04 Desember 2011

another story of HIV-Aids

Ini sebenarnya cerita sedih, denger dari temen;
Ada seorang lelaki yang benar-benar preman, benar-benar preman.
Tapi Allah masih sayang dia, Allah masih mau negur dia, dengan sebuah ujian yang berat, HIV.
Dia pun tobat.
Benar-benar tobat, mengikuti kajian, beribadah mulai dilakukan.
Dia masih seorang pemuda, masa depan ? ah entahlah, usah dibayangkan, tapi ia punya keinginan untuk melengkapi separuh agamanya lagi. Tapi siapa sudi? Siapa mau berbagi hidup dengan ODHA?
Adalah seorang akhwat yang punya simpati, luarbiasa baik hatinya hingga mau menerima si lelaki, sanggup menanggung tentangan keluarga dan masyarakat.
Mereka dikucilkan.
Anak mereka pun sekarang dikucilkan, hanya beberapa tetangga yang masih peduli memberi ia makan.
Ya, anak mereka sekarang sebatang kara. Si pemuda, sudah meninggal karena Aids-nya, si istri juga menyusul kemudian. Anak itu kurus sekali, penyakit itu tak kenal ampun padanya, tumbuh kembangnya terhambat, mudah sekali terserang penyakit lain.

Huff…
Seharusnya mereka masih punya harapan
Bagaimana pula si pemuda bisa mendapatkan pengobatan secara terus menerus jika dikucilkan?
Seharusnya si anak masih bisa mengenal ibunya
Karena pengucilan itu maka si istri terhambat untuk memeriksakan kandungannya yang seharusnya di usia 3 bulan harus diberi ARV(anti retro viral), dan ia bagaimana pula bisa melahirkan secara sectio caesaria (melahirkan secara operasi laparatomi, cara melahirkan ini bisa menghindarkan si anak terkena virus HIV) jika hidup dalam kemiskinan?
Bagaimana pula si ibu bisa menghindarkan pemberian ASI nya yang mengandung HIV ke bayinya, sedang mereka tak punya apa-apa.

Ya Allah..
Kalau ada yang bilang si pemuda itu jahat, ya dia jahat dulunya, tapi untuk menularkan kepada istrinya, siapa yang tau itu memang keinginanya, siapa yang tau jika dia memang minim informasi tentang penyakitnya, tentang pencegahan penularannya?
Kalau ada yang bilang si istri tolol,mendzolimi diri sendiri, tanyalah pada diri, andai saya sebagai dia?
Ya, mungkin saja si istri semalang sang suami, tak tahu apa-apa, hanya taat pada suami yang sudah baik memperlakukannya. Malang lagi semua mengucilkan, apatah yang mau diperbuat.
Kalau ada yang bilang; “kasian sekali si anak”. Ya, memang kasihan, dia tak berdosa apa pun, dia pun tak memilih untuk dilahirkan dari ibu penderita HIV. Tapi ya gitu, ia masih disia-siakan hingga sekarang.

*ini kisah nyata. Jangan sampai terulang lagi.

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget