03 Mei 2014

Dakwah profesi

Lagi berkemas-kemas, mengumpulkan bekal untuk perjuangan berikutnya, medan berikutnya

Dakwah profesi

Dahulu ketika mengenal awal-awal pusaran kebaikan ini, ada di sekolah kami , kami menyebutkan dakwah sekolah, kami dengan senang hati melakukannya, merasa menemukan tujuan pasti, ya beginilah yang baik.

kemudian menginjakkan kaki ke wahana yang lebih beragam lagi, kampus, alhamdulillah menemukan yang sehati, meneruskan perjuangan dengan semangat yang selalu ada pemicunya sewaktu-waktu. Kami menyebutnya dakwah kampus. Meskipun polemiknya lebih banyak, tapi tetap saja seru.

Well, dikarenakan kami melalui tahap ini, kami melalui juga tahap klinik (koas di RS maksudnya, meskipun ini utk mengambil gelar profesi, ini baru pengenalan untuk dunia itu, blm berhak kami menyebutnya dakwah profesi). Kami melaluinya setelah sebelumnya di lingkungan kampus yang nyaman, bisa memilih berkumpul dengan siapa saja, namun di klinik beda2 asam manisnya, lebih nano2, dan lebih mendebarkan.
Saya sendiri was-was, apakah saya bisa bertahan disana.

Dan sekarang ,ketika akan berarungjeram ( saya lebih menyukai analogi ini, kalau 'terjun' kan pengaruh gravitasi aja kan, hehe apasih) melalui kehidupan berliku, ada batu2 besar yg bs sewaktu2 membentur kita, bikin luka atau malah terjungkal ke dalam air, dan juga ada fase2 air tenang yang menghanyutkan kita. Sensasinya lebih bikin kita teriak senang atau teriak seram ketakutan.
Dunia profesi punya tuntutan lebih banyak untuk diri ini bertahan, terlebih harus memperkuatkan kekuatan internal, kemana lagi lah kita akan mencari pelecut semangat, jika teman teman perjuangan kita sedang menghadapi medan yang beda, yang mungkin saja lebih seru daripada kita, hingga kita tidak bisa meladeni kita.
Dunia profesi, yang orang lain yg kita temui sehari-hari punya kompleksitas kepribadian dan kompleksitas aktivitas.
Dunia profesi yang orang lain banyak munculan seperti artis-artis sinetron ; culas/ pasrah banget ga ketulungan/ sosialita/otoriter/pengeluh. Dll
Maka disinilah, dakwah itu dituntut adalah tindakan. Tak banyak berteori namun dengan keteladanan, dengan ke-konsisten-an memegang prinsip. Itu penting, agar orang memahami sikap kita, menghargai pilihan kita dan mau mendengarkan kebaikan apa yang kita sampaikan.

Butuh bekal yang lebih banyak.
Harus mempersiapkan diri lebih banyak.
Imunitas diri sendiri dipertaruhkan di ajang ini.
Tekad untuk mewujudkan mimpi itu juga harus kuat, banyak godaan.
Setidaknya kita sudah tahu apa yang kita perlukan untuk membuat diri kita bertahan terhadap dunia liar di sana.
1. Punya lingkungan yang heterogen namun masih punya idealisme yang sama untuk kebaikan, minimal 1 orang terdekat di keseharian kita di profesi, jadi ada teman tukar pikiran.
2. Punya lingkungan yang kita menjadi minoritas disana, baik gaya hidup kita maupun idealisme kita, agar kita bisa membuka mata bahwa 'ini loh kenyataan yang lebih mendominasi' , akan kita temukan rasa sebal dan rasa syukur disana (misalnya bersyukur tidak melalukan spt mereka) dan bisa membaca kenapa pola pikir mereka menjadi seperti itu dan kita rancang strategi untuk sedikit2 memasukkan kebaikan kpd mereka.
3. Punya lingkungan sesinyal, mungkin pada lingkaran kita atau pada sahabat-sahabat lama yang masih berkontak, yang saling menguatkan dan mengingatkan. Ini perlu.


Selamat datang di arena pertarungan sebenarnya.
Mari bermain cantik.
Mari bermain gila

:)

Tidak ada komentar:

tweets

Follow by Email

temen-temen

Ada kesalahan di dalam gadget ini

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget