25 Juni 2010

My lovely grandma, in memoriam

Thursday, June 24, 2010, 5:31 pm

Sedih ini tak terkatakan, ia menyesak ketika lagi2 teringat akan beliau, almarhumah Hj. Ramlah Binti Abdurrahman tuanku datuak, my lovely grandma.

Kata A. Fuadi di dalam novelnya Negeri 5 Menara, ketika kita kehilangan sesuatu yang selalu berada dikehidupan kita, kita seperti mengalami copot gigi, beberapa waktu selepas gigi itu copot, lidah akan selalu meraba-raba ditempat dimana ia biasa berada, terasa kehilangan kehadirannya, tapi bagi ce ngga sesederhana itu, lebih rasanya, kehilangan orang yang sangat ce cintai(dan mencintai ce juga) terasa separuh jiwa ini ikut pergi bersama kepergiannya (ah ya, sepertinya ce ga sanggup sering2 putus cinta, bikin nelangsa).

Ma'wo (nenek ce) itu, ah… tak cukup sejuta kata untuk mengungkapkan hal tentangnya, saking banyaknya detak kehidupan ce yang ce lalui bersama beliau, dari kecil, hingga kini 19 tahun.

Beliau yang sangat mencintai ce

Membelikan baju lebaran(tanpa ce minta), pernah beliau pergi ke pasar dan membelikan bahan dasar baju tapi ce tak suka,maka beliau balik lagi ke pasar dan menukarkannya dengan yang berwarna biru,kesukaan ce.

Beliau yang menghargai apa pun yang ce lakukan, masakan ce, beliaulah yang sering memuji, nilai 9 di raport, beliau beli satu persatu, pernah di kelas 5 SD ce girang sekali mendapatkan hampir semua nilai di raport ce bernilai 9, maka itu artinya ma'wo akan 'membeli' banyak angka2 tersebut.

Beliau yang menghargai piala juara 1 pertama ce dengan langsung membawanya ke toko sebelah dan memberi kotak kaca untuk piala itu, padahal itu Cuma juara se kota/kabupaten, harga piala itu pun tak sebanding dengan kaca yang dibingkaikan.

Ces..ces..ces.. air mata ce semakin deras mengucur, ketika teringat ucapan-ucapan beliau :

" santiang cucu amak ko, alah pandai mamasak, gulainyo lamak, randangnyo lamak, dendengnyo lamak, bialah panek sudah dari padang, bakuek an jo ka dapua lai, anak urang ndak gai takah iko doh"

"oo.. sayang.., ulang tahun ce? Pai wak ka balakang lah, ka kadai ameh, piliah lah dek ce ma yang katuju" (laptop yang memediasi ce menulis saat ini pun hasil dari tabungan ce dan dilebur dengan cincin yang dibelikan ma'wo, oh, akan ce rawat baik2)

"baa ujian tadi? Lai dapek? Yo.. lai ma'wo do'a an"

"ce…., amak ado sate ko ha, makanlah dulu, tingga an saketek untuak amak"

"iko pak towok tadi maagiah nasi goreng, ado saketek lai untuak ice"

"oo sayang, cucu amak, imaik2 lah iduik tu, sansai wak iduik kalau ndak ado ndak bapacik, ijan baturuik an karandak paruik se, awak indak urang barado"

"puaso senin-kamis ce kini? A bali pabukoan? Ndeh.. amak nio lo subananyo puaso, tapi ndak talok dek badan lai"

"kawananlah amak lalok di bawah, surang se amak lalok" (hari jum'at malam kemaren, itulah malam terakhir ce menemani ma'wo tidur, ya Allah.., sekarang siapa lagi yang bisa menemaninya tidur ditanah sana?hanya binatang2 kecil yang tak bisa diajak ngobrol sebelum tidur… ya Allah, lapangkanlah kuburnya, berilah ia nikmat kubr, bukan azab kubur)


 

Ce rasa, ce ga sanggup tidur lagi di kamar ma'wo tanpa berlinangan air mata. Di sana ce pernah memeluk ia sayang, ketika ia sedang berbagi keluhkesah, cerita sehariannya dengan ce, maka ce peluk ia erat dan bilang ;

"alah tu ma'wo, ijan dipikiaan jo banyak masalah, kini lalok se lah lai, ce ado mangawanan ma'wo di siko", sungguh….ce ingin mengulangi episode itu lagi.

Ma'wo selalu memikirkan banyak masalah, tak hanya masalah pribadinya, tapi juga bagaimana memecahkan masalah orang lain, maka banyak orang yang sayang padanya, karna ia mendedikasikan dirinya untuk orang banyak.


 

Ketika di ambulan, di hadapan jenazah beliau ce sudah melepaskan segala emosi, berusaha untuk mengikhlaskan kepergiannya, baiklah kesedihan harus diakhiri, Allah lebih menyayanginya, waktunya bersama kami sudah habis, dan beliau akan menunggu kami di surga sana, untuk reuni kembali, semoga Allah mengabulkan..

Tapi, Seharian tadi, entah berapa kali mata ini memanas. Ketika pulang kuliah dan sampai di rumah, ngga ada lagi ma'wo yang duduk di depan kedai yang menyambut ce dengan jawaban salam dan ciuman hangat di pipi kiri dan kanan, pun ketika ce melongokkan kepala ke kamarnya, ma'wo juga tak ada…, di cari kemana2 pun ma'wo ngga ada. Lalu ce pun mencari nasi di tempat biasa, namun tak ada sapaan biasa dari ma'wo yang nanyain;

"ndeh… lapa bana cucu amak ko, alun makan ce lai? Itu ado samba saketek di bawah tuduang, makanlah, latak an lah tas tu dulu, barek."

Tsah… baju ce udah basah dengan air mata..


 

Ma'wo, baru sehari kita berpisah, ce udah kangen….

Lagi ngapain ma'wo di sana?

Pasti ma'wo sedang tersenyum senang, ma'wo dapat menjawab semua pertanyaan mungkar-nangkir, lalu ma'wo pun senang karna memikirkan akan bertemu dengan ba'wo, jo piki, uniang, buya, mak uniang, anak2 ma'wo yang telah mendahui ma'wo…

Hmm… baguslah… ^_^, ma'wo udah bahagia kan di keabadian sana

Kami di sini juga harus menyambung hidup, menjalani kehidupan fana ini sebaik-baiknya, ngumpulin bekal, biar ntar bisa juga ngumpul lagi sama ma'wo, di jannahNya sana.. amin..

Kami akan selalu mendo'akanmu… sebab kami mencintaimu karnaNya


 

3 komentar:

.:sin_bad:. mengatakan...

Innalillahi wa'innalillahi roji'un. semoga ruhnya dibawah payungan rahmat Ilahi..

Walaupun adakalanya kita tidak sependapat dgn mereka (org tua / datuk-nenek), tapi mereka pasti punya cara tersendiri utk menyayangi anak n cucunya..

"Mestica - Rahmat Ujian"

Rahmad illahi mengatakan...

TuruT
BerdukA

T.T

ice (wakia rakyat ambo)
wakatu kultum "dibundaran" ado nan mangecek model ikoha

semoga kito jadi urang nan acok mangana mati. supayo hiduik labiah hati hati. pagunoan lah umua nan singkek ko elok elok satiok hari.
bia ndak adolo nan sadiah kalaw kito nan mati.

kultum ko disampaian rahmad illahi.
wakatu lampu sadang mati pulo.
lah kali.

ditutuik lah komen ko jo salamu'alaikum

micelia amalia sari mengatakan...

@ sin_bad
amin..
ya, cinta mereka tak harus diucapkan, tapi dari yang mereka lalukan sudah merupakan cinta yang tak terbalas oleh kita walau dengan harta berlimpah.
makasih atas do'anya :)

@bg rahmad
makasi bg
odeh "bundaran kecil" itu ado yg berpotensi utk jd da'i mah..amin..
yo, kan kato nabi wak, org yang cerdas kan yang mengingati mati.
tapi emang manusia tu bandel, walo dah inget mati tetep aja dosa diperbuat, hoho saia contohnya.., tapi semoga masih bisa memperbaiki diri.
ce bahagia kok nenek ce udah menghadapNya dengan di akhir hayatnya beliau sempat mengucap Lailahailallah, tapi ce juga sedih, sedih dg perpisahan itu, tp smg nanti bisa terbiasa.

wa'alaikumslm...

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget