29 Mei 2010

Eksekutif atau Legislatif?

Saturday, May 29, 2010, 4:47 pm

Bismillah, moga tremor ce ga makin parah…, saia hipoglikemi T.T, tapi klo ga sekarang kapan lagi bikinnya, n klo ga bikin malah rugi bgt, klo kita dapet ilmu maka ikatlah ilmu itu dg tulisan, am I rite? ^_^


 

Tadi Badan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Bahasa Sastra dan Seni Universitas Negri Padang (BPM FBSS UNP) ngadain seminar nasional (tapi kok rasanya yang datang dari UNP n UNAND aja ya?dunno…) Pengembangan Wawasan Legislatif dengan judul " Pilih Legislatif atau Eksekutif" (jiah…judul post ce kebalik dey.. :P)

Nah, ce ikut…(halah gayya :P)

Ada sedikit oleh2 ni, materinya ga ngebosenin kok (bagi yang niat ikut), at least lebih menarik dari limfadenitis (ups..)

Sinergi

Ok, materi pertama materi dari eksekutor duluan, bapak Mahyeldi Ansyarullah (do u know him? Klo ngga, hmmm… patut dipertanyakan keberadaan di padang selama ini, huhu), wakil walikota Padang sekarang ni, beliau juga pernah jadi wakil DPRD Padang, so ngerti 22nya lah..

Perbedaan yang mendasar dari eks-leg itu adalah dari fungsinya. Klo legislatif punya fungsi pada pengawasan, membuat aturan, mewakili aspirasi rakyat dan bikin penganggaran APDB. Si eksekutif tu lebih ke teknisnya, n juga lebih deket ke masyarakat, n yang pasti lebih banyak permasalahannya n banyak juga dipermasalahkan coz sepak terjangnya ditonton secara detail dari semua pihak baik itu legislative, yudikatif n rakyat sendiri, kalo legislative kan bekerja di belakang layar.

Nah, karna beliau udah pernah duduk dijajaran legislative jadinya ketika merasakan menjadi eksekutif beliau lebih paham bagaimana posisi keduanya, so lebih mengurangi pertentangan kan udah sama2 ngerti n memahami situasi. Legislatif dan eksekutif itu harus bersinergi, agar terbentuk pemerintahan yang solid itu.

Lagi, sebagai eksekutif itu harus punya karakter yang kuat intelektual dan fisik dan jaringannya. Lebih afdol nya klo kita berkaca para nabi, pada nabi Musa yang qowiyun amin, artinya kuat dan jujur, masih inget kisah beliau menolong 2perempuan yang kesulitan memberi minum ternaknya, jadinya nabi Musa membantu dg gagahnya, n beliau juga jujur ketika khilaf memakan buah yang belum ia mintai izin untuk memakannya, pada akhirnya kebaikan dan kejujuran beliau juga dapet apresiasi, beliau dinikahkan dengan salah satu perempuan tadi yang merupakan anak nabi. Terus klo nabi Yusuf , beliau hafizun 'alim, dapat menjaga lagi punya ilmu pengetahuan, ketika beliau menjadi bendahara negri Mesir beliau bisa menjaga agar negrinya tak terjadi panceklik, beliau juga bisa mencegah korupsi yang bakalan bisa nambah parah keadaan waktu itu, beliau sendiri yang turun tangan, ilmu pengetahuannya? Ga diraguin lagi. Last but not least, kepemimpinan makhuk yang gemilang memimpin umat manusia kepada jalan rahmat, siapa lagi kalo bukan nabi Muhammad SAW, beliau punya karakter raufurrahim, kasihsayangnya kepada rakyatnya, kepada ummatnya, luar biasa, luar biasa! ga ada pemimpin yang bisa menandingi kebesaran hati beliau ini, "ummati..ummati…", maka jadilah seorang pemimpin yang harus mencintai rakyat yang dipimpinnya agar ia pun dicintai.

Wow, subhanallah.., kemana mau dicari eksekutif2 yang seperti di atas?

Ada beberapa pertanyaan di sesi diskusi, tapi besok2 ajalah ce tulis lagi ya…, masih bnyk lagi (fiuuh…, lamo lae ko? :P)


 

Check n Balance

Materi kedua oleh bapak Doni Hendrik, dosen ISOSPOL UNAND, pernah jadi staff ahli DPRD (ato DPR RI ya? Ga nangkep banget ce).ni dari kalangan akademisi, n tau ttg teori2 yang ideal itu (tapi prakteknya sulit bangetss)

Kilas balik dikit ttg legislatif itu, awalnya dulu tu orang inggris yang punya perwakilan beginian untuk klan2 mereka (kayak suku gitu deh), trus kemudian orang Amerika (atau orang inggris yang migrasi ke sana ya?)yang mengabsorbsi system tsb. Nah, klo di negri kita tercinta, Indonesia , ada folkstat (apadeh, ga jelas), KNIP, DPRS- DPR, hingga DPR terpilih.

Persoalan yang fundamental dari leg-eks itu adalah check and balance. Kedua pihak harusnya udah saling memahami tugas dan fungsi masing2, n ngejalaninnya dg batas2an itu juga. tapi itu dia…

Kalo kita liat di tahun 1949,kita punya parlemen kan, n mereka cendrung lebih dominan, istilahnya legislative heavy

Pd demokrasi terpimpin 1965 malah jadi terbalik, eksekutif yang dominan, presiden lebih banyak pengaruhnya

Orde baru, makin mengkronis dah tu.., super heavy executive kalo bisa dibilang, maka para legislative hanya bisa duduk, diam, duit dan tidur pada sidang2 , coz apa yang bakal dibilangnya ga bakalan dianggap (tapi kok sekarang masih banyak yang mewarisi ya??)

1999-2001, itu reformasi tercetus, dan ada euphoria dari penyampaian aspirasi, hingga cenderung legislative heavy.

2008-2010, di awal2 memang legislative heavy tapi pada akhirnya mengarah ke executive heavy (bukan ce yang ngambil kesimpulan ya, ce belum jadi pengamat politik yang baik :P)

So, gimana dunk?

Ga ada yang balance..

Ya memang itulah kehidupan kawan, realitas, bukan sekedar teori ideal n yg semestinya. Pada intinya harus ada konsensus/kesepakatan diantara mereka berdua, jadinya ga perang perebutan pengaruh gitu.


 


 

Well, kita semua dah tau kan kalo kampus kita tu juga miniature dari Negara itu sendiri, hanya saja kita ga punya lembaga yudikatif. Tapi walo Cuma dengan eksekutif dan legislative itu saja kita udah bisa kok mengaplikasinya proses berjalannya suatu Negara tersebut, tapi masalahnya banyak dari kita yang ga partisipasif (ok, saya juga, dulu). Bisa ditaksir hanya 5% yang ikut perpolitikan kampus itu. Karna emang political culture (hah, istilah apalagi ni?) kita masih ditahap simbolis dan subjective.

Political culture itu ada tiga tahapan (huff…., KWN ce tak terlalu baik semasa SMA, T_T, beginian pun ga terlalu inget pernah belajar ato ga) ;

1st : parokrial, hanya ngerti dg simbolis. Ok, mereka taunya mereka satu Negara, satu bahasa, satu bendera, tapi apakah mereka merasakan sentuhan Negara itu dikehidupan mereka? Nggak.

2nd : subjective, mereka tau, ngerti kalo mereka punya hak untuk terlibat langsung ke Negara tersebut, tapi mereka ga mau, ga mau pusing dg hal itu.

3rd : partisipatif, u know about this…

So, kita udah ditahapan mana? Baik itu buat Negara kita ato setidaknya buat Negara Keluarga Mahasiswa kampus kita? Jangan sampe parokrial aja ya…


 

Segitu aja ya…, ngebosenin emang, namanya juga cerita tentang politik (hehe, bakal ada yang marah), bukan cerpen, but, moga pesan2 yang mo ce sampein ditangkap dengan cerdas (haiah, ngungkapinnya aja ga cerdas begitu)


 

Huhuy, 32 minutes remaining, bentar lagi maghrib, bentar lagi buka puasa (huayo..pada inget kan kalo hari ini tgl 15 di kalender hijriah?)

I'll post it first


 

Ps: heran, kenapa ce berani nanya di forum diskusi tadi ya? Haha tumben


 

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget