06 Februari 2010

Bapak tua pengamen itu…

5 februari 2010

Selepas ashar, di suatu bus kota Pasar Raya-Lubuk Buaya.

Dibangku pojok agak di belakang ce berusaha memejamkan mata, berharap penat ini bisa terlampiaskan sedikit dengan mencoba tidur sejenak ditemani angin dan debu jalanan dari jendela yang terbuka lebar, ah tapi percuma..

Musik di bus itu terlalu mengusik indra pendengaran ce, sambung menyambung, dari Geisha, Wali dan entahlah (saking seringnya lagu itu diputar, membuat hafal, setidaknya tahu, tapi bosan, inginnya nasyid saja, atau murattal kalo bisa, tapi hanya sekali setahun, saat ramadhan).berisik sekali.

Ada 2 orang pengamen yang naik. musik di bus dipelankan, berganti dengan petikan gitar, selingan harmonica dan tentunya alunan suara pengamen tadi, cowok, mungkin agak lebih tua dari abang ce, lagunya biasa saja menurut ce, lagu lama, mungkin ketika melihat di bus saat itu banyak ibu2, jadinya memilih lagu itu. Ce punya uang receh, tak ada salahnya, pikir ce.

Bus kota terus bergulir, ce coba lagi memejamkan mata.

Tak berminat untuk membaca buku imunologi, ce pengen istirahat, tak mau dijejali dengan segala reaksi2 imun yang memusingkan. Tidak,tidak untuk saat ini.


 

Gerimis mulai menyapa jalanan.

Hmm… sejuk sekali, angin debu tadi sekarang membawa titik hujan, Alhamdulillah Allah mencurahkan rahmatNya..

Lagi2 musik di bus kota dipelankan, berganti dengan suara yang tak biasa.


 

Tinggi

Tak terlalu nge-bas

Tempo lagunya ngga pas, kadang terlalu panjang, tak sesuai

Pitch control-nya pun belum dapet(halah..tau apa dirimu tentang lagu dan seluk beluknya ce..)

Di selingi kecrekan tutup botol yang tak seirama, ngga matching lah


 

Ce buka mata

Wah, ada pengamen lagi,

Tapi ini beda,

Bapak tua,

(ni bukan bapak itu, hny skdr ilustrasi)

Ya bapak tua,,

Beliau mungkin berumur 55tahun, lebih muda sedikit dari Apa ce,

Giginya hanya terlihat taring bawah dan geraham,

Banyak uban tentunya,

Berkemeja lusuh putih (apakah itu masih bisa disebut putih??),

Bertopi bundar yang warnanya tak bisa terdeskripsikan.


 

Kawan

Ada yang beda,

Beliau begitu menghayati menyanyikan lagu itu.


 

Di antaro merak jo bangkauni

Denai duduak tamanuang

Crek..crek..crek..(bunyi kecrekan tutup botol)

…..

(c ga hafal, lagu2 orang yang merantau gitulah)


 

Tapi

Sayang, tempo itu merusak suasana, feel nya dapet, harmoninya ngga,

Di saat ketukan segini harusnya udah pindah ke nada berikut, eh …tapi bapak tu masih memanjangkan suaranya, pun dengan nada terlalu tinggi

Tapi tak apa

Beliau sangat menikmatinya

Tanpa segan, tanpa malu

Walo dengan kecrekan tutup botol yang ngga nyambung dengan irama lagu

Walo dengan tatapan aneh anak2 SMP yang ikut berdiri di bus kota itu

Walo harus mengalahkan suara hujan di luar bus

Cukup lama kawan..

Jadi ce bisa mengamati lama wajah senjanya

Andai ia ayahku…

Ah speechless…

Ya, andai ia ayahku

Yang di usia setua itu.

Mempertaruhkan harga dirinya dengan mengamen(tau kan, untuk pekerjaan para lelaki pun akan mempertimbangkan harga dirinya terlebih dahulu, ok kalo beliau masih muda, biasa saja utk menjadi pengamen, pekerjaan sambilan, merintang2 waktu luang, tapi ini??).

Berusaha mengabaikan tatapan aneh orang lain, ya..ia bukan pengamen biasa, ia pengamen berusia senja.


 

Ok, kalo ce anaknya dan melihat beliau bernyanyi di bus kota dengan tempo lagu yang terlalu banyak salah dan kecrekan ditangan yang ga matching, apakah ce akan menarik tangannya turun dari bus kota dan sepanjang jalan protes ;


 

"ah Apa jangan ngamen lagi kayak gitu, malu ce, ntar ada temen ce yang tau Apa ngamen kayak gitu, mending Apa di rumah aja, biar ce dan anak2 Apa yang lain cari uang"


 

Kira2, apa yang dirasakan beliau? Tentu sedih sekali, mungkin juga tersinggung, bukankah mengamen itu juga bentuk pengorbanan beliau?bukankah itu pekerjaan yang halal?sedih sekali jika ia tau anaknya tak sedikit pun bangga pada ayahnya.

Tapi tidak, ce ga bakal tega merusak segalanya, pun jika ada yang bertanya, kenapa Apa c menjadi pengamen;


 

"ya itu dia Apa ce, walo Cuma ngamen tapi beliau pahlawan bagi kami" dan tak akan ce gubris tatapan aneh teman2 ce


 

Ya andai..

Tapi ga semua orang bisa menerima

Pernah lihat tayangan Kick Andy?(episode apanya ce udah lupa)

Ada siswi SMP yang bunuh diri setelah tak tahan lagi dengan ejekan teman2nya kalo ayahnya Cuma tukang bubur… innalillahi..

Itu kejadian nyata, ya..dia malu, malu yang salah.

Pak Andy F. Noya pun ikut terenyuh, bahkan ada air mata di pelupuk matanya, beliau teringat kalo dulu ada terbersit juga rasa malu pada dirinya utk pekerjaan ayahnya, bahwa ayahnya Cuma seorang yang pekerjaannya ngebenerin mesin tik, hmm… bagi sebagian orang pekerjaan seperti itu tak ada yang bisa dibanggakan. Ya, banyak yang salah anggapan, pekerjaan , jabatan, itu menentukan kehormatan, harga diri, padahal….


 

Bus kota masih merangkak, dari kawasan minang plasa sekarang udah nyampe pasar tabing, tapi bapak tua pengamen itu belum berhenti juga bernyanyi, masih tetap semangat(ada loh, pengamen yang nyanyinya alakadarnya, udah nyampe reff sekali udah tu, bentar doank, maunya kejar setoran, tapi bapak ini lagunya penuh, diulangi lagi dari lirik awal), dan berganti dengan satu lagi lagu minang


 

Minangkabau…

Ranah nan den cinto

Tampek bajalan di hari sanjo

Bilo den kana…

Hati denai denai taibo oi taibo

Jantuang badarai nanana …(ga hafal euy :P)


 

Ingin sekali rasanya memberikan standing applause buat bapak tu, kalo hal itu biasa dilakukan, akan c lakukan.

Bukan karena performa nya yang bagus menurut kriteria musikal, tapi ya.. itu tadi, utk hal yang tak biasa yang dilakukan bapak tua seperti dirinya, yang mungkin saja dilatarbelakangi oleh ketepaksaan, tapi beliau seperti menghayatinya sekali, salut.


 

Bapak itu pun selesai sudah dengan dua lagunya yang khas sekali, panjang-panjang dan nada selalu tinggi.

Ada beberapa tangan yang tergerak ketika topi bundar itu di sodorkan.

Mungkin ada dorongan dari rasa kasihan, atau mungkin hanya sekedar iseng mengeluarkan duit receh yang tak tau mau dibelikan apa(hehe jaman sulit begini, mana ada yak??),tapi ada juga yang karna apresiasi rasa salutnya…

Ya ada yang merasa salut..

Ia tak lagi merasa ngantuk dan penat, malah menyambung lamunannya, andai ia ayahku.

Tapi…ngga, ngga harus juga kayak gitu.

Apa ce tetap Apa ce, bukan bapak itu.

Mereka punya porsi perjuangan masing2.

Dan ce, sangat menghargai perjuangan Apa ce, tak lagi berandai orang lain sebagai ayah ce, cukup beliau saja, Apa ce, ayah juara satu seluruh dunia.


 

Sesosok tubuh senja yang masih bersemayam semangat juang yang kuat itu turun dari bus.

Menerobos hujan yang mengguyur Padang sore itu, melanjutkan langkah, meregang pita suara di bus-bus lain, yang semoga saja masih banyak tangan2 yang tergerak , hati-hati yang terhibur dengan lagu2 yang dilantunkannya dan ia pun mendapat rezeki yang banyak hari ini.


 

"Soledad… why did you leave me soledad…" suara Shane 'Westlife' menyeruak ke gendang telinga, yah..musik di bus udah diputer lagi…


 

Ce pengen request bapak itu lagi…

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget