06 Agustus 2011

tawarehtarawih

Sebagian besar tarawih yang ce lakukan adalah di lubuk alung, di tempat masa sekolah ce habiskan.

Biasanya malam-malam ramadhan akan ce lewati dengan pergi ke mesjid bersama Ma'wo (nenek), terkadang bersama Ama(mgkn bisa dihitung jari).
Setelah kami berbuka(ce dan ma'wo) kami akan sholat dan mengaji sejenak, 20 menit sebelum isya Ma'wo sudah menyuruh ce menutup pintu kedai atau jika Ama sudah pulang,maka beliau yang terakhir menutup pintu

Kami beriringan ke mesjid, Ma'wo yang berumur dekade ke 7 berjalan lambat,sangat lambat menurut micelia kecil,namun karna kami berangkat sebelum adzan berkumandang jadinya tidak terlambat, kami akan mendapatkan shaff bagian depan.
Ma'wo tak pernah mau mengambil.posisi shaff terdepan, kebiasaan beliau adalaj di shaff ke2 atau 3, dan memang karena perempuan akan lebih utama shaff nya dibelakang.
Ice?
Seperti biasa, anak-anak tak berhak berdiri di tengah, akan memutus shaff, padahal ce rasanya tidak pernah berisik pas sholat, hanya pandai bermain mata dan menguap sesekali, hmm... mungkin gara-gara itu sholat ce tidak shah dan yang lain juga ikutan tidak shah,hehe itu analisis sotoy micelia kecil, tentu saja untuk preventif buyarnya konsentrasi jamaah lain karena anak kecil seringnya tidak serius sholatnya.
Akibat ini jarang sekali ce bisa bersisian dengan Ma'wo, jadi ce tak bisa berbuat apa-apa saat Ma'wo tertidur terangguk-angguk saat ceramah ustadz.

Saat itu masih ada kewajiban untuk mencatat ceramah-ceramah itu. Alhamdulillah Allah selalu menggerakkan hati ce untuk senang mencatat berdasarkan apa yang ce dengar dan pahami,bukan menyalin catatan teman lain.

Saat-saat genting micelia kecil adalah saat harus tetap menegakkan kepala saat ayat-ayat cukup panjang dibacakan saat tarawih, sesekali terpejam mata dan melayang di stage REM, saat takbir dilaungkan baru tersadar dan ikut rukuk seketika.

Di sini sholat tawarehnya eh tarawihnya 8 rakaat, plus witir 3 rakaat. Lumayan cepat selesainya,apalagi jika imamnya bersahabat(ckckckc istilahnyaaaa) dg membaca ayat yang familiar dan pendek-pendek, setengah sepuluh sudah selesai. Ada beberapa mesjid disini yang sholatnya 23 rakaat (tarawih-witir) masih dapat kami dengarkan suara imamnya sampai jam 10an.

Petasan terkadang mengiringi jalan pulang kami. Kalau buat ce sih ga masalah, hanya khawatir saja dengan Ma'wo yg bisa terkejut. Sekaranh sudah jarang petasan-perasan itu malam-malam,seringnya abis shubuh.

Wew...
Mengingat masa-masa itu bikin dada sesak membuncah rindu pada ma'wo
Sekarang harus menyusuri jalan itu sendirian, tidak ada tangan keriput itu didalam genggaman,tidak ada yang menawari, "bali sate madura wak ce?",tidak ada yang senang memperkenalkan ce pada nenek-nenek di mesjid, "yo, ko cucu ambo", dengan senyum sumringah beliau...

Ma'wo..
Ce kangen pergi tarawih sama Ma'wo...
Ce kangen bikin makanan buka puasa sama Ma'wo
Kangen teriakan jam 2 siang itu;
"ce ndak masak lai? Capek sudahan, beko sore duduak2 se wak lai"
Published with Blogger-droid v1.7.4

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget