16 Maret 2015

menjadi seorang ibu

Saya tidak tahu mau memulai dari mana, seperti biasa ; jika tak tahu apa yang mau diungkapkan, ungkapkanlah apa yang kamu rasakan saat ini juga. Well, saya tidak mual(tadinya iya) dan tidak mengantuk, masih ingin menulis.

Saya 24 tahun lebih beberapa hari, usia yang cukup matang 'kata orang' untuk menjadi ibu (jadi istri dulu tentunya). Dan memang, usia 24 untuk perempuan inilah puncak terbaiknya, persentase untuk bisa hamil inilah titik tertinggi secara penelitian, yang awalnya bertahap naik di usia 19 kemudian puncaknya 24 th, bertahan hingga 28 th rada2 di puncak kemudian mulai menurun dari usia 30 dan turun drastis usia 35. Well, itu angka2, lupakanlah jika tidak bermakna, toh siti hajar hamil usia 80th, toh banyak pasien di RS yang ce temui baru punya anak diatas umur 35.

Ok, itu angka umur.
Gizi?
Oh, siapalah yang bisa menjudge saya kurang gizi dengan penampakan pipi-dimanamana-ini? Hehe ada juga sih, teman2 diwisma yang 'gizi'nya lebih baik. Ukuran lingkar lengan atas ce sebelum menikah 22,5cm, dan menurut kuliah yang saya ikuti, itu tidak mumpuni untuk hamil dengan gizi cukup, bayinya bisa kurus (bblr pada awalnya). Nah, sekarang sudah 23,5 cm, batas normal terendah untuk ibu hamil bergizi, hahaha, padahal teman saya yang penampakan luarnya sebesar badan saya aja lingkar lengan atasnya 28cm, ckckck, bagaimana bisa.
BB saya udah meningkat, nguing nguing, sebelum nikah 48, sekarang 52kg, aaaaaaa (ekspresi awal) dan fiuuuuh (akhirnya bisa memaafkan diri karena merasa ini wajar karena hamil).


Btw, sudah sejauh ini cerita, apakah memang saya hamil?
Hanya bermodalkan rekaman mata dan kamera untuk 2 garis merah di test pack tanggal 8 september kemaren saja, belum tau kantong kehamilannya sudah sebesar apa dan apakah tertanam ditempat yang seharusnya atau tidak, saya belum tau, dan saya masih menyimpan rasa penasaran itu sampai sekarang hingga waktu yang tidak ditentukan. Tapi tanda-tanda yang lain mulai menghebat seminggu post periksa TP, serangan mual dan lemas yang periodik, kadang muncul kadang tidak, kadang sanggup berdiri kadang hanya bergelung, belum muncul muntah sih, dan semoga tidak berlama-lama.


Menunggu, saya tau ini benar2 abstrak. Hamil adalah cikal bakal kehidupan generasi selanjutnya, generasi yang kami (dan mungkin orang-orang) terdekat tunggu. Apakah 40 minggu itu lama? Hmm bagi yang sudah bertahun-tahun menunggu kehadiran anak tentu saja ini waktu yang sedikit. Patut bersyukur untuk segala kemudahan yang kita dapat yang bisa saja banyak yang tidak mudah mendapatkannya.

Menjadi seorang ibu..
Mencurahkan segenap kasih sayang kepada buah hati, buah cinta. Mengerahkan segala jenis sabar yang pernah ada didunia. Memberikan pengobanan yang semoga tanpa pamrih terucap secara lisan ataupun bahasa tubuh. Mendisiplinkan diri sendiri untuk menjadi teladan , guru yang baik bagi ia yang akan merekam apa yang ditangkap oleh panca indra dan hatinya. Menjadi pelukis yang baik untuk kanvas-kanvas putih yang penuh potensi. Menjadi pemaaf untuk lisan yang tak tahu bahwa telah menyakiti, ah itu bukanlah seberapa. Menjadi paling kokoh saat ujian untuknya atau untuk keluarga kecil kami menyapa. Menjadi tempat tenyaman untuk ia bercerita apa saja. Menjadi tempat yang ia rindukan untuk pulang.

Akankah saya bisa?


Pekanbaru, 29 september 2014

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget