04 Mei 2010

My love letter for my Prophet, Muhammad peace be upon on him

Lubuk Alung, Minggu 2 mei 2010, 12:27 am

Assalamu'alaika ya Habbibullah….

Duhai kekasih Allah…

Salam ta'dzim ku kepadamu, moga Allah menyampaikan shalawat ku hingga tersampaikan rindu membuncahku.

Sebenarnya lidahku kelu, kelu sekelunya ya Rasulullah, tapi bukan itu yang ku khawatirkan, tapi jika saja jari-jari ini tiba-tiba tak sanggup hingga tunai mengungkapkan segala rasa yang sekarang berloncat-loncatan di kepala ingin segera kusampaikan kepadamu .

Aku belumlah pantas untuk menyandang kehormatan sebagai ummatmu. Engkau tinggalkan Al Qur'an dan As Sunnah sebagai pedoman, namun otak kerdil ini belum kuasa memaknai segalanya, pun untuk mengafal surat cinta dariNya aku masih tertatih di garis awal, lidahku bebal tak mau dipatuh, oh, bukan!, bukan lidahku yang salah, hati kelabuku yang penuh maksiat ini yang membuat semuanya menjadi sulit. Kewajibanku setelah aku mengucapkan syahadat belum juga terpenuhi, bahkan sering terlalai, apatah lagi jika konsisten dengan sunnah mu, ya Rasul… tak punya muka aku jika telah merasa menjadi ummatmu yang layak…

No body's perfect, except YOU, uswatun hasanah yang paling sempurna akhlaknya.
Wajahmu, bulan purnama, karena cahayamu yang terang menentramkan. Engkau hamba Allah yang paling bertaqwa dan paling takut dengan Tuhan, ketika manusia lain terlelap, engkau memohon ampunanNya hingga kakimu bengkak, demi Allah, engkau sudah dititah ma'sum duhai Penghulu seluruh orang yang bertaqwa…. tetapi kau tak putus-putusnya beristighfar untuk kesyukuranmu. Kasih sayangmu kepada manusia begitu besar. Tawadhu , pakaian keseharianmu. Jiwa pemurahmu laksana angin yang sangat kencang lajunya. Keberanianmu luar biasa, 27 peperangan yang kau pimpin, bergetar tulang belulangku membayangkannya, kau begitu gagah perkasa, tak mudah tertaklukkan oleh sakit meski beban jiwamu tak terperi. Tidak pernah mendo'akan musuh-musuhmu dengan keburukan, malah sebaliknya, engkau mohon ampunan terhadap penduduk Thaif yang telah melukai hatimu. Sangat suka meminta maaf dan memberi maaf kepada siapa saja. Membalas kejahatan orang dengan kebaikan, hingga menyuapi dengan penuh kasih orang yang menyumpahimu sepanjang hari, alangkah luar biasanya, masya Allah… sungguh tak cukup kata-kata menggambarkan pribadi indahmu.

Ya habbiballah ya rasulullah…

Tanpamu, apalah artinya kami ini, terlebih kaum perempuan, yang engkau muliakan ditengah hinaan kaum jahiliyah. Alhamdulillah, Allah mengkaruniakan engkau kepada alam ini, tak hanya manusia yang segan dengan segala apa yang ada padamu, tetapi unta, pohon- pohon pun bershalawat atasmu. Buah perjuanganmu, kami merasakan indahnya Islam, Islam yang diridhoiNya. Terimakasih ya Rasulullah.

Baginda Rasul, banyak cerita perih tentang ummatmu di akhir zaman, di zaman yang ku jalani bersama milyaran ummat manusia lainnya. Tak sedikit ummatmu yang meski mengaku megikuti agama mulia yang engkau bawa tetapi tak pernah mengenal dua pusakamu, bahkan banyak yang tak mengenal pribadimu yang tak tertandingi oleh siapa pun, oh, malangnya mereka. Para minoritas yang menjalankan syariat agama ini dan sunnahmu dianggap manusia aneh, manusia tolol yang primitif dan dianggap tak bisa mengikuti arus modernisasi. Bah, retorika apa itu?. Mereka itu yang pasti akan tetap jahil, tetap tak berkembang jika tanpa kehadiranmu berabad-abad silam. Pedihnya hati ini, ketika engkau difitnah tak berdasar dengan karikatur yang sangat melecehkan itu, hanya segelintir ummatmu yang tersentak dan berusaha membela marwahmu. Semuanya serta merta tak sebanding dengan pengorbananmu, duhai junjungan alam.

Meski aku teramat malu dengan ke-tidaklayak-an ku sebagai ummatmu, namun aku bersyukur, Allah mengkaruniakanku kesempatan untuk berpeluang mengikuti jalanmu , jalan yang engkau tunjukkan menuju cahayaNya, untuk detik-detik mungkin masih tersedia agar ku terlecut tuk meningkatkan keimanan dan 'amal hingga suatu saat engkau bangga denganku sebagai ummatmu, insyaAllah…., sungguh besar harapku untuk semua itu.

  • Alangkah indahnya hidup ini

Andai dapat ku tatap wajahmu…

Kan pasti mengalir air mataku karna pancaran ketenanganmu

Alangkah indahnya hidup ini

Andai dapat ku kecup tanganmu

Moga mengalir keberkatan dalam diriku

Untuk mengikut jejak langkahmu

Ya rasulullah ya habbiballah

Tak pernah ku tatap wajahmu

Ya Rasulullah ya habbiballah

Kami rindu padamu

Allahumma sholi ala muhammad ya rabbi sholi 'alaihi wassalim

Ku tahu cintamu kepada ummat

Ummati..ummati..

Ku tahu bimbangmu kepada kami

Syafa'at kan kami..


 

Wahai nabi Allah, rindu ini begitu mendalam, rindu untuk kehadiranmu, rindu akan cintamu, meski aku sadar hati ini pun belum mampu untuk mengeja cinta yang sebenarnya atasmu, setidaknya lewat surat ini aku ingin sampaikan aku benar-benar ingin mencintai Allah dan mencintaimu, dengan segenap hati, di urutan teratas, dan semoga keinginan ini dapat ku buktikan dengan segala yang ku mampu, ku akan selalu berdo'a kepada Allah agar tak memalingkan diriku dari indahnya Islam dan kelak, mungkin bisa menjadi antrian panjang barisan di belakangmu ketika di yaumul akhir, amin…

Ya Allah, titip shalawat cinta untuk manusia terkasihMu, para shahabat dan keluarga..

Wassalam


 

Hamba Allah

yang tertatih mengeja cinta padaNya dan pada RasulNya


 

Ya Rasulullah by Raihan

1 komentar:

Asmalaili Izzati mengatakan...

boleh tau tak nama lagu tu..??

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget