22 Januari 2011

Cobalah pantau penyebab kita terpukau

Sumber : http://www.annida-online.com/bianglala/cobalah-pantau-penyebab-kita-terpukau.html?pageID=1

Wah…. Kangen banget baca AnNida yang versi majalah nih…

Terpukau? Apaan tuh!

Sobat Nida, pernahkah kamu merasa terpukau pada sesuatu?

Eit, jangan salah! Terpukau itu maksudnya bukan sekedar melongo sambil melotot takjub terus ngiler (iih... jorki), tapi lebih dari itu, terpukau berarti juga terbius.

Pernah baca kisah Nabi Yusuf dalam Al-Quran? Atau setidak-tidaknya mengetahui ceritanya deh. Itu loh... adegan saat para wanita yang sedang memegang pisau untuk mengiris buah yang dihidangkan Zulaikha, tiba-tiba saja tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri begitu melihat kedatangan Nabi Yusuf. Ajaibnya... tanpa anestesi alias obat bius merek apa pun, para wanita itu sama sekali tidak merasa kesakitan meski jemari dan tangan mereka tersayat pisau. Bahkan mereka begitu terpesona menatap Yusuf sampai-sampai mengira tengah melihat malaikat turun ke bumi.

Terasa lebay? O..ow, itu kisah nyata loh. Coba cek sendiri di Al-Quran surat Yusuf, dan rasakanlah sensasi terpukau yang sungguh mengerikan. Ternyata ketika kita sedang terpukau, kita bisa benar-benar lupa diri, bahkan menyakiti diri sendiri pun tak terasa. Itulah keadaan terpukau alias terbius yang dialami oleh para wanita kala itu saat melihat paras tampan Nabi Yusuf.

"Yee... itu kan dulu, zaman sekarang belum pernah gw lihat orang yang terpukau sampai sebegitunya. Paling banter kepentok tiang listrik atau jatuh kesandung karena meleng."

Sobat Nida, boleh saja kita merasa tidak pernah terpukau berlebihan saat melihat paras rupawan atau body aduhai dari lawan jenis, tapi jangan lupa... terpukau bukan sekadar perkara menatap lawan jenis saja. Ada seribu satu hal lain yang mungkin selama ini telah membuat kita terbius tanpa sadar.

Butuh contoh? Oke, mari kita teliti beberapa hal berikut:

Facebook dan kawan-kawannya

Hayyo ngaku... pernahkah kamu ber-FB ria sampai lupa makan, lupa ke WC, lupa tidur? Bukankah dengan demikian sesungguhnya kamu sedang menyakiti diri sendiri tanpa sadar? Artinya kamu sedang terbius, terpukau.

Lagu OnlineSaykoji bisa dengan jelas memperlihatkan betapa gilanya orang-orang ketika terpukau dengan dunia maya. Rela tidur telat, bangun pagi-pagi, ngebuka facebook meski masih ngantuk, siang-malam selalu menatap layar terpaku untuk online-online! Kerasa kebangetan nggak sih?

Ini bukan berarti nge-net atau FB itu buruk, asal tidak berlebihan dan masih dalam taraf kewajaran, oke kok.

Fashion dan kawan-kawan

Nah, mungkin yang ini lebih banyak dialami kaum wanita. Pernahkah kamu belanja ngiterinmall sampai lupa waktu? Badan sudah pegal, kepala sudah pening, mata sudah berat, tapi tetap saja kamu rela terus menyidik setiap toko untuk berburu barang-barang terbaik: baju yang paling oke, sepatu yang paling fashionable, tas yang terkeren, hape yang tercanggih.

Kamu begitu terpukau dengan barang-barang yang dipajang di tiap etalase toko itu sampai-sampai lupa diri, otakmu terbius.

Games

Saat ini games sudah ada dalam genggaman, tidak hanya di warnet atau di komputer rumah. Lewat HP pun kita sudah bisa men-download . Sadar atau tidak, kita bisa dibuat terpukau akibat permainan tersebut: Lupa waktu, lupa segalanya.

Atau, kita bisa juga terpukau oleh berbagai permainan yang ditawarkan di Timezone dan tempat lain sejenisnya. Bukan hanya lupa waktu, bahkan kita bisa lupa berapa banyak logam yang telah kita masukkan ke dalam mesin-mesin pemakan uang itu. Kita benar-benar terbius.

Film, Sinetron, atau Tayangan Teve

Satu lagi hal yang mungkin bisa bikin kita lupa diri adalah saat menonton. Saking serunya, kita sampai-sampai meng-cancelaktivitas lainnya yang bisa jadi jauh lebih penting. Hmm...

            Bagaimana sobat Nida? Sudah bisa membayangkan model terpukau zaman sekarang? Weit, jangan sangka pembahasan kali ini enteng. Coba simak terus bianglala ini hingga titik terakhir!

Terpukau, So What Gitu Loh?

Memangnya kenapa kalau kita terpukau? Nggak boleh?

Hmmm... sabar dulu dong, Sobat sekalian! Ini bukan masalah boleh atau tidak boleh, karena lain orang tentu lain kasusnya, yang bisa tahu vonisakhir boleh atau tidaknya melanjutkan terpukau pada sesuatu adalah diri kita sendiri, makanya penting untuk memantau penyebab kita terpukau.

Terpukau bisa membawa beberapa dampak buruk, antara lain:

1. Hilangnya produktivitas

Iya dong, ketika kita terpukau otomatis kita terbius sampai lupa waktu. Akibatnya, kita mengabaikan kewajiban kita dan kepentingan-kepentingan lain. Misalnya, saking asyiknya nonton acara musik atau mengikuti perkembangan gosip selebriti terbaru di teve, kita sampai hilang konsentrasi belajar, hilang fokus saat mengerjakan tugas. Waktu dan energi terbuang begitu saja untuk hal yang tidak produktif. Kita keasyikkan sampai-sampai lupa bahwa kelahiran kita di muka bumi ini bukan sekadar untuk menjadi penonton!

2. Terbiasa menuruti nafsu, cenderung lebay

Sekali kita terpukau pada sesuatu, biasanya akan ketagihan, dan kita bisa melakukan apa pun untuk memenuhi rasa "nagih" itu, persis orang sakawalias kecanduan. Misalnya terpukau pada facebook, saking lupa dirinya, sampai-sampai kita kepengen di mana pun dan kapan pun membuka facebook, meng-updatestatus, menambah foto dan video terbaru, bermain permainan-permainan seru yang ditawarkan, chatting-chattingan. Bukan sejam-dua jam, tapi hampir sehari semalam, dari mata terbuka sampai tertutup lagi. Hingga pulsa habis pun tidak masalah, sampai kantong jeblogpun oke-oke saja. Padahal pekerjaan kita masih banyak yang lainnya. Kita tidak sadar bahwa yang menyuruh kita melakukan itu sebenarnya adalah nafsu. Akhirnya kita terbiasa memperturuti hawa nafsu. Nah kan, ternyata hal yang positif sekalipun bisa berubah menjadi negatif ketika nafsu sudah ikut campur.

 3.  Menzalimi diri sendiri

Sama seperti para wanita di zaman Nabi Yusuf yang melukai tangan sendiri dengan pisau tanpa sadar, terpukau juga bisa membuat kita menganiaya diri sendiri. Contoh, saking terpukaunya dengan game online, mata yang sudah mengantuk tetap kita paksakan untuk terbuka. Perut yang sudah berbunyi tetap kita cuekin. Bukankah ini berarti menyakiti tubuh sendiri?

 4.  Merembet pada perbuatan syirik

Sobat Nida, yang paling berbahaya dari terpukau ini adalah... bisa-bisa apa yang kita kira biasa saja, tidak berdosa, bahkan kita anggap sebagai sesuatu yang hebat dan membanggakan, ternyata menjadi penyebab murkanya Allah pada kita.

Jangan lupa definisi syirik, yaitu menduakan Allah dengan makhluk-Nya. Ketika kita terpukau pada sesuatu sampai-sampai mengabaikan kewajiban kita terhadap Allah, seperti lupa shalat... atau menunda waktu shalat. Bukankah artinya kita tengah menduakan Allah?

Kalau demikian, jangan salahkan siapa-siapa kalau hidup terasa jadi sempit, banyak masalah, banyak derita. Bukankah Allah sudah nyatakan dengan jelas bahwa Ia memaafkan dosa apapun selain menduakan-Nya! Mestinya kita selalu ingat bahwa Allah Mahacemburu! Lebih cemburu daripada seorang istri terhadap suaminya yang melirik wanita lain!

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh seseorang yang cemburu? Marah habis-habisan tentu saja, atau paling parah... meninggalkan pihak yang telah menduakannya. Terus, bagaimana dong jika gara-gara terpukau pada makhluk-Nya, kemudian kita malah ditinggalkan oleh Allah?

Maka pantaulah penyebab kita terpukau! Apakah keterpukauan kita itu telah melebihi kadar yang normal? Apakah kita sampai mengabaikan kewajiban kepada Allah ketika sedang terpukau pada sesuatu selain-Nya? Kalau iya, maka cepat-cepatlah bertobat! Mungkin keterpukauan kita yang berlebihan itulah yang membuat hidup kita sial terus-terusan.

Bukankah segala keburukan yang menimpa diri kita kebanyakan disebabkan oleh tangan kita sendiri? So, hati-hatilah ketika terpukau! Pada apapun dan pada siapa pun.

Terpukau yang Berbeda

            Sobat Nida, jangan salah paham dulu! Tidak selamanya terpukau itu buruk dan harus dihindari. Ternyata masih ada satu jenis terpukau alias terbius, tapi bentuknya benar-benar berbeda dan malah sangat berguna untuk membantu kita melupakan segala kesakitan dan kelelahan yang kita rasakan dalam hidup ini.

            Terpukau yang satu ini telah dicontohkan dengan baik oleh salah seorang sahabat Rasulullah, Bilal.

            Coba bayangkan betapa nelangsanya seorang Bilal! Karena murka atas keislamannya, majikannya menyiksanya tanpa ampun. Tubuh Bilal yang sudah hitam, kian bertambah legam karena dipanggang langsung di bawah terik matahari padang pasir. Bayangkan, Sobat Nida, betapa menderitanya fisik Bilal! Jangankan terik mentari di padang gurun, panas matahari di Jakarta saat musim kemarau saja sudah bisa membuat kita mengeluh panjang lebar kali tinggi. Di saat seperti itu, kita bahkan rela melakukan apapun demi untuk mendapat terpaan sejuk angin, dan lebih asyik lagi kalau ditambah segelas air es.

            Bilal juga bisa mendapatkan kebebasan semacam itu, syaratnya mudah saja... cukup dengan mengakui bahwa Tuhan itu hanya satu. So simple? Hanya dengan berucap seperti itu, Bilal tidak akan lagi terpanggang matahari dan ditindih dengan batu besar di atas badannya. Akan tetapi dengarkanlah suara erangan dari bibir Bilal...

            "Ahad! Ahad!" (satu! Satu!)

            Bilal tetap keras kepala mengatakan bahwa Tuhan itu esa, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding sembari keheranan.

            Obat bius macam apakah yang sudah disuntikkan pada tubuh Bilal?

            Ya, Sobat Nida... sesungguhnya Bilal sudah benar-benar dalam keadaan terpukau, stadium akhir pula. Ia sampai mati rasa, tidak ada lagi baginya rasa sakit dan duka, salah besar kalau kita merasa kasihan pada apa yang menimpa Bilal! Justru harusnya kita terbakar rasa iri.

Saat itu, yang menderu dalam dada Bilal hanyalah kebahagiaan tak terperi, ia lupa apa yang namanya panas atau berat, karena ia telah begitu terpesona akan keagungan Allah. Jangan bayangkan Bilal adalah seorang budak bodoh yang cari mati! Ia hanya seorang pemuda yang sudah terlalu terpukau pada penciptanya, sehingga terlepaslah segala kesusahan dunia untuknya. 

Bagi Bilal, fisik bukanlah apa-apa! Tidak ada yang istimewa dari hal-hal bersifat fisik, apalagi sampai membuat terpukau. Setampan atau secantik apa pun wajah seseorang, toh akan jadi santapan belatung dan cacing di liang kuburnya kelak. Sebesar apapun hunian tempat tinggal, sekeren apa pun kendaraan yang dimiliki, bukankah hanya dengan beberapa detik goncangan bumi saja semua itu bisa lumat, rata dengan tanah, tak bersisa. Maka, pada hakikatnya... tidak ada hal-hal berbau fisik yang pantas membuat kita terpukau.

 
 

Tips Mensiasati Ke-terpukau-an

            Jadi, apa yang harus kita lakukan? Secara... terpukau itu kan bukan sesuatu yang disengaja, itu kan reaksi spontan kita pada sesuatu yang mengagumkan.

            Oke, Nida sangat sangat mengerti, wong Nida pun pernah merasakan seperti apa yang namanya terpukau. Ketika sedang baca novel yang keren abis misalnya. Sampai ogah makan dan tidur.

            Jadi, kiat-kiat berikut mudah-mudahan bisa sedikit membantu kita untuk warningsupaya tidak masuk dalam perangkap "terpukau" yang melenakan:

 
 

1.  Tiap kali terpukau, ingat hakikatnya!

Hakikatnya, semua hal berasal dari Allah dan akan kembali pula kepada-Nya. So, ketika melihat cowok berwajah tertib atau cewek yang bertampang bidadari, jangan puji orangnya... tapi pujilah penciptanya! Lalu, supaya nafsu tidak menggoda lebih jauh, bayangkan saja muka-muka yang indah itu toh nantinya akan kembali ke asalnya, alias lumer dengan tanah, setelah sebelumnya menjadi keriput dan kendor, terus menjadi santapan jasad renik di liang kubur. Hii....

Begitu pula ketika terpukau pada kepandaian seseorang, ingatlah hakikatnya! Kepandaian dan kebijaksanaan itu pasti berasal dari Allah, jangan sampai kita malah rugi karena terpesona pada makhlukNya! Misalnya ketika kita terlalu kagum pada seorang penulis, buku yang ditulisnya menjadi "kitab suci" yang kita sakralkan. Wah... wah.

Padahal siapa pun yang membawa kebenaran atau kebaikan, mereka hanyalah "gardu-gardu" kecil yang menyalurkan "listrik" untuk menerangi "rumah-rumah". Sumber energi yang sebenarnya adalah Allah. 

Akan tetapi, supaya kita mendapatkan hikmah, pelajarilah apa yang membuat orang tersebut sampai diberi kepandaian dan kesempatan menjadi "gardu energi" seperti itu oleh Allah, lalu tiru-lah! Mudah-mudahan Allah pun memberkahi kita kepandaian sepertinya, dan menjadikan kita juga sebagai salah satu "gardu" yang mengalirkan energi kebaikan pada orang lain, meski sekecil apa pun.

2. Berdoa pada Allah agar dijauhkan dari syirik yang disadari maupun tidak.

Ini sangat penting, Sobat Nida! Syirik kan tidak melulu yang berbau klenik seperti dukun, kemenyan, jampi-jampi, atau patung sembahan. Bisa-bisa artis atau penyanyi idola kita adalah sekutu Allah di hati kita.

Secara tidak sadar, kita lebih suka melantunkan syair-syair lagu mereka, daripada melantunkan al-Qur an yang mulia. Kita lebih tertarik pada profil band pendatang baru, daripada mencari tahu tentang manusia "idola" sesungguhnya yang telah Allah utus untuk kita pelajari, Muhammad SAW. Kita lebih terpukau pada gaya hidup mentereng selebritis, daripada gaya hidup zuhud seperti para nabi.

Maka, semoga Allah mengampuni kita dari kebodohan dan ketidaktahuan kita selama ini, dan semoga Allah membimbing kita untuk merasa "terpukau" hanya pada hal-hal yang hakiki saja.

Sobat Nida, mari kita pantau penyebab kita terpukau! Jangan sampai kita rela terbius oleh sesuatu yang tidak bisa menyelamatkan kita di hari pengadilan kelak, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati kita akan diminta pertanggungjawabannya. [Syamsa]

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget