04 Februari 2013

Menjadi bayang-bayang

Menjadi bayang-bayang
Tidak nyaman, benar tidak nyaman

Dominannya dulu ketika awal2 SMA ce merasa menjadi bayang2, menjadi kerdil diantara teman2 yg bersinar.
Untungnya ce ga sering memikirkannya berulang2, membiarkan gumpalan2 sedih itu perlahan mencair dan melebur dengan rasa yang lain.
Baru ketika menemukan jati diri ce yg nyaman utk diri ce lah bisa melepaskan status bayang2 itu; inilah saya.
Tak semudah mematahkan ilalang, tetap saja hanya beberapa guru yg mengetahui bahwa ce ada, bahwa ce sama minatnya dg teman2 yg lain utk ditemukan potensinya, tetap saja segelintir teman di kelas tetangga yg mengenal ce, bhkn hny utk sbg teman seangkatan.

Sepenuhnya ce sadar, ini juga salah ce yg tak berani untuk berkata2, tak berani menyapa pertama, tak berani acung tangan memulai dan bukan menjadi follower.

Ce tak nyaman menjadi bayang2, namun ce tak membenci teman ce yg super shiny itu, toh kami baik2 saja, toh dunia belum berakhir jika mereka hanya menyapa teman ce saja ketika kami berjalan berdua.

Nona rata-rata
Kayaknya cocok banget tuh, ce membatin.

Berjalannya waktu, bertambah kenalan, bertambah pemahaman.
Mengikis perlahan rasa inferior itu.

Tapi entah kenapa, sekarang muncul lagi, menjadi-jadi.

2 komentar:

mutia ardila mengatakan...

cie.mau shiny juga..haha.kak ce kak ce..ckck. andaikan semua org itu sama khrakter dn kelebihannya.ntah apa yg trjadi di dunia ini...

micelia amalia sari mengatakan...

Dunia menjadi dalam berita...
muahahahaha

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget