17 Juni 2009

Laporan tutorial ttg system urinarius

Created by micelia amalia sari

Modul 1 : Sistem Urinarius

Skenario 1 : Tes Wawancara

    Hari ini, Ririn akan mengikuti tes masuk kerja pada sebuah perusahaan. Sebelum meninggalkan, Ririn minum segelas vitamin C effervescent. Karena cuaca panas, dalam perjalanan Ririn minum segelas the es di sebuah café. Di kantor perusahaan tersebut, dia harus menunggu antrian yang panjang untuk mendapatkan gilirannya. Ini membuatnya anxietas dan gelisah memikirkan wawancara tersebut. Akhirnya setelah 2 jam baru dia mendapat giliran.

    Di ruangan wawancara, udara sangat dingin dan Ririn merasa dia harus buang air kecil. Dia minta izin untuk ke toilet dan melihat urinnya berwarna kuning pekat. Selama wawancara, dia merasa ingin buang air kecil lagi, tetapi dia menahannya selama hamper satu jam.

    Dalam perjalanan pulang, dia berfikir apakah dia sakit, karena dia kencing berkali-kali dengan urin yang berwarna kuning pekat, ririn khawatir jika mengalami sakit yang sama dengan sepupunya. Sepupu Ririn sering mengeluh sakit pinggang dan didiagnosis dokter mengalami nefrolithiasis. Bagaimana anda menjelaskan apa yang dialami Ririn?

Terminologi

Vitamin C effervescent : berupa senyawa yang jika dicelupkan dalam air akan bergelembung(CO2), larut dan berubah menjadi asam askorbat.

Urine : berasal dari bahasa yunani "ouron", merupakan cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal dengan disimpan terlebih dahulu di kandung kemih dan di buang melalui uretra

Anxietas : perasaan tidak menyenangkan, seperti rasa cemas yang disebabkan oleh phobia, ada efek fisiologis terhadap antisipasi bahay yang tidak real, disebabkan konflik intrapsikik terkait situasi atau objek, akan terjadi peningkatan denyut jantung, nafas tak teratur, pengeluaran urin berlebihan, keringat berlebih dan lemas.

Nefrolithiasis : berasal dari bahasa yunani "nefro" berarti ginjal, "lith" berarti batu dan "iasis" berarti keadaan, jadi kondisi dimana terjadi penumpukan senyawa kalsium, asam urat atau benda padat lainnya di ginjal terutama di pelvis renalis, akan menyebabkan nyeri saat buang air kecil, pendarahan dan penyumbatan saluran urin.


 

Identifikasi masalah :

  1. Apa saja organ yang menghasilkan urin? Apa fungsinya?
  2. Bagaimanakah proses pembentukan urin?
  3. Apa karakteristik urin normal? Berapa komposisinya?
  4. Bagaimanakan pengaturan system urinaria lewat saraf?
  5. Factor apa yang mempengaruhi banyak sedikitnya produksi urin?
  6. Apa faktor penyebab nefrolithiasis?bagaimana gejalanya serta pengobatannya?
  7. Bagaimana hubungan vitamin c effervescent dengan nefrolithiasis?
  8. Apa saja gangguan yang bisa terjadi di traktus urinarius?

Analisis masalah :

  1. Organ yang terlibat dalam pembuatan urine (system urinarius) :

    Ginjal

  • Terletak di bagian dorsal tubuh
  • Ginjal kanan lebih rendah dari ginjal kiri
  • Bagian atas ginjal terdapat kelenjar adrenal

    Ginjal terdiri dari :

  • Korteks Ginjal – daerah luar , terdapat glomerulus nefron,tubulus proximal dan tubulus distal
  • Medula Ginjal – daerah dalam , terdapat ansa henle dan tubulus colligens
  • Pelvis Ginjal – saluran pengumpul

    Nefron

  • Unit struktural dan fungsional penyusun ginjal
  • Ginjal manusia disusun oleh 1 juta nefron
  • Tempat terjadinya pembentukkan urin
  • Terdiri dari 2 komponen utama :
    • Glomerolus à
      Merupakan kapiler yang berbentuk bola berjaring .Berhubungan dengan arteriola (pemeliharaan tekanan darah). Ada Arteriola afferent yang lebar, Arteriola efferen sempit . Fungsi : Penyaringan / filtrasi cairan darah
    • Tubulus ginjal :
      • Tubulus proximal
      • Ansa henle
      • Tubulus distal
      • Tubulus koligentes

Ureter

  • Saluran antara ginjal dengan kandung kemih
  • Jumlah sepasang
  • Fungsi : membawa urin dari ginjal ke kandung kemih

Kandung kemih :

  • Merupakan kantung yang berfungsi untuk menampung urin sementara
  • Disusun oleh lapisan otot polos
  • Berhubungan dengan uretra

Uretra

  • Saluran yang membawa urin keluar dari tubuh
  • Pada wanita hanya dilalui urin saja, sedang pada pria selain dilalui urin juga dilalui sel kelamin jantan
  1. Proses pembentukan urin di ginjal
    1. Filtrasi :
      Proses penyaringan darah yang kurang selektif.

      Air, ion dan zat makanan serta zat terlarut di keluarkan dari darah ke tubulus proksimal.

      Sel darah dan beberapa protein tetap berada di dalam darah.

      Terbentuk filtrate primer di tubulus proksimal.

    2. Reabsorbsi : terjadi di tubulus proximal, ada sekresi insulin untuk mereabsorbsi glukosa dan asam amino, akan dihasilkan urin sekunder
    3. Augmentasi : di tubulus distal, adanya sekresi ADH untuk menyerap air ketika diperlukan, di konsdisi ini tidak ditemukan lagi protein dan glukosa, , air sedikit, mineral banyak, urobilin akan memberikan warna kuning pada urin
  2. Pengontrolan oleh saraf

    Oleh saraf pelvis, merupakan saraf parasimpatis berperan dalam kontraksi kandung kemih.

    Saraf simpatisnya di L2, untuk relaksasi kandung kemih.

    Oleh saraf pudendus

  3. Karakteristik urin normal

    Warna : kuning gading, transparan

    Bau : khas amoniak

    Volume : 200-250mL/jam

    Komposisi : 95% air, 2% empedu, 2% urea, 99% daranh yang disaring akan dikembalikan lagi, hanya 1% yang dijadikan urin

  4. Factor yang mempengaruhi produksi urin
  • Jumlah air yang diminum
  • Suhu, jika semakin dingin, semakin banyak urin yang diproduksi karena keringat hanya sedikit
  • ADH, semakin banyak ADH makin sedikit air yang dikeluarkan lewat urin
  • Aktivitas
  • Usia, bayi banyak urinnya sedangkan orangtua dikarenakan fungsi ginjak sudah terlalu optimal jadi produksi urinnya menurun
  • Insulin, pada penderita Diabetes Melitus urinnya semakin banyak karena glukosa tidak direabsorbsi kembali
  1. Factor penyebab nefrolithiasis :
  • Instrinsik :

    Genetic

    Usia, rentan pada 30-50 thn

    Gender, pria lebih berisiko daripada wanita

  • Ekstrinsik :

    Asupan air

    Cuaca

    Pekerjaan, kerja yang banyak duduk lebih berisiko

    Geografis lingkungan

    Diet purin tinggi

Gejala-gejala penyakit : nyeri saat berkemih, ada penyumbatan, oedema di mata, kaki dan tangan, sering pipis malam, tekanan darah tinggi

Pengobatan : jika masih kecil atau kadarnya sedikit, bisa dilaser dan serpihan batunya dikelarkan melalui urin, jika sudah besar dan terlalu menyumbat bisa di operasi

  1. Hubungan vitamin c effervescent

    Vitamin C berfungsi untuk mengikat dan menggumpalkan kalsium, sedangkan batu ginjal itu ada yang merupakan senyawa kalsium oksalat, jadi ketika tubuh kelebihan vitamin C makanya terjadi nefrolithiais.


     

  2. Gangguan traktus urinarius

    Nefrolithiasis : batu ginjal

    Diabetes insipidus : kekurangan hormone ADH, polyuria

    Diabetes mellitus : kekurangan hormone insulin atau kelainan pada tubulus proximal

    Nefritis : disebabkan oleh Streptococcus sp. Di glomerulus, terganggu filltrasi

    Albuminuria :ditemukannya albumin(protein darah) dalam urin, menandakan glomerulus gagal menyaring darah

    Anuria : kegagalan ginjal yang tidak bisa memfiltrasi sama sekali, tidak ada urin


     

Sistematika

Learning Objective

  1. Mikroskopis dan makroskopis serta fungsi dari organ system urinarius
  2. System pengontrolan system urinarius oleh hormone dan saraf
  3. Proses pembentukan dan pengeluaran urin(serta system empedu yang mendukungnya)
  4. Mekanisme control volume cairan dan elektrolit
  5. Karakteristik dan komposisi fisik urin normal
  6. Gangguan pada system urinarius

LO I

System urinarius didukung oleh organ :

2 ginjal(kiri dan kanan)

2 saluran ureter

1 kandung kemih (vesika urinaria)

1 uretra

    Fungsi system urinarius

1.Ginjal memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis.
2.Mempertahankan suasana keseimbangan cairan.
3.Mempertahankan keseimbangan garam-garam dan zat-zat lain dalam tubuh.
4.Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme hasil akhir dari protein ureum,kreatin dan amoniak.
5.Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh.
6.Pengaturan konsentrasi ion-ion penting.
7.Menghasilkan hormone Eritopoetin yang beredar dalam tubuh.
8.Pengatur produksi Sel Darah Merah.
9. Pengatur tekanan darah

10.Sebagai kelenjar endokrin (sel-sel jukstaglomeruli dan makula densa) yang mengatur hemodinamika serta tekanan darah dengan menghasilhan zat renin.

Fungsi ginjal erat hubungannya dengan paru-paru dan kulit dalam mempertahankan volume dan komposisi darah terhadap zat-zat tertentu. Pada darah zat tersebut mempunyai nilai ambang yang konstan, dan bila melebihi nilai ambang, maka zat tersebut dibuang melalui ginjal, paru-paru, maupun kulit.

Organ- organ penyusun sitem urinarius antara lain ;

  1. Ginjal

    Ginjal terletak di dinding posterior abdomen, sejajar L12-T2, di luar rongga peritoneum. Dengan berat 150 gr, panjang 12 cm, lebar 4-5 cm, kira-kira sekepalan tangan orang dewasa.

    Setiap ginjal diselubungi tiga lapisan jaringan ikat :

    1. Fasiia renal, pembungkus terluar
    2. Lemak perirenal, jaringan adipose yang terbungkus fasia renal untuk membantali ginjal dan membantu organ agar tetap pada posisinya
    3. Kapsul fibrosa(ginjal), membrane halus transparan yang langsung membungkus ginjal dan dapat dilepas dengan mudah

    Ginjal adalah organ berbentuk seperti kacang, berwarna merah tua, panjangnya sekitar 12.5 cm dan tebalnya sekitar 2,5 cm. Terdapat 2 buah ginjal dalam satu tubuh manusia. Ginjal terletak di area yang cukup tinggi, yaitu pada dinding abdomen posterior yang berdekatan dengan 2 pasang iga terakhir. Organ ini terletak secara retroperitoneal dan di antara otot – otot punggung dan dan peritoneum rongga abdomen atas. Setiap ginjal mempunyai kelenjar adrenal pada bagian atasnya.Ginjal kiri letaknya lebih tinggi daripada ginjal kanan dikarenakan adanya Hepar pada sisi kanan tubuh. Ginjal tersusun atas banyak nefron, yang berfungsi untuk filtrasi dan pembentukan urin.


    Struktur ginjal


    Struktur histologis koteks ginjal


    Satu unit nefron terdiri dari :

    - Glomerulus : Merupakan suatu gulungan kapiler. Dikelilingi oleh sel – sel epitel lapis ganda atau biasa disebut Kapsul Bowman. Bertindak seperti saringan, menyaring darah yang datang dari Arteriol Aferen. Membentuk urin primer yang berupa cairan pekat, kental, dan masih seperti darah, tapi protein dan glukosa, sudah tidak ditemukan


    - Tubulus Kontortus Proksimal(TC I) : Suatu saluran mikro yang amat berliku dan panjang. Mempunyai mikrovilus untuk memperluas area permukaan lumen.

    - Ansa Henle : Suatu saluran mikro yang melengkung dan berliku, terdiri dari bagian yang tipis dan yang tebal. Pada bagian yang tipis, didominasi oleh reabsorpsi air. Sedangkan pada bagian yang tebal, didominasi oleh reabsorpsi elektrolit, seperti NaCl

    - Tubulus Kontortus Distal (TC II) : Suatu saluram mikro yang juga panjang dan berliku. Disini, sedikit dilakukan reabsorpsi air.

    - Ductus Coligentus : Suatu saluran lurus dimana berkumpulnya hasil urin setelah melewati Tubulus Kontortus Distal. Bermuara ke Calix Minor Renalis. Yang selanjutnya akan dibawa ke Calix Mayor Renalis lalu ke Pelvis Renalis

    Suplai darah untuk ginjal berasal dari jantung, 22% dari curah jantung(1100ml/menit), jalurnya:


  2. Ureter


    Ureter adalah saluran tunggal yang menyalurkan urine dari pelvis renalis menuju vesica urinari (kantong air seni). Mukosa membentuk lipatan-lipatan memanjang dengan epithel peralihan, lapisan sel lebih tebal dari pelvis renalis. Tunika propria terdiri dari jaringan ikat dimana pada kuda terdapat kelenjar tubuloalveolar yang bersifat mukous, dengan lumen agak luas. Tunika muskularis tampak lebih tebal dari pelvis renalis, terdiri dari lapis dalam yang longitudinal dan lapis luar sirculer, sebagian lapis luar ada yang longitudinal khususnya bagian yang paling luar. Dekat permukaan pada VU hanya lapis longitudinal yang nampak jelas.

    Tunika adventisia terdiri dari jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan saraf, ganglia sering terdapat didekatnya.

    Selama urien melalui ureter komposisi pokok tidak berubah, hanya ditambah lendir saja. Dinding ureter berlapis-lapis :

    TUNICA MUCOSA : lapisan dari dalam ke luar sebagai berikut :

    - epithelium transitional : pada calix 2 – 4 lapis, pada ureter 4-5 lapis, pada vesica urinaria 6-8 lapis.

    - Tunica submucosa tidak jelas

    - Lamina propria berlembar 2

    o Luar jaringan ikat padat tanpa papilla, mengandung serabut elastis dan sedikit noduli lymphatici kecil-kecil .

    o Dalam jaringan ikat longgar

    Kedua-dua lapisan ini menyebabkan tunica mucosa ureter dan vesica urinaria dalam keadaan kosong membentuk lipatan membujur.

    TUNICA MUSCULARIS : otot polos, longgar saling dipisahkan oleh jaringan ikat longgar dan anyaman serabut elastis. Otot membentuk 3 lapisan :

    - stratum longitudinale internum

    - stratum circulare

    - stratum longitudinale externum

    TUNICA ADVENTITIA ; jaringan ikat longgar


     

Kira-kira panjangnya 25cm, dengan bagiannya:

  1. Pars abdomen
  2. Pars pelvina, ketika ureter telah bersilangan dengan arteriol dan menuju lebih dekat dengan pelvis

    Lumen ureter punya pergerakan peristaltic dan tidak terjadi penyerapan apapun di sini


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     


     

  3. Vesika urinaria


    1. Strukutur vesika urinaria            (b) struktur dinding vesika urinaria

    Kantong air seni merupakan kantong penampung urine dari kedua belah ginjal Urine ditampung kemudian untuk dibuang secara periodik.

    Bangun histologi : Mukosa memiliki epithel peralihan (transisional) yang terdiri dari 5-10 lapis sel pada yang kendor, apabila teregang (penuh urine) terdiri atas 3-4 lapis sel. Propria mukosa terdiri dari jaringan ikat, pembuluh darah, saraf dan jarang terlihat limphonodulus atau kelenjar. Pada sapi tampak otot polos tersusun longitudinal, mirip muskularis mukosa.

    Sub mukosa terdapat dibawahnya, terdiri dari jaringan ikat yang lebih longgar. Tunika muskularis cukup tebal terdiri dari lapis longitudinal dan sirkuler (luar), lapis paling luar sering tersusun secara memanjang, lapisan otot tidak tampak adanya pemisah yang jelas, sehingga sering tampak seolah-olah saling menjalin. Berkas-berkas otot polos di daerah trigonum vesicae membentuk bangunan melingkar, mengelilingi muara ostium urethrae intertinum. Lingkaran otot itu disebut m.sphincter internus.

    Lapis luar adalah serosa, berupa jaringat ikat longgar (jaringan areoler), sedikit pembuluh darah dan saraf

  4. Uretra

    Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan air kemih ke luar.Pada laki – laki, urethra memiliki panjang hingga 20 cm, dan selain berfungsi untuk mengeluarkan urine, juga berfungsi untuk membawa keluar semen, namun TIDAK pada saat yang bersamaan. Urethra pada laki – laki dibagi menjadi 3 bagian :

    - Urethra pars Prostatika : Dikelilingi oleh kelenjar prostat, dan merupakan muara dari 2 buah duktus ejakulatorius. Juga merupakan muara dari beberapa duktus dari kelenjar prostat

    - Urethra pars Membranosa : Bagian terpendek. Berdinding tipis dan dikelilingi oleh otot rangka sfingter urethra eksterna

    - Urethra pars Cavernosa : Bagian terpanjang. Menerima duktus dari kelenjar bulbourethralis dan bermuara pada ujung penis. Sebelum. mulut penis, bagian ini membentuk suatu dilatasi kecil, yang disebut Fossa Navicularis. Bagian ini dikelilingi oleh Korpus Spongiosum yang merupakan suatu kerangka ruang vena yang besar



    Urethra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis). Sphincter urethra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan urethra disini hanya sebagai saluran ekskresi. Perbedaan panjang dan letak anatomis dari urethra ini, mengakibatkan perbedaan resiko akan terjadinya infeksi saluran kemih. Pada perempuan, lebih mudah terjadi infeksi karena pendeknya panjang urethra, dan dekatnya dengan Vagina, yang memiliki banyak mikroorganisme sebagai flora normal, namun bersifat infeksius jika berpindah tempat.

    Dinding urethra terdiri dari 3 lapisan:

    1. Lapisan otot polos, merupakan kelanjutan otot polos dari Vesika urinaria. Mengandung jaringan elastis dan otot polos. Sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup.

    2. Lapisan submukosa, lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf.
    3. Lapisan mukosa.

LO II

Pengontrolan oleh saraf:

  1. Nervus hipogastrikus, saraf simpatis yang berhubungan dengan segmen L 1-2 medula spinalis. Akan merangsang tekanan pembuluh darah naik dan sedikit mempengaruhi kandung kemih dengan menimbulkan sensasi penuh.
  2. Nervus pelvikus, merupakan serat saraf sensorik&motorik yang berhubungan dengan segmen S2-3 medula spinalis melalui pleksus sakralis.

    Serat saraf sensorisnya akan mendeteksi derajat regangan dari uretra posterior&pada dinding kandung kemih. Jika bersifat sangat kuat akan mencetuskan reflex yang pengosongan kandung kemih

    Serat saraf motoriknya merupakan serat parasimpatis, berakhir di ganglion yang terletak pada dinding kandung kemih, saraf postganglion pendek mensarafi otot destructor.

  3. Nervus pudendal merupakan seart saraf somatic yang menuju spincter externa kandung kemih untuk mengontrol otot luriknya.

Pengontrolan oleh hormone :

Untuk sirkulasi renal

Hormone

Efek

  1. Norepinefrin,epinefrin,endotelin


     

  2. Renin


     


     

  3. Angiotensin II


     

  4. prostaglandin

↑GFR(glomerulus filtration rate)

Merangsang pembentukan Angiotensin oleh hati yang nantinya kan merangsang pembentukan Angiotensin II oleh converting enzim di paru

Mencegah ↓GFR

↑GFR,↑aliran darah

Di produksi oleh sel mesangial pada epitel podosit kapsul bowman untuk autoreguladi dan natriuresis.

Untuk reabsorbsi tubulus

Hormon

Target

Efek

  1. aldosteron


     


     


     

  2. angiotensin II


 

  1. ADH


     


     


     

  2. Peptide natriuretik atrium (ANP)


     

  3. paratiroid

Tubulus distal s/d duktus koligentes


 

Tubulus proximal


 

Tubulus distal/duktus koligentes


 

Tubulus distal/duktus koligentes

Tubulus proximal,segmen tebal ascenden ansa henle/tubulus distal

↑reabsorbsi NaCl, H2O&

↑sekresi K+

↑reabsorbsi NaCl, H2O&

↑sekresi H+


 

↑reabsorbsi H2O


 

↓ reabsorbsi NaCl


 

↓ reabsorbsi Ca2+, pembuangan PO4-


LO III

PROSES PEMBENTUKAN URINE

Ginjal berperan dalam proses pembentukan urin yang terjadi melalui serangkaian proses, yaitu: penyaringan, penyerapan kembali dan augmentasi.


1. Penyaringan (filtrasi)

Proses pembentukan urin diawali dengan penyaringan darah yang terjadi di kapiler glomerulus. Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori (podosit), tekanan dan permeabilitas yang tinggi pada glomerulus mempermudah proses penyaringan.
Selain penyaringan, di glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. Bahan-bahan kecil yang terlarut di dalam plasma darah, seperti glukosa, asam amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat dan urea dapat melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan.

Hasil penyaringan di glomerulus disebut filtrat glomerolus atau urin primer, mengandung asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam-garam lainnya


2. Penyerapan kembali (reabsorbsi)



Bahan-bahan yang masih diperlukan di dalam urin pimer akan diserap kembali di tubulus kontortus proksimal, sedangkan di tubulus kontortus distal terjadi penambahan zat-zat sisa dan urea.

Meresapnya zat pada tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam amino meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui peristiwa osmosis. Penyerapan air terjadi pada tubulus proksimal dan tubulus distal.

Substansi yang masih diperlukan seperti glukosa dan asam amino dikembalikan ke darah. Zat amonia, obat-obatan seperti penisilin, kelebihan garam dan bahan lain pada filtrat dikeluarkan bersama urin.

Setelah terjadi reabsorbsi maka tubulus akan menghasilkan urin sekunder, zat-zat yang masih diperlukan tidak akan ditemukan lagi. Sebaliknya, konsentrasi zat-zat sisa metabolisme yang bersifat racun bertambah, misalnya urea.


3. Augmentasi



Augmentasi adalah proses penambahan zat sisa dan urea yang mulai terjadi di tubulus kontortus distal.

Dari tubulus-tububulus ginjal, urin akan menuju rongga ginjal, selanjutnya menuju kantong kemih melalui saluran ginjal. Jika kantong kemih telah penuh terisi urin, dinding kantong kemih akan tertekan sehingga timbul rasa ingin buang air kecil. Urin akan keluar melalui uretra.

Komposisi urin yang dikeluarkan melalui uretra adalah air, garam, urea dan sisa substansi lain, misalnya pigmen empedu yang berfungsi memberi warna dan bau pada urin.

PROSES BERKEMIH

  • Suatu proses refleks yang diatur oleh pusat-pusat refleks di otak.
  • Rangsang (impuls) yang terjadi akibat teregangnya dinding VU dihantarkan oleh neuron-neuron sensoris viseral aferen melalui n. splanchnicus memasuki medulla spinalis segmen sacral 2,3,dan 4.
  • Rangsang saraf menyebabkan otot-otot polos VU berkontraksi, m. sphincter vesicae melemas. Neuron-neuron eferen para simpatis mengambil jalan melalui n. pudendus (S2,3, dan 4) menuju ke sphincter urethra.
  • Pengontrolan berkemih anak-anak mulai umur 3-4 tahun.
  • Mekanisme miksi :

    Air kemih → distensi kandung kemih (±250 cc) → stress reseptors → reflek kontraksi dinding kandung kemih, relaksasi spinter internus, dan relaksasi spinter eksternus → pengosongan kandung kemih. Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter internus dihantarkan melalui serabut-serabut saraf para simpatis.

Pewarnaan urin dibantu oleh system metabolism di empedu. Darah yang mengandung Haemoglobin akan dipecah menjadi heme dan globin. Lalu heme akan dioksidasi oleh porfirin menjadi biliverdin yang berwarna hijau, lalu direduksi menjadi bilirubin berwarna kuning(di jaringan perifer) terjadi di sel-sel RE hati. Di hepatosit hati, bilirubin diubah menjadi bentuk polar (larut dalam air) sehingga dapat dieksresikan ke dalam empedu, proses ini disebut konjugasi. Bilirubin terkonjugasi direduksi menjadi urobilinogen di ileum terminalis dan usus besar pleh bakteri usus. Urobilinogen tidak berwarna dioksidasi menjadi urobilin berwarna yang di feses akan menjadi sterkobilin, dan ke ginjal akan dieksresikan bersama urin

LO IV

KESEIMBANGAN CAIRAN

Setelah 2/3 filtrasi glomerulus (180l/h) direabsorpsi di TC I melalui 3 proses yang berhubungan dengan :

- mengirim cairan ke segmen pengencer

- memisahkan larutan & air di dalam segmen pengeceran

- reabsorbsi air didalam duktus kolekting

Mekanisme pengenceran urine :

1. Kirim air ke bagian tebal ascending loop Henle, tubulus kontroktus distal & sistem kolekting.

2. Buat cairan hipotonik maksimal dalam segmen pengenceran.

3. Pertahankan sistem kolekting impermeable& tanpa pengaruh ADH / antidiuretik lain

KESEIMBANGAN ELEKTROLIT

Keseimbangan tercapai bila masuk &keluar sama untuk setiap elektrolit.Ini penting karena :

- pengaruhi secara langsung keseimbangan cairan

- pengaruhi fungsi sel

Seperti halnya keseimbangan air, keseimbangan garam dan elektrolit juga perlu dipertahankan sehingga asupan garam sama dengan keluarannya. Permasalahannya adalah seseorang hampir tidak pernah memperhatikan jumlah garam yang ia konsumsi sehingga sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi, seseorang mengkonsumsi garam sesuai dengan seleranya dan cenderung lebih dari kebutuhan.Kelebihan garam yang dikonsumsi harus diekskresikan dalam urin untuk mempertahankan keseimbangan garam.

Ginjal mengontrol jumlah garam yang diekskresi dengan cara:

1. Mengontrol jumlah garam (natrium) yang difiltrasi dengan pengaturan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG)/ Glomerulus Filtration Rate(GFR).

2.Mengontrol jumlah yang direabsorbsi di tubulus ginjal

Jumlah Na yang direabsorbsi juga bergantung pada sistem yang berperan mengontrol tekanan darah. Sistem Renin-Angiotensin-Aldosteron mengatur reabsorbsi Na dan retensi Na di tubulus distal dan collecting. Retensi Na meningkatkan retensi air sehingga meningkatkan volume plasma dan menyebabkan peningkatan tekanan darah arteri .

Selain sistem renin-angiotensin-aldosteron, Atrial Natriuretic Peptide (ANP) atau hormon atriopeptin menurunkan reabsorbsi natrium dan air. Hormon ini disekresi oleh sel atrium jantung jika mengalami distensi akibat peningkatan volume plasma. Penurunan reabsorbsi natrium dan air di tubulus ginjal meningkatkan eksresi urin sehingga mengembalikan volume darah kembali normal.


 


 

LO V

Komposisi air kemih terdiri dari:

a. Air, kira-kira 95-96%

b. Larutan (4%) :

- Larutan organic : Protein asam urea, ammonia, kreatin, dan uric acid.

- Larutan anorganik : Natrium (sodium), klorida, kalium (potasium), sulfat, magnesium, dan fosfor,elektrolit, kalsium, NH3, bikarbonat.

c. Pigmen (bilirubin, urobilin)

d. Toksin

e. Hormon

Sifat fisis air kemih terdiri dari :

a. Jumlah ekskresi dalam 24 jam ±1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) dan factor lainnya.

b. Warna : Bening kuning muda, tergantung dari kepekatan, diet, obat-obatan dan sebagainya, dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.

c. Bau : Khas air kemih, bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
d. Berat jenis : 1,015-1,020.

e. Reaksi : Asam, bila lama-lama menjadi alkalis juga tergantung dari pada diet.

LO VI

Gangguan pada sitem urinarius :

Nefrolithiasis : Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi, dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik).

Gagal ginjal atau Acute renal failure (ARF) dapat diartikan sebagai penurunan cepat/tiba-tiba atau parah pada fungsi filtrasi ginjal. Kondisi ini biasanya ditandai oleh peningkatan konsentrasi kreatinin serum atau azotemia (peningkatan konsentrasi BUN [Blood Urea Nitrogen] ). Akan tetapi biasanya segera setelah cedera ginjal terjadi, tingkat konsentrasi BUN kembali normal, sehingga yang menjadi patokan adanya kerusakan ginjal adalah penurunan produksi urin.

Diabetes Mellitus : Pada urinnya mengandung glukosa. Hal ini karena adanya kadar gula di dalam darah yang tinggi.

Diabetes insipidus adalah pengeluaran cairan dari tubuh dalam jumlah yang banyak yang disebabkan oleh dua hal :
@ Gagalnya pengeluaran vasopressin
@ Gagalnya ginjal terhadap rangsangan AVP
Diabetes insipidus adalah suatu penyakit yang jarang ditemukan, penyakit ini diakibatkan oleh berbagai penyebab yang dapat menganggu mekanisme neurohypophyseal – renal reflex sehingga mengakibatkan kegagalan tubuh dalam mengkoversi air .

Sistisis (infeksi saluran kemih) / anyang-anyang sering dirasakan baik oleh wanita maupun pria, baik oleh anak-anak maupun dewasa, yang biasa disebabkan masuknya bakteri E. coli ke kandung kemih.

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget