07 Desember 2014

Antara jarak, waktu dan rasa

Memasuki masa internsip yang wajib kami lalui demi masa depan ( haha, ga tau sepenuhnya masa depan kami tergantung oleh profesi ini sih, hanya menjalani saja) kami mendapat giliran untuk stase IGD terlebih dahulu, itu artinya dinas sendiri-sendiri. Sudah sekian lama saya tidak pernah dinas malam lagi, terakhir kami desember 2013- januari 2014, dinas yang mau tak mau harus dijalani, waktu itu demi uang yang bisa di dapat, hehe. Setelah menikah kami bersepakat untuk tidak menerima tawaran jaga klinik yang ada jam malamnya, karna jam-jam tersebut hak kami berdua sebagai keluarga (terkecuali seminggu di daerah siak yang kami pun menginap di sana 24 jam, tapi itu pun bikin kapok).
Seminggu ini kami dinas malam berganti-gantian, selang sehari, ketemunya dari pagi pulang dinas hingga malam dengan salah satu dari kami harus pergi ke RS.
Layaknya anak sekolahan yang menanti-nanti jam pulang dan malas-malasan menghadapi jam masuk, begitulah kami, hahaha, ga rela aja berpisah jarak, walaupun itu cuma berbilang 2km jarak kostan dan RS, tapi tetap saja... waktu ketemunya 12 jam kemudian.

Ketika terpisah jarak selama 22 hari di bulan kedua kami menikah berasa menyiksa sekali, susah payah menyabar-nyabarkan hati, haha.
Sepertinya kami memang ketergantungan satu sama lain.

Well, dikarenakan bukan hanya kami yang mengalami long distance marriage (2km aja ini jaraknya cumaaa), kami mencoba bersikap tegar meskipun tetap tidak mau membiasakan diri dengan kondisi ini, takutnya esok-esok merasa tidak masalah jika terpisah-pisah.

Semangat!

Tidak ada komentar:

tweets

temen-temen

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget