi intelek
    1. Daya Ingat:
  • segera
  • pendek
  • lama
  • sangat lama

2.    Daya Konsentrasi

3.    Orientasi

  • Tempat, waktu
  • Personal
  • Situasi
  1. Luas Pengetahuan Umum
  2. Diskriminatif Insight
  3. Diskriminatif Judgement
  4. Dugaan Taraf Intelegensia
  5. Kemunduran Intelek
  1. Gangguan sensasi dan persepsi
    1. Ilusi
    2. Halusinasi
  • akustik
  • Visual
  • Olfaktorik
  • Taktil
  • Gestatorik
  1. Keadaan proses berfikir
    1. Kecepatan Proses Fikir
    2. Mutu Proses Fikir
  • Jelas dan tajam
  • Sirkumstansial persevaratif
  • Inkoheren
  • Terhalang
  • Terhambat
  • Meloncat – loncat ( flight of ideas )
  • Verbigerasi
  • Persevaratif
  1. Isi pikiran
    1. Pola Sentral
    2. Fobia
    3. Obsesi
    4. Delusi / waham
    5. Kecurigaan
    6. Konfabulasi
    7. Rasa permusuhan/dendam
    8. Perasaan Inferior
    9. Banyak - sedikit
    10. Rasa bersalah
    11. Hipokhondria
    12. Lain – lain
  2. Kelainan dorongan instinktual dan perbuatan
  • Abulia
  • Stupor
  • Raptus
  • Kegaduhan umum
  • Deviasi seksual
  • Ekhopraksia
  • Vagabondage
  • Pyromania
  • Mannerisme
  • Lain – lain
  1. Anxietas yang terlihat nyata
  2. Hubungan dengan realita
  • Perilaku
  • Fikiran
  • Perasaan


 

Kriteria Diagnosis dapat Menggunakan :

  • ICD 10
  • DSM IV
  • PPDGJ III


     

Teknik diagnostik bisa menggunakan diagnosis multi aksial. Dimana terdapat 5 aksis.

  1. Aksis I    :    - Gangguan Klinis
  • Kondisi lain yang menjadi fokus
  • perhatian klinik
  1. Aksis II    :    - Gangguan Kepribadian
  • Retardasi mental
  1. Aksis III     :    - Kondisi Medik Umum
  2. Aksis IV     :    - Masalah Psikososial & Lingkungan
  3. Aksis V     :    - Penilaian Fungsi Secara Global (GAF : Global Assesment Of Function )


     

  1. Gangguan Kepribadian dan Kejiwaan

    Kepribadian

    Terdapat 3 kelompok pengertian kepribadian:

    1. Kepribadian dalam arti kata populer sama dengan kualitas seseorang yang menyebabkan dia disukai atau tidak disenangi oleh orang lain.
    2. Kepribadian dalam arti kata filsafat ialah susuatu yang rasional dan individual.
    3. Kepribadian dalam arti kata empiris meliputi segala corak perilaku manusia yang terhimpun dalam dirinya dan yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang, baik yang datang dari dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi manusia itu.


       

    Ciri dari kepribadian yaitu berupa pola perilaku yang cenderung menetap, relatif stabil, merupakan ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara-cara berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain.


     

    Kepribadian kadang dibagi menjadi beberapa tipe. Tipologi ini membagi kepribadian yang normal menjadi kelompok-kelompok tertentu dengan sifat-sifat tertentu pula.

    Tipologi dari C.G. Jung ialah:

    Introvert :     Orang yang suka memikikan tentang diri sendiri, banyak fantasi, lekas merasakan kritik, menahan ekspresi emosinya, lekas tersinggung dalam diskusi, suka membesarkan kesalahannya, analisa dan kritik diri sendiri menjadi buah pikirannya.

    Ekstrovert:    Orang yang melihat pada kenyataan dan keharusan, tidak lekas merasakan kritik, ekspresi emosinya spontan, dirinya tidak dituruti dalam alasannya, tidak begitu merasakan kegagalannya, tidak begitu menganalisa dan mengkritik diri sendiri.

    Kapan seseorang dikatakan normal atau abnormal merupakan suatu hal yang relatif. Ada tiga sudut pandang yang bisa digunakan untuk meninjau masalah norma-abnormal, yaitu:

  • Sudut pandang patologi
  • Sudut pandang statistik
  • Sudut pandang kebudayaan

Kriteria jiwa normal

Maslow dan Dittelman membuat kriteria pribadi berfungsi normal atau sehat dengan sedikit perubahan dari Saanin, yaitu:

  1. Memiliki perasaan aman yang wajar.
  2. Mempunyai derajat penilaian diri sendiri yang wajar, memiliki wawasan (insight)
  3. Memiliki tujuan hidup yang realistis.
  4. Memiliki hubungan yang efektif dengan kenyataan.
  5. Memiliki hubungan yang terintegrasi dan konsisten.
  6. Memiliki kesanggupan untuk belajar dari pengalaman.
  7. Memiliki spontanitas yang wajar.
  8. Memiliki emosionalitas yang sesuai.
  9. Memiliki kesanggupan untuk dapat memuaskan kehendak-kehendak jasmaniah secara wajar dan tidak berlebih-lebihan, dengan kesanggupan untuk memuaskan melalui cara-cara yang disetujui.


     

Bagaimanapun, semua ini adalah nilai-nilai yang relatif. Tidak ada seorang pun yang dapat memenuhi kriteria ini dengan sempurna. Seseorang mungkin kurang dalam satu hal, tetapi masih memiliki kesehatan yang baik berarti dia masih dianggap sebagai orang yang normal dan sebaliknya.


 

Gangguan kepribadian:

Ciri kepribadian yang terganggu/abnormal :

  1. Disharmoni sikap dan perilaku cukup berat meliputi beberapa fungsi : afek, kesiagaan, pengendalian impuls, cara memandang dan berfikir, gaya berhubungan dengan orang lain.
  2. Pola perilaku abnormal berlangsung lama / berjangka panjang, pervasif, maladaptif, tidak fleksibel.
  3. Selalu muncul pada masa kanak-kanak atau remaja berlanjut sampai dewasa.
  4. Menyebabkan personal distress.
  5. Mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan.
  6. Bersifat alloplastik dan ego sintonik. Tidak berkaitan langsung dengan kerusakan / penyakit otak berat (Gross brain damage or     disease) atau gangguan jiwa.

Klasifikasi Gangguan Kepribadian:

KelompokA : Aneh,eksentrik
1.    Gangguan kepribadian paranoid
2.    Gangguan kepribadian skizoid
3.    Gangguan kepribadian skizotipal

Kelompok B : Dramatik, emosional, tidak menentu / erratik
1.    Gangguan kepribadian antisosial
2.    Gangguan kepribadian ambang
3.    Gangguan kepribadian histerionik
4.    Gangguan kepribadian narsistik


 

Kelompok C : Cemas, ketakutan
1.    Gangguan kepribadian menghindar
2.    Gangguan kepribadian dependen
3.    Gangguan kepribadian obsesif-kompulsif (anankastik)
4.    Gangguan kepribadian pasif agresif
5.    Gangguan kepribadian depresif


 


  1. Gangguan Kepribadian Paranoid

    Ketidakpercayaan dan kecurigaan perpasif terhadap orang lain:

  • Menduga tanpa dasar orang lain membahayakan / mengkhianatinya.
  • Ragu terhadap loyalitas dan kejujuran teman.
  • Tindakan orang lain dianggap merendahkan / mengancam.
  • Pendendam.
  • Curiga terhadap kesetiaan pasangan / cemburu yang patologis.
  • Membanggakan diri bahwa dia rasional dan objektif, sebenarnya tidak.
  • Emosi dingin, tidak hangat.
  • Terjadi pada dewasa awal.


     

    2.     Gangguan Kepribadian Skizoid

Pola perpasif pelepasan dari hubungan sosial dan rentang pengalaman emosi yang terbatas dalam lingkungan interpersonal:

  • Tidak memiliki minat atau menikmati hubungan dekat dengan orang lain.
  • Selalu memilih aktivitas seorang diri.
  • Memiliki sedikit, jika ada, minat menikmati hubungan seksual dengan orang lain.
  • Tidak memiliki teman dekat selain sanak saudara derajat pertama.
  • Tidak acuh terhadap pujian / kritikan.
  • Emosi dingin, lepas, pendataran afek.
  • Mulai dewasa awal.


     

3.     Gangguan Kepribadian Skizotipal

    Pola perpasif defisit sosial dan interpersonal:

  • Ideas of reference (gagasan yang menyangkut diri sendiri).
  • Keyakinan aneh atau pikiran magis (percaya takhyul, clairvoyance/dapat melihat apa yang akan terjadi, telepati).
  • Pengalaman persepsi yang tidak lazim, illusi tubuh.
  • Pikiran atau bicara aneh (samar-samar, sirkumstansial, metaforik, terlalu berbelit, stereotipik).
  • Kecurigaan / idea paranoid.
  • Afek tidak sesuai atau terbatas.
  • Perilaku atau penampilan aneh, eksentrik, janggal.
  • Tidak memiliki teman akrab atau orang yang dipercaya kecuali sanak saudara derajat pertama.
  • Kecemasan sosial, ketakutan paranoid.
  • Mulai dewasa awal.


     

4.     Gangguan Kepribadian Antisosial

    Pola perpasif tidak menghargai dan melanggar hak orang lain:

  • Gagal mematuhi norma sosial sesuai hukum (mencuri dsb.)
  • Tidak jujur (bohong, nama samaran, menipu).
  • Impulsivitas, tidak dapat merencanakan masa depan.
  • Irritabilitas,agresivitas(perkelahian, penyerangan).
  • Secara sembrono mengabaikan keselamatan diri/orang lain.
  • Terus-menerus tidak bertanggung jawab.
  • Tidak ada penyesalan.

Terjadi sejak usia 15 tahun.


 

5.     Gangguan Kepribadian Ambang

    Pola perpasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri dan afek, impulsivitas yang jelas:

  • Perbatasan antara neurosis dan psikosis.
  • Disebut juga skizofrenia ambulatorik.
  • Disebut juga as if personality.
  • Disebut juga skizofrenia pseudoneurotik.
  • Disebut juga karakter psikotik.
  • Disebut juga gangguan kepribadian yang tidak stabil secara emosional.
  • Mulai dewasa awal.


 

6.     Gangguan Kepribadian Histrionik

    Pola perpasif emosionalitas dan mencari perhatian berlebihan:

  • Tidak merasa nyaman dalam situasi dimana ia tidak merupakan pusat perhatian.
  • Interaksi dengan orang lain secara seduktif (godaan seksual) atau perilaku provokatif.
  • Pergeseran emosi yang cepat, ekspresi emosi yang dangkal.
  • Terus-menerus menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian.
  • Gaya bicara sangat impresionistik.
  • Dramatisasi diri, teatrikal, ekspresi emosi berlebihan.
  • Mudah disugesti atau mudah dipengaruhi orang lain/situasi.
  • Menganggap hubungan menjadi lebih intim ketimbang sebenarnya.

Mulai dewasa muda.


 

7.     Gangguan Kepribadian Narsistik

Pola perpasif kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan kebanggaan, tidak ada empati:

  • Memiliki rasa kepentingan diri yang besar (jadi orang terkenal dsb).
  • Preokupasi dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecerdasan, kecantikan, dsb.
  • Yakin bahwa ia adalah "khusus/unik", dapat dimengerti oleh orang yang khusus atau memiliki status tinggi.
  • Butuh kebanggaan berlebihan.
  • Perasaan bernama besar mencolok.
  • Ekspoitatif secara interpersonal à mengambil keuntungan dari orang lain untuk capai tujuannya sendiri.
  • Tidak memiliki empati: tidak mau mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain.
  • Sering merasa iri pada orang lain atau yakin orang lain iri padanya.
  • Perilaku/sikap yang congkak/sombong.
  • Mulai dewasa awal.


     

8.     Gangguan Kepribadian Menghindar/Cemas

Pola perpasif hambatan sosial, perasaan tidak cakap, peka berlebihan terhadap penilaian negatif:

  • Menghindari aktifitas pekerjaan yang memerlukan kontak interpersonal (oleh karena takut akan kritik, celaan, penolakan).
  • Tak mau terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin disenangi.
  • Keterbatasan dalam hubungan intim ( takut dipermalukan / ditertawai ).
  • Preokupasi dengan sedang dikritik/ditolak dalam situasi sosial.
  • Terhambat dalam situasi interpersonal yang baru oleh karena perasaan tidak adekuat.
  • Memandang diri sendiri janggal, tidak menarik, lebih rendah dari orang lain.
  • Enggan untuk mengambil risiko pribadi atau melakukan aktivitas baru.

Mulai dewasa awal.


 

9.     Gangguan Kepribadian Dependen

  • Sulit ambil keputusan tanpa bantuan orang lain.
  • Butuh orang lain untuk menerima tanggung jawab.
  • Sulit mengekspresikan ketidaksetujuan pada orang lain.
  • Sulit memulai sesuatu dengan dirinya sendiri (tidak punya keyakinan diri).
  • Berusaha berlebihan mendapatkan asuhan dan dukungan orang lain.
  • Merasa tidak nyaman/tidak berdaya jika sendirian.
  • Rasa takut ditinggal untuk merawat diri sendiri.
  • Mulai dewasa awal.


     

10.    Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif (Anankastik)

  • Terokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, jadwal, susunan.
  • Perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas.
  • Secara berlebihan setia pada pekerjaan dan produktivitas, mengabaikan waktu luang dan persahabatan.
  • Terlalu hati-hati, teliti, tidak fleksibel tentang moral, etika, nilai-nilai.
  • Enggan mendelegasikan tugas atau bekerja dengan orang lain.
  • Kikir untuk diri sendiri atau orang lain.
  • Kaku dan keras kepala.
  • Mulai dewasa awal.


     

11.    Gangguan Kepribadian Pasif Agresif

  • Secara pasif menolak memenuhi tugas sosial dan pekerjaan rutin.
  • Mengeluh tidak dimengerti dan tidak dihargai.
  • Cemberut dan argumentatif.
  • Tanpa alasan mengkritik dan mencemooh atasan.
  • Rasa cemburu dan benci terhadap yang lebih beruntung.
  • Suara diperkeras, keluhan terus-menerus atas ketidakberuntungannya.
  • Ganti-ganti antara tantangan bermusuhan dan perasaan berdosa.
  • Mulai dewasa awal.


 

12.    Gangguan Kepribadian Depresif

  • Tenang, introvert, pasif, tidak sombong.
  • Bermuram durja, pesimis, serius, tak dapat merasakan kegembiraan.
  • Mengkritik diri sendiri, menyalahkan diri sendiri.
  • Ragu-ragu, kritik orang lain, sukar memaafkan.
  • Hati-hati, bertanggung jawab, disiplin.
  • Memikirkan hal yang sedih, merasa cemas.
  • Asyik dengan peristiwa negative, rasa tak berdaya, kelemahan pribadi.


 

  1. Gangguan Ansietas

    Anxietas :    Respons terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar, konfliktual.

    Anxietas normal:

  • Bayi :    perpisahan dengan ibunya.
  • Anak :     hari pertama sekolah
  • Remaja :    kencan pertama
  • Dewasa :    merenungkan usia lanjut/kematian
    • Mengalami hal baru (belum dicoba).

      Anxietas patologis:    Respons yang tidak sesuai terhadap stimuli yang diberikan berdasar pada intensitas dan durasinya.

      Fear (ketakutan):    Respons dari suatu ancaman yang asalnya diketahui, eksternal, jelas, bukan bersifat konflik.


 

Anxietas bisa merupakan gejala dasar dari Neurosa.

Neurosa adalah sekelompok gangguan jiwa yang gejala dasarnya adalah anxietas/kecemasan.

Etiologi neurosa:

Faktor yang menyebabkan gangguan ini terletak terutama pada bidang emosi. Tidak jarang sejak masa kanak-kanak terdapat sifat yang merupakan gejala neurosa, tetapi ynag sudah sedemikian berakar dalam kepribadian sehingga tidak dapat dipisahkan lagi dan dianggap sebagai sifat konstitusional. Mungkin juga hal itu bukan diwariskan melainkan didapat waktu individu itu masih anak-anak.


 

Ada faktor predisposisi yang menyebabkan seseorang bisa terganggu (neurosa) sedangkan orang lain tidak, seperti:

  • Faktor keturunan
  • Fisik
  • Pendidikan
  • Pengalaman
  • Adat – istiadat keluarga dan masyarakat, serta
  • Pandangan hidupnya


     

        Faktor Biologi

  1. Hiperreaksi autonom à tonus simpatis meningkat.
  2. Pelepasan katekolamin meningkat.
  3. Norepinefrin meningkat.
  4. GABA à hiperaktivitas SSP.
  5. Serotonin, dopamin meningkat.
  6. Hiperaktif korteks cerebral temporal.
  7. Hiperaktif pusat neuron noradrenergik (lokus seruleus).


     

Psikologik

  1. Impuls tak sadar (sex, agresi) mengancam meletus ke dalam alam sadar à gangguan cemas.
  2. Mekanisme defensif dipakai untuk mengatasi cemas.
  3. Displacement (pergeseran) menimbulkan fobia.
  4. Reaksi formasi, ondoing, pergeseran menimbulkan gangguan obsesif-kompulsif.
  5. Rubuhnya represi menimbulkan gangguan panik dan gangguan cemas menyeluruh.


     

Teori Belajar

  1. Cemas timbul akibat frustasi atau stress, menjadi respons terkondisi terhadap situasi-situasi lain.
  2. Dapat dipelajari lewat identifikasi dan imitasi pola kecemasan orang tua (teori belajar sosial).
  3. Cemas terkait dengan stimulus alamiah yang berat seperti kecelakaan, dipindahkan ke stimulus lain lewat pengkondisian à menimbulkan fobia.


 

Klasifikasi Neurosa

  1. Neurosa cemas/anxietas

    1.    Anxietas fobik

  • Cemas dicetuskan oleh situasi/objek fobik.
  • Situasi/objek fobik dihindari atau dihadapi dengan perasaan terancam.
  • Gejala psikik/psikologik, fisik (motorik, perilaku, otonomik).

    

  1. Agorafobia

    Takut banyak orang/keramaian, tempat umum, bepergian ke luar rumah, bepergian sendiri.


     

  2. Fobia Sosial
  • Takut diperhatikan orang lain dalam kelompok relatif kecil: takut bicara di depan umum, makan di depan umum.
  • Harga diri rendah, takut dikritik, malu, tremor, mual.
  • Cenderung menghindar à isolasi sosial total.


     

  1. Fobia Khas/Terisolasi

    Takut terbatas pada situasi/objek yang sangat spesifik, seperti: binatang tertentu, tempat tinggi, petir, darah, dll.

    

  1. Gangguan Panik (Anxietas Paroksismal Episodik)
  • Adanya serangan anxietas berat (panik) berulang (beberapa kali dalam sebulan), antar serangan relatif tenang, tidak terduga/mendadak.
  • Gejala dominan palpitasi, nyeri dada, rasa tercekik, pusing kepala, depersonalisasi/derealisasi, rasa takut mati, takut kehilangan kendali, takut jadi gila.
  • Buru-buru meninggalkan tempat kejadian.
  • Serangan berlangsung beberapa menit (3'-5').


     

  1. Gangguan Cemas Menyeluruh

    Anxietas menyeluruh, menetap, setiap hari.

    Gejala dominan:

  • Kecemasan (khawatir akan nasib buruk, gelisah, sulit konsentrasi dll).
  • Ketegangan motorik (gelisah, sakit kepala, gemetaran, tak dapat santai).
  • Overaktifitas otonomik (kepala terasa ringan, berkeringat, jantung berdebar, sesak nafas, keluhan lambung, pusing kepala, mulut kering dsb).
  • Pada anak-anak : kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan (reassurance), keluhan somatik berulang.


     

  1. Gangguan Campuran Anxietas-Depresi
  • Terdapat gejala anxietas dan gejala depresi.
  • Terdapat gejala otonomik (tremor, palpitasi, mulut kering, mules, dll).


 

  1. Neurosa obsesif – kompulsif
  • Pikiran obsesi

        Gagasan, bayangan pikiran atau impuls timbul dalam pikiran individu secara berulang-ulang, dirasakan mengganggu, dicoba menghilangkan tanpa hasil, terjadi secara involunter, tidak dikehendaki, dikenali sebagai pikirannya sendiri.

  • Tindakan/ritual kompulsif

        Perilaku stereotip, diulang berkali-kali, tidak mengenakkan, tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, berulangkali menantangnya.

  • Terdapat gejala otonomik dari anxietas atau terdapat perasaan tertekan dan ketegangan tanpa gejala otonomik.

    Bentuknya bisa:

    a. Predominan pikiran obsesif

    b. Predominan tindakan kompulsif

    c. Campuran pikiran dan tindakan kompulsif


     

  1. Reaksi terhadap stres berat & gangguan     penyesuaian

Diagnosa ditegakkan atas dasar:    

  1. Simptomatologi.
  2. Perjalanan penyakit.
  3. Salah satu dari dua faktor pencetus/stressor:

    a.    Stress akut yang berat (suatu stress kehidupan luar biasa) à reaksi stress akut dan gangguan stress pasca     trauma.

    b.    Trauma berkelanjutan / berkepanjangan (suatu perubahan penting dalam kehidupan yang menimbulkan situasi tidak nyaman berkelanjutan à gangguan penyesuaian.

  • Merupakan konsekuensi langsung dari stress akut berat atau trauma berkepanjangan.
  • Sebagai respons maladaptif terhadap stress akut berat atau trauma berkepanjangan , dimana mekanisme penyesuaian (coping mechanisme) tak berhasil.

1.     Stress akut

    - Stressor akut berat fisik/mental à gejala timbul segera setelah kejadian.    - Gejala-gejala campuran dan berubah:

  • Bengong (daze).
  • Depresi, anxietas, marah, kecewa, overaktif, penarikan diri.
  • Bila dialihkan dari lingkup stressornya à gejala menghilang dengn cepat (dalam beberapa jam), bila stressor berkelanjutan (tak dapat dialihkan) à gejala baru mereda setelah 24-48 jam, paling lama 3 hari.
  • Kerentanan individu dan kemampuan penyesuaian diri memegang peranan dalam terjadinya atau beratnya reaksi stress akut.
  • Risiko bertambah pada kelelahan dan usia lanjut.


 

  1. Gangguan stress pasca trauma
  • Timbul dalam kurun waktu 6 bulan setelah kejadian traumatik yang luar biasa berat seperti gempa besar, tsunami dll. (masa laten beberapa minggu – bulan).
  • Harus didapatkan bayang-bayang atau mimpi-mimpi dari kejadian traumatik secara berulang-ulang (flashback).
  • Traumanya singkat atau berkepanjangan.
  • Gejala lain: bengong , emosi tumpul, menjauhi orang, tidak responsif terhadap lingkungan , anhedonia, takut, panik, agresif, bangkitan otonomik berlebihan, anxietas, depresi, insomnia, ide bunuh diri.


     

3.     Gangguan Penyesuaian

  • Onset terjadi dalam 1 bulan setelah terjadinya kejadian yang stressful / krisis kehidupan migrasi/pengungsi (termasuk penyakit fisik berat), gejala-gejala paling lama 6 bulan, kecuali reaksi depresi berkepanjangan.
  • Manifestasi gangguan bervariasi:
    • Reaksi depresi singkat (< 1 bulan).
    • Reaksi depresi berkepanjangan (à 2 tahun).
    • Reaksi anxietas.
    • Reaksi campuran anxietas-depresi.
    • Gangguan tingkah laku (aggresif dan dissosial pada remaja).
  • Predisposisi atau kerentanan individu lebih berperan dalam     risiko terjadinya atau beratnya gejala.
  • Pada anak-anak à fenomena regresif: ngompol, isap jempol.


 

  1. Neurosa neurastenik

    Neurastenia

  • Kelelahan mental: prestasi kerja, efisiensi kerja, pikiran mengganggu, sulit konsentrasi, ingatan tak menyenangkan, pikir tak efisien.
  • Kelelahan fisik: kerja ringan tenaga habis, perasaan sakit, nyeri otot, pusing, nyeri kepala, gangguan tidur, tak bisa santai, mudah tersinggung, dispepsi, anhedonia/semangat , depresi, anxietas ringan.


 

  1. Sindrom Depersonalisasi dan Derealisasi

    a.    Depersonalisasi : aktivitas mental, tubuh menjadi berubah kualitasnya menjadi tidak riil, asing :

  • Tak lagi menguasai pikiran sendiri.
  • Gerakan/perilakunya bukan dari diri sendiri.
  • Merasa tubuhnya tak bernyawa, asing.


     

b.    Derealisasi : lingkungannya menjadi berubah, tidak riil, asing:

  • kehilangan warna, tak hidup, semu
  • melihat diri sendiri dari jauh, melihat diri sendiri mati.


 

Merupakan fenomena : near death experiences.

Dapat terjadi pada orang normal dalam keadaan kelelahan, deprivasi sensorik, intoksikasi halusinogen, hipnagogik dan hipnopompik.


 

  1. Neurosa hipokondrik
  • Preokupasi/keyakinan menetap akan kemungkinan menderita     satu atau lebih gangguan fisik yang serius dan progresif.
  • Tidak ditemukan kelainan fisik yang jadi dasar keluhannya.
  • Penolakan menetap nasihat/penjelasan dokter.     


 

  1. Gangguan Disosiatif/gangguan konversi

    Adanya kehilangan parsial/total dari integritas normal antara:

  • Ingatan masa lalu.
  • Kesadaran akan identitas dan penghayatan .
  • Kendali terhadap gerakan tubuh.

Tidak ada bukti adanya gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejala tersebut.

Bukti adanya penyebab psikologis (problem/peristiwa penuh stress), sering disangkal.

1.     Amnesia Disosiatif

  • Amnesia (hilang daya ingat) mengenai kejadian baru yang bersifat stress/traumatik (seperti kecelakaan, kesedihan dsb).
  • Bingung, distress, depresi ringan.

2.     Fugue Disosiatif

  • Amnesia disosiatif +
  • Dengan sengaja melakukan perjalanan tertentu melampaui jarak yang biasa dilakukan sehari-hari.
  • Mampu mengurus diri yang mendasar (makan, mandi dsb), melakukan interaksi sosial yang sederhana dengan orang lain yang belum dikenal (bertanya, beli karcis).

3.     Stupor Disosiatif

  • Gejala stupor (berkurang/hilang gerakan volunter dan respons normal terhadap rangsangan luar, kesadaran baik).
  • Penyebab fisik –
  • Problem/kejadian penuh stress +

4.     Gangguan Trans dan Kesurupan

  • Hilang sementara penghayatan akan identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya.
  • Perilaku seperti dikuasai pribadi lain, kekuatan gaib, kekuatan lain.

5.     Konvulsi Disosiatif

    Seperti kejang epileptik, jarang disertai lidah tergigit, luka karena jatuh saat serangan, inkontinensia uirn (ngompol), tidak dijumpai kehilangan kesadaran.

6. Gangguan Kepribadian Multipel

  • Dua atau lebih kepribadian pada satu individu, satu yang tampil setiap saat.
  • Masing-masing kepribadian lengkap, berbeda satu sama lain.
  • Perubahannya mendadak, berkaitan erat dengan peristiwa traumatik.

Lain-lain:

        Gangguan motorik disosiatif, gangguan sensorik disosiatif, sindrom Ganser.


 

Terapi untuk neurosa

I.     Psikofarmakologik

Diazepam     : Valium 2,5 mg dan inj. 5 mg/cc

Alprazolam      : Xanax 0,25 ; 0,5 ; 1 mg

Imipramin      : Tofranil 25 mg

Buspiron      : Buspar 5 mg

Propranolol      : Inderal 10 mg

Klonazepam      : Klonopin 0,5 ; 1 ; 2 mg

Klomipramin      : Anafranil 10 ; 25 mg

Fluoxetin      : Prozac


 


 

II.     Psikologik

  1. Psikoterapi berorientasi insight.
  2. Behavior terapi.
  3. Terapi kognitif.
  4. Terapi kelompok.


 


  1. Gangguan emosi, persepsi, dan isi pikiran

    Gangguan emosi, afek, mood

  • Gangguan emosi mendasar
    • Depresi patologik, yakni penurunan mood yang disertai rasa sedih dan penurunan kemampuan untuk merasakan kesenangan (anhedonia)
    • Peningkatan mood berlebihan, dimana terjadi keceriaan dan ekspresi kesenangan berlebihan
    • Kecemasan patologik, dimana timbul rasa cemas yang tidak wajar dan kadang-kadang berefek pada system saraf otonomnya, dengan gejala pucat, tangan dan kaki berkeringat atas kausa yang tidak seharusnya dijadikan penyebab kecemasan
  • Gangguan variabilitas emosi
    • Mood mendatar, dimana respon emosionalnya mengalami penurunan yang dapat bervariasi dari hari ke hari atau hitungan jam
    • Emosi labil, dimana terjadi peningkatan mood yang tidak jelas
    • Emosi inkontinen, dimana terjadi perubahan mood yang tidak menetap, ekstrim, biasanya terjadi pada pasien pasca stroke atau demensia
  • Gangguan hubungan mood dan pikiran
    • Merupakan diskontinuitas antara pikiran dan mood-nya, dimana pasien memikirkan hal yang sedih tetapi mood-nya malah menunjukkan kebahagiaan, dan sebaliknya


 

    Gangguan Persepsi

Persepsi adalah suatu proses kesadaran terhadap hal-hal yang disampaikan oleh panca indra. Gangguan persepsi meliputi :

  • Gangguan intensitas persepsi
    • Pada persepsi manik, terlihat berlebihan, sementara pada orang depresi, persepsinya mengalami penurunan
  • Gangguan kualitas persepsi
    • Terjadi gangguan kualitas sensasi yang tidak perhubungan dengan gangguan organik, misalnya pada pasien skizofrenia bisa merasakan makanan enak menjadi tidak enak, atau bunga yang harum malah dianggap berbau menyengat
  • Ilusi
    • Ilusi adalah mispersepsi terhadap stimulus dari luar, biasanya muncul karena penurunan stimulasi sensorik dari suatu benda, perhatian yang tidak fokus, penurunan kesadaran seperti delirium, dan peningkatan emosi (misalnya saat ketakutan)
  • Halusinasi, yakni suatu persepsi yang hadir tanpa adanya stimulus dari luar, tetapi seolah dirasakan oleh panca indra. Terdiri dari :
    • Halusinasi auditorik
    • Halusinasi visual
    • Halusinasi olfaktorik
    • Halusinasi pengecapan
    • Halusinasi taktil
    • Halusinasi sensasi dalam


 

Gangguan Isi Pikiran

  • Gangguan arus pikiran (stream of thought)
    • Penekanan pikiran, dimana terjadi pikiran-pikiran yang membludak, bervariasi, dan cepat, merupakan karakteristik pasien manik dan skizofrenia
    • Kemiskinan pikiran, dimana pikiran menjadi sedikit, lambat, dan tidak bervariasi, merupakan karakteristik pasien depresi dan skizofrenia
    • Blocking pikiran, dimana terjadi kekosongan pikiran yang tiba-tiba, biasanya pada pasien skizofrenia yang menganggap pikirannya tiba-tiba dihilangkan oleh orang lain
  • Gangguan bentuk pikiran (abnormalitas hubungan pikiran dalam diri)
    • Flight of ideas, terjaid perubahan pikiran yang cepat dari ide yang satu ke ide yang lain meskipun pembicaraannya belum selesai, terjadi begitu cepat dan kadang sulit diikuti
    • Hilangnya hubungan yang logis antara pikiran yang satu dengan yang lain, dimana pasien membicarakan berbagai ide yang sama sekali tidak berhubungan dan tidak bertujuan, paling sering ditemukan pada pasien skizofrenia
    • Pikiran yang menetap, dimana terjadi pengulangan suatu ide yang sama terus menerus, meskipun pertanyaan diganti, pasien akan kembali menjawab pertanyaan pertamanya, sering dijumpai pada pasien demensia.
  • Delusi, adalah suatu kepercayaan yang timbul akibat gangguan isi pikiran terhadap suatu hal tertentu, biasanya dipertahankan oleh pasiennya meskipun sudah ada bukti-bukti yang bertentangan dengan isi pikirannya tersebut. Jenisnya mencakup :
    • Delusi paranoid, merupakan waham ketakutan tidak jelas akan adanya serangan terhadap dirinya
    • Delusi referensi, merupakan waham yang menganggap suatu benda, kegiatan, atau orang-orang tertentu memiliki tujuan pada dirinya, sering pada skizofrenia
    • Delusi kebesaran, dimana pasien merasa paling kaya dan paling berharga, sering pada pasien manik
    • Delusi rasa bersalah, merupakan waham yang menganggap dirinya sudah melakukan kesalahan besar yang dapat menyebabkan pasiennya mengalami depresi berat
    • Delusi nihilistik
    • Delusi hipokondriakal, yakni waham yang salah tentang penyakit
    • Delusi kecemburuan
    • Delusi seksual
    • Delusi control
    • Delusi keagamaan


     


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. REFERENSI
  1. Sinopsis Psikiatri Kaplan dan Saddock Jilid I, Edisi 7. Binarupa Aksara. 1997
  2. Sinopsis Psikiatri Kaplan dan Saddock Jilid II, Edisi 7. Binarupa Aksara. 1997
  3. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, W.F. Maramis. Airlangga University Press. 1998
  4. Gelder, Michael et al. Psychiatry 3rd edition. 2006.USA : Oxford University Press.

tweets

Follow by Email

temen-temen

Share it

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget