19 Juli 2010

Terminology untuk infertilitas

Teman2, buat mudahnya emang googling aja sih, kalo baca Dorland n buku teks lebih bagus lagi.

Ni hasil googling ce


 

Pil kontasepsi : Pil / tablet kontrasepsi mengandung hormon sintetik yang berfungsi untuk mencegah pengeluaran sel telur dari indung telur dan mengentalkan

cairan leher Rahim.Sehingga menghambat sperma untuk masuk lebih jauh ke dalam Rahim.Pil Kontrasepsi ini dipasaran tersedia dalam berbagai jenis / merek de-

ngan berbagai macam komposisi kadar hormonnya.Pada umumnya pil ini terdiri dari 28 pil  yang terdiri dari 21 pil yang berisi hormon dan 7 pil yang tidak berisi hormon.

Pemakai diharuskan minum pil tsb setiap hari 1 pil dimulai dengan pil dengan tanda urutan pertama Efektifitas pil ini dapat mencapai  98 - 99 persen ,pil ini dinyatakan aman

selama pemakaian dibawah pengawasan dokter


 

Infertilitas : sulit untuk bisa hamil, Gangguan keseimbangan hormon merupakan penyebab terbanyak. Penyebab lain yang mungkin adalah pemakaian obat2an tertentu dalam jangka panjang. Obat golongan steroid serta pil KB kadang2 dapat menyebabkannya.

DUB:

Dismenorea:

Endometriosis: Endometriosis merupakan kondisi medis pada wanita yang ditandai dengan tumbuhnya sel endometrium di luar kandung rahim. Kandung rahim dilapisi oleh sel endometrium yang sangat berpengaruh terhadap hormon wanita. Normalnya, sel endometrium rahim akan menebal selama siklus kewanitaan berlangsung agar nantinya siap untuk menerima hasil pembuahan antara sel telur dan sperma. Bila sel telur tidak mengalami pembuahan, maka sel endometrium yang menebal akan meluruh dan keluar sebagai darah menstruasi.

Pada endometriosis, sel endometrium yang semula berada dalam rahim akan berpindah dan tumbuh di luar kandung rahim. Sel ini bisa saja tumbuh dan berpindah ke ovarium, saluran telur (tuba fallopi), belakang rahim, ligamentum uterus bahkan dapat sampai ke usus dan kandung kencing. Sel endometrium ini memiliki respon yang sama seperti sel endometrium pada rahim dan sangat berpengaruh terhadap hormon kewanitaan. Pada saat menstruasi berlangsung, sel-sel endometrium yang berpindah ini akan mengelupas dan menimbulkan perasaan nyeri di sekitar panggul.

Fluor albus: keputihan yang pada skeario bisa saja disebabkan oleh sifilis yang ditularkan suaminya

Aborsi :


 

Ada info tambahan tentang aborsi (sumber : Aborsi Legal di UU Kesehatan No 36 Tahun 2009

Disahkannya Undang-Undang Kesehatan yang baru menimbulkan kontroversi di berbagai lapisan masyarakat. Adanya pasal yang mengatur mengenai aborsi dalam praktek medis mengundang berbagai reaksi.

Berikut petikan tentang pasal-pasal mengenai aborsi

Pasal 75
(1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
(2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban
perkosaan;
(3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan
yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.



Ini penjelasan tentang pasal-pasal tersebut

Pasal 75
Ayat (1)
Cukup jelas
Ayat (2)
Cukup jelas
Ayat (3)
Yang dimaksud dengan konselor adalah setiap orang yang telah memiliki sertifikat sebagai konselor melalui pendidikan dan pelatihan. Yang dapat menjadi konselor adalah dokter, psikolog, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan setiap orang yang mempunyai minat dan memiliki keterampilan untuk itu.
Ayat (4)
Cukup jelas

Pasal 76
Cukup jelas

Pasal 77
Yang dimaksud dengan praktik aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab adalah aborsi yang dilakukan dengan paksaan dan tanpa persetujuan perempuan yang bersangkutan, yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang tidak profesional, tanpa mengikuti standar profesi dan pelayanan yang berlaku, diskriminatif; atau lebih mengutamakan imbalan materi dari pada indikasi medis.


 


 


 

Pasangan infertil ini bisa menjalani HSG ( Histerosalfingografi)

Pada pasangan yang infertil (tidak subur), sering dilakukan pemeriksaan yang dinamakan HSG (Histero-salpingo-grafi). HSG dilakukan guna mendeteksi kondisi rahim dan saluran indung telur. HSG mempergunakan sinar X dan cairan khusus yang memberikan reaksi warna putih jika di beri sinar X, sehingga akan "tercetak" bentuk rahim dan saluran indung telur (tuba). Sehingga dokter dapat menentukan ada tidaknya kerusakan atau sumbatan pada saluran reproduksi dimaksud.

Disamping itu adad beberapa kelainan yang bisa dideteksi dengan HSG:
* Mioma uteri
* Polip rahim
* Adesi (perlengketan) atau jaringan ikat
* Endometriosis

HSG dikerjakan pada wanita yang menjalani pemeriksaan kesuburan. Setiap wanita yang mencari pengobatan untuk bisa hamil harus ,menjalani pemeriksaan ini. Disamping untuk kelainan rahim dan tuba, ternyata HSG juga meningkatkan angka kehamilan pada sejumlah wanita, karena pemeriksaan HSG membantu membersihkan dan membuka sumbatan tuba yang ringan.

Prosedur HSG dilakukan di bagian radiologi (bagian rontgen) secara rawat jalan. Prosedurnya sangat cepat sekali, hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja. Prosedurnya sebagai berikut:

Sebagaimana tindakan diagnostik, ada komplikasi/efek samping yang timbul akibat HSG. Tetapi sangat jarang (hanya 1%) seperti: spotting, pingsan, infeksi rahim serta reaksi alergi zat pewarna rontgen. Untuk meminimalisir efek ini, biasanya dalam zat pewarna kadang juga sudah ditambahkan antibiotik, anti alergi serta anti kejang saluran peranakan.


Hasil HSG

Hasil normal berupa tidak adanya sumbatan pada kedua tuba (tuba paten) serta bentuk dan ukuran rahim yang normal. Hasil tidak normal yang mungkin ditemukan adalah sumbatan pada tuba (non-paten tuba), adanya adesi pada dinding rahim (ada bagian yang saling berlengketan) serta bentuk rahim yang tidak seperti biasanya.

Jika hasil HSG normal, maka diperlukan pemeriksaan lanjutan lainnya guna mencari penyebab ketidaksuburannya, sedangkan jika hasilnya tidak normal maka dibutuhkan tindakan medis guna mengatasi kelainan yang ada seperti jika terjadi sumbatan tuba perlu dulakukan tindakan peniupan tuba (hdrotubasi atau pertubasi).

17 Juli 2010

Soal tiroid

1 . In a patient with iodine-deficiency goiter who moves from an iodine deficient

area to an iodine-replete area, the occurrence of hyperthyroidism

most likely represents

a. Graves' disease

b. Jod-Basedow phenomenon

c. Choriocarcinoma

d. Struma ovarii

e. Toxic multinodular goiter

(ans: Thyrotoxicosis can have several etiologies. Iodine-induced hyperthyroidism is called the Jod-

Basedow phenomenon and can occur in patients with endemic goiter who

move to areas where iodine is plentiful.)


2. Thyrotoxicosis and uniformly increased radioactive iodine uptake in

the thyroid can occur without any thyrotropin receptor antibodies or any

thyroid autoimmunity in

a. Graves' disease

b. Jod-Basedow phenomenon

c. Choriocarcinoma

d. Struma ovarii

e. Toxic multinodular goiter

(ans: Diffusely increased radioiodine uptake in the thyroid accompanying thyrotoxicosis usually

indicates Graves' disease, in which the thyrotropin receptors are stimulated

by antibodies. However, in patients with choriocarcinoma high levels of

human chorionic gonadotropin can also stimulate the thyrotropin receptor

and produce the same finding.)


3. Pretibial myxedema is associated with

a. Graves' disease

b. Jod-Basedow phenomenon

c. Choriocarcinoma

d. Struma ovarii

e. Toxic multinodular goiter

(ans: Graves' disease is associated with related autoimmune phenomena in other

tissues such as Graves' ophthalmopathy in the orbit and pretibial myxedema

in the skin.)

4. Infiltration of orbital soft tissue and extraocular muscles with lymphocytes,

mucopolysaccharides, and fluid is seen with

a. Graves' disease

b. Jod-Basedow phenomenon

c. Choriocarcinoma

d. Struma ovarii

e. Toxic multinodular goiter


5. Thyrotoxicosis with a low uptake of iodine in the thyroid bed but

uptake in the pelvis can be seen with

a. Graves' disease

b. Jod-Basedow phenomenon

c. Choriocarcinoma

d. Struma ovarii

e. Toxic multinodular goiter

(ans: Ovarian teratomas can

contain thyroid tissue (struma ovarii) and rarely cause thyrotoxicosis with

excess thyroid hormone produced by the teratoma rather than the thyroid)


6. The most common cause of spontaneous hypothyroidism in the

U.S. is

a. Iodine deficiency

b. Lithium

c. Hashimoto's thyroiditis

d. Propylthiouracil

e. Toxic multinodular goiter

(ans: Hypothyroidism can result from several causes including congenital

defects, chronic autoimmune thyroiditis (Hashimoto's thyroiditis), medications

(thionamides, lithium, iodine), other iatrogenic causes, iodine deficiency,

and hypothalamic or pituitary insufficiency. Chronic autoimmune

thyroiditis is the most common cause of hypothyroidism in the U.S.)


7. The most common cause of goiter in developing nations is

a. Iodine deficiency

b. Lithium

c. Hashimoto's thyroiditis

d. Propylthiouracil

e. Toxic multinodular goiter

(ans: World-wide, iodine deficiency (endemic) goiter is very common. It

is not common in the United States or other countries where salt is fortified

with iodine.)


8. Endemic goiter results from

a. Iodine deficiency

b. Lithium

c. Hashimoto's thyroiditis

d. Propylthiouracil

e. Toxic multinodular goiter

9. The conversion of T4 to T3 is inhibited by

a. Iodine deficiency

b. Lithium

c. Hashimoto's thyroiditis

d. Propylthiouracil

e. Toxic multinodular goiter

(ans: Propylthiouracil, propranolol, glucocorticoids, and iodine inhibit

conversion of T4 to T3.)


10. High levels of thyroidal peroxidase antibody are found with

a. Iodine deficiency

b. Lithium

c. Hashimoto's thyroiditis

d. Propylthiouracil

e. Toxic multinodular goiter

(ans: Chronic autoimmune thyroiditis (Hashimoto's thyroiditis) is the

most common cause of hypothyroidism in the U.S. and it is associated with

high levels of thyroid autoantibodies)


11. A patient without symptoms and without a recent illness is found to

have a normal free T4 and elevated TSH which are confirmed on repeated

measurements. The most likely explanation is

a. Hyperthyroidism

b. Nonthyroidal illness (sick euthyroidism)

c. Estrogen therapy

d. Subclinical hypothyroidism

e. Familial (euthyroid) dysalbuminenic hyperthyroxinemia

(ans: Laboratory measurements of thyroid hormones and thyroidstimulating

hormone have proven invaluable in determining the true functional

status of the thyroid gland. However, various medications and

nonthyroidal illnesses can alter certain values, so usually a combination of

values is used to make a diagnosis. TSH values tend to be the most reliable

in the absence of hypothalamic or pituitary disease, and mild elevation is

seen in hypothyroidism before free T4 declines)


12. The pattern of normal TSH, normal T4, and low T3 is most consistent

with

a. Hyperthyroidism

b. Nonthyroidal illness (sick euthyroidism)

c. Estrogen therapy

d. Subclinical hypothyroidism

e. Familial (euthyroid) dysalbuminenic hyperthyroxinemia

(ans: In severe nonthyroidal illness, T3 declines first, followed by T4

if the disease is severe enough, but TSH is usually normal)


12. A low TSH, high T4, and high T3 suggests

a. Hyperthyroidism

b. Nonthyroidal illness (sick euthyroidism)

c. Estrogen therapy

d. Subclinical hypothyroidism

e. Familial (euthyroid) dysalbuminenic hyperthyroxinemia

13. The pattern of normal TSH, high T4, and high T3 is seen often with

a. Hyperthyroidism

b. Nonthyroidal illness (sick euthyroidism)

c. Estrogen therapy

d. Subclinical hypothyroidism

e. Familial (euthyroid) dysalbuminenic hyperthyroxinemia

(ans: Estrogens increase thyroxine-binding globulin, elevating

total T4 and T3, whereas free T4, free T3, and TSH remain normal)


14. A patient with a low TSH and high T3 most likely has

a. Hyperthyroidism

b. Nonthyroidal illness (sick euthyroidism)

c. Estrogen therapy

d. Subclinical hypothyroidism

e. Familial (euthyroid) dysalbuminenic hyperthyroxinemia

(ans: Low TSH with high T4 and T3 or T3 alone (T3 toxicosis) reflects

hyperthyroidism.)


15. The most common variety of thyroid cancer is

a. Thyroid lymphoma

b. Medullary thyroid carcinoma

c. Papillary thyroid carcinoma

d. Anaplastic thyroid carcinoma

e. Follicular thyroid carcinoma

(ans: Thyroid cancers may arise from the thyroid follicular epithelium, the parafollicular C cells, or

lymphoid cells in the thyroid. Papillary carcinomas, including tumors with

mixed papillary and follicular elements, are most common and account for

70% of thyroid cancers. Fifteen percent of thyroid cancers have purely follicular

histology.)


16. A patient with thyroid cancer is told that he has a life expectancy of

less than 6 months from diagnosis. The variety of thyroid cancer with this

prognosis is

a. Thyroid lymphoma

b. Medullary thyroid carcinoma

c. Papillary thyroid carcinoma

d. Anaplastic thyroid carcinoma

e. Follicular thyroid carcinoma

(ans: The prognosis of anaplastic cancers, which likely represent dedifferentiation of better differentiated

papillary or follicular carcinomas, is very poor with average survival

less than 6 months.)


17. A patient with chronic autoimmune (Hashimoto's) thyroiditis develops

a rapidly enlarging thyroid mass. Most likely this is

a. Thyroid lymphoma

b. Medullary thyroid carcinoma

c. Papillary thyroid carcinoma

d. Anaplastic thyroid carcinoma

e. Follicular thyroid carcinoma

(ans: Thyroid lymphomas constitute about 5% of thyroid cancers and occur most often in patients

with Hashimoto's thyroiditis. Lymphomas and anaplastic carcinomas tend to grow rapidly.)



18. Elevated plasma calcitonin is seen with

a. Thyroid lymphoma

b. Medullary thyroid carcinoma

c. Papillary thyroid carcinoma

d. Anaplastic thyroid carcinoma

e. Follicular thyroid carcinoma

(ans: Medullary thyroid carcinomas secrete calcitonin, arise in the calcitonin-producing parafollicular

cells, and account for about 5% of thyroid cancers.)

19. A 40-year-old patient with a recent viral infection presents with a significantly

tender gland, low radioiodine uptake, and signs and symptoms

of thyrotoxicosis. This presentation is most likely

a. Graves' disease

b. Subacute thyroiditis

c. Toxic multinodular goiter

d. Hashimoto's thyroiditis

e. Toxic adenoma

(ans: The pattern and amount of radioiodine uptake on 123I scan is fundamental to

the correct diagnosis of thyrotoxicosis. Low-uptake thyrotoxicosis can

occur when there is destruction of the thyroid follicles with release of thyroid

hormone, such as in subacute thyroiditis, which usually presents as

an exquisitely painful gland. Iodine-induced hyperthyroidism, factitious

hyperthyroidism, and painless (silent) thyroiditis also cause low-uptake

thyrotoxicosis.)


20. A 65-year-old man presents with signs and symptoms of thyrotoxicosis.

His radioiodine scan and 24-h uptake show a patchy pattern but normal

amount of radioiodine uptake. This presentation is most consistent

with

a. Graves' disease

b. Subacute thyroiditis

c. Toxic multinodular goiter

d. Hashimoto's thyroiditis

e. Toxic adenoma

(ans: Patchy radioiodine uptake is common in multinodular goiter and

Hashimoto's thyroiditis, but hyperthyroidism with normal or increased

uptake typifies toxic multinodular goiter)


389. A 30-year-old woman with thyrotoxicosis has a diffusely enlarged

gland on palpation of the neck. Her thyroid scan and 24-h uptake show

uniformity of uptake and an increased percentage uptake. This patient has

a. Graves' disease

b. Subacute thyroiditis

c. Toxic multinodular goiter

d. Hashimoto's thyroiditis

e. Toxic adenoma

(ans: In Graves' disease, the uptake tends to be increased and more uniform.

Uptake may be increased without thyrotoxicosis in conditions characterized

by defects in organification of iodine, such as is found in some patients

with Hashimoto's thyroiditis, but the uptake tends to be patchy.)


sumber : PreTest® Self-Assessment and Review

Second Edition

Maurice A. Mufson, M.D., M.A.C.P.

Soal reproduksi dan hormon

reproduksi

1. Seorang wanita G3P2A0 40 th, 30 minggu, nyeri kepala, tangan kesemutan, penglihatan

kabur, TD: 170/100, kaki bengkak, Diagnosis:

a. Eklampsi c. hipertiroid e. Preeklamsi berat

b. Hipertensi d. nefrotik sindrom


2. Hamil 28 minggu, nyeri pinggang bawah, cairan dari vagina (+), warna merah hitam.

Diagnosa :

a. Plasenta previa c. KPSW e. Prolong labour

b. Solusio placenta d. Preterm labour


3. Seorang G3P2A1 usia 27 tahun hamil 7 bulan. Uterus lebih besar dari usia kehamilan,

bagian anak sulit diraba, teraba 3 bagian besar, dan 2 ballotement. Diagnosis:

a. giant baby c. hidramnion e. hidrops fetalis

b. gemeli d. hidrocephalus


4. Seorang wanita, G2P1A0, hamil 12 minggu, datang untuk pemeriksaan rutin kehamilan.

Riwayat kehamilan pertama lahir spontan, hidup, berat badan normal. Saat ini anak telah

berusia 3 tahun, sehat. Anamnesis tambahan untuk risiko anemia pada ibu

a. Menanyakan kebiasaan dietnya

b. Riwayat anemia defisiensi Zn saat kehamilan yang lalu

c. Apakah anak yang sekarang anemia

d. Jenis kontrasepsi yang digunakan sebelum kehamilan

e. Riwayat minum obat-obatan sebelum dan selama kehamilan ini



5. Wanita mau melahirkan, sudah lewat fase laten....

fase aktif akselerasi


6. Wanita 28 tahun nyeri perut tiba-tiba, telat haid 2 bulan. (Ada ciri-ciri KET). Nyeri

disebabkan:

massa pada cavum Douglas yang nyeri dan berdarah



7. Pemeriksaan untuk diagnosis posisi punggung fetus

a. Leopold I c. Leopold IV e. Leopold III

b. Leopold II d. Periksa dalam


8. wanita 25 tahun G1P0A0 hamil 8 bulan dibawa ke bidan UGD karena hipertensi dan

tungkai bengkak. Riwayat kejang (-), tekanan darah 160/110; edema, proteinuria.

Bagaimana penanganannya?

a. Infus D5% + MgSO4 d. Fenobarbital 30 mg oral

b. Diazepam 10 mg i.m. e. Observasi ketat di ICU

c. MgSO4 4 gram dalam D40% i.m.


9. Wanita 38th, punya 3 anak, 1 anak masih balita, datang ke praktek dokter untuk KB, alasan

yang tepat untuk KB nya

a. Menjarangkan kehamilan d. Menerapkan NKKBS

b. Menunda kehamilan e. Menjaga ibu tetap sehat

c. Menyudahi jumlah anak


10. Wanita 22th, nyeri perut hebat (syok ), TD 80/60, N teraba lemah, palpasi: abd tegang,

amenore 2 bln. Diagnosa

a. Peritonitis appendix d. Salphinggitis akut

b. Peritonitis umum e. Abortus iminens

c. Ruptur tuba


11. Seorang wanita 30 tahun sudah menikah 6 tahun, haid terlambat 2 bulan. KU= pucat,

lemas, akral dingin dan mengeluh nyeri perut tiba2. TD: 90/50 mmhg, nadi 100x/ menit,

RR= 24x/menit, Hb: 7 g/dl. Keadaan yg paling mungkin pada pasien :

a. KET c. Kolestitis akut e. Cystitis

b. Appendicitis acute d. Pankreatitis


12. Wanita 30 tahun G3P2A0 mengeluh mulas-mulas sejak 20 jam. Kehamilan cukup bulan,

sudah dipimpin mengedan selama 3 jam oleh paraji (dukun beranak) Kepala anak sudah

engaged di H4. Tindakan yang harus dilakukan:

a. SC c. Vakum e. observasi

b. pimpin mengedan d. ekstraksi forceps


13. Seorang wanita ingin memeriksakan kehamilannya (8 bulan). Dari pemeriksaan: TD

150/90 mmHg, pemeriksaan urin +1. Pada pasien ini menderita:

a. tidak ada kelainan c. PEB e. Eklampsia

b. PER d. Hipertensi

14. Ibu P2A1, setelah KET 1 bln, dtg untuk KB 3 thn. Suami tdk mau kondom/pantang berkala.

KB efektif

a. IUD (KI) b. KB Depoprovera c. KB Estrogen d. KB Pil

15. ♀, G2P1, mengalami KET. 1 bulan kemudian ingin memakai kontrasepsi yang efektif

supaya tidak hamil. Suami tidak ingin memakai kondom dan pantang berkala. Alat

kontrasepsi apakah yang efektif...

a. Kontrasepsi IUD b. Kontrasepsi levodopa

c. Kontrasepsi susuk d. Kontrasepsi kombinasi (cycloform)


16. Wanita dipimpin mengedan, 3 jam, his masih bagus, panggul relatif sempit. Tindakan

a. Partus percobaan b. SC c. induksi

17. Hamil 5 bulan pusing sebelah obat yang anda berikan?

a. Meloxicam b. Ergotamin cafein

18. Wanita 25 thn G1P0A0 umur kehamilan 32 minggu, janin dalam keadaan sehat. Datang ke

UGD RS dengan keluhan sesak nafas & disertai mengi sejak 1 jam yll. Px merasakan

keluhan ini setiap bulan sejak kehamilannya. Pd pemx fisik didapatkan wheezing &

ekspirasi memanjang. Kemudian konsul ke dokter obsgyn dan diperkirakan akan terjadi

persalinan dini. Apa obat yg diberikan untuk mencegah efek buruk dari persalinan dini ini?

a. Dexamethason c. Metil prednisolon

b. Prednison d. Hidrokortison


19.. Seorang wanita hamil aterm G2P1A0 datang dengan keluhan merasa mules sejak 3 jam

yang lalu. Anda bermaksud memantau kontraksi uterus, dimanakah posisi tangan anda

saat diletakan di perut ibu?

a. Di funfus uteri c. Di sisi perut ibu e. Disekitar pusat ibu

b. Di atas simfisis d. Di pinggang janin


20. Wanita 40 tahun mengalami keputihan sudah lama. Dari hasil pap smear ditemukan

leukosit dan displasia sedang, kemungkinan penyebabnya?

a. HPV b. HSV c. CMV d. HIV e. HBV

21. Wanita 19 tahun G2P1A0 hamil aterm, fase aktif, 4 jam pembukaan 4 cm, baru pecah

ketuban, posisi kepala di stasiun 3, DJJ 140 x/menit. Tindakan kita

A. Ambulasi pasien

B. Rujuk untuk sesar

C. Oksitosin + oksigen

D. Tunggu 12 jam-tdk ada perubahan beri oksitosin+oksigen

22. Wanita 25 tahun, riwayat kontak seksual ± 3 minggu yang lalu. Timbul tukak, hilang sendiri

tanpa berobat. Tiba-tiba 2 minggu kemudian muncul bintik-bintik merah menyebar ke

seluruh tubuhnya. Diagnosis keadaan di atas adalah

A. Sifilis D. Limfogranuloma venerum

B. Gonorrhoe E. ….

C. Ulkus molle

23. Obat untuk relaksasi uterus adalah …

A. Ergonovin; C. Disopros: E. Papaverin

B. Karbopros; D. Oksitosin;

24. Seorang wanita TD= 100/60, nadi= 100 x/mnt, suhu, 37 C, TFU setinggi pusat, lunak,

balotement (-), Djj (-), flu….pervaginam (+), Hb= 8. Pemeriksaan apa yang diperlukan?

a. Estrogen c. Prolaktin e. FSH

b. Progesteron d. HCG

25. Seorang wanita mengalami stress karena lupa memakai kondom waktu berhubungan

seksual dengan suami pada hari ke-11 dari hari pertama haid. Wanita ini minta obat KB

agar tidak hamil. Mekanisme obat KB yang tepat untuk kasus ini adalah

a. mencegah pengeluaran FSH d. induksi terjadinya endometritis

b. mencegah pengeluaran LH e. peningkatan viskositaslendir serviks

c. induksi terjadinya atropi endometrium

26. Hamil 10 minggu, Hb:10. Penatalaksanaan?

a. tidak diberi apa-apa d. vit C >> meningkatkan absorbsi

b. besi profilaksis 100mg>> (<10) e. nasehat u/makan byk mengandung besi

c. pemeriksaan feritin


27. Perdarahan pervaginam, KU baik, T: 100/60. N: 100x/m. fundus pertengahan pusat dan

proc. Xiphoideus. Perut tegang dan nyeri, bagian janin sukar diraba, Hb: 8, gangguan yang

terjadi:

a. gangguan elektrolit d. gangguan pembekuan darah

b. gangguan perfusi e. saraf pusat

c. gangguan metabolism

28. G4P1A2 keluar darah, T: 120/80, N: 100x/m, RR: 20, S: 37, perdarahan sedikit-sedikit, sakit

perut bagian bawah, uterus UK 12 minggu, ostium tertutup, fluktus (+), adneksa tidak

teraba, Hb: 9,8. Diagnosis:

a. abortus insipien c. abortus komplit e. abortus imminens

b. abortus inkomplit d. rekuren abortus


29. Seorang P1A0 menggunakan inj. Provera kemudian mengeluhkan timbul perdarahan

selama 10 hari, apa yang Anda sarankan terhadap pasien tersebut?

menghentikan pemberian inj. Provera


30. Seorang G5P4A0 perdarahan sangat banyak saat melahirkan, uterus setinggi pusat dan

lembek, menurut anda causa hal tersebut di atas yang paling tepat adalah:

atonia uteri


31. Seorang G2P1A0, UI: 8 bulan, datang dengan perdarahan, uterus tampak tegang, bagianbagian

kecil janin sulit diraba, nyeri solusi apa yang diperlukan:

SC, amniotomi, infus oksitosin


32.. Seorang G2P1A0 UK: 7 bulan, perdarahan warna merah kecoklatan, uterus lunak, tidak

nyeri yang paling mungkin adalah?

plasenta previa, vasa previa, solutio plasenta.??


33. Pasien datang dengan bengkak pada kaki, hipertensi, G1P0A0. Tips apa yang bisa

diberikan?

tirah baring, diuretik, nifedipin 10-20mg diulangi tiap 30 menit

34. Pemberian obat yang tepat pada pasien dewasa dengan diagnosis inkontinensia urin:

a. estrogen c. diuretika e. digitalis

b. muscle relaxan d. β blocker

35. 20 tahun, primi, hamil 37 minggu. T = 180/110, udem anasarka. AKI tinggi selain

disebabkan penyakit di atas adalah...

a. DM c. tumor payudara

b. perdarahan post partum d. tumor serviks

hormon

1. Seorang bapak umur 50th dahulu rajin olah raga saat ini sdh tidak rajin olah raga lagi,

akhir-akhir ini kepikiran tetangga yang menderita dm, tapi bapak tersebut tidak terdapat

klinis DM, riwayat Keluarga DM (+). Apa saran anda?

a. Cek GDS c. Langsung berikan OAD oral

b. Lanjutkan olah raga rutin lagi

2. Seorang laki-laki, 60 tahun menderita DM sejak 10 tahun yang lalu, pemeriksaan Lab

reduksi urin +++, GDP 250 mg/dl dan 2 JPP 450 mg/dl. Apa penyebab meningkatnya

kadar glukosa darah 2 JPP?

a. Terlalu banyak konsumsi karbohidrat

b. Terlambat glikogenesis, lipogenesis, dan glikolisis

c. Meningkatnya glikogenesis dan glukoneogenesis

d. Terhambat masuknya glukosa dalam sel hepatosit

e. Ginjal tidak mampu mensekresi gula dalam darah

3. Wanita 50 tahun, suka kencing, makan, berat badan turun, BSS 300 mg/dl. Bila dibiarkan,

efek mikroangiopati yang timbul berupa

A. Miokardiopati D. ….

B. Nefropati diabetic E. ….

C. Stroke otak

4. Wanita 54 tahun sulit menahan menahan BAK, badan kurus, sering haus, penglihatan

kabur, pemeriksaan oftalmologi ada kekeruhan lensa mata kiri, BSS 380 mg/dL. Zat apa

yang dijumpai di urin?

A. Glukosa D. Eritrosit

B. Leukosit E. Kristal Ca oksalat

C. Protein

5. Wanita 22 tahun disuntik insulin karena DM seumur hidup. Kelainan metabolik yang

dijumpai?

A. Kerusakan sel β pankreas

B. Gangguan mekanisme sekresi insulin dari pankreas

C. Menurunkan jumlah reseptor insulin pada sel target

D. Perubahan kualitas reseptor insulin pada sel target

E. Menurunkan jumlah signaling molekul di sel target


6. Wanita 30 tahun, datang dengan keluhan utama dada berdebar selama 5 bulan, kurang

tidur, sepsis diare diobati sendiri. Minum pil KB, TD: 150/80 mmHg, N: 120 x/menit aritmia,

RR 16 x/menit. Ada benjolan di depan leher, ikut bergerak waktu menelan. Penyebab

aritmia pada keadaan ini adalah

A. Obat diare D. Kurang tidur

B. Sering diare E. Benjolan di leher

C. Pil KB


7. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis keadaan di atas adalah

A. Scanning leher D. T3, T4

B. EKG E. BMR

C. Iodium uptake

8. Seorang wanita hamil mengeluh adanya masa di leher depan sejak 3 tahun yang lalu, tidak

ada nyeri dan semakin membesar. Di kampungnya banyak yang menderita sakit seperti

ini. Diagnosis kelainan di atas adalah

A. Defisiensi akromium C. ….

B. Defisiensi zat iodium D…..

9. Wanita 30 tahun datang dengan benjolan pada leher depan. 1 minggu yang lalu menderita

nyeri dan demam. Tidak ada keluhan jantung berdebar dan berkeringat. Pemeriksaan fisik

mendapatkan masa bulat, kenyal, mudah digerakkan, ukuran 3x3x2 cm dan ikut bergerak

bila menelan. LED meningkat, leukositosis, T3 dan T4 meningkat. Diagnosis keadaan di

atas adalah

A. Goiter difusa toksik C. Goiter nodosa non toksik

B. Goiter nodosa toksik D. Karsinoma tiroid

10. Laki2 60th, berdebar-debar, BB turun, tapi nafsu makan meningkat, sulit tidur, sering emosi,

sering berkeringat. Pemeriksaan apa yang diusulkan?

a. EKG d. Kadar TSH dan T4 bebas

b. Urin rutin e. CT scan tiroid

c. Ro dada

11. Anak laki-laki 8 th. Gula darah 180. reduksi urine +2. badan tambah kurus padahal makan

minum banyak. Kenapa sering kencing?

a. krn banyak minum d. kadar gula darah urine meningkat

b. krn bnyk makan e. ISK

12. Pria 52 tahun menderita DM tipe 2 datang ke dokter untuk pemeriksaan rutin. Selama ini

pasien mendapatkan terapi diet dan latihan yang dijalankan dengan patuh. PF tidak

menunjukkan tanda-tanda abnormalitas. Hasil pemeriksaan lab menunjukkan peningkatan

kadar HbA1C. Penyebab paling mungkin?

a. Pemasukan glukosa ke dalam sel otot menurun

b. Kecepatan absorpsi usus menurun

c. Kecepatan absorpsi usus meningkat

d. Sekresi insulin pancreas menurun

e Sekresi insulin pancreas meningkat

13. Seorang perempuan berusia 32 tahun yang menderita diabetes mellitus tipe 1 mengalami

gagal ginjal progresif dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dialisis belum dilakukan pada

pasien ini. Pemeriksaan fisik tidak menunjukkan tanda-tanda abnormalitas. Hasil

pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar hemoglobin = 9 g/dl, hematokrit = 28 %,

m3. Apus darah tepi dan MCV 94 normositer dan normokromik.μmenunjukkan sel-sel

eritrosit Manakah jawaban di bawah ini yang paling mungkin sebagai penyebab kondisi

pasien tersebut ?

A) Perdarahan akut D) Defisiensi erythropoietin

B) Leukemia limfositik kronik E) Defisiensi enzim eritrosit

C) Anemia Sideroblast

14. Pria 35th, dirujuk ke klinik mata dari klinik endokrin. dia menderita DM sejak 10th yll, kadar

gula darah normal. pemeriksaan visus maupun luar mata normal. funduskopi: media jernih,

papil normal, retina datar, tidak ada neovascularization, dot haemorrhages (+), hard

exudates (+), macula edema (-), foveal reflex normal

apa diagnosis paling mungkin?

A. proliferative diabetic retinopathy D. Central retinal artery ocllution

B. nonproliferative diabetic retinopathy E. Retinal detachment

C. Central retinal vein occlution



Ps: sumber soal2 UKDI

Gutlak ya temen2.. ^_^ [ice]

11 Juli 2010

MOS or Ospek

Sunday, July 11, 2010, 2:13 pm

Wah…udah 11 juli aja nih, ntar malam final piala dunia, hmm.. nonton ga ya?tapi besok kan kuliah, ga usah deh… lagian juga ga jerman gini yang lolos, huhu.

Btw, temen2 udah pada libur ya?

Deu.. enaknya..saia belum

Hee… tapi emang liburan panjang kali ini emang singkat kayaknya, adek sepupu ce aja dia udah masuk sekolah besok, eh ngga ding, tadi udah sekolah.

Hah ngapain hari minggu sekolah?

Iya tu, sepupu ce tu, si Aqsa Accasa baru masuk SMP, n hari ini menjalani MOS (masa orientasi siswa) atawa ospek.

Hm… perasaan baru kemaren deh ce desak2an sama temen2 yang lain di jendela ruangan tata usaha SMPN 1Lubuk Alung buat daftar sekolah di sana…(perasaan aja dibawa2 ce..hahay)

Sekarang? Hoho, meski masa2 SMP itu begitu indah, ketika tawa masih begitu lepas, tapi ga asik juga ce ulang lagi, masa lalu itu indah buat dikenang bukan diulang, boi.

Anyway, tiap masuk SMP atau SMA atau kuliah kita pada awalnya emang harus di ospek, ce ga terlalu inget gimana prosesi ospek di SMP dulu, ingetnya kami nyanyi "kepala-pundak-lutut" aja di lapangan sama wakepsek, haha dasar memori ce payah.

Tapi, kalo SMA masih inget kok..

Kita tu harus dandan dengan atribut aneh yang ga jelas itu,

tapi kami lumayan standar lah

Kalung dari tutup botol yang digepengin(nyari tutup botol susah buanget waktu itu, banyak yang mungut sih), trus selempang yang ditempeli permen(sebel, permen kita abis dicopotin senior2 tiap kami lewat depan mereka, besoknya otomatis harus ditempel lagi yang baru) + foto,pake tas kardus dg tali rafia, trus pake papan nama, depannya nama beneran, belakangnya nama ga bener (hehe, istilahnya apa sih? Alias ya?), ce inget… ce inget…. Nama ga bener ce tu

"Cho Chang"

Haha, waktu itu masih jaman2nya keluar Harry potter 5, jadinya si Cho Chang masih keren lah (tapi pada akhirnya, u know..)

Entahlah nama itu norak ato gimananya, tapi masih banyak yang lebih norak dari itu, such us nyomot nama2 artis2 cakep, maunya ce sih make nama ce sendiri, kan udah keren(*pletak, aduh ada yang lempar nih, haha) pada akhirnya ce dipanggil " Cho Che" sama temen2 (hehe bisa jadi merek coklat baru nih).


Dimana2 ospek itu sama, peraturan utama yang harus diinget adalah:

Pasal 1 : senior ga pernah salah

Pasal 2: kalau senior salah, kembali ke pasal 1

Beuh…peraturan macam apa itu?

But, ce rasa ce ga patuh2 amat lah sama peraturan itu, apalagi kalo tindakan yang diluar batas kewajaran, ya ga boleh patuh juga.

Ospek itu ajang buat menambah keakraban

Bukan ajang utk menunjukkan kekuasaan dan kesenioritasan yang arogan

Kita juga ga bakal dihormatin kalo hanya dengan cara2 itu yang kita tunjukin, orang Cuma patuh saat itu aja, tapi besok2nya bisa aja jadi dendam trus kalo dia berani buat mbales gimana?

Jadi, buat yang senior, perlakukanlah junior itu seperti maunya kalian diperlakukan, ga jamannya lagi ospek itu dengan memperolok-olokan, kekerasan dan kekejaman , kita kan orang berpendidikan…

STOP HIV/AIDS SAMPAI DI SINI

Apakah Anda berpikiran sama dengan saya ketika mendengar HIV/AIDS menimpa seorang yang kita kenal kita akan langsung pesimis dengan vonis yang mematikan tersebut?. Saya berharapnya tidak, tetapi sayangnya memang banyak yang menganggap bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Lebih lanjut banyak juga yang menganggap penyakit ini sulit sekali untuk diberantas mata rantainya. Kenapa bisa seperti ini? Apakah yang sebenarnya terjadi?.

AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome itu sesungguhnya terjadi setelah virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyerang sistem kekebalan tubuh kita selama lima hingga sepuluh tahun atau lebih. Sistem kekebalan tubuh menjadi lemah, dan satu atau lebih penyakit dapat timbul. Karena lemahnya sistem kekebalan tubuh tadi, beberapa penyakit bisa menjadi lebih parah daripada biasanya. Penyakit infeksi yang serius ini dapat ditularkan melalui kontak cairan tubuh baik itu darah, cairan vagina dan yang lainnya yang berkontak dengan mukosa tubuh individu lainnya atau langsung masuk ke sirkulasi darah.

Berangkat dari cara penularan infeksi di atas, penyakit ini berkembang pesat ketika ia terjadi pada komunitas yang rentan seperti pekerja seks komersial, individu yang berganti-ganti pasangan seksual, pengguna jarum suntik narkoba dengan pemakaian bergantian dengan yang lain, paramedis yang menangani pasien AIDS dan secara tak sengaja terluka dengan peralatan yang sudah terkontaminasi cairan tubuh pasien tersebut, dan kemungkinan kecil untuk yang mendapatkan transfusi darah, karena PMI sudah ketat penyeleksiannya untuk darah dengan penyakit ini.

Tak dipungkiri meski baru 3 dekade HIV/AIDS ini banyak disebut sebagai penyebab kematian yang serius, sekarang tak berkurang sedikit pun penderitanya, semakin banyak orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) sekarang. Di Indonesia pada 2002 saja Departemen Kesehatan memperkirakan sudah ada 90 ribu – 130 ribu ODHA, bahkan Indonesia diramalkan menyaingi laju penyebaran penyakit ini di Myanmar dan Cina. Data di tahun 2006 sudah 4 juta penduduk dunia yang hidup dengan penyakit ini. Memang angka tersebut membuat kita bergidik takut, namun jumlah yang kecil tak pula menyebabkan kita bernapas lega. Di Sumatera Barat, di daerah dimana saya menetap sekarang, meski di tahun 2008 baru terdeteksi 600 ODHA, tetapi ini bukan hal yang wajar jika terjadi di daerah yang terkenal dengan adat dan masyarakat yang menjunjung tinggi sopan santun dan kemuliaan agama, bahkan falsafah kehidupan yang mengakarkan budaya di negeri Minang ini adalah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (adat bersendikan agama, agama bersendikan kitab Allah), maka sudah selayaknya kita pertanyakan dengan angka yang tinggi itu pada penyakit yang 90% penularannya dari hubungan seksual yang berisiko ini terjadi pada masyarakat yang seperti yang disebutkan di atas.

Lalu faktor apa yang menyebabkan melesatnya laju penyebaran penyakit yang notabene bukan penyakit infeksi biasa yang ditularkan oleh vektor hewan maupun bakteri dan parasit tetapi individu itu sendiri yang telah terinfeksi yang dapat menularkannya? Kenapa kita tidak berhasil memberantas atau setidaknya mengontrol penyebarannya?

Pengetahuan yang kurang tentang pencegahan penyakit ini pada orang dengan berlatarbelakang dari kalangan berpendidikan rendah dan hidup miskin maupun yang berkehidupan mapan namun tidak membekali dirinya terhadap hal ini juga berperan sangat besar dalam meningkatnya kejadian infeksi ini apalagi jika mereka juga tidak dapat mengakses pengobatan terhadap penyakit ini.

Seringnya memang penyakit ini sudah terlambat dideteksi, ketika viral load
sudah tinggi barulah timbul gejala-gejala seperti demam yang tidak sembuh-sembuh (persisten), timbul jamur di mulut dan ada penyakit infeksi menular seksual (IMS), dan ketika itulah baru seseorang akan memeriksakan dirinya pada dokter padahal beberapa waktu sebelumnya bisa saja ketika viral load masih dalam tahapan sedang dia telah menularkannya pada pasangannya yang negatif HIV. Atau lebih tragisnya seorang wanita yang baru tahu tentang status HIV nya setelah ia hamil, maka sudah dapat dibayangkan bagaimana nasib bayi yang tak berdosa yang dikandungnya.

Pengobatan sedini mungkin sangat baik untuk ramalan perjalanan penyakit (prognosis) HIV ini, jika saja terdeteksi cepat dan belum terjadinya keadaan AIDS itu maka Anti Retroviral (ART) sangat mangkus dalam menghambat invasi dari HIV itu dalam melumpuhkan kekebalan tubuh sehingga masih bisa menyelamatkan kondisi imunitas ODHA itu sehingga dapat menghindari penyakit-penyakit infeksi lain yang disebabkan bakteri dan jamur yang seringnya menjadi penyebab utama percepatan waktu kematian. Banyak ODHA yang belum tahu bahwa ART ini disediakan gratis oleh pemerintah di rumah sakit pusat dan daerah yang tersebar di Indonesia, jika pun tahu tak sedikit yang tingkat kepatuhan minum obatnya rendah, padahal obat ini tak boleh terlambat atau luput meminumnya setiap harinya. Sangat disayangkan masih banyak yang sudah terlanjur berputus asa dan menyianyiakan kesempatan ini, hingga status penyakit mereka kian lama kian parah.


Tak pula kita melupakan paramedis yang berisiko juga terhadap penularan penyakit ini ketika menangani pasien dengan HIV/AIDS, meski memang resiko tak sengaja tertular itu tinggi disebabkan kecelakaan atau kelalaian dalam bertugas tetapi hal ini dapat dicegah dengan paramedis tersebut memakai alat pelindung diri (APD) ketika bertugas, seperti selalu memakai handscoon saat mengambil darah pasien atau pekerjaan apapun yang melibatkan kontak dengan cairan tubuh ODHA tersebut dan waspada dengan kemungkinan tersusuk jarum yang sudah terkontaminasi, untuk hal ini mungkin sudah selayaknya paramedis mengetahui kondisi pasien sebenarnya, namun bukan berarti ketika ia tahu, ia berhak untuk memberitahu kepada yang tidak berhak dan cenderung untuk menghindari menangani pasien tersebut dengan alasan takut tertular.

Saya tersentak kaget ketika mengetahui ada kerabat saya yang telah didiagnosis menderita AIDS, bukannya ingin bersikap naïf ketika saya meragukannya, karena memang beliau orang saya kenal berperilaku baik-baik, tetapi apa lacur, semua sudah terjadi, keluarganya masih tak tahu sama sekali penyakitnya dan hanya berharap keadaannya yang semakin memburuk di stadium III itu bisa segera membaik. Ia sekarang dirawat di rumah sakit tetapi bukan diruangan isolasi, karena memang tak menginginkan merasa terasing, namun akibatnya tubuhnya semakin digerogoti penyakit nosokomial (penyakit yang didapat ketika dirawat di rumah sakit) seperti tuberkulosis paru.

Betapa banyak kerugian yang didapat ketika penyakit ini merajalela. Bila orang yang positif terinfeksi penyakit ini memperpendek masa hidupnya karena merasakan keputusasaan yang besar dengan menanggung penyakit yang dianggap tak bisa disembuhkan ini, berdampak pada mutu hidup dan merusak hubungan keluarga, masyarakat serta berdampak pada masalah yang lebih luas seperti ekonomi. Di Afrika Selatan setiap hari lebih dari 1.000 orang menjadi terinfeksi dan lebih dari 900 meninggal akibat penyakit terkait AIDS. Berdasarkan perspektif ini sendiri, bila kita tidak meningkatkan pencegahan secara efektif, kita akan meningkatan angka kematian, meningkatan kesakitan dan meningkatkan gangguan sosial yang dapat terjadi bersamaan dengan HIV.

Tak akan rugi rasanya bila kita terus-menerus giat mengupayakan pencegahan penyakit HIV/AIDS ini, mulai dari dari diri sendiri dulu yang mewaspadai, kemudian juga dari hal yang terkecil seperti menghindari penyebabnya, menambah wawasan tentang penyakit ini dan seterusnya membagikan pengetahuan itu minimal terhadap orang terdekat kita, dan mulai saat ini marilah kita tegaskan sikap, dan teriakkan "Stop HIV/AIDS sampai di sini!"

Baik, kita kaji lagi hal yang menjadi permasalahan di awal pemaparan tadi, apakah penyakit HIV/AIDS ini merupakan vonis akhir dari kematian seseorang? Tidak, hal ini tak sepenuhnya benar, penelitian demi penelitian tetap gencar dilakukan demi memastikan harapan itu masih ada untuk di kemudian hari akan ditemukan pengobatan yang menggembirakan terhadap penyakit ini, setidaknya banyak ODHA yang masih bisa bertahan hidup dengan berupaya bersaing dengan virus tersebut dengan pertahanan ART dan bahkan bisa memproduktifkan dirinya. Lalu, apakah mata rantai penyakit ini sulit diputus? Jika kita bersama-sama dengan masyarakat, pihak-pihak yang bergerak di bidang kesehatan yang dapat mensosialisasikan penyakit ini, lembaga swasta yang memberi perhatian khusus terhadap komunitas ODHA dan pemerintah yang dapat memberikan perhatian lebih melalui pendanaan menyerukan pada komunitas global untuk menggerakkan sebuah kebersamaan untuk meningkatkan usaha pencegahan HIV/AIDS maka kita dapat optimis untuk mewujudkannya.


Ps: essay abal2 yg ce bikin udah di dkt2 hari deadline pengiriman lomba ini, parah, gwahaha, tapi ok lah, setidaknya saia mencoba utk menulis serius, dan ternyata susah bangetsss :P

Ambilkan bulan bu

Sunday, July 11, 2010, 3:06 pm

Ambilkan bulan bu

Ambilkan bulan bu

Untuk menemani tidur ku yang lelap dimalam kelam

Dimalam bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang

Ambil kan bulan bu


Salah satu lagu favorit ketika ce masi kecil , masi imut2nya (sekarang amit2nya, hoho ga juga)

Tapi kalo ce beneran bisa jadi astronot (kan cita2 ce jadi astronot, bukan dokter) ce ga bakal jadi mintain diambilin kok, klo udah nyampe sana pasti ga minat buat ngambil deh, udah gelap , berat lagi (lagian siapa juga yang iseng nyulik si bulan, ntar orang sebumi pada ribut :P).

Bulan emang indah banget kalo dipandang malem2 purnama gitu, mungkin itu yang menimbulkan imajinasi pak AT Mahmud untuk nyiptain lagu ini, tapi beliau udah berpulang kerahmatullah skrg, sedih juga ce denger beritanya tadi, tapi memang sudah waktunya, dan mmg udah banyak hal yg beliau lakuin.


Banyak lagu anak2 yang udah beliau ciptain, dan semuanya bagus2 (coba skrg gmn anak2 indonesia? lagu2 yang mereka nyanyiin dominannya lagu orang dewasa, cinta2an), ce suka.

Perginya pak AT Mahmud bakal ada gantinya ga ya? setidaknya untuk menciptakan lagu2 mendidik lainnya buat anak2 indonesia, lewat lagu juga menjadi sarana edukasi buat anak2, tapi kalo mereka diracuni dengan lagu2 ga jelas dari lagu cintanya orang dewasa, kan ga baik juga efeknya.

Ps: slmt jalan pak AT Mahmud, semoga 'perjalanannya' menyenangkan, semoga Allah menerima semua amal baikmu


Kelainan pada kehamilan dan persalinan

Modul 4

Patologi Kehamilan dan Persalinan

Skenario

Belum Terlambat

Rahma, 40 tahun, diantar bidan ke IGD sebuah RS dengan keluhan persalinan yang tidak maju-maju sejak 4 jam yang lalu, dari pemantauan partograf sudah menyentuh garis alert, pasien hamil cukup bulan. Dari anamnesis diketahui bahwa ini merupakan kehamilan pertama buat Rahma sejak menikah 5 tahun yang lalu. Walau telah disarankan untuk berobat ke RS karena kehamilannya termasuk resiko tinggi tetapi Rahma menolak. Selama awal kehamilannya Rahma terpaksa harus bed rest karena hiperemesis gravidarum, ditambah riwayat hipertensi sebelum kehamilan, sehingga menganggap biasa saja tekanan darahnya yang tinggi dalam kehamilan ini.

Pada pemeriksaan dalam, dokter sampai di RS menemukan : pembukaan 5-6 cm, ketuban (+) dengan His mulai lemah, sedangkan dari keterangan bidan (pemeriksaan 4 jam sebelum sampai di RS : pembukaan 5-6 cm, his sebelumnya kuat), ukuran panggul dalam dan luar : normal. Rahma juga mulai demam T : 39 oC , tekanan darah 180/110 mmHg, proteinuria (+++). Dari pemeriksaan USG , dokter menemukan bahwa bayi Rahma terlilit tali pusat, dengan denyut jantung yang tidak teratur, setelah diberikan MgSO4
, Nifepidin dan kondisi Rahma stabil, Dokter memutuskan untuk segera melakukan Seksio Cesaria, didampingi dokter spesialis anak. Bayi Rahma lahir dengan BBL : 2000, PB:50 cm dengan tanda-tanda dismatur pada bayi, A/S 5-6, ketuban hijau kental, jumlah sedikit, tali pusat : kisut, kehijauan, Wharton Jelly sedikit dan segera dirawat dalam incubator, plasenta : berat 300 gram ukuran 13x13x1,2 cm. Bagaimana menjelaskan apa yang terjadi pada Rahma dan bayinya?


Terminologi

Garis Alert : garis waspada pada partograf, dimulai dengan pembukaan servik 4 cm

Wharton Jelly : lapisan yang terdapat antara lapisan amnion dan peritoneum yang merupakan selaput dari tali pusar yang menjaga bayi agar tak tercekik ketik terlilit tali pusar dan agar pembuluh darah di tali pusat itu tidak terkompresi.

Hiperemesis Gravidarum : Nausea (enek) dan emesis (muntah) berlebihan. Enek terjadi umumnya pada bulan-bulan pertama kehamilan, disertai kadang-kadang oleh emesis. Sering terjadi pada pagi hari, tetapi tidak selalu. Keadaan ini lazim disebut morning sickness

Seksio cesaria : seksio sesaria adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi) (Cunningam, 1995 : 511).

Nifepidin : obat anti hipertensi

MgSO4 : obat untuk preeclampsia dan eklampsia


Identifikasi Masalah


  1. Apa saja yang termasuk kehamilan berisiko tinggi?
  2. Kenapa Rahma mengalami hiperemesis gravidarum dan perdarahan pada trimester I ?
  3. Apa dampak adanya hipertensi pada kehamilan?
  4. Apa saja yang dapat mengakibatkan persalinan macet pada Rahma?
  5. Apa tanda-tanda dismatur pada bayi?
  6. Kenapa bisa terdapat protein tinggi dalam urin Rahma?
  7. Kenapa sudah ada pembukaan 5-6 cm tetapi his-nya sudah mulai melemah?
  8. Indikasi apa yang membolehkan dokter melakukan seksio cesaria?
  9. Kenapa cairan ketubannya berwarna hijau kental?
  10. Apa makna dari cairan ketuban sedikit, berwarna kehijauan, Wharton jelly sedikit, berat plasenta 300 gr, ukuran 13x13x1,2 cm?
  11. Kenapa rahma bisa demam dan tekanan darahnya 180/110 mmHg ?
  12. Kenapa pada seksio cesaria harus didampingi SpA?
  13. Apa saja patologi kehamilan dan persalinan pada rahma dan bayinya?
  14. Bagaimana tatalaksana dari kondisi Rahma dan bayinya?


Analisis Masalah


  1. Kehamilan berisiko tinggi ;
  • Dari faktor usia yang terlalu muda (<15 tahun) dan terlalu tua (>35 tahun) untuk hamil pertama kali
  • Berat badan < 50 kg
  • Tinggi badan <145 cm
  • Penyakit yang menyertai seperti diabetes mellitus, hipertensi, system pernafasan yang bermasalah (asthma), pengidap kelainan jantung atau memakai katup jantung buatan.
  • Dari kehamilan muda sudah mengalami hiperemesis gravidarum, menandakan kehamilan sudah bermasalah dari awal.
  1. Penyebab hiperemesis gravidarum adalah antara lain :
  • Alergi
  • Ibu takut untuk bersalin
  • Primigravid
  • Kehamilan kembar

Penyebab perdarahan pada kehamilan muda :

  • Akibat implantasi, ada perdarahan sementara, tetapi fisiologis
  • Peningkatan aktivitas
  • Kemungkinan terjadi abortus imminens, yaitu perdarahan yang terjadi tetapi janinnya masih selamat


  1. Dampak hipertensi pada kehamilan
  • Oedema yang tidak hilang ketika beristirahat
  • Berisiko pre eklampsia bahkan eklampsia
  • IUGR pada janin karena kekurangan nutrisi
  1. Yang bisa menyebabkan persalinan macet pada Rahma :
  • His nya yang melemah tidak adekuat untuk kontaksi yang harusnya lebih kuat lagi pada fase aktif tersebut
  • Bayi yang terlilit tali pusat
  1. Tanda-tanda dismatur pada bayi
  • Berat badan bayi kecil dari usia kehamilan ibu
  1. Pada ibu hamil yang mengalami hipertensi tentunya aliran darahnya lebih tinggi dari yang lain, hal itu berpengaruh juga pada proses penyaringan darah di glomerulus ginjal, sehingga dengan kondisi itu permeabilitas membrana basalis glomerulus meningkat hingga penyaringan tidak efektif, protein yang seharusnya pada proses filtrasi sudah ditarik kembali ke sirkulasi bisa lolos hingga menyebabkan terdeteksinya protein di urin.
  2. His yang melemah setelah pembukaan 5-6 cm kemungkinan bisa disebabkan inersia uteri, yaitu melemahnya kontaksi uterus karena kekurangan energi pada otot-otot rahim dikarenakan pernah mengalami perdarahan ketika trimester pertama, mungkin saja ia defesiensi besi.
  3. Indikasi untuk seksio cesaria :
  • Pintu atas panggul ibu tidak sesuai dengan kepala janin
  • Placenta previa yang sempurna menutupi jalan lahir
  • Adanya tumor yang juga menutupi jalan lahir
  • Adanya kelainan tenaga/his pada ibu
  • Kegagalan persalinan yang disebabkan usia yang terlalu tua atau persalinan yang berjarak lebih dari 8 tahun
  1. Cairan ketuban berwana hijau dikarenakan:

    Bayi Rahma terlilit tali pusat yang mengakibatkan pembuluh darah tertekan di pintu atas panggul dan bayi menjadi asfiksi, tonus otot melemah begitu juga yang terjadi pada sfingter ani janin sehingga mekonium keluar sebelum waktunya.

  2. Jumlah cairan ketuban sedikit : Rahma mengalami oligohidramnion, yaitu cairan ketuban < 1000mL.

    Tali pusatnya kisut dikarenakan terlilit.

    Wharton jelly sedikit karena memang semakin lama usia kehamilan semakin sedikit Wharton jelly nya.

    Normalnya plasenta itu beratnya 600 gr, diameternya 25 cm, tebalnya 3cm. jadi, pada Rahma memang kurang dari normal.

  3. Demam dimungkinkan karena infeksi saluran kemih.

    Tekanan darah yang tinggi disebabkan preeklampsia berat

  4. Dokter spesialis anak dibutuhkan untuk menilai kondisi bayi setelah dilahirkan dan juga untuk resusitasi
  5. Pada kehamilan dapat terjadi :
  • Hipertensi kronik superimposed
  • Hiperemesis gravidarum
  • Oligohidramnion

Pada persalinan dapat terjadi :

  • Preeclampsia berat
  • Persalinan yang lama
  • Adanya infeksi


  1. Untuk his nya yang melemah bisa diberikan oksitosin

    Untuk hiperemesis gravidarumnya bisa diberikan anti emetic

    Untuk eklampsia diberikan MgSO4 dan anti kejang lainnya seperti diazepam

    Untuk bayinya yang BBLR harus dirawat intensif dan diberi nutrisi yang adekuat


Sistematika Masalah











Learning objective

  1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang perdarahan pada kehamilan
  2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan kondisi hipertensi yang terjadi dalam kehamilan
  3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan apa saja yang dapat mengenai cairan ketuban serta komplikasinya
  4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan patologi yang terjadi pada proses persalinan
  5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan indikasi dan metode seksio cesaria

Gathering and sharing information


Learning objective I : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang perdarahan pada kehamilan

Yang dimaksud atau yang dibahas sebagai perdarahan dalam masa kehamilan adalah perdarahan melalui vagina yang terjadi pada masa kehamilan (vaginal bleeding in pregnancy).
bukan perdarahan dari organ atau sistem organ lainnya. Perdarahan per vaginam merupakan keluhan umum yang banyak dijumpai, dan merupakan penyebab cukup tinggi seorang wanita datang ke rumah sakit, terutama jika diketahui atau disangka ada kehamilan. Batas teoritis antara kehamilan muda dan kehamilan tua adalah usia kehamilan 22 minggu, mengingat kemungkinan hidup janin di luar uterus.

Perdarahan pada usia kehamilan muda

Diagnosis banding :
1. bermacam-macam jenis abortus
2. kehamilan mola hidatidosa
3. kehamilan ektopik tuba yang ruptur.
4. perdarahan akibat sebab lain (trauma, erosi, keganasan, dsb)

Tatalaksana

  1. Jangan langsung dilakukan kuretase,
  2. tentukan dulu, janin mati atau hidup. Jika memungkinkan, periksa dengan USG
  3. jangan terpengaruh pemeriksaan B-HCG yang positif, karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin.

Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum dibatasi pada perdarahan dari jalan lahir setelah usia kehamilan 22 minggu (meskipun patologi yang sama dapat juga terjadi pada kehamilan sebelum 22 minggu).
Batasan waktu menurut kepustakaan lain : bervariasi, ada juga yang 24, 28 minggu (trimester ketiga).

Tatalaksana

Pada kasus perdarahan antepartum, pikirkan kemungkinan yang lebih bahaya lebih dahulu, yaitu perdarahan dari plasenta.

Plasenta previa

Plasenta previa adalah keadaan letak plasenta yang abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus, sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh jalan lahir (pada keadaan normal, plasenta terletak di bagian fundus atau segmen atas uterus).

Disebut sebagai
1. Plasenta previa totalis : jika seluruh pembukaan jalan lahir tertutup jaringan plasenta.
2. Plasenta previa parsialis : jika sebagian pembukaan jalan lahir tertutup jaringan plasenta.
3. Plasenta previa marginalis : jika tepi plasenta berada tepat pada tepi pembukaan jalan lahir.
4. Plasenta letak rendah : jika plasenta terletak pada segmen bawah uterus, tetapi tidak sampai menutupi pembukaan jalan lahir.

Etiologi
Etiologi : tidak jelas.
Diperkirakan karena adanya gangguan distribusi vaskularisasi uterus atau atrofi desidua misalnya akibat perdarahan persalinan sebelumnya.
Jika ada massa tumor di korpus / segmen atas uterus (misalnya, mioma), kemungkinan plasenta juga akan berimplantasi di bawah, tetapi belum jelas hubungannya.

Gejala / tanda
1. perdarahan per vaginam, warna merah segar.
2. bagian terbawah janin belum masuk panggul.
3. atau ada kelainan letak janin.
4. tidak disertai gejala nyeri (tanda khas plasenta previa).
5. pada pemeriksaan jalan lahir teraba jaringan plasenta (lunak).
6. dapat disertai gawat janin sampai kematian janin, tergantung beratnya.

Diagnosis
Anamnesis : riwayat perdarahan, tidak nyeri, darah merah segar.
Pemeriksaan fisis umum : keadaan umum / tanda vital ibu mungkin dapat baik sampai buruk, tergantung beratnya perdarahan.
Pemeriksaan obstetrik : bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Inspekulo tampak darah dari ostium.
Pemeriksaan penunjang : konfirmasi USG jika mungkin.


Tatalaksana
1. Penatalaksanaan pasif (Johnson-Macafee, 1945) : pada perdarahan PERTAMA, prinsipnya, jika usia kehamilan belum optimal, kehamilan masih dapat dipertahankan, karena perdarahan pertama umumnya tidak berat dan dapat berhenti dengan sendirinya. Pasien harus dirawat dengan istirahat baring total di rumah sakit, dengan persiapan transfusi darah dan operasi sewaktu-waktu. tetapi jika pada perdarahan pertama itu telah dilakukan pemeriksaan dalam / vaginal touché, kemungkinan besar akan terjadi perdarahan yang lebih berat sehingga harus diterminasi.


2. Pilihan persalinan : tergantung dari letak / derajat plasenta previa, keadaan umum ibu, keadaan janin. Pada plasenta previa totalis / parsialis, sebaiknya dilakukan sectio cesarea. Pada perdarahan yang berat dengan keadaan ibu dan/atau janin yang buruk, harus juga dilakukan sectio cesarea segera.


3. Jika persalinan yang dipilih adalah per vaginam, misalnya pada kasus plasenta previa marginalis atau plasenta letak rendah, dilakukan pemecahan selaput ketuban (amniotomi). Diharapkan penurunan janin akan dapat menekan plasenta dan menghentikan perdarahan. TETAPI penekanan terhadap plasenta juga berarti supresi terhadap sirkulasi feto-maternal, yang jika berlangsung lama dapat menyebabkan kematian janin. Tampaknya sectio cesarea tetap menjadi alternatif terbaik. Persalinan per vaginam hanya dilakukan pada keadaan di mana sectio cesarea tidak mungkin dilakukan, tetap dengan pemahaman bahwa prognosis keselamatan janin pada persalinan per vaginam adalah buruk.

Solusio plasenta

Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta (placental abruption) dari tempat implantasinya pada korpus uteri sebelum bayi lahir.
Dapat terjadi pada setiap saat dalam kehamilan.
Terlepasnya plasenta dapat sebagian (parsialis) atau seluruhnya (totalis), atau hanya ruptur pada tepinya (ruptura sinus marginalis).

Gejala / tanda
1. Perdarahan per vaginam, warna merah kehitaman
2. Mungkin juga tidak tampak perdarahan, karena darah tidak keluar melalui ostium tetapi menumpuk di retroplasenta - hati-hati (gambar kiri). Selain itu, jika ada perdarahan yang keluar, jumlah perdarahan yang tampak bukan merupakan gambaran sesungguhnya jumlah perdarahan yang terjadi (gambar kanan).
3. Rasa nyeri / mules yang terus-menerus, karena uterus berkontraksi dan tegang.
4. Dapat disertai gawat janin sampai kematian janin.

Diagnosis
1. anamnesis : riwayat perdarahan per vaginam (tidak menggambarkan beratnya solusio. hati-hati, mungkin juga tidak ada tanda perdarahan ), nyeri dan mules terus-menerus (menjadi tanda / kecurigaan UTAMA), gerakan janin dirasakan berkurang atau menghilang.
2. pemeriksaan fisis : keadaan umum dapat baik sampai buruk (syok), uterus tegang terus menerus, nyeri tekan pada uterus, denyut jantung janin bradikardia atau menghilang.
3. Jika memungkinkan, periksa konfirmasi USG : perhatikan perdarahan retroplasenta.

Penatalaksanaan
1. mencegah kematian ibu

  1. menghentikan sumber perdarahan
  2. Jika janin masih hidup, mempertahankan dan mengusahakan janin lahir hidup dengan cara :
    1. optimalisasi keadaan umum ibu : transfusi darah, infuse
    2. terminasi kehamilan : persalinan segera, pervaginam atau bila perlu perabdominam (sectio cesarea).
    3. Untuk mengurangi tekanan intrauterin yang dapat menyebabkan nekrosis ginjal (refleks utero-renal), selaput ketuban segera dipecahkan.

Prognosis
Prognosis ibu, tergantung dari :
1. luas daerah plasenta yang mengalami solusio
2. jumlah perdarahan
3. derajat gangguan hemostasis yang terjadi
4. ada-tidaknya faktor pemberat lain (pre-eklampsia, infeksi dll)
5. waktu antara terjadinya solusio dengan pengeluaran isi uterus.


Prognosis bayi , tergantung dari :
1. keadaan pada saat ditegakkan diagnosis solusio ( sebagian besar janin meninggal dalam waktu yang sangat cepat).
2. jika janin masih hidup, tergantung waktu antara terjadinya solusio dengan pengeluaran / persalinan.
3. ada tidaknya fasilitas / kemampuan resusitasi dan perawatan intensif yang baik pascapersalinan.

Masa kehamilan / masa gestasi


Masa sejak terjadinya konsepsi sampai dengan saat kelahiran, dihitung dari hari pertama haid terakhir (menstrual age of pregnancy).

Kehamilan cukup bulan (term / aterm) : masa gestasi 37-42 minggu (259 - 294 hari) lengkap
Kehamilan kurang bulan (preterm) : masa gestasi kurang dari 37 minggu (259 hari).
Kehamilan lewat waktu (postterm) : masa gestasi lebih dari 42 minggu (294 hari).

1. ABORTUS

Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu batasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 g atau usia kehamilan 20 minggu. (terakhir, WHO/FIGO 1998 : 22 minggu)

Proses abortus dapat berlangsung spontan (suatu peristiwa patologis), atau artifisial / terapeutik (suatu peristiwa untuk penatalaksanaan masalah / komplikasi).

Abortus spontan diduga disebabkan oleh :
- kelainan kromosom (sebagian besar kasus)
- infeksi (chlamydia, mycoplasma dsb)
- gangguan endokrin (hipotiroidisme, diabetes mellitus)
- oksidan (rokok, alkohol, radiasi dan toksin)

Proses abortus dibagi 4 tahap : abortus imminens, abortus insipiens, abortus inkomplet dan abortus komplet.

Abortus imminens

Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.

Ciri : perdarahan pervaginam, dengan atau tanpa disertai kontraksi, serviks masih tertutup.
Jika janin masih hidup, umumnya dapat bertahan bahkan sampai kehamilan aterm dan lahir normal.
Jika terjadi kematian janin, dalam waktu singkat dapat terjadi abortus spontan.
Penentuan kehidupan janin dilakukan ideal dengan ultrasonografi, dilihat gerakan denyut jantung janin dan gerakan janin. Jika sarana terbatas, pada usia di atas 12-16 minggu denyut jantung janin dicoba didengarkan dengan alat Doppler atau Laennec.
Keadaan janin sebaiknya segera ditentukan, karena mempengaruhi rencana penatalaksanaan / tindakan.
Penanganan : istirahat baring, penentuan keadaan janin, beberapa sumber menganjurkan pemberian progesteron (masih kontroversi).

Abortus insipiens
Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi masih berada di dalam uterus.
Ciri : perdarahan pervaginam, dengan kontraksi makin lama makin kuat makin sering, serviks terbuka.
Penanganan : stimulasi pengeluaran sisa konsepsi dengan oksitosin infus, dan / atau dengan kuretase (hati2 bahaya perforasi).

Abortus inkompletus
Abortus inkompletus adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.
Ciri : perdarahan yang banyak, disertai kontraksi, serviks terbuka, sebagian jaringan keluar.
Penanganan : optimalisasi keadaan umum dan tanda vital ibu (perdarahan banyak dapat menyebabkan syok), pengeluaran seluruh jaringan konsepsi dengan eksplorasi digital dan bila perlu dilakukan kuretase dalam anestesia (ketamin) dan analgesia neurolept (petidin, diazepam).

Abortus kompletus
Abortus kompletus adalah terjadinya pengeluaran lengkap seluruh jaringan konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu.
Ciri : perdarahan pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks sudah menutup, ada keluar jaringan, tidak ada sisa dalam uterus.
Diagnosis : komplet ditegakkan bila jaringan yang keluar juga diperiksa kelengkapannya.
Penanganan : optimalisasi keadaan umum dan tanda vital ibu.

Abortus habitualis
Kejadian abortus berulang, umumnya disebabkan karena kelainan anatomik uterus (mioma, septum, serviks inkompeten dsb), atau kelainan faktor-faktor imunologi.
Ideal dilakukan pemeriksaan USG untuk melihat ada/tidaknya kelainan anatomi. Jika kelainan anatomi disingkirkan, lakukan rangkaian pemeriksaan faktor-faktor hormonal / imunologi / kromosom.

Missed abortion
Kematian janin dan nekrosis jaringan konsepsi tanpa ada pengeluaran selama lebih dari 4 minggu atau lebih (beberapa buku : 8 minggu ).
Biasanya didahului tanda dan gejala abortus imminens yang kemudian menghilang spontan atau menghilang setelah pengobatan.
Penanganan dengan mengeluarkan jaringan konsepsi, dianjurkan menggunakan dilatasi dulu dengan laminaria, dan stimulasi kontraksi uterus dengan oksitosin. Jika diputuskan melakukan tindakan kuret, harus sangat berhati-hati karena jaringan telah mengeras, dan dapat terjadi gangguan pembekuan darah akibat komplikasi kelainan koagulasi (hipofibrinogenemia).

Abortus terapeutik
Dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu, atas pertimbangan / indikasi kesehatan wanita di mana bila kehamilan itu dilanjutkan akan membahayakan dirinya, misalnya pada wanita dengan penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal, korban perkosaan (masalah psikis). Dapat juga atas pertimbangan / indikasi kelainan janin yang berat.

Abortus septik
Sepsis akibat tindakan abortus yang terinfeksi (misalnya dilakukan oleh dukun atau awam). Bahaya terbesar adalah kematian ibu.

Diagnostik
1. anamnesis : perdarahan, haid terakhir, pola siklus haid, ada tidak gejala / keluhan lain, cari faktor risiko / predisposisi. Riwayat penyakit umum dan riwayat obstetri / ginekologi.
2. prinsip : wanita usia reproduktif dengan perdarahan per vaginam abnormal HARUS selalu dipertimbangkan kemungkinan adanya kehamilan.
3. pemeriksaan fisis umum : keadaan umum, tanda vital, sistematik. jika keadaan umum buruk lakukan resusitasi dan stabilisasi segera .
4. pemeriksaan ginekologi : ada tidaknya tanda akut abdomen. Jika memungkinkan, cari sumber perdarahan : apakah dari dinding vagina, atau dari jaringan serviks, atau darah mengalir keluar dari ostium
5. jika diperlukan, ambil darah / cairan / jaringan untuk pemeriksaan penunjang (ambil sediaan sebelum pemeriksaan vaginal touche)
6. pemeriksaan vaginal touche : hati-hati. Bimanual tentukan besar dan letak uterus. Tentukan juga apakah satu jari pemeriksa dapat dimasukkan ke dalam ostium dengan mudah / lunak, atau tidak (melihat ada tidaknya dilatasi serviks). Jangan dipaksa. Adneksa dan parametrium diperiksa, ada tidaknya massa atau tanda akut lainnya
Tindakan :

- resusitasi dan perbaikan keadaan umum ibu
- pemberian antibiotik spektrum luas dosis tinggi
- pengeluaran sisa konsepsi dalam 6 jam

Tatalaksana
Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 12 minggu
1. Jangan langsung dilakukan kuretase
2. tentukan dulu, janin mati atau hidup. Jika memungkinkan, periksa dengan USG
3. jangan terpengaruh hanya pemeriksaan B-HCG yang positif, karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin.

Pertimbangan
Kehamilan usia lebih dari 12 minggu sebaiknya diselesaikan dengan prostaglandin (misoprostol intravaginal) atau infus oksitosin dosis tinggi (20-50 U/drip).
Kini dengan alat hisap dan kanul plastik dapat dikeluarkan jaringan konsepsi dengan trauma minimal, terutama misalnya pada kasus abortus mola.
Jaringan konsepsi dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi, agar dapat diidentifikasi kelainan villi. Bahaya / komplikasi yang dapat terjadi pasca mola adalah keganasan (penyakit trofoblastik gestasional ganas / PTG).

Faktor risiko / predisposisi yang (diduga) berhubungan dengan terjadinya abortus
1. usia ibu yang lanjut
2. riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik
3. riwayat infertilitas
4. adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes, penyakit imunologi sistemik dsb).
5. berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb)
6. paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat2an, alkohol, radiasi, dsb)
7. trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama
8. kelainan kromosom (trisomi / monosomi)
Dari aspek biologi molekular, kelainan kromosom ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan dengan terjadinya abortus.

Penatalaksanaan pasca abortus
Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga involusi uterus dan kadar B-hCG 1-2 bulan kemudian.
Pasien dianjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu, anjurkan pemakaian kontrasepsi kondom atau pil).



Learning objective II : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan kondisi hipertensi yang terjadi dalam kehamilan

Hipertensi dinyatakan dan apabila tekanan diastolik sama atau lebih dari 90 mmHg, yang diperiksa dua kali berturut - turut dengan selang waktu 4 jam atau bila tekanan diastolik sama atau lebih dari 100 mm Hg pada waktu pemeriksaan. Penilaian tekanan darah dilakukan dalam keadaan berbaring miring, dalam posisi setengah. duduk (1530 derajat dari bidang mendatar). Tekanan diastolik diukur berdasarkan bunyi Korotkoff 4, yaitu pada saat bunyi terdengar melemah.

Proteinuria bermakna dinyatakan ada bila didapatkan:

a) derajat 2+ pada urin sewaktu dengan memakai cara clean catch atau urin kateter yang diperiksa dengan metode kertas reagen (strip) atau metode sulfosalisilat. Pemeriksaan ini harus dilakukan dua kali dengan selang waktu 4 jam.

b) atau didapatkan jumlah protein sama atau lebih dari 300 mg pada urin 24 jam yang terkumpul sempurna. Pemeriksaan ini cukup dilakukan satu kali saja.


Istilah hipertensi proteinuria dan kehamilan dipakai bila:

a) Keadaan ini telah diketahui sebelum kehamilan atau

b) Keadaan ini timbul sebelum kehamilan 20 minggu, dan

c) Keadaan ini tetap ada setelah habis masa nifas. Jadi hipertensi / proteinuria telah ada sebelum hamil dan tetap ada sesudah nifas.

Kejadian hipertensi pada kehamilan dibagi menjadi beberapa kondisi :

  1. Hipertensi gestational

    Tekanan darah ≥140/90 mmHg, untuk pertama kali selama kehamilan, tidak ada protein urin, dan tekanan darah kembali normal <12 minggu postpartum. Kadanga-kadang dapat timbul gejala preeclampsia seperti rasa tidak enak pada ulu hati atau trombositopenia

    1. Pre eklampsia
      Pre-eklampsia dalam kehamilan adalah apabila dijumpai tekanan darah 140/90 mmHg setelah kehamilan 20 minggu (akhir triwulan kedua sampai triwulan ketiga) atau bisa lebih awal terjadi. Sedangkan pengertian eklampsia adalah apabila ditemukan kejang-kejang pada penderita pre-eklampsia, yang juga dapat disertai koma. Pre-eklampsia adalah salah satu kasus gangguan kehamilan yang bisa menjadi penyebab kematian ibu. Kelainan ini terjadi selama masa kelamilan, persalinan, dan masa nifas yang akan berdampak pada ibu dan bayi. Kasus pre-eklampsia dan eklampsia terjadi pada 6-8% wanita hamil di Indonesia.

    Hipertensi (tekanan darah tinggi) di dalam kehamilan terbagi atas pre-eklampsia ringan, pre-eklampsia berat, eklampsia, serta superimposed hipertensi(ibu hamil yang sebelum kehamilannya sudah memiliki hipertensi dan hipertensi berlanjut selama kehamilan). Tanda dan gejala yang terjadi serta tatalaksana yang dilakukan masing-masing penyakit di atas tidak sama. Berikut ini akan dijelaskan mengenai pembagian di atas.

    Penyebab
    Penyebab pre-eklampsia belum diketahui secara jelas. Penyakit ini dianggap sebagai "maladaptation syndrome" akibat penyempitan pembuluh darah secara umum yang mengakibatkan iskemia plasenta (ari – ari) sehingga berakibat kurangnya pasokan darah yang membawa nutrisi ke janin.

Faktor Risiko :

  1. Kehamilan pertama
  2. Riwayat keluarga dengan pre-eklampsia atau eklampsia
  3. Pre-eklampsia pada kehamilan sebelumnya
  4. Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  5. Wanita dengan gangguan fungsi organ (diabetes, penyakit ginjal, migraine, dan tekanan darah tinggi)
  6. Kehamilan kembar

Deteksi dini :

  1. Menyaring semua kehamilan primigravida (kehamilan pertama), ibu menikah dan langsung hamil, dan semua ibu hamil dengan risiko tinggi terhadap pre-eklampsia dan eklampsia
  2. Pemeriksaan kehamilan secara teratur sejak awal triwulan satu kehamilan

Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui terdapatnya protein dalam air seni, fungsi organ hati, ginjal, dan jantung, fungsi hematologi / pembekuan darah

  1. Pre-eklampsia ringan

Tanda dan gejala :

  1. Kenaikan tekanan darah sistole 140 mmHg sampai kurang dari 160 mmHg; diastole 90 mmHg sampai kurang dari 110 mmHg
  2. Proteinuria : didapatkannya protein di dalam pemeriksaan urin (air seni)
  3. Edema (penimbunan cairan) pada betis, perut, punggung, wajah atau tangan

Tatalaksana pre eklampsia ringan dapat secara :

  1. Rawat jalan (ambulatoir)
  2. Rawat inap (hospitalisasi)

Pengelolaan secara rawat jalan (ambulatoir) :

  1. Tidak mutlak harus tirah baring, dianjurkan perawatan sesuai keinginannya
  2. Makanan dan nutrisi seperti biasa, tidak perlu diet khusus
  3. Vitamin
  4. Tidak perlu pengurangan konsumsi garam
  5. Tidak perlu pemberian antihipertensi
  6. Kunjungan ke rumah sakit setiap minggu

Pengelolaan secara rawat inap (hospitalisasi) :

  1. Pre eklampsia ringan dirawat inap apabila mengalami hipertensi yang menetap selama lebih dari 2 minggu, proteinuria yang menetap selama lebih dari 2 minggu, hasil tes laboratorium yang abnormal, adanya gejala atau tanda 1 atau lebih pre eklampsia berat
  2. Pemeriksaan dan monitoring teratur pada ibu : tekanan darah, penimbangan berat badan, dan pengamatan gejala pre-eklampsia berat dan eklampsia seperti nyeri kepala hebat di depan atau belakang kepala, gangguan penglihatan, nyeri perut bagian kanan atas, nyeri ulu hati
  3. Pemeriksaan kesejahteraan janin berupa evaluasi pertumbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim

Tatalaksana

  1. Pada dasarnya sama dengan terapi rawat jalan
  2. Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda-tanda dari pre-eklampsia dan umur kehamilan 37 minggu atau kurang, ibu masih perlu diobservasi selama 2-3 hari lalu boleh dipulangkan
    1. Pre-eklampsia Berat

Pre eklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya tekanan darah tinggi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria dan/atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Tanda dan gejala pre-eklampsia berat :

  1. Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg
  2. Tekanan darah diastolik ≥ 110 mmHg
  3. Peningkatan kadar enzim hati dan atau ikterus (kuning)
  4. Trombosit < 100.000/mm3
  5. Oliguria (jumlah air seni < 400 ml / 24 jam)
  6. Proteinuria (protein dalam air seni > 3 g / L)
  7. Nyeri ulu hati
  8. Gangguan penglihatan atau nyeri kepala bagian depan yang berat
  9. Perdarahan di retina (bagian mata)
  10. Edema (penimbunan cairan) pada paru
  11. Koma

Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala pre-eklampsia berat selama perawatan, maka perawatan dibagi menjadi :

  1. Perawatan aktif yaitu kehamilan segera diakhiri dan ditambah pemberian obat-obatan
  2. Perawatan konservatif yaitu kehamilan tetap dipertahankan ditambah pemberian obat-obatan

Perawatan aktif dilakukan apabila usia kehamilan 37 minggu atau lebih, adanya ancaman terjadinya impending eklampsia, kegagalan terapi dengan obat-obatan, adanya tanda kegagalan pertumbuhan janin di dalam rahim, adanya "HELLP syndrome" (Haemolysis, Elevated Liver enzymes, and Low Platelet).
Perawatan konservatif dilakukan apabila kehamilan kurang dari 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia serta keadaan janin baik. Perawatan konservatif pada pasien pre eklampsia berat yaitu :

  1. Segera masuk rumah sakit
  2. Tirah baring
  3. Infus
  4. Diet cukup protein, rendah karbohidrat, lemak dan garam
  5. Pemberian obat anti kejang : magnesium sulfat
  6. Anti hipertensi, diuretikum diberikan sesuai dengan gejala yang dialami
  7. Penderita dipulangkan apabila penderita kembali ke gejala-gejala / tanda-tanda pre-eklampsia ringan (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu)

3 . Eklampsia

Eklampsia adalah kelainan pada masa kehamilan, dalam persalinan, atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelainan saraf) dan / atau koma dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia.

Gejala dan Tanda

  1. Nyeri kepala hebat pada bagian depan atau belakang kepala yang diikuti dengan peningkatan tekanan darah yang abnormal. Sakit kepala tersebut terus menerus dan tidak berkurang dengan pemberian aspirin atau obat sakit kepala lain
  2. Gangguan penglihatan à pasien akan melihat kilatan-kilatan cahaya, pandangan kabur, dan terkadang bisa terjadi kebutaan sementara
  3. Iritabel > ibu merasa gelisah dan tidak bisa bertoleransi dengan suara berisik atau gangguan lainnya
  4. Nyeri perut > nyeri perut pada bagian ulu hati yang kadang disertai dengan muntah
  5. Tanda-tanda umum pre eklampsia (hipertensi, edema, dan proteinuria)
  6. Kejang-kejang dan / atau koma

Tatalaksana

Tujuan pengobatan :

  1. Untuk menghentikan dan mencegah kejang
  2. Mencegah dan mengatasi penyulit, khususnya krisis hipertensi
  3. Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin
  4. Mengakhiri kehamilan dengan trauma ibu seminimal mungkin

Pengobatan Konservatif
Sama seperti pengobatan pre eklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat diberikan obat anti kejang (MgSO4).

Pengobatan Obstetrik

  1. Sikap dasar : Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan atau tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin
  2. Bilamana diakhiri, maka kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) kondisi dan metabolisme ibu

Setelah persalinan, dilakukan pemantauan ketat untuk melihat tanda-tanda terjadinya eklampsia. 25% kasus eklampsia terjadi setelah persalinan, biasanya dalam waktu 2 – 4 hari pertama setelah persalinan. Tekanan darah biasanya tetap tinggi selama 6 – 8 minggu. Jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklampsia.

Pencegahan
Usaha pencegahan preklampsia dan eklampsia sudah lama dilakukan. Diantaranya dengan diet rendah garam dan kaya vitamin C. Selain itu, toxoperal (vitamin E,) beta caroten, minyak ikan (eicosapen tanoic acid), zink (seng), magnesium, diuretik, anti hipertensi, aspirin dosis rendah, dan kalium diyakini mampu mencegah terjadinya preklampsia dan eklampsia. Sayangnya upaya itu belum mewujudkan hasil yang menggembirakan. Belakangan juga diteliti manfaat penggunaan anti-oksidan seperti N. Acetyl Cystein yang diberikan bersama dengan vitamin A, B6, B12, C, E, dan berbagai mineral lainnya. Nampaknya, upaya itu dapat menurunkan angka kejadian pre-eklampsia pada kasus risiko tinggi.

  1. Superimposed preeclampsia ( on chronic hypertension)

    Ditemukannya protein urin ≥300 mg/24jam pada wanita dengan kehamilan >20 minggu. Peningkatan tiba-tiba dari protein uria atau tekanan darah atau kadar platelet <100.000 mm3 pada wanita dengan hipertensi dan proteinuria sebelum kehamilan 20 minggu

  2. Hipertensi kronik

    Tekanan darah ≥140/90 mmHg sebelum kehamilan atau terdiagnosa sebelum usia kehamilan 20 minggu, atau hipertensi terdiagnosa setelah kehamilan >20 minggu tapi menetap sampai kehamilan 12 minggu.



Learning objective III : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan tentang kelainan apa saja yang dapat mengenai cairan ketuban serta komplikasinya

hCairan ketuban atau cairan amnion adalah cairan yang memenuhi rahim. Cairan ini ditampung di dalam kantung amnion yang disebut kantung ketuban atau kantung janin. Cairan ketuban diproduksi oleh buah kehamilan, yaitu sel-sel trofoblas, kemudian akan bertambah dengan produksi cairan janin, yaitu seni janin. Sejak usia kehamilan 12 minggu, janin mulai minum air ketuban dan mengeluarkannya kembali dalam bentuk air seni. Jadi ada pola berbentuk lingkaran atau siklus yang berulang.

Jumlah cairan ketuban dapat dipantau melalui USG. Tepatnya dengan menggunakan parameter AFI (Amniotic Fluid Index). Pada dasarnya, cairan ketuban sudah bisa dideteksi begitu seorang wanita terlambat haid dan dengan USG sudah terlihat kantung janin karena itu berarti sudah terbentuk cairan ketuban. Pada kehamilan normal, saat cukup bulan, jumlah cairan ketuban sekitar 1.000 cc.

Kelainan yang dapat terjadi pada cairan amnion ini :

  1. Oligohidramnion

Cairan ketuban dikatakan kurang bila volumenya lebih sedikit dari 500 cc. Hal ini diketahui dari hasil pemeriksaan USG. Istilah medisnya oligohidramnion. Ibu harus curiga jika ada cairan yang keluar secara berlebih atau sedikit tetapi terus-menerus melalui vagina. Biasanya berbau agak anyir, warnanya jernih, dan tidak kental. Sangat mungkin itu adalah cairan yang keluar/merembes karena ketuban mengalami perobekan. Tanda lainnya adalah gerakan janin menyebabkan perut ibu terasa nyeri.

Salah satu kemungkinan penyebab terjadinya ketuban pecah dini adalah infeksi vagina/jalan lahir. Dengan demikian untuk mencegah terjadinya ketuban pecah dini, ibu harus berupaya menjaga kebersihannya agar tidak terkena infeksi jalan lahir.

Kurangnya cairan ketuban tentu saja akan mengganggu kehidupan janin, bahkan dapat mengakibatkan kondisi gawat janin. Seolah-olah janin tumbuh dalam "kamar sempit" yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Malah pada kasus ekstrem dimana sudah terbentuk amniotic band (benang/serat amnion) bukan tidak mustahil terjadi kecacatan karena anggota tubuh janin "terjepit" atau "terpotong" oleh amniotic band tersebut. Efek lainnya, janin berkemungkinan memiliki cacat bawaan pada saluran kemih, pertumbuhannya terhambat, bahkan meninggal sebelum dilahirkan. Sesaat setelah dilahirkan pun, sangat mungkin bayi berisiko tak segera bernapas secara spontan dan teratur. Bahaya lainnya akan terjadi bila ketuban lalu robek dan airnya merembes sebelum tiba waktu bersalin. Kondisi ini amat berisiko menyebabkan terjadinya infeksi oleh kuman yang berasal dari bawah. Pada kehamilan lewat bulan, kekurangan air ketuban juga sering terjadi karena ukuran tubuh janin semakin besar.

Tatalaksana

Sebenarnya air ketuban tidak akan habis selama kehamilan masih normal dan janin masih hidup. Bahkan air ketuban akan tetap diproduksi, meskipun sudah pecah berhari-hari. Walau sebagian berasal dari kencing janin, air ketuban berbeda dari air seni biasa, baunya sangat khas. Ini yang menjadi petunjuk bagi wanita hamil untuk membedakan apakah yang keluar itu air ketuban atau air seni.

Supaya volume cairan ketubankembali normal, dokter umumnya menganjurkan ibu hamil untuk menjalani pola hidup sehat, terutama makan dengan asupan gizi berimbang. Pendapat bahwa satu-satunya cara untuk memperbanyak cairan ketuban adalah dengan memperbanyak porsi dan frekuensi minum adalah "salah kaprah"

Tidak benar bahwa kurangnya air ketuban membuat janin tidak bisa lahir normal sehingga mesti dioperasi sesar. Bagaimanapun, melahirkan dengan cara operasi sesar merupakan pilihan terakhir pada kasus kekurangan air ketuban. Meskipun ketuban pecah sebelum waktunya, tetap harus diusahakan persalinan per vaginam dengan cara induksi yang baik dan benar.

  1. Polihidramnion

Cairan ketuban berlebih disebut polihidramnion atau cukup disebut hidramnion saja. Cairan ketuban paling banyak dihasilkan oleh proses urinasi atau produksi air seni janin. Si jabang bayi minum air ketuban dalam jumlah yang seimbang dengan air seni yang dihasilkannya.

Volume air ketuban mestinya tidak persis sama dari waktu ke waktu. Volume ini mengalami puncak di umur kehamilan sekitar 33 minggu, yakni sekitar 1-1,5 liter yang berangsur berkurang mendekati kehamilan cukup bulan (40 minggu). Pada kasus hidramnion, volume bisa mencapai 3-5 liter yang umumnya terjadi setelah umur kehamilan mencapai 22 minggu atau sekitar 5 bulan.

Hidramnion terjadi karena:

  • Produksi air seni janin berlebihan.
  • Ada kelainan pada janin yang menyebabkan cairan ketuban menumpuk, yaitu hidrosefalus, atresia saluran cerna, kelainan ginjal dan saluran kencing kongenital.
  • Ada sumbatan/penyempitan saluran cerna pada janin sehingga ia tak bisa menelan air ketuban. Alhasil, volume air ketuban meningkat drastis.
  • Kehamilan kembar, karena ada dua janin yang menghasilkan air seni.
  • Ada proses infeksi.
  • Ada hambatan pertumbuhan atau kecacatan yang menyangkut sistem saraf pusat sehingga fungsi gerakan menelan mengalami kelumpuhan.
  • Ibu hamil menderita diabetes yang tidak terkontrol.
  • Inkompatibilitas/ketidakcocokan Rhesus.

Manifestasi klinik

Cairan ketuban yang berlebih berdampak buruk. Ibu biasanya merasa kandungannya cepat sekali membesar. Pada kasus hidramnion ekstrem, pembesaran perut biasanya begitu berlebihan sehingga dinding perut menjadi sedemikian tipis. Bahkan pembuluh darah di bawah kulit pun terlihat jelas. Lapisan kulit pecah, sehingga tampak guratan-guratan nyata pada permukaan perut. Kalau diukur, pertambahan lingkaran perut terlihat begitu cepat. Begitu juga tinggi rahim.

Cairan ketuban yang berlebih menyebabkan peregangan rahim, selain menekan diafragma ibu. Itu semua akan memunculkan keluhan-keluhan serupa dengan kehamilan kembar, di antaranya sesak napas/gangguan pernapasan yang berat, pertambahan berat badan berlebih dan bengkak di sekujur tubuh. Keluhan-keluhan tersebut ujung-ujungnya akan memicu terjadinya hipertensi dalam kehamilan yang mungkin harus diakhiri dengan persalinan prematur.

Disamping itu, letak janin umumnya jadi tidak normal. Dengan alat pemeriksa, suara denyut jantung janin terdengar jauh karena letaknya jadi cukup jauh dari permukaan. USG bisa mendapat diagnosis yang lebih pasti dengan cara mengukur ketinggian kantung air ketuban dan indeks cairan amnion. Alat ini sekaligus dapat mengetahui apakah ada kelainan bawaan pada janin dan gangguan pertumbuhan janin.

Peregangan atau tekanan yang begitu kuat pada dinding rahim dapat memicu terjadinya kontraksi sebelum waktunya. Namun, dokter tentu akan mengupayakan agar tidak terjadi persalinan prematur dengan cara memberikan obat "peredam" kontraksi.

Cairan ketuban yang berlebih juga bisa meningkatkan risiko komplikasi persalinan, yaitu perdarahan pascapersalinan. hidramnion juga amat memungkinkan terjadinya komplikasi plasenta terlepas dari tempat perlekatannya. Belum lagi risiko terjadinya kematian janin dalam kandungan.Yang jelas, kemungkinan ibu menjalani bedah sesar jauh lebih tinggi dibanding kehamilan biasa mengingat letak janin yang tidak normal dan menurunnya tingkat kesejahteraan janin.

Tatalaksana

Cara yang biasanya ditempuh adalah dengan menyedot atau mengeluarkan sebagian cairan ketuban melalui sebuah jarum khusus yang dimasukkan dari permukaan perut yang disebut dengan amniosentesis. Cairan tersebut akan diperiksa sel-sel kromosomnya untuk ditelusuri apakah ada kelainan. Tindakan ini dapat dilakukan berulang kali sampai kehamilan cukup bulan. Tindakan ini juga dapat digunakan untuk mengurangi rasa sesak si ibu yang kadang tak tertahankan.

Operasi sesar juga tidak otomatis menjadi jalan terbaik bagi persalinan dengan kasus ini. Prinsip utama dan dasar ilmu kedokteran secara universal yaitu "primum non nocere", artinya "pertama-pertama janganlah melukai". Jadi, pada kasus hidramnion dimana kemungkinan kecacatan janin tinggi, dokter kandungan akan berpikir dua kali sebelum memilih "melukai ibu" untuk mendapat bayi yang "cacat" dengan kemungkinan hidup kecil. Para dokter akan mengupayakan persalinan per vaginam walupun ibu bergelut dengan kasus hidramnion.

  1. Ketuban pecah dini

Kelainan ini tidak langsung terjadi pada cairannya tetapi pada kantung amnionnya. Ketuban pecah dini ("early rupture of the membrane") :adalah ketuban yang pecah "sebelum waktunya".
Normal selaput ketuban pecah pada akhir kala I atau awal kala II persalinan. Bisa juga belum pecah sampai saat mengedan, sehingga kadang perlu dipecahkan (amniotomi).

Patofisiologi
Banyak teori, mulai dari defek kromosom, kelainan kolagen, sampai infeksi. High virulence : bacteroides. Low virulence : lactobacillus. Kolagen terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem aktifitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin.
Jika ada infeksi dan inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-1 dan prostaglandin, menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada selaput korion / amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah spontan.

Faktor risiko / predisposisi ketuban pecah dini / persalinan preterm
1. kehamilan multipel : kembar dua (50%), kembar tiga (90%)
2. riwayat persalinan preterm sebelumnya : risiko 2 - 4x
3. tindakan sanggama : TIDAK berpengaruh kepada risiko, KECUALI jika higiene buruk, predisposisi terhadap infeksi
4. perdarahan pervaginam : trimester pertama (risiko 2x), trimester kedua/ketiga (20x)
5. bakteriuria : risiko 2x (prevalensi 7%)
6. pH vagina di atas 4.5 : risiko 32% (vs. 16%)
7. servix tipis / kurang dari 39 mm : risiko 25% (vs. 7%)
8. flora vagina abnormal : risiko 2-3x
9. fibronectin > 50 ng/ml : risiko 83% (vs. 19%)
10. kadar CRH (corticotropin releasing hormone) maternal tinggi misalnya pada stress psikologis, dsb, dapat menjadi stimulasi persalinan preterm

Trimester pertama : deteksi faktor risiko, aktifitas seksual, pH vagina, USG, pemeriksaan Gram, darah rutin, urine.
Trimester kedua dan ketiga : hati-hati bila ada keluhan nyeri abdomen, punggung, kram di daerah pelvis seperti sedang haid, perdarahan per vaginam, lendir merah muda, discharge vagina, poliuria, diare, rasa menekan di pelvis.

Komplikasi ketuban pecah dini
1. infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke intrauterin.
2. persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm.
3. prolaps tali pusat, bisa sampai gawat janin dan kematian janin akibat hipoksia (sering terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang).
4. oligohidramnion, bahkan sering partus kering (dry labor) karena air ketuban habis.


Learning objective IV : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan patologi yang terjadi pada proses persalinan

Persalinan yang normal apabila ketiga faktor penting telah membuktikan kerja sama yang baik sehingga persalinan berlangsung spontan, aterm dan hidup. Keadaan demikian menunjukkan bahwa ketiga faktor penting power, passage, dan passanger telah bekerja sama dengan baik tanpa terdapat intervensi sehingga persalinan berjalan dengan mulus. Dapat pula ditambahkan faktor lainnya, seperti faktor kejiwaan penderita dan penolong tetapi kedua faktor tambahan tidak banyak berfungsi dalam menetukan jalannya persalinan.

Dengan faktor power, passage dan passanger, kemungkinan besar terdapat kelainan yang mempengaruhi jalannya persalinan, sehingga memerlukan intervensi persalinan untuk mencapai well born baby dan well health mother. Persalinan yang memerlukan bantuan dari luar karena terjadi penyimpangan dari power, passage, passanger disebut persalinan distosia.

Konsep dasar distosia kelainan tenaga

Kelainan tenaga (kelainan his). His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan bahwa rintangan pada jalan lahir yang lazim terdapat pada setiap persalinan, tidak dapat di atasi, sehingga persalinan mengali hambatan atau kemacetan.

Kelainan his antara lain adalah :

1. Inersia uteri (his hipotonik)

his yang sifatnya lemah, pendek, dan jarang dari his normal yang terbagi menjadi :

  1. Inersia uteri primer

    Bila sejak semula kekuatannya sudah lemah

  2. Inersia uteri sekunder
  • his pernah cukup kuat
  • dapat ditegakkan dengan, melakukan evaluasi pada pembukaan, bagian terendah terdapat kaput, dan mungkin ketuban telah pecah.

His yang lemah dapat menimbulkan bahaya terhadap ibu maupun janin sehingga memerlukan konsultasi atau merujuk penderita ke rumah sakit, puskesmas atau dokter spesialis.

2. Tetania uteri (his hipertonik)

his yang terlalu kuat dan terlalu sering, sehingga tidak terdapat kesempatan relaksasi otot rahim. Akibat dari tetania uteri dapat terjadi :

  1. Persalinan presipitatus
  2. Tetania uteri menyebabkan asfiksia intrauterin sampai kematian janin dalam rahim.

Inkoordinasi kontraksi otot rahim

Keadaan inkoordinasi kontraksi otot rahim dapat menyebabkan sulithya kekuatan otot rahim untuk dapat menungkatkan pembukaan atau pengusiran janin dari dalam rahim

Distosia kelainan alat kandungan

Alat kandungan dapat pula menghalangi lancarnya persalinan. Alat kandungan di sini adalah kelainan serviks vulva, vagina, uterus/ serviks.

  1. Vulva

    Kelainan yang bisa menyebabkan distosia ialah edema, stenosis dan tumor.

  2. Vagina

    Kelainan vagina yang dapat mengganggu perjalanan persalinan :

    a. Vagina septum : transvaginal septum vagina

    b. Tumor pada vagina

  3. Uterus/serviks

    Kelainan serviks antara lain :

    1. Serviks yang kaku
    2. Serviks gantung

      Osteum uteri eksternum terbuka lebar, namun osteum uteri internum tidak dapat terbuka

    3. Serviks konglumer

      Osteum uteri internum terbuka, namun osteum uteri eksternum tidak terbuka

    4. Edema serviks
    5. Serviks duplek karena kelainan kongenital

. Distosia kelainan janin

Dalam kepustakaan tercatat ada janin yang dapat dilahirkan secara pervaginam tetapi meninggal seberat 11,3 kg (Belcher)dan 11 kg (Moss). Dan janin yang lahir dan hidup tercatat seberat 10,8 kg (Barnes)tetapi anak ini hanya hidup kira-kira 11 jam saja.

  • Pertumbuhan janin yang berlebihan (bayi besar)

    Janin besar adalah bila berat badan melebihi dari 4000 gram. Frekuensi bayi yang lahir dengan berat badan lebih dari 4000 gr adalah 5,3 % dan yang lebih dari 4500 gr adalah 0,4 %. Pernah dilaporkan berat bayi lahir pervaginam 10,8-11,3 kg.

  • Hidrosefalus

    Penimbunan cairan serebrospinal dalam ventrikel otak sehingga kepala menjadi besar serta ubun-ubun menjadi lebar.hidrosefalus memungkinkan terjadinya kepala tidak masuk pintu atas panggul pada panggul yang normal sedangkan his baik dan kepala teraba besar di atas panggul.

  • Anensefalus atau hemifalus : badan ada tetapi pembentukan otak dan tengkorak kepala tidak ada atau terkebelakang
  • Kembar siam yaitu penyatuan dua janin kembar
  • Gawat janin

Distosia kelainan jalan lahir

Kesempitan pada pintu atas panggul

Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm, atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Hal ini dapat menyebabkan inersia uteri serta lambannya pendataran dan pembukaan serviks.

Kesempitan bidang tengah panggul

Pada panggul tengah yang sempit, lebih sering ditemukan posisi okpitalis posterior persistens atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap.

Kesempitan pintu bawah panggul

Apabila ukuran pintu bawah panggul lebih kecil daripada biasa, maka sudut arkus pubis mengecil pula. Dengan distansia tuberum bersama dengan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa.


Learning objective V : Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan indikasi dan metode seksio cesaria

Seksio Sesaria
a. Pengertian
Seksio sesaria adalah melahirkan janin melalui insisi pada dinding abdomen (laparatomi) dan dinding uterus (histerotomi) (Cunningam, 1995 : 511).

b. Indikasi seksio sesaria
Tindakan seksio sesaria dilakukan bilamana diyakini bahwa penundaan persalinan yang lebih lama akan menimbulkan bahaya yang serius bagi ibu, janin atau keduanya. Sedangkan persalinan per vaginam tidak mungkin dilakukan dengan aman.
Beberapa alasan/indikadi untuk dilakukan seksio sesaria yaitu :
1) Indikasi ibu
a) Cepalo pelvic disproportion / disproporsi kepala panggul yaitu apabila bayi terlalu besar atau pintu atas panggul terlalu kecil sehingga tidak dapat melewati jalan lahir dengan aman, sehingga membawa dampak serius bagi ibu dan janin.
b) Plasenta previa yaitu plasenta melekat pada ujung bawah uterus sehingga menutupi serviks sebagian atau seluruhnya, sehingga ketika serviks membuka selama persalinan ibu dapat kehilangan banyak darah, hal ini sangat berbahaya bagi ibu maupun janin.
c) Tumor pelvis (obstruksi jalan lahir), dapat menghalangi jalan lahir akibatnya bayi tidak dapat dikeluarkan lewat vagina.
d) Kelainan tenaga atau kelainan his, misalnya pada ibu anemia sehingga kurang kekuatan/tenaga ibu untuk mengedan dapat menjadi rintangan pada persalinan, sehingga persalinan mengalami hambatan/kemacetan.
e) Ruptura uteri imminent (mengancam) yaitu adanya ancaman akan terjadi ruptur uteri bila persalinan dilakukan dengan persalinan spontan.
f) Kegagalan persalinan: persalinan tidak maju dan tidak ada pembukaan, disebabkan serviks yang kaku, seringterjadi pada ibu primi tua atau jarak persalian yang lama(lebih dari delapan tahun)
2) Indikasi janin
a. Janin besar yaitu bila berat badan bayi lebih dari 4000 gram, sehingga sulit melahirkannya
b. Kelainan gerak, presentasi atau posisi ideal persalinan pervaginam adalah dengan kepala ke bawah/ sefalik
c. Gawat janin, janin kelelahan dan tidak ada kemajuan dalam persalinan
d. Hidrocepalus dimana terjadi penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak sehingga kepala menjadi lebih besar serta terjadi peleberan sutura-sutura dan ubun-ubun, kepalka terlalu besar sehingga tidak dapat berakomodasi dengan jalan lahir.
3) Pertimbangan lain yaitu ibu dengan resiko tinggi persalinan, apabila telah mengalami seksio sesaria atau menjalani operasi kandungan sebelumnya "Ruptura uteri bisa terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi seperti seksio sesaria klasik, miomektomi (Muhtar, 1998 :289)" misalnya ibu dengan riwayat mioma sehingga dilakukan miomektomi, sebaiknya persalinan berikutnya dengan seksio sesaria untuk menghindari terjadinya ruptura uteri saat kontraksi uterus pada peresalinan spontan.

c. Jenis-jenis operasi seksio sesaria
1) Seksio sesaria klasik atau korporal yaitu insisi memanjang pada segmen atas uterus.
2) Seksio sesaria transperitonealis profunda yaitu insisi pada segmen bawah uterus. Teknik ini paling sering dilakukan.
3) Seksio sesaria ekstra peritonealis : rongga peritoneum tidak dibuka, dulu dilakukan pada pasien dengan infeksi intra uterin yang berat. Sekarang jarang dilakukan.
4) Seksio sesaria histerektomy : setelah seksio sesaria dilakukan histerektomy dengan indikasi atonia uteri, plasenta previa, mioma uteri, infeksi intra uterin yang berat.

d. Kontra indikasi
1) Janin mati
2) Syok, akibat anemia berat yang belum diatasi
3) Kelainan congenital berat

e. Komplikasi yang sering muncul pada tindakan seksio sesaria
1) Pada Ibu
a) infeksi puerperalis/nifas bisa terjadi dari infeksi ringan yaitu kenaikan suhu beberapa hari saja, sedang yaitu kenikan suhu lebih tinggi disertai dehidrasi dan perut sedikit kembung, berat yaitu dengan peritonitis dan ileus paralitik.
b) Perdarah akibat atonia uteri atau banyak pembuluh darah yang terputus dan terluka pada saat operasi.
c) Trauma kandung kemih akibat kandung kemih yang terpotong saat melakukan seksio sesaria.
d) Resiko ruptura uteri pada kehamilan berikutnya karena jika pernah mengalami pembedahan pada dinding rahim insisi yang dibuat menciptakan garis kelemahan yang sangat beresiko untuk ruptur pada persalinan berikutnya.
e) Endometritis yaitu infeksi atau peradangan pada endometrium.
2) Pada Bayi
a) Hipoxia
b) Depresi pernapsan
c) Sindrom gawat pernapasan
d) Trauma persalinan

f. Perawatan setelah operasi
Tindakan seksio sesaria tetap menghadapkan ibu pada trias komplikasi, sehingga memerlukan observasi dengan tujuan agar dapat mendeteksi kejadiannya lebih dini. Observasi trias komplikasi meliputi :
1) Kesadaran penderita
a) pada anestesi lumbal
Kesadaran penderita baik oleh karenanya ibu dapat mengetahui hampir semua proses persalinan
b) pada anestesi umum
pulihnya kesadaran oleh ahli telah diatur, dengan memberiokan o2 menjelang akhir operasi.
2) Mengukur dan memeriksa tanda-tanda vital
a) pengukuran :
- tensi, nadi, temperatur dan pernapasan
- keseimbangan cairan melalui produksi urine, dengan perhitungan :
· produksi urine normal 500-600 cc
· pernapasan 500-600 cc
· penguapan badan 900-1000 cc
- pemberian cairan pengganti sekitar 2000-2500 cc dengan perhitungan 20 tetes/menit (= 1 cc/menit)
- infus setelah operasi sekitar 2x24 jam
b) Pemeriksaan
- paru-paru :
· bersihan jalan napas
· ronchi basal, untuk mengetahui adanya edema paru
- bising usus, menandakan berfungsinya usus (dengan adanya flatus)
- perdarahan local pada luka operasi
- kontraksi rahim, untuk menutup pembuluh darah
· perdarahan pervaginam : evaluasi pengeluaran lochea, atonia uteri meningkatkan perdarahan, perdarahan berkepanjangan.
3) profilaksis antibiotika
Infeksi selalu diperhitungkan dari adanya alat yang kurang steril, infeksi asenden karena manipulasi vagina sehingga pemberian antibiotika sangat penting untuk menghindari terjadinya sepsis sampai kematian.
Pertimbangan pemberian antibiotika :
- bersifat provilaksis
- bersifat terapi karena sudah terjadi infeksi
- berpedoman pada hasil sensitivitas
- kualitas antibiotika yang akan diberikan
- cara pemberian antibiotika.
4) mobilisasi penderita
Konsep mobilisasi dini tetap memberikan landasan dasar, sehingga pulihnya fungsi alat vital dapat segera tercapai.
a) mobilisasi fisik :
- setelah sadar pasien boleh miring
- berikutnya duduk, bahkan jalan dengan infus
- infus dan kateter dibuka pada hari kedua atau ketiga
b) mobilisasi usus
- setelah hari pertama dan keadaan baik penderita boleh minum
- diikuti makan bubur saring dan pada hari kedua ketiga makan bubur
- hari keempat kelima nasi biasa dan boleh pulang.

tweets

Follow by Email

temen-temen

Share it

translate it

Google-Translate-Chinese (Simplified) BETA Google-Translate-English to French Google-Translate-English to German Google-Translate-English to Italian
Google-Translate-English to Japanese BETA Google-Translate-English to Korean BETA Google-Translate-English to Russian BETA Google-Translate-English to Spanish
Powered by
Grab this widget