18 Desember 2013

Khorea



1.1 Definisi
Khorea berasal dari bahasa yunani yang berarti menari, pada khorea gerak otot berlangsung cepat, sekonyong-konyong, aritmik, dan kasar yang dapat melibatkan satu ekstremitas, separuh badan atau seluruh badan. Hal ini dengan khas terlihat pada anggota gerak atas (lengan dan tangan) terutama bagian distal. Pada gerakan ini tidak didapatkan gerakan yang harmonis antara otot-otot pergerakan, baik antara otot yang sinergis maupun antagonis. Dengan kata lain khorea adalah gerakan tak terkenali yang berupa sentakan berskala besar dan berulang-ulang, seperti berdansa,yang dimulai pda salah satu begian tubuh dan menjalar kebagian tubuh yang lainnya secara tiba-tiba dan
tak terduga.
Gerak khorea dapat dibuat nyata bila pasien disuruh melakukan dua macam gerakan sekaligus, misalnya ia disuruh menaikkan lengannya keatas sambil menjulurkan lidah. Gerakan khorea didapatkan dalam keadaan istirahat dan menjadi lebih hebat bila ada aktivitas dan ketegangan. Khorea menghilang bila penderitanya tidur.
Gerakan involuntar yang dapat dijumpai didalam klinik adalah khorea (chorea), balismus, atetosis, dan distonia. Dalam kombinasi keempat gerakan involuntar itu dapat menjadi simptom suatu penyakit. Bahkan beberapa komponen gerakannya memperlihatkan kesamaan, dan karena itulah mungkin keempat gerakan itu memiliki substrat anatomik dan fisiologik yang sama.
Khorea adalah istilah untuk gerakan involuntar yang menyerupai gerakan lengan-lengan seorang penari. Gerakan itu tidak berirama, sifatnya kuat, cepat dan tersentak- sentak dan arah geraknya cepat.berubah. Gerakan khoreatik yang melanda tangan-lengan yang sedang melakukan gerakan voluntary membuat gerakan voluntar itu berlebihan dan canggung. Gerakan khoreatik ditangan-lengan seringkali disertai gerakan meringis-ringis pada wajah dan suara mengeram atau suara- suara lain yang tidak mengandung arti. Kalau timbulnya sekali-sekali maka sifat yang terlukis diatas tampak dengan jelas, tetapi apabila timbulnya gencar, maka gerakan khoreatiknya menyerpai atetosis.
Khorea dalam bentuk yang khas ditemukan pada khorea syndenham dan khorea gravidarum. Pada khorea Huntington ia timbul dengan gencar sehingga lebih tepat dinamakan koreoatetosis Huntington. Khorea dapat bangkit juga secara iatrogenic yakni akibat penggunaan obat-obat anti psikosis (seperti haloperidol, dan phenothiazine).
Khorea dapat melibatkan sesisi tubuh saja (lihat Gambar 1), sehingga disebut hemikhorea. Bila hemikhorea bangkit secara keras sehingga seperti membanting- bantingkan diri, maka istilahnya ialah hemibalisme. Secara pasti telah diketahui bahwa kerusakan dinukleus substalamikus kontralateral mendasari hemibalisme.
gerakan involunter.jpg
Gambar 1 . Khorea
Atetosis merupakan keadaan motorik dimana jari-jari tangan dan kaki serta lidah atau bagian tubuh lain apapun tidak dapat diam sejenak. Gerakan yang mengubah posisi ini bersifat lambat, melilit dan tidak bertujuan. Pola gerakan dasarnya ialah gerakan involuntary ekstensi pronasi yang berselingan dengan gerakan fleksi-supinasi lengan, serta gerakan involuntary fleksi yang berselingan dengan ekstensi jari-jari tangan dan dengan ibu jari yang berfleksi dan beraduksi didalam kepalan tangan. (Lihat Gambar 2 )
atetosis 1..jpgathetosis.jpg
Gambar 2 . Atetosis
Umumnya gerakan atetotik lebih lamban daripada gerakan khoreatik, tetapi gerakan atetotik yang lebih cepat dan gencar atau gerakan khoreatik yang kurang cepat dan tidak menyerupai satu dengan yang lain, dikenal sebagai gerakan koreoatetosis. Bilamana atetosis melanda sesisi tubuh saja disebut hemiatetosis.
Distonia yang dikenal juga sebagai torsi spasme adalah suatu sikap menetap dari salah satu bentuk gerakan atetotik yang hebat sekali. Gambarannya dapat berupa hiperektensi atau hiperfleksi tangan, hiperinversi kaki, hiper-lateroleksi atau hiper-retrofleksi kepala, torsi tulang belakang dengan melengkungkan pinggang, sambil wajah meringis-ringis.


1.2 Epidemiologi
Di Amerika Serikat walaupun tidak ada data yang tersedia mengenai insiden khorea, timbulnya beberapa kesatuan gejala, dimana khorea adalah gejala utama sudah sangat diketahui.
Penyakit huntington merupakan autosomal dominan, kelainan neurodegeneratif dimana defek gen terletak pada lengan pendek dari kromosom 4. Kelainan penyakit huntington diperkirakan 5 sampai 10 per 100.000 orang di USA.
Penyakit Wilson merupakan autosomal resesif, penyakit multi sistem dengan sebuah gen terkait lokus de esterase pada kromosom 13. Walaupun kejadian gen ini (carrier heterozigot) yang hanya mengandung satu gen abnormal. Telah diperkirakan sampai setinggi satu persen, kejadian penyakit hanya 30/1 juta orang.
Khorea herediter benigna, adalah kelainan yang sangat jarang dimana kebanyakan pada silsilah sudah dengan jelas ditunjukkan bersifat dominan, angka kejadian 1/500.000 orang.
1. Ras
George huntington pertama kali menjelaskan pertama kali transmisi penyakit Huntington pada tahun 1872 di Long Island New York. Semua orang yang terkena turun temurun dari nenek moyan yang beremigrasi dari Anglia Timur ketempat baru pada tahun 1649. Kelainan ini sekarang tersebar luas diseluruh dunia. Huntington disease diketahui sering terjadi pada ras kaukasia. Semua kasus dari kelainan ini mungkin terjadi dari garis keturunan Anglia Timur. Juga informasi genetic diperoleh dari suatu garis keturunan keluarga yang membawa gen, terletak di danau Maracaibo Venezuela dan sekelilingnya.
2. Umur,
Khorea bisa terjadi pada semua umur. Pada anak-anak khorea cepat menyebar, penyebab peradangan, dan lesi-lesi striatal dapat terjadi pada banyak 3 kasus. Sekitar 10 % dari pasien dengan penyakit Huntington mempunyai onset penyakit pada saat berumur kurang dari 20 tahun, sekitar 6 % saat berumur kurang dari 20 tahun, dan sekitar 3 % saat berumur kurang dari 15 tahun, tapi onset yang paling sering terjadi pada dekade ke IV dan dekade ke V. Kasus pernah ditemukan pada pasien beumur kurang dari 5 tahun. Pasien-pasien dengan onset dini biasanya menerima penyakit dari ayahnya, sementara pasien dengan onset lanjut lebih sering mendapatkan penyakit dari ibunya. Walaupun 27 % dari kasus pertama kali diketahui pada pasien berumur lebih dari 50 tahun, kebanyakan dari kasus tercatat pada pasien kurang dari 60 tahun. Onset penyakit tercatat paling lambat pada dekade ke VIII.
Neuroacanthocytosis, mungkin merupakan bentuk paling umum dari khorea herediter, biasanya bermanifestasi klinis pada dekade ke III dan ke IV (8-62 tahun). Ini dapat dibedakan dengan penyakit Huntington onset lambat melalui analisis silsilah dan tes neurogenetik.
Khorea senilis merupakan sebuah kondisi yang bermanifestasi secara berangsur-angsur di decade pertengahan hidup. Secara umum berdasarkan onset umum khorea herediter benigna dapat dibedakan menjdadi 3 tipe : 1. Awal masa anak-anak. 2. pada usia sekitar 1 tahun. Dan 3. selama masa kanak-kanak atau masa remaja akhir. Onset umur yang paling sering yaitu sekitar satu tahun, saat anak mulai belajar berjalan.

1.3 Etiologi
Khorea bukan merupakan penyakit, tetapi merupakan gejala yang bisa terjadi pada beberapa penyakit yang berbeda. Seseorang yang mengalami khorea memiliki kelainan pada ganglia basalisnya di otak. Tugas ganglia basalis adalah memperhalus gerakan-gerakan yang kasar yang merupakan perintah dari otak. Pada sebagian besar kasus terdapat neurotransmiter dopamin yang berlebihan, sehingga mempengaruhi fungsinya yang normal. Keadaan ini bisa diperburuk oleh obat-obat dan penyakit yang menyebabkan perubahan kadar dopamin atau merubah kemampuan otak untuk mengenal dopamin.
Penyakit yang sering kali menyebabkan khorea adalah penyakit huntington. Berbagai penyebab khorea :
1. Gangguan neurodegeneratif
1. Herediter
Autosomal dominan
- Penyakit huntington
- Neuroacanthocytosis
- Ataksia spinoserebelar
- Penyakit fahr
Autosomal resesif
- Neuroacanthocytosis
- Penyakit Wilson
- Degenerasi nuronal dengan besi diotak
- Akumulasi tipe I
- Ataxia-telengiectasia
- Ataksia Friedreich
- Tuberous sclerosis
X-linked recessive
- Mc Leod syndrome
A. Sporadis atau penurunan yang tidak diketahui
·         Atrofi olivopontocerebellar
·         Khorea familial benigna
·         Khorea fisiologis infancy
·         Khorea senilis
·         Infeksi primer
·         Infeksi oportunistik
2. Gangguan neurometabolik
1. Sindrom Lesch-Nyhan
2. Gangguan lysosomal storage
3. Gangguan aminoacid
4. Penyakit Leights
5. Porphyria
2. Khorea benigna
1. herediter
B. sporadik
1. Infeksi
1. penyakit creutzfeldt- jakob
2. sindrom defisiensi imunitas yang didapat
3. ensefalitis letargika
2. Inflamatori
Sarkoidosis
1. Lesi desak-ruang
·         tumor
·         malformasi arteri- vena
2. Diinduksi obat
·         anti konvulsan
·         obat antiparkinson
·         kokain
·         amfetamin
·         anti depresan trisiklik
·         neuroleptik
sindrom withdrawal emergent
Diskinesia Tardif
tardif.jpg
Gambar 3. Diskinesia Tardif
3. Diinduksi toksin
·         Intoksikasi alcohol dan penghentiannya
·         Anoksia
·         Monoksida karbon
·         Mangan
·         Merkuri
·         Thalium
·         Toluen
4. Gangguan metabolik sistemik
1.      hipertiroidisme
2.      hipoparatiroidisme
3.      kehamilan
4.      degenerasi hepatoserebral akuisita
5.      anoksia
6.      cerebral palsy
7.      hiper-hiponatremia
8.      hipomagnesemia
9.      hipocalcemia
10.  beri-beri
11.  pelagra
12.  defisiensi vitamin B6 pada bayi
7. Imbalans elektrolit
1. hiper-hipoglicemia
2. nutrisi
8. Dimediasi imunitas
·         Khorea sydenham
·         Khorea pasca-infeksi
·         Systemic lupus erythematosus (SLE)
·         Sindrom anti-Fosfolipid antibodi
·         Purpura henoch- Schonlein
·         Penyakit behcet
·         Polyarteritis nodosa
·         Khorea paraneoplastik
·         Multipel sklerosis
9. Vaskular
·         Infark
·         Hemoragi
·         Penyakit moya-moya
·         Cerebral palsy

1.4 Patofisiologi
Fungsi ganglia basalis yaitu membentuk impuls yang bersifat dopaminergik dan GABAergik dari substansia nigra dan korteks motoris yang berturut-turut disalurkan sampai ke pallidum didalam thalamus dan korteks motoris. Impuls ini diatur dalam striatum melalui dua segmen yang paralel, jalur langsung dan tidak langsung melalui medial pallidum dan lateral pallidum/ inti-inti subtalamikus. Aktifitas inti subtalamikus mengendalikan pallidum medial untuk menghambat impuls-impuls dari korteks, dengan demikian mempengaruhi parkinsonisme. Kerusakan inti subtalamikus meningkatkan aktifitas motorik melalui thalamus, sehingga timbul pergerakan involuntar yang abnormal seperti distonia, khorea, dan pergerakan tidak sadar. Contoh klasik kerusakan fungsi penghambat inti subthalamicus adalah balismus. Sindrom chorea yang paling sering dipelajari adalah chorea Huntington, oleh karena itu patofisiologi dari penyakit Huntington berlaku pada chorea.
gangklia.jpg
Gambar 4. Ganglia Basalis dan Interaksinya

MEKANISME DOPAMINERGIK
Pada chorea Huntington, komposisi dari striatal dopamine normal, mengindikasikan bahwa kelainan utama yang mengancam jiwa, tetapi sudah terkena penyakit, ukuran menengah, pada striatal saraf-saraf dopaminergik. Zat-zat farmakologik yang dapat menurunkan kadar dopamine (seperti reserpine, tetrabenazine) atau memblok reseptor dopamine (seperti obat-obat neuroleptik) dapat menimbulkan chorea. Sejak obat- obatan yang menurunkan komposisi dopamine striatal dapat menimbulkan chorea, meningkatkan jumlah dopamine akan menambah buruk seperti pada chorea yang diinduksi levodopa yang terlihat pada penyakit Parkinson.

MEKANISME KOLINERGIK
Konsep dari mekanisme ini yaitu menyeimbangkan antara acetylcholine dan dopamine yang merupakan hal penting bagi fungsi striatum yang normal memberikan
hal penting untuk memahami penyakit parkinson.Pada fase awal penyakit parkinson obat-obat anti kolinergik digunakan umum, khususnya saat tremor sebagai gejala predominan. Gejala-gejala parkinson lain seperti bradikinesia dan rigiditas juga dapat terjadi. Perkembangan khorea pada pasien yang diberikan obat-obat kolinergik seperti triheksipenidil merupakan pengamatan klinis yang umum lebih lanjut obat visostigmin intra vena (antikoliesterase sentral) dapat mengurangi khorea untuk sementara.dengan cara yang sama khorea yang diinduksi antikolinergik dapat menjadi lebih berat dengan pemberian visostigmin. Dalam ganglia basalis pasien dengan penyakit huntington terjadi pengurangan kolin asetil transferase, yaitu enzim yang mengkatalisator sintesis asetil kolin.
Berkurangnya reseptor kolinergik muskarinik juga telah ditemukan. Dua pengamatan ini dapat menjelaskan bermacam-macam respon terhadap visostigmin dan efek terbatas dari precursor asetilkolin, seperti kolin dan lesitin.

MEKANISME SEROTONERGIK
Manipulasi dari sriatal serotonin dapat berperan dalam pembentukan dari berbagai macam pergerakan abnormal. Penghambatan pengambilan kembali serotonin seperti fluoksetin dapat menimbulkan parkinsonisme, akinesia, mioklonus, atau tremor. Peranan serotonin (5-hidroksi triptamin) dalam pergerakan khorea kurang jelas. Striatum mempunyai konsentrasi serotonin yang relative tinggi. Penatalaksanaan farmakologik terutama untuk merangsang atau menghambat reseptor serotonin pada khorea Huntington tidak menunjukkan efek, mengindikasikan kontribusi terbatas serotonin dalam patogenesis khorea.

MEKANISME GABAergik
Lesi yang paling konsisten pada khorea huntington terlihat dengan hilangnya saraf-saraf dalam ganglia basalis yang mensintesis dan mengandung GABA. Arti dari semua ini tidak diketahui. Bermacam- macam tehnik farmakologi untuk meningkatkan GABA didalam system saraf pusat telah dicoba, bagaimanapun tidak ada manfaat yang diperoleh.
SUBSTANSI P DAN SOMATOSTATIN
Substansi P telah diketahui berkurang pada penyakit huntington, sementara itu
somatostatin meningkat. Arti dari semua ini belum diketahui.

1.5 Gambaran Klinis
Diagnosis khorea ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Gerak khorea melibatkan jari- jari dan tangan, diikuti secara gradual oleh lengan dan menyebar ke muka dan lidah. Bicara menjadi cadel. Bila otot faring terlibat dapat Terjadi disfagia dan kemungkinan pneumonia oleh aspirasi. Sensibilitas normal. Gerakan terjadi secara tiba- tiba dan tak terduga, dan akan berkurang atau menghilang jika penderita tertidur, tetapi akan bertambah buruk jika melakukan aktivitas atau mengalami tekanan emosional. Pasien yang menderita khorea tidak sadar akan pergerakan yang tidak normal, kelainan mungkin sulit dipisahkan. Pasien dapat menekan khorea untuk sementara dan sering beberapa gerakan tersama (parakinesia). Ketidakmampuan untuk mengendalikan kontraksi voluntar (impersisten motorik), seperti terlihat selama tes menggenggam manual atau mengeluarkan lidah, adalah gambaran karakteristik dari khorea dan menghasilkan gerakan menjatuhkan objek dan kelemahan. Peregangan refleks otot sering bersifat hung up dan pendular. Pada beberapa pasien yang terkena gerakan berjalan seperti menari dapat ditemukan. Berdasarkan pada penyebab dasar khorea gejala motorik lain termasuk disartria, disfagia, ketidakstabilan postural, ataksia, distonia, dan mioklonus. Suatu diskusi dari manifestasi klinis yang paling umum pada penyakit khorea telah dijelaskan disini.
1. 5.1 Penyakit Huntington
Penetrance penyakit huntington adalah 100 %. Ekspresi penyakit ini sangat bervariasi tergantung menifestasi klinis dan onset umur. Saat kelainan muncul lebih awal, terutama pada pasien berumur kurang dari 20 tahun, hampir bisa dipastikan akan berkembang cepat dengan adanya kelainan kognitif.
Varian Westhal yaitu kelainan distoni kaku, mungkin dibarengi kejang dan mungkin mioklonus. Varian ini terutama pada pasien dengan onset pada masa anak-anak. Sebagai pembanding, ketika kelainan terjadi pada akhir hidup tanda utama adalah khorea. Onset kelemahan tersembunyi dapat dikenali keliru sebagai kelainan saraf sederhana. Walaupun khorea dan kelainan motorik lain merupakan gejala yang cepat dikenali, mungkin bukan merupakan gejala yang paling awal dari timbulnya penyakit huntington.
Perubahan kepribadian dan gangguan psikologis menjadi manifestasi awal pada 50 % kasus. Gejala yang tetap dengan depresi merupakan yang paling sering. Jangka waktu penyakit sampai timbulnya kematian sekitar 15 tahun pada kasus penyakit huntington dewasa dan 8-10 tahun pada jenis remaja.
1. 5.2. Penyakit Wilson
Gejala klinis tergantung dari umur. Pada anak-anak, penyakit bermanifestasi dengan distonia progresif, rigiditas dan disartria, serta disfungsi hati sedangkan pada orang dewasa terdapat gejala psikiatri, tremor, dan biasanya disartria predominan.
1. 5.3. Neuroacanthocytosis
Gejala biasanya berawal dengan menggigit bibir dan lidah (sering menyebabkan luka sendiri), distonia orolingual, suara dan gerakan tidak sadar, khorea seluruh tubuh, parkinsonisme dan kejang. Pasien dengan neuroacanthocytosis dapat dilaporkan terjadi ketidakmampuan untuk makan sendiri karna distonia lidah setiap saat mereka akan makan.
Gambaran lain termasuk gangguan kognitif dan perubahan kepribadian, disfagia, disartria, arefleksia, bukti dari neuropati akson dengan kelainan lingkaran refleks, dan kenaikan serum kreatinin kinase tanpa bukti adanya miopati.
1.5.4 Khorea senilis
Kesatuan klinis ditandai oleh serangan khorea simetrik yang perlahan- lahan dan terutama tidak termasuk kelainan mental, gangguan emosional, atau riwayat keluarga oleh karena itu tes neurogenetik perlu dilakukan.
1.5.4 . Khorea sydenham
Khorea sydenham adalah manifestasi utama dari demam rematik akut dengan modifikasi kriteria JONES pada tahun 1992, manifestasi ini cukup bagi dokter untuk membuat diagnosis serangan pertama demam rematik akut. Ini telah dipertimbangkan sebagai suatu penyakit pada anak- anak, bagaimanapun mungkin terjadi pada orang dewasa. Khorea rematik ditandai dengan kelemahan otot dan terjadinya khorea. Pasien menunjukkan milkman grip sign, gaya berjalan kaku dan gangguan bicara.
Gejala psikologis muncul dan secara khas mendahului gejala lain bahkan pergerakan khorea. Emosi yang labil merupakan gejala yang umum, berkurangnya perhatian, gejala obsesif kompulsif, dan kelainan anxietas juga dapat terlihat. Gejala-gejala dapat terjadi disamping infeksi streptokokus selama 1-6 bulan. Pada orang dewasa khorea pos streptokokal generalisata dapat mempengaruhi pengendalian kelahiran dan kehamilan (khorea gravidarum)
1. 5.5 Khorea herediter benigna
Ini merupakan kelainan genetik autosomal dominan yang ditandai oleh pergerakan koreiform yang progresif yang terjadi pada masa anak-anak tanpa kelemahan intelektual. Membedakan secara klinis dari penyakit huntington tipe remaja dengan tidak adanya kejang, rigiditas atau gejala serebral.

1.6 Pemeriksaan Fisik
Sejak penyakit Huntington merupakan penyakit khoreatik yang paling jelas ditemukan tanda-tanda fisik sebagai berikut :
Penyakit huntington
·         Khorea secara umum ditandai adanya kedutan pada jari-jari dan pada wajah.
·         Seiring waktu, amplitudo meningkat, pergerakan seperti menari mengganggu pergerakan voluntary dari ekstremitas dan berlawanan dengan gaya berjalan.
·         Berbicara menjadi tidak teratur.
·         Tanda khas, pasien hipotonus meskipun demikian refleks- refleks mungkin bertambah dan mungkin ditemukan klonus.
·         Gerakan volunteer terganggu paling awal. Khususnya pergerakan mungkin tidak teratur.
·         Hilangnya optokinetik, nistagmus adalah tanda karakteristik setelah perkembangan penyakit. Kelainan kognitif dalam manifestasi awal dengan kehilangan memori baru dan pertimbangan melemah.
·         Apraksia dapat juga terjadi.
·         Kelainan prilaku neurologi berubah secara khas terdiri dari perubahan kepribadian, apatis, penarikan sosial, impulsif, depresi, mania, paranoia, delusi, halusinasi, atau psikosis.
Varian Westphal didominasi oleh rigiditas, bradikinesia dan distoni. Kejang umum dan mioklonus dapat juga terlihat. Ataksia dan demensia dapat juga terjadi.

INvolunter.jpg
Gambar Gerakan- Gerakan  Involunter
chorea.png
Gambar Perbedaan Atetosis dan Khorea

1.7 Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis utama pada penyakit khorea didasarkan pada anamnesa dan penemuan klinis; akan tetapi pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat terutama untuk membedakan khorea primer dan sekunder diantaranya :
·         Penyakit Huntington; satu-satunya pemeriksaan laboratorium untuk mengkonfirmasi penyakit ini adalah dengan cara tes genetik. Kelainan ini terdapat pada kromosom ke 4 yang ditandai dengan adanya pengulangan abnormal dari trinucleotide CAG, dimana panjang lengan menentukan lamanya serangan.
·         Penyakit Wilson; rendahnya kadar seruloplasmin dalam serum dan meningkatnya kadar tembaga dalam serum pada pemeriksaan urin. Proteinurin ditemukan pada pasien yang mempunyai gangguan ginjal, tetapi tidak semua pasien mengalami hal ini. Pada pemeriksaan fungsi hati umumnya abnormal. Kadar amoniak dalam serum mungkin meningkat.
Jika hasil diagnosa masih belum pasti maka biopsi hati akan sangat membantu dalam mengkonfirmasi diagnosa tersebut.
·         Sydenham Khorea; Khorea dapat terjadi setelah infeksi streptokokus. Umumnya 1-6 bulan pasca infeksi, kadang- kadang setelah 30 tahun. Oleh karena itu, maka titer antibody antistreptokokus tidak begitu dipresentasikan. Tanpa bukti adanya infeksi streptokokus yang mendahului, maka diagnosa khorea harus ditegakkan tanpa penyebab lain.
·         Neuroachanthocytosis ; Diagnosa ditegakan oleh adanya gambaran acanthosit pada darah perifer.
Kadar kreatinin kinase serum mungkin meningkat.
Pemeriksaan labolatorium lain yang digunakan untuk diferensial diagnosis dari pada chorea adalah pemeriksaan kadar complement, titer antinuclear antibody (ANA), titer antibody fosfolipid, asam amino dalam serum dan urin, tiroid stimulating hormone (TSH), thyroxine (T4), dan parathyroid (PTH).

MRI
Pasien dengan HD dan choreo-acantocithosis menunjukkan adanya penurunan signal pada neostriatum, cauda, dan putamen. Tidak ada perbedaan penting pada penyakit ini. Penurunan signal neostriatal dihubungkan dengan adanya peningkatan zat besi.Atrofi umum, seperti halnya atrofi lokal pada neostriatum, pada sebagian cauda dengan adanya pelebaran pada bagian cornu anterior menandakan adanya penurunan signal pada neostriatal. Kebanyakan kasus Sydenham khorea tidak menunjukkan adanya kelainan. Akan tetapi, pada beberapa laporan studi ditemukan adanya perbedaan volume pada cauda, putamen, dan globus pallidus dimana pada sydenham khorea lebih besar dibanding yang normal. Pasien dengan hemibalimus menunjukkan adanya perubahan signal pada inti subthalamik kontra lateral, dan sedikit pada striatum atau nucleus thalamik. MRI otak pada pasien khorea senilis menunjukkan adanya penurunan intensitas sinyal pada seluruh striatum (diakibatkan deposit besi) dan pada batas caput caudatus dan putamen, tetapi tidak ada arofi pada struktur tersebut.

POSITRON EMISSION TOMOGRAPHY (PET)
Uptake fluorodopa (F-dopa) normal atau sedikit berkurang pada pasien dengan khorea. Pada HD dan coreoacanthocytosis terjadi hipermetabolisme bilateral pada nucleus caudatus dan putamen. Pada pasien khorea dan demensia terjadi menurunan metabolisme glukosa pada korteks frontal, temporal dan parietal. Pada pasien khorea benigna herediter dapat atau tidak terjadi penurunan metabolisme glukosa pada kauda. Penemuan metabolisme normal pada otak didaerah striatal dapat mengesampingkan kemungkinan HD. Hasil diagnosa HD yang terbatas dibuat dengan cara neurogenetik. Pada pasien hemikhorea ditemukaan hipometabolisme pada inti kauda dan putamen kontralateral.

1.8 Diagnosis Banding
1. 8.1 Penyakit Huntington
Penyakit hutington ditandai oleh trias gejala, yaitu gangguan gerak, gangguan kognitif dan gangguan psikiatri. Ekspresi penyakit ini sangat berfariasi tergantung menifestasi klinis dan onset umur. Saat kelainan muncul lebih awal, terutama pada pasien berumur kurang dari 20 tahun, hampir bisa dipastikan akan berkembang cepat dengan adanya kelainan kognitif.
Varian Westhal yaitu kelainan distoni kaku, mungkin dibarengi kejang dan mungkin mioklonus. Varian ini terutama pada pasien dengan onset pada masa anak-anak. Sebagai pembanding, ketika kelainan terjadi pada akhir hidup tanda utama adalah khorea. Onset kelemahan tersembunyi dapat dikenali keliru sebagai kelainan saraf sederhana. Walaupun khorea dan kelainan motorik lain merupakan gejala yang cepat dikenali, mungkin bukan merupakan gejala yang paling awal dari timbulnya penyakit huntington. Perubahan kepribadian dan gangguan psikologis menjadi manifestasi awal pada 50 % kasus. Gejala yang tetap dengan depresi merupakan yang paling sering. Jangka waktu penyakit sampai timbulnya kematian sekitar 15 tahun pada kasus penyakit huntington dewasa dan 8-10 tahun pada jenis remaja.

1. 8.2. Penyakit Wilson
Gejala klinis tergantung dari umur. Pada anak-anak, penyakit bermanifestasi dengan distonia progresif, rigiditas dan disartria, serta disfungsi hati sedangkan pada orang dewasa terdapat gejala psikiatri, tremor, dan biasanya disartria predominan. Terdapat gangguan metabolisme tembaga yang mengakibatkan akumulasi tembaga sampai tingkat toksik di hati, otak, ginjal, mata, tulang. Gen yang terganggu berlokasi di kromosom 13.
1. 8.3. Neuroacanthocytosis
Gejala biasanya berawal dengan menggigit bibir dan lidah (sering menyebabkan luka sendiri), distonia orolingual, suara dan gerakan tidak sadar, khorea seluruh tubuh, parkinsonisme dan kejang. Pasien dengan neuroacanthocytosis dapat dilaporkan terjadi ketidakmampuan untuk makan sendiri karna distonia lidah setiap saat mereka akan makan. Gambaran lain termasuk gangguan kognitif dan perubahan kepribadian, disfagia, disartria, arefleksia, bukti dari neuropati akson dengan kelainan lingkaran refleks, dan kenaikan serum kreatinin kinase tanpa bukti adanya miopati.

1.9 Komplikasi
Pada beberapa pasien dapat berkembang menjadi rhabdomyolysis atau trauma
local berkaitan dengan pergerakan abnormal yang adekuat. Aspirasi pneumonia dapat mengakibatkan terjadinya kematian pada beberapa pasien dengan neuroacanthocytosis karena berhubungan dengan adanya kesulitan menelan (distonia).

1.10 Penatalaksanaan
Medikamentosa
Hanya bersifat simptomatik terhadap gejala-gejala yang ditemukan. Penggunaan agen neuroleptik sebagai antagonis reseptor dopamine. Yang biasa digunakan diantaranya haloperidol dan fluphenazine. Sedangkan yang jarang digunakan yaitu risperidone, olanzapine, clozapine, dan quetiapine. Dopamin depleting agen diantaranya reserpine dan tetrabenazine dapat diberikan sebagai pengganti. Obat GABAergik, seperti clonazepam dan gabapentin dapat digunakan sebgai terapi adjuvantif. Imunoglobulin intra vena dan plasmapharesis dapat digunakan untuk mengurangi gejala sydenham khorea. Khorea yang disebabkan oleh kelainan jantung dapat diobati dengan pemberian steroid.
Pengobatan
Tujuan akhir dari farmakoterapi adalah mengurangi angka kejadian dan mencegah komplikasi . Khorea akan membaik setelah pemakaian Jika penyebabnya obat dihentikan. Untuk membantu mengendalikan pergerakan yang abnormal bisa diberikan obat yang menghalangi efek dopamin (misalnya obat anti psikosa).





Ensefalitis (case report)


Bab I
Tinjauan Pustaka

1.1  Definisi
Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, fungus dan riketsia.
1.2 Epidemiologi
Penyakit ini tersebar hampir di seluruh dunia, dengan berbagai jenis virus penyebabnya. Berdasarkan laporan dari The Center for Disease Control and Prevention, diperkirakan terdapat sekitar 20 ribu kasus ensefalitis di Amerika Serikat setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut, 5 hingga 20% meninggal, serta 20% lainnya mengalami gejala sisa seperti gangguan kesadaran, amnesia, perubahan kepribadian, hemiparesis, serta kejang berulang. Di Asia, virus Japanese, kelompok dari West Nile Virus, merupakan penyebab utama ensefalitis, dimana setiap tahunnya bisa mengakibatkan 10 ribu kematian.
Perkembangan penyakit ensefalitis terlihat lebih jelas di negara-negara berkembang, dengan kondisi sosioekonomi yang rendah. Pada negara yang sudah maju dan dengan kelas sosial yang tinggi, menifestasi penyakit biasanya tidak begitu menonjol, dan sering infeksi primer muncul pada saat dewasa saja.

1.3 Etiologi
-          Bakteri
-          Virus
-          Parasit
-          Fungus
-          Riketsia

1.4 Klasifikasi
1.      Ensefalitis Supurativa
Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah : Staphylococcus aureus, Streptococcus, E. Coli dan Mycobacterium tuberculosa
Patogenesis
Peradangan dapat menjalar ke jaringan otak dari otitis media, mastoiditis, sinusitis atau dari piema yang berasal dari radang, abses di dalam paru, bronchoektasi, empiema, osteomyelitis cranium, fraktur terbuka, trauma yang menembus ke dalam otak dan tromboflebitis. Reaksi dini jaringan otak terhadap kuman yang bersarang adalah edema, kongesti yang disusul dengan pelunakan dan pembentukan abses. Disekeliling daerah yang meradang berproliferasi jaringan ikat dan astrosit yang membentuk kapsula. Bila kapsula pecah terbentuklah abses yang masuk ventrikel.
Manifestasi klinis
Secara umum gejala berupa trias ensefalitis :
1.      Demam
2.      Kejang
3.      Kesadaran menurun
Bila berkembang menjadi abses serebri akan timbul gejala-gejala infeksi umum, tanda-tanda meningkatnya tekanan intracranial yaitu : nyeri kepala yang kronik dan progresif, muntah, penglihatan kabur, kejang, kesadaran menurun, pada pemeriksaan mungkin terdapat edema papil. Tanda-tanda deficit neurologis tergantung pada lokasi dan luas abses.
2.      Ensefalitis  Siphylis
Patogenesis
Disebabkan oleh Treponema pallidum. Infeksi terjadi melalui permukaan tubuh umumnya sewaktu kontak seksual. Setelah penetrasi melalui kelenjar limfe kuman diserap darah sehingga terjadi spiroketemia. Hal ini berlangsung beberapa waktu hingga menginvasi susunan saraf pusat. Treponema pallidum akan tersebar diseluruh korteks serebri dan bagian-bagian lain susunan saraf pusat.
Manifestasi klinis
Gejala ensefalitis sifilis terdiri dari dua bagian :
1.      Gejala-gejala neurologis
Kejang-kejang yang dating dalam serangan-serangan, afasia, apraksia, hemianopsia, kesadaran mungkin menururn, sering dijumpai pupil Agryll-Robertson, nervus opticus dapat mengalami atrofi. Pada stadium akhir timbul gangguan- gangguan motorik yang progresif.
2.      Gejala-gejala mental
Timbulnya proses demensia yang progresif, intelegensia yang mundur perlahan-lahan yang mula-mula tampak pada kurang efektifnya kerja, daya konsentrasi mundur, daya ingat berkurang, daya pengkajian terganggu.

3.      Ensefalitis Virus
Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia :
1.      Virus RNA
Paramikso virus    : virus parotitis, virus morbili
Rabdovirus          : virus rabies
Togavirus             : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang B, virus dengue)
Picornavirus         : enterovirus (virus polio, coxsackie A, B, echovirus)
Arenavirus           : virus koriomeningitis limfositoria
2.      Virus DNA
Herpes virus         : herpes zoster-varisella, herpes simpleks, sitomegalovirus, virus Epstein-barr
Poxvirus               : variola, vaksinia
Retrovirus            : AIDS
Manifestasi Klinis
Dimulai dengan demam, nyeri kepala, vertigo, nyeri badan, nausea, kesadaran menurun, timbul serangan kejang-kejang, kaku kuduk, hemiparesis dan paralysis bulbaris.

3.      Ensefalitis karena Parasit
a.       Malaria serebral
Plasmodium falsifarum penyebab terjadinya malaria serebral. Gangguan utama terdapat didalam pembuluh darah mengenai parasit. Sel darah merah yang terinfeksi plasmodium falsifarum akan melekat satu sama lainnya sehingga menimbulkan penyumbatan-penyumbatan. Ptekie hemoragik dan nekrosis fokal yang tersebar secara difus ditemukan pada selaput otak dan jaringan otak.
Gejala- gejala yang timbul : demam tinggi, kesadaran menurun hingga koma. Kelainan neurologic tergantung pada lokasi kerusakan-kerusakan.
b.      Toxoplasmosis
Toxoplasma gondii pada orang dewasa biasanya tidak menimbulkan gejala-gejala kecuali dalam keadaan dengan daya imunitas menurun. Didalam tubuh manusia parasit ini dapat bertahan dalam bentuk kista terutama di otot dan jaringan otak.
c.       Amebiasis
Amuba genus Naegleria dapat masuk ke tubuh melalui hidung ketika berenang di air yang terinfeksi dan kemudian menimbulkan meningoensefalitis akut. Gejala-gejalanya adalah demam akut, nausea, muntah, nyeri kepala,kaku kuduk dan kesadaran menurun.
d.      Sistiserkosis
Cysticercus cellulosae ialah stadium larva Taenia .Larva menembus mukosa dan masuk ke dalam pembuluh darah, menyebar ke seluruh badan. Larva dapat tumbuh menjadi sistiserkus, berbentuk kista di dalam ventrikel dan parenkim otak. Bentuk rasemosanya tumbuh di dalam ventrikel dan parenkim otak. Bentuk rasemosanya tumbun di dalam meningens atau tersebar di dalam sisterna. Jaringan akan bereaksi dan membentuk kapsula disekitarnya. Gejala-gejala neurologic yang timbul tergantung pada lokasi kerusakan.
4.      Ensefalitis karena Fungus
Fungus yang dapat menyebabkan radang antara lain : Candida albicans, Cryptococcus neoformans, Coccidiodis, Aspergillus, Fumagatus dan Mucor mycosis. Gambaran yang ditimbulkan infeksi fungus pada system saraf pusat ialah meningo-ensefalitis purulenta. Factor yang memudahkan timbulnya infeksi adalah daya imunitas yang menurun.
5.      Riketsiosis Serebri
Riketsia dapat masuk ke dalam tubuh melalui gigitan kutu dan dapat menyebabkan Ensefalitis. Di dalam dinding pembuluh darah timbul nodule yang terdiri atas serbukan sel-sel mononuclear, yang terdapat pula disekitar pembuluh darah di dalam jaringan otak. Di dalam dinding pembuluh darah yang terkena akan terjadi thrombosis.
Gejala-gejalanya ialah nyeri kepala, demam, mula-mula sukar tidur, kemudian mungkin kesadaran dapat menurun. Gejala-gejala neurologic menunjukkan lesi yang tersebar.

1.5 Pemeriksaan Fisik dan Diagnosis
Pemeriksaan fisik pada infeksi SSP bertujuan untuk:
  1. Mengidentifikasi kontraindikasi dalam melakukan pungsi lumbal.
  2. Mengetahui lokasi infeksi lainnya yang menjadi tanda dan penyokong bagi proses patologi infeksi.
  3. Mengetahui lokasi infeksi SSP itu sendiri.
Terdapatnya penurunan kesadaran, defisit neurologis fokal, dan kejang menunjukkan adanya abnormalitas struktural SSP yang mungkin berisiko terjadinya herniasi otak atau medula spinalis setelah pungsi lumbal. Untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan neuroimaging sebelum pelaksanaan pungsi lumbal.
Identifikasi penting lainnya adalah mengenali gejala penyerta infeksi SSP seperti penumonia, diare, lesi di kulit atau tulang, yang dapat membantu mengenali etiologi infeksi. Dan yang paling utama, pemeriksaan neurologik dapat menunjukkan lokasi infeksi yang paling mungkin, apakah di ruang cairan serebrospinal (CSS), otak, atau medula spinalis, berdasarkan sindrom yang ditemukan.
Secara umum, infeksi SSP didahului oleh gejala non spesifik seperti demam dan nyeri kepala, dimana kadang-kadang dapat sembuh sendiri. Dalam perjalanan penyakit, terdapat gejala-gejala lain seperti penurunan kesadaran, perubahan tingkah laku, defisit neurologis fokal, kejang dan kaku kuduk. Gejala ini ditemukan pada sebagian besar etiologi, sehingga memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengenali etiologinya. 












Menilai faktor risiko infeksi
Paparan agen infeksi, melalui:
·   Perjalanan
·   Lingkungan
Cuaca dan musim
Penyakit  penyerta:
·   Disfungsi CMI (HIV, transplantasi organ)
·   Netropenia (kemoterapi kanker)
·   Diabetes
·   Alkoholisme
Agen profilaktik
 


Bagan diagnosis infeksi SSP
(dari: Scheld WM, Whitley RJ, Marra CM. Infection of the central nervous system,2004)
 

 

                                                                                                             








Neuroimaging
 
Text Box: Lakukan pemeriksaan fisik
Pertimbangkan keamanan dalam melakukan pungsi lumbal
Identifikasi  penyakit atau patologi penyerta
•	Pneumonia
•	Diare
Lesi kulit atau tulang











Tentukan kemungkinan lokasi infeksi
CSS
·   Meningitis akut
·   Meningitis sub akut atau kronik
·   Meningitis rekuren
Otak
·   Ensefalitis akut
·   Ensefalitis  kronik
·   Lesi desak ruang (space occupying lesions)
·   Sindrom yang diperantarai oleh toksin
·   Ensefalopati dengan infeksi sistemik
·   Sindrom post infeksi
·   Penyakit prion
Medulla spinalis
·   Ensefalomielitis akut
·   Ensefalomielitis kronik
·   Lesi desak ruang
·   Sindrom yang diperantarai oleh toksin
·   Sindrom post infeksi
 



Evaluasi CSS

 
 













Dasar diagnosis berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan penunjang :
         - Foto kepala.
         - CT - Scan kepala atau bila mungkin MRI.
             Pada CT Scan perlu diperhatikan bagian frontal inferior dan temporal.
         - Punksi lumbal (LP) untuk memeriksa gambaran CSS. Temuan pada CSS berupa:
·         Pleositosis (l0 - 2000sel/mm3).      * Pewarnaan Gram.
·         Sel PMN (tahap dini).                     * Kultur.
·         Protein meningkat.
·         Glukosa normal.
- Pemeriksaan EEG proses peradangan difus akan menghasilkan gambaran :
·         Bilateral slowing activity dengan spikes (kadang kadang).
·         Bila ada fokalisasi, fikirkan adanya abses otak.
  - Foto thoraks AP dilakukan untuk mendeteksi adanya pneumonia oleh karena infeksi mikoplasma dan infeksi klamidia.

1.7 Diagnosa banding
          - 'Partial treated bacterial meningitis'.
          - Meningitis tbc.
          - Meningitis kriptokokus (fungal).
          - Suppurasi para-meningeal (Empiema).
          - Abses Otak.
          - Toksin.
1.8 Penatalaksanaan
 Umum : - Pelihara lancarnya jalan nafas (maintenance airway).
               - Keseimbangan cairan.
               - Pemberian makanan parenteral.
               - Perawatan kulit.
Spesifik : - Antikonvulsan (diberikan Fenitoin).
                       - Anti edema (Mannitol 20% dengan dosis 0,25 gr/Kg BB/8 jam, atau Gliserol)) minimal selama 10 hari.
                - Kortikosteroid (kortison).

1.      Ensefalitis supurativa
-          Ampisilin 4 x 3-4 g per oral selama 10 hari
-          Cloramphenicol 4 x 1g /hr IV, selama 10 hari
2.      Ensefalitis syphilis
Penisilin G 12-24 juta unit/hari dibagi 6 dosis selama 14 hari
Penisilin prokain G 2,4 juta unit/hari IM + probenesid 4 x 500 mg per oral selama 14 hari
Bila alergi penicillin:
-          Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari
-          Eritromisin 4 x 500 mg per oral selama 30 hari
-          Cloramfenicol 4 x 1 g IV selama 6 minggu
-          Seftriaxon 2g intravena/ intramuscular selama 14 hari
3.      Ensefalitis Virus
-          Pengobatan simptomatis
-          Analgetik dan antipiretik : Asam mefenamat 4 x 500 mg
-          Antikonvulsi : Phenitoin 50 mg/ml IV 2 x sehari
-          Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis virus dengan penyebab herpes zoster-varisella.
Asiclovir 10mg/kgBB IV 3x/hr selama 10 hari atau 200mg peroral tiap 4 jam selama 10 hari.
4.      Ensefalitis karena parasit
Malaria serebral
Kinin 10 mg/kgBB dalam infus selama 4 jam, setiap 8 jam hingga tampak perbaikan.
Toxoplasmosis
Sulfadiasisn 100mg/kgBB per oral selama 1 bulan
Pirimetasin 1mg/kgBB per oral selama 1 bulan
Spiramisin 3 x 500 mg/hr
Amebiasis
Rifampisin 8 mg/KgBB/hr
5.      Ensefalitis karena fungus
Amfoterisisn 0,1-0,25 g/KgBB/hr IV 2 x/hr minimal 6 minggu
Mikonazol
6.      Riketsia serebri
Cloramphenicol 4 x 1 g IV selama 10 hari
Tetrasiklin 4 x 500 mg per oral selama 10 hari.

1.9  Prognosis
Ensefalitis supurativa angka kematian dapat mencapai 50%



Diskusi
                 Ensefalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti bakteri, virus, parasit, fungus dan riketsia. Dalam teorinya secara umum gejala berupa trias ensefalitis ; demam, kejang, kesadaran menurun. Pada pasien yang dilaporkan yaitu laki-laki, umur 35 tahun dengan diagnosis klinis observasi kejang umum dan suspek encephalitis dengan diagnosis sekunder otitis media supuratif kronik maligna auris dextra ditemukan ketiga tria tersebut dengan anamnesa berupa kejang berulang sejak 24 jam yang lalu, sakit kepala yang hilang timbul sejak 2 minggu yang lalu, demam sejak 2 minggu yang lalu, ada riwayat keluar cairan dari telinga kanan warna hijau kekuningan, agak kental dan berbau sejak 2 bulan yang lalu.
                 Dan dari pemeriksaan fisik terdapatnya penurunan kesadaran, defisit neurologis fokal, dan kejang menunjukkan adanya abnormalitas struktural SSP yang mungkin berisiko terjadinya herniasi otak atau medula spinalis setelah pungsi lumbal. Pada pasien ini didapatkan penurunan kesadaran yaitu dengan GCS 14. Identifikasi penting lainnya adalah mengenali gejala penyerta infeksi SSP seperti pneumonia, diare, lesi di kulit atau tulang, kelainan telinga yang dapat membantu mengenali etiologi infeksi. Didapatkan Keluar cairan sekret mukopurulen dari meatus auris dextra yang berbau. Dan yang paling utama, pemeriksaan neurologik dapat menunjukkan lokasi infeksi yang paling mungkin, apakah di ruang cairan serebrospinal (CSS), otak, atau medula spinalis, berdasarkan sindrom yang ditemukan. Pasien ini tidak ada ditemukan tanda-tanda rangsangan meningeal, peningkatan TIK dan deficit neurologis.
Untuk diagnosis pasti diperlukan dilakukan pemeriksaan CT Scan, pemeriksaan darah Rutin, kadar elektrolit, lumbal punksi,  EEG dan Funduscopy serta audiometric untuk menentukan fungsi pendengaran. Yang diharapkan dari hasil lumbal pungsi antara lain ; pleositosis (l0 - 2000sel/mm3), sel PMN (tahap dini), protein meningkat dan glukosa normal. Pada pemeriksaan EEG proses peradangan difus akan menghasilkan gambaran bilateral slowing activity dengan spikes.
                  Penatalaksanaan pasien ini adalah dengan terapi umum O2 4-5 liter/menit, kontrol tekanan darah dan frekuensi jantung ,  Infus Asering 12 jam / kolf, tinggikan kepala 300, awasi tanda-tanda oedem otak, pasang kateter, balance cairan dan diet MB 1900 kkal. Terapi khusus yang diberikan adalah  Amphicillin  4 x 3 gr intravena, metronidazol 3 x 500mg per oral, fenitoin 3x100 mg per oral,    Kortikosteroid tappering off,  H2O2 3% tetes telinga kanan 5x1 tetes/ hari sampai tidak keluar sekret dan Mastoidektomi timpanoplasti.
















Menilai faktor risiko infeksi
Paparan agen infeksi, melalui:
·   Perjalanan
·   Lingkungan
Cuaca dan musim
Penyakit  penyerta:
·   Disfungsi CMI (HIV, transplantasi organ)
·   Netropenia (kemoterapi kanker)
·   Diabetes
·   Alkoholisme
Agen profilaktik
 
 

tweets

temen-temen

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget