13 Agustus 2013

Sabar

Ketika kita disuruh menunggu, lantas bertanya, hingga kapan?
sampai kapan? berapa lama?
Maka sebenarnya kita tidak sedang menunggu, Kawan. Tapi berhitung,
penuh perhitungan sang pedit nan pelit.

Ketika kita disuruh bersabar, lantas nyeletuk iya kalau ujungnya dapat,
kalau nggak? Rugi dong. Maka sebenarnya kita tidak sedang bersabar, Kawan. Tapi transaksi jual beli, atau malah bertaruh. Seolah
bersabar adalah pilihan tersisa yang dilempar di atas meja taruhan.

Padahal, sungguh tidak ada resiko bagi orang yang sabar. Dia menjual
sesuatu kepada Yang Maha Memiliki segala sesuatu. Apanya yang akan rugi? Jangan begitu keliru memahami hakikat sabar. Orang2
dulu yang berilmu bahkan menghabiskan puluhan tahun hanya
untuk mengerti satu cabangnya saja.
*Tere Lije

^ suka sekali

Banyak hal yang terjadi 2 bulan terakhir.
Jatuh bangun, nangis ketawa, pisah ngumpul, kesal bahagia.
Gado2 banget lah.
Juli juga istimewa buat saudari kami kak rizki, -kami selalu mendoakan yg terbaik kak- , semangat!, merasakan nikmat kelapangan setelah super duper kesedihan beneran melegakan.
Pun ramadhan, istimewa sekali, meskipun amalan yaumi jauh merosot dari tahun lalu ( hiks ), tp energinya luar biasa, energi mengendalikan diri juga sgt dibutuhkan (secara lagi di siklus anak, hehe), dan saya entah odong entah gimana, lebih semangat baca tulisan arab kecil-kecil di mushaf paling kecil daripada buku anak merah2 itu, haha, lebih damai baca itu dari pada text book (pletak, nanti ada buku yang mampir di kepala, belajar woy!).
Dan lebaran, ya lebaran, beda banget.
Selain hujan deras, ce tdk seperti biasanya pergi sholat ied dengan ama apa niwa ajo, tapi duduk sendiri di igd, setelah sebelumnya ujan2an ngantar tania ke mesjid pjka. Igd sepi euy ( bedah ngga).
Pagi itu kami pulang kampung nan jauh dimato, dan tidak ada angkot untuk beberapa waktu yang lama, haha nasib baik.

Dan lebaran kali ini lah, tidak menginjakkan kaki di rumah itu lg, hanya berkunjung, ia baik2 saja, tentu, tapi perasaan kami yang tidak baik2 saja. Dan entah sampai kapan akan begitu.
Tidak berani mengusik terlalu jauh. Berhati-hati, sungguh berhati-hati dengan mereka yang terluka.

Ce, masih bisa membayangkan suasana lebaran pertiap tahunnya disana...
Dan mgkn jg hari-hari lainnya.

Tak berani berharap banyak. Cintai saja apa yang ada, yang membuat kita lebih baik.

Allah tahu kadar terbaik buat kita :), selalu

2 komentar:

nw mengatakan...

biasonyo wak pulang shalat id, bali sate ndak? dan dgn innocent nya nadahin tangan ke Ama 'ma, mintak pitih ma, wak nio bali sate', ditambahin dengan galak cengengesan. lebaran kini ndak doh :`(

micelia amalia sari mengatakan...

iyaaaaa T.T

pulanglah niwaaaaa

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget